Bukan Cerita Biasa 18 Juni 2009
Posted by aal in Esai, Lansir.add a comment
Dilansir dari Media Indonesia, 6 Juni 2009
Oleh Ali Usman*

Judul : Cerita Kecil Saja
Penulis : Stephie Kleden-Beetz
Pengantar : Anton Sudiarja SJ
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, Maret 2009
Tebal : xvi + 131 halaman
Ada banyak perstiwa dan pengalaman hidup yang kita biarkan berlalu begitu saja. Tidak banyak yang mampu merenungi pengalaman-pengalaman berharga itu, walau sebenarnya setiap orang sebenarnya sangat bisa melakukannya. Kecenderunagan manusia selalu larut dalam kepongahan diri, sehingga terkadang melupakan apa yang telah kita terima, kita rasakan, dan apa yang telah pula kita miliki. Pernahkan Anda memikirkan mengapa daun-daun itu mengering dan berjatuhan bagai salju di musim kemarau? Apa yang bisa kita pikirkan saat fajar datang, dan manusia terbangun dari tidurnya? Sadarkan Anda bahwa dengan bergantinya waktu setiap hari itu semakin mengurangi usia kita hidup di dunia?
Ragam pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjelma kuat dalam buku ini. Stephie Kleden-Beetz, penulisnya, tampak benar-benar memeras otak dan membentang daya ingatnya, karena apa yang ia tulis dalam keseluruhan “cerita kecil” ini berdasarkan pengalaman pribadi, lewat perjumpannya dengan banyak orang dan peristiwa-peristiwa yang ia alami langsung, baik ketika sekian lama berada di Jerman maupun setelah kembalinya ke Tanah Air (Malang) tahun 1995.
Stephie meracik cerita-cerita itu dalam sebuah bahasa yang amat singkat, padat tapi nan bermakna. Ia merubah cerita remeh-temeh alias cerita yang oleh sebagian orang mungkin dianggap biasa, menjadi luar biasa. Ya, cerita dalam buku bersampul cantik dan anggun ini bukan(lah) cerita biasa. Di dalamnya sungguh menyimpan banyak hikmah yang dipenuhi dengan kearifan-kearifan hidup; tentang bagaimana kita bisa menghargai sesuatu di luar diri kita (the other), arti persahatan, kepemimpinan, merenungi setiap kejadian hidup, makna dan refleksi kitab suci, rendah hati, dan lain-lain.
Pada sebuah pencarian, misalnya, Stephie menulis: “Aku mencari jiwaku, tapi tak kutemukan jiwaku. Aku mencari Tuhan, tetapi Tuhan menghindar dariku. Ketika aku mencari sesamaku, aku malah menemukan ketiga-tiganya” (hlm. 3). Ungkapan ini tertera di akhir paragraf, ketika Stephie menceritakan tentang seseorang yang bernama Abou Ben Adhem melakukan “protes” terhadap malaikat karena hanya menuliskan nama-nama orang yang hanya mencintai Tuhan.
Dikisahkan lebih lanjut, Abou Ben mengusulkan kepada malaikat agar nama dirinya juga tercatat di sana, karena ia telah mengasihi sesama manusia. Singkat cerita, malaikat pun setuju dan menyanggupi usul Abou Ben. “Dan (sekarang), coba lihat nama siapa yang pertama? Aboe Ben Adhem!”, kata malaikat. Dalam konteks ini, Stephie—dengan caranya sendiri dalam menyampaikan ide tulisannya—hendak mendakwahkan kepada sidang pembaca bahwa bagi orang yang merasa diri beriman tidak cukup hanya melulu mencintai Tuhan, sementara mengasihi sesama umat manusia malah terabaikan.
Lain halnya dengan cerita tentang “ember bocor”. Di India, hiduplah seorang yang amat setia mengabdi kepada tuannya. Dharma namanya. Setiap hari dengan dua ember ia menuju mata air yang jernih. Sesudah mengisi kedua ember itu sampai penuh, ia letakkan sebatang kayu lentur yang kuat di bahunya, kemudian sebuah ember digantungnya di depan, dan yang satunya di belakang.
Ternyata ember yang di belakang itu bocor. Setiap kali tiba di rumah tuannya, si ember utuh dengan pongah melirik ke ember bocor sambil berkata, “syukurlah, tugasku beres. Air yang kubawa penuh sampai di rumah tuan kita”. Si ember bocor merasa terhina dengan sikap si ember utuh karena air yang dibawanya hanya tinggal sedikit. Tetapi ia diam saja. Penderitaan ini ia pendam sampai sekitar dua tahun lamanya.
Hingga sampailah pada suatu hari, si ember bocor itu bertanya kepada si pemikul air. Saya sudah lama merasa bersalah dan malu karena tugas saya membawa air tidak dapat saya penuhi dengan sempurna, sebab keadaan saya bocor. “Mengapa Anda tidak mengganti saya dengan ember baru saja?”, tanya si ember bocor. Jawab si pemikul air dengan tenang, “sabar. Sudahkan kau perhatikan jalan yang kita lewati? Di tepi jalan yang kita lalui, di situ tumbuh bunga aneka warna, yang saya tanam. Kalau tidak ada kamu, hai, si ember bocor, mustahil ada bunga-bunga indah menghiasi rumah tuan kita setiap hari” (hlm. 16-17).
Mengikuti alur cerita dalam buku ini memang sungguh mengasyikkan. Meskipun nama Stephie barangkali tergolong baru terdengar di telinga insan pembaca buku, tapi sebenarnya ia tidaklah awam dalam praktik tulis-menulis. Saudara (kakak) dari Ignas Kleden, seorang intelektual tersohor itu adalah bekas koresponden Deutsche Welle (radio nasional Jerman) dan seorang wartawan lepas. Dia juga giat menulis pada sejumlah media di Tanah Air saat berdiam di Jerman selama hampir dua dekade.
Terbitnya buku setebal 131 halaman ini tampaknya menjadi pintu pembuka yang baik di awal karir Stephie dalam menerbitkan karya-karya berbentuk buku. Sebab, sebagaimana yang tampak dalam buku ini, gaya tulis Stephie memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Gaya tulisan Stephie, kata Sudiarja dalam pengantarnya, mengajak untuk tidak menelan begitu saja apa yang ditulisnya, tetapi mengunyah dan merenungkannya. Inilah kenikmatan buku ini.
Dalam tulisan-tulisan pendek bernas tersebut, Stephie memperlihatkan pengetahuannya yang luas tidak saja dari bacaan dan pengalaman perjalannya, tetapi juga dari perjumpaan dan persahabatannya dengan banyak orang. Dia memeras semuanya itu dalam kata-kata yang dipilih dengan cernat dan disusun dengan piawai sehingga ia hanya menyajikan sari pati, yang berguna. Stephie juga melengkapi tulisannya dengan kutipan kata-kata atau kisah pendek dari orang-orang bijak, filsuf, seniman, sastrawan, dan ilmuwan yang terkenal (hlm. xiii).
Kehadiran buku ini nyaris tanpa cacat dan kritik. Walaupun penulisnya sesekali menyertakan beberapa ungkapan-ungkapan penting yang dicomot dari Al-Kitab—yang barangkali ia hendak menunjukkan dirinya sebagai penganut taat umat Kristiani—namun tidak mengurangi sedikitpun bobot isi kebenaran yang dikandungnya. Dan memang, dalam banyak hal, apa yang ditulis Stephi merupakan unsur-unsur kebenaran yang bersifat universal.
Akhirnya, saya hanya mau menyarankan, agar pembaca cukup menyediakan waktu luang sejenak saja. Tidak sampai tiga jam, saya yakin Anda akan mampu menuntaskan buku ini dalam samudera kata yang diukir Stephie. Inilah buku bertajuk Cerita Kecil Saja, yang sebenarnya bukan cerita biasa. Selamat membaca.
*Ali Usman, magister Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
Tata Kota dan Toleransi di Jalan 13 Juni 2009
Posted by aal in Esai, Lansir.add a comment
Dilansir dari Harian Jogja, 13 Juni 2009
Oleh Ali Usman*


Bagi sebagian orang, memikirkan jalan mungkin merupakan pekerjaan yang tak ada artinya dan dianggap sia-sia. Tetapi bagi sebagian yang lain, dengan melihat kondisi jalan di sebuah negara, sebenarnya dapat diketahui jaya atau tidaknya negara tersebut. Seperti pepatah bilang, “menatap wajah jalan sama dengan menatap kondisi pemerintahan suatu bangsa”.
Begitu mudahnya kita temukan sekaligus lewati jalan. Lalu-lalang setiap pengendara motor, mobil, sepeda, dan pejalan kaki menjadi penanda kuat, bahwa tanpa disadari kita sedang menikmati kemulusan jalan aspal serta kerapian kota yang tertata rapi. Tetapi, pernahkah kita berpikir sekaligus bertanya, bagaimana konstruk ketersediaan jalan yang kita lewati setiap hari itu?
Sejarah jalan sungguh terkait erat dengan penderitaan penduduk pribumi semasa penjajahan Belanda dan Jepang. Masyarakat waktu itu, harus rela dipaksa untuk kerja rodi di bumi dan tanah kelahirannya sendiri, demi menuruti kemauan penjajah. Di antara ruas-ruas jalan, rel kereta api, dan gedung-gedung yang membumbung tinggi—yang saat ini telah menjadi peninggalan bersejarah—sungguh menyimpan deras keringat dan setetes darah perjuangan para founding fathers bangsa.
Denys Lombard dalam maha karyanya yang terkenal, Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale (edisi Indonesia diterjemahkan menjadi Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu) mencatat sebuah fakta yang menarik untuk disimak. Menurut tokoh pakar sejarah nusantara (Indonesianis) itu, sejak kedatangan Herman Willem Daendels yang diangkat menjadi gubernur oleh Louis Bonaparte, raja Belanda pada tahun 1808, merupakan awal mula sejarah politik ekonomi bangsa Barat di kepualauan nusantara.
Daendels menciptakan praktik kerja paksa atau lebih tepat jika dikatakan merampas hak-hak raja Jawa untuk mewajibkan penduduk melakukan kerja rodi untuk pemerintah Batavia. Ia terlibat konflik dengan beberapa di antara mereka (terutama dengan Sultan Banten yang dipenjarakannya), tetapi berhasil membuat “Jalan Raya Pos” (de Groote Postweg) dari ujung ke ujung pulau dan dengan demikian akhirnya perhubungan darat timur-barat menjadi mungkin, dengan komersialisasi hasil bumi sebagai konsekuensinya.
Sejak itulah negara berperan besar dalam mengatur jalan dan lalu lintas. Jika disimak dengan seksama, dengan jalan kita dapat melihat ketidakadilan dan diskriminasi. Lihat dan bandingkan jalan menuju Istana negara dengan kampung pengungsi yang kumuh. Tampak berbeda. Begitu pula dengan jalan Wonosari yang sangat nyaman dilewati karena merupakan penghubung arah Pacitan, tempat asal presiden kita, SBY. Semua itu bertemali dengan kekuasaan.
Fenomena tersebut secara nyata mengindikasikan semacam “perebutan ruang” kekuasaan—atau dalam istilah Pierre Bourddieu disebut habitus, yaitu praktik pengungkapan perwatakan dalam ruang sosial. Ruang ini, tegas filsuf Perancis itu, merupakan suatu medan sosial yang di dalamnya setiap anggota membentuk suatu sistem hubungan yang didasarkan atas pertaruhan (kekuasaan) yang bermakna dan diinginkan oleh anggota ruang sosial.
Artinya, setiap pengguna jalan sebenarnya mempunyai banyak nilai kepentingan yang terpendar dalam benak setiap penguna jalan. Bagi pengendara mobil misalnya, egoisme dalam dirinya kerapkali akan muncul untuk memperoleh ruas jalan yang luas agar tidak mencederai mobil pribadinya, sebagai penanda orang kaya, ambisi yang tinggi untuk menjadi terdepan sehingga menyalip banyak kendaran, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana juga dengan pengendara motor, tukang becak, sopir bus, pengguna sepeda ontel, dan pejalan kaki? Dari sana, akan ditemukan semacam “perebutan kuasa” antara pengguna jalan, mulai dari pengendara mobil, motor, sepeda, hingga pejalan kaki. Kesenjangan ini persis seperti apa yang pernah disinggung oleh Bourddieu tentang habitus tadi, yang merupakan sejenis ungkapan penanaman (tak sadar) dari orang-orang yang berkepentingan dalam ruang sosial. Ia adalah sejenis tatanan tingkah laku yang dipakai untuk membedakan satu kelas (yang mendominasi) dengan kelas lain (yang didominasi) dalam medan sosial.
Maka dengan memikirkan tentang jalan, kita bisa memeriksa budaya kehidupan masyarakat setempat. Baru-baru ini, ada penelitian tentang kesemrawutan jalan di salah satu kota besar yang ada di negeri ini, yaitu kota Yogyakarta—yang sampai saat ini selain dikenal dengan kota yang amat memedulikan kebersiahan, santun, tertib dan memiliki toleransi yang amat kuat. Yang menarik adalah objek yang dijadikan sample oleh penulisnya, Hani Raihana, adalah di simpang Mirota kampus, sebuah perempatan jalan yang amat dekat dengan kampus UGM.
Bagi warga Jogja dan Anda yang mungkin pernah berkunjung ke Jogja, tentu akan bertanya-tanya, mengapa Hani mengambil objek di jalan itu dan tidak memilih di tempat yang lebih ramai, seperti Malioboro, yang merupakan pusat keramaian di daerah Yogyakarta? Hani memiliki alasan tersendiri. Menurutnya, simpang Mirota merupakan salah satu titik kemacetan. Posisinya yang sangat strategis, dekat dengan kampus UGM, SMU, serta pusat perdagangan, membuat simpang empat ini menjadi jalan penghubung antar wilayah. Jalur tersebut selalu padat, ditandai dengan antrian panjang kendaraan bermotor serta klakson yang terdengar bersahut-sahutan (Raihana, 2007: 63).
Dari sana kita dapat “menguji”, benarkah kota Yogyakarta memang dikenal dengan toleransinya yang tinggi (city of tolerance) lantaran pengaruh kuat budaya keratonnya? Memang, sampai saat ini, toleransi Yogyakarta masih ada dengan adanya negosiasi saat terjadi insiden kecelakaan. Negosiasi ini diawali dengan ungkapan baik-baik, seperti “nuwun sewu, mas… gimana, mas…” dan kemudian diakhiri dengan hitung-menghitung kerugian dan biaya.
Lalu bagaimana dengan perilaku pengguna jalan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo, Semarang, dan kota-kota lain?
*Ali Usman, Magister Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
Makna Substansial Pembangunan Jembatan Suramadu 27 April 2009
Posted by aal in Lansir.8 comments
Dilansir dari Kompas Jatim, 27 April 2009
Oleh Ali Usman*

Apresiasi terhadap pendapat atau pandangan publik soal industrialisasi Madura pasca jembatan Suramadu terus mengalir dan tersemai di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Setidaknya hal itulah yang dalam beberapa waktu belakangan ini terlihat nyata di harian Kompas Jatim dengan menurunkan banyak tulisan yang membincangkan positif negatifnya pembangunan jembatan Suramadu bagi masyarakat Madura—yang pasalnya jembatan dengan panjang 5,43 kilometer itu direncanakan akan segera beroperasi pada pertengahan Juni nanti.
Ada tulisan yang mempertanyakan siapkah masyarakat Madura menyambut industrialisasi dengan mempertimbangkan dampak dan bahayanya; ada yang memotret prospek atau peluang perekonmian masyarakat Madura jika jembatan itu sudah benar-benar beroperasi; dan ada pula semacam kekhawatiran terhadap akan terkikisnya kebudayaan asli Madura; dan lain sebagainya. Tetapi dari sekian banyak tulisan itu, hemat saya, tidak/belum ada yang menguraikan berupa alasan secara substansial, mengapa jembatan itu dibangun?
Tentang akar sejarah dari bagaimana proses pembangunann dan termasuk siapa yang menggagas pembangunan proyek jembatan yang memakan triliunan rupiah tersebut, telah saya kemukakan di rubrik ini (lihat Kompas Jatim, 5/03/2009). Tulisan ini lebih mengarah pada bagaimana menyeimbangkan kepentingan kedua pula yang secara geografis terpisah itu (antara wilayah Surabaya yang dihubungkan dengan Bangkalan) sama-sama menguntungkan dengan berpegang pada prinsip simbiosis-mutualis.
Masyarakat perantau
Banyak orang tahu, masyarakat Madura hingga hari ini dikenal sebagai masyarakat perantau. Di kota-kota besar seperti Surabaya sendiri, Malang, Pasuruan, hingga ke Semarang, Jogjakarta, dan bahkan ke wilayah Ibu Kota Jakarta, orang-orang Madura banyak ditemui di sana. Belum lagi di wilayah luar Jawa, orang-orang Madura juga berjibun—yang konon motifnya dilatarbelakangi karena faktor ekonomi alias demi mengadu nasib di daerah seberang. Akibatnya, hukum alam pun terjadi; sang perantau ada kalanya sukses menjadi kaya raya, dan ada pula yang sebaliknya.
Lalu, muncul pertanyaan, mengapa masyarakat Madura lebih memilih kehidupan di luar daerah? Jawabannya sebagaimana diungkap Subaharianto, dkk (2005), bahwa masyarakat Madura di pulau Madura memang dikenal miskin dan terbelakang. Tekanan kehidupan sosial ekonomi yang berat memaksa orang Madura pergi merantau ke daerah lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Namun, sesungguhnya, Madura bukan daerah yang tidak berpotensi sama sekali. Keadaan alamnya memang kurang mendukung untuk kegiatan pertanian lahan basah, tetapi pulau Madura dan sekitarnya menyimpan kekayaan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat Madura sebagian akibat ketiadaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta sarana untuk mengolah potensi sumber daya alam Madura pada satu sisi dan ketidakmampuan Madura memanfaatkan peluang global dalam bentuk investasi untuk industrialisasi pada sisi lain. Yang pertama terkait dengan latar belakang pendidikan modern masyarakat Madura yang secara umum masih rendah, sedangkan yang kedua terkait dengan kendala transportasi Surabaya-Madura.
Suramadu sebagai jawaban?
Sebenarnya, dengan berpangkal pada pulau Jawa sebagai titik keberangkatan, pulau Madura dapat dijangkau lewat dua jalur utama pelayaran yang sudah dikenal sejak lama, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur barat melalui lintas Ujung Kamal. Ujung ini merupakan satu bagian dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sedangkan Kamal merupakan pelabuhan di ujung barat Madura. Setidak-tidaknya, sejak masa kolonial Belanda sudah tampak bahwa jalur barat jauh lebih ramai dan padat daripada jalur timur, seperti ditunjukkan dalam statistik angkutan (Kuntowijoyo, 1980).
Jalur kedua adalah melalui Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo. Rute ini pada masa kolonial banyak dimanfaatkan oleh para migran Madura yang pergi ke atau kembali dari daerah perkebunan kolonial di daerah Keresidenan Besuki. Keadaan rute pelayaran ini jauh lebih sepi daripada jalur Barat, terlebih lagi dengan merosotnya sektor perkebunan.
Karena itu, dengan adanya jembatan Suramadu, di samping untuk mempermudah transportasi darat, jalur itu juga dianggap sebagai salah satu prasarana ekonomi yang sangat penting untuk meningkatkan mobilitas manusia, barang, dan modal dari Surabaya ke Madura. Artinya, jembatan ini akan menjadi penentu masa depan pembangunan masyarakat Madura.
Dalam perspektif Jawa Timur, pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya-Madura itu bisa dilihat bukan hanya sebagai upaya mempercepat pembangunan Madura melalui indutrialisasi, melainkan juga menjadi alternatif perluasan industri di Surabaya dan sekitarnya yang sudah kesulitan lahan (Subaharianto, dkk, 2005). Pada aras ini, dampak sosial (social impact) dari industrialisasi Madura memang terasa menyakitkan. Tapi memang begitulah fakta dan rencana awal yang dikonsep oleh pemerintah Jawa Timur.
Pertanyaannya, jika industrialisasi Madura telah berjalan, yang salah satunya nanti akan ditandai dengan banyaknya pabrik-pabrik dan kantor perusahaan yang menancapkan kaki di sana—sehingga dimungkinkan akan menyedot tenaga kerja baru—apakah masyarakat Madura yang terlanjur merantau akan kembali ke kampung halaman karena di daerahnya sendiri telah tersedia lapangan kerja? Saya pesimistis. Kalaupun terjadi, mungkin hanya sebagian kecil saja.
Sebab yang terjadi saat ini, orang-orang Madura yang merantau tidak hanya mencari nafkah karena kepentingan ekonomi an sich, tapi juga telah melebur menjadi satu kesatuan bersama masyarakat setempat (lihatlah di Kalimantan, Surabaya, dan Jakarta misalnya) yang membina rumah tangga dengan warga di sana. Jadi buat apa pulang kampung, kalau di sana telah mendapatkan kehidupan yang layak? Mungkin ini jawaban sementara.
*Ali Usman, pengkaji kebudayaan Madura
Jogja: City of Tolerance? 13 April 2009
Posted by aal in Lansir.2 comments
Dilansir dari Harian Jogja, 13 April 2009
Oleh Ali Usman*


Jika pluralisme (baca: keragaman) itu baik dan diakui sebagai bagian dari fitrah manusia, mengapa masih terjadi konflik horisontal karena mempersoalkan perbedaan? Padahal pluralisme, kata Mohamed Fathi Osman (1996), adalah bentuk kelembagaan di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Maknanya labih dari sekadar toleransi moral atau koeksistensi pasif. Toleransi adalah persoalan kebiasaan dan perasaan pribadi, sementara koeksistensi adalah semata-mata penerimaan terhadap pihak lain, yang tidak melampaui ketiadaan konflik.
Sayangya, apa yang disiratkan secara empatik oleh professor dan guru besar pada Center for Muslim-Christian Understanding Georgetown University, Washington DC tersebut tidak sepenuhnya membumi di bumi pertiwi Indonesia yang konon dikenal masyarakatnya ramah, penuh kasih, tolong-menolong, dan lain-lain. Konflik dan kekerasan atas nama perbedaan (etnis dan agama) masih saja mewarnai kehidupan masyarakat kita, seperti yang kerap terjadi di banyak daerah dan pada momen-momen tertentu.
Pluralisme dengan demikian hanyalah terhenti di lisan kaum agamawan, dan menjadi pemanis bibir di ruang-ruang seminar kaum akademisi semata. Setidaknya, kaum agamawan dan akademisi, dua kelas strata sosial itulah yang selama ini sangat lantang mengkampanyekan kepada umat agar menghargai perbedaan, sadar akan sebuah pluralisme itu sendiri. Tapi faktanya? Jauh panggang dari api.
Memang, butuh waktu yang amat panjang untuk meyakinakan setiap insan agar pluralisme menjadi sebuah pandangan hidup dan perilaku keseharian. Tidak semua tempat atau daerah memiliki keseragaman implementasi dalam menyikapi pluralisme. Tetapi yang membanggakan pada hemat saya, adalah perilaku masyarakat Jogjakarta yang jauh melampaui pemahaman tentang pluralisme.
City of tolerance
Sudah sejak lama, Jogja dikenal sebagai city of tolerance. Predikat ini tentu saja bukan buain alias omong kosong belaka. Di samping terkenal karena kota pendidikan, Jogja juga dikenal sebagai tempat pariwisata yang sampai saat ini masih menyemai pelbagai warisan budaya nusantara. Tolerasi masyarakatnya sangat kuat, sehingga memungkinkan untuk bersikap terbuka (welcome) terhadap segala pruduk budaya lain, walau itu datangnya dari luar daerah sekalipun.
Bahkan dalam batas-batas tertentu, silang budaya dan agama, yang mencerminkan masyarakat plural benar-benar berwujud nyata di kota gudeg ini. Saya ingin mencontohkan satu hal yang boleh jadi, mungkin oleh sebagian orang dianggap remeh temeh. Tetapi bagi saya, sangat luar biasa sebagai bentuk kesadaran diri setiap individu maupun kelompok untuk saling menghormati satu lain demi terciptanya kerukunan dan perdamaianan antar sesama.
Saya merasa lumayan tahu dan paham betul seluk-beluk, lika-liku kota Jogja, meski saya baru enam tahun berjalan mengecap indahnya panorama kota ini. Di tempat saya tinggal sekarang, saya sudah terbiasa menyaksikan, dan bahkan mengikuti acara-acara yang sebenarnya di luar adat kebiasaan saya dan orang Jogja pada umumnya dengan sangat antusias menghargai budaya warga pendatang.
Di momen Imlek misalnya, wujud penghargaan masyarakat Jogja diwujudkan dalam bentuk yang amat unik. Mereka para warga (maaf) non-Tionghoa dengan senang hati memakai pakaian khas China atau Tionghoa sembari menonton tarian Barongsai. Dan yang lebih mengharukan lagi, saya sangat kagum, lagi-lagi di lokasi yang saya tempati saat ini, setiap kali warga ditimpa musibah (kematian) yang kebetulan beragama muslim, para tetangga yang beragama Kristen juga ikut melayat sekaligus ikut “mentahlili” (do’a bersama untuk almarhum; biasanya sampai 7 hari) di rumah duka pada malam harinya. Begitu pula ketika Natal tiba, warga sekitar yang beragama muslim juga berduyun-duyun menghadiri undangan dan mendengar pesan-pesan Natal dari seorang Romo.
Itulah yang saya maksudkan dengan istilah “living pluralism”. Pemahaman tentang pluralisme telah hidup dan dipraktikkan dalam denyut nadi keseharian masyarakat Jogja. Seorang kawan pernah bergumam lirih di samping saya: “Jogja memang surganya dunia”. Dalam masyarakat yang demikian, tidak ada lagi kata “aku-dia”, “mereka-kita”, tapi telah melebur jadi satu kesatuan dalam kata “kami”.
Secara filosofis, toleransi dan saling tolong menolong tanpa mengenal sekat-sekat tertentu itu—sebagaimana ditunjukkan oleh masyarakak Jogja—merupakan kesadaran diri setiap individu akan keterbatasannya sebagai manusia. Sikap dasar dari jalan ini adalah adanya keterbukaan satu sama lain, yang oleh Hans-Georg Gadamer memiliki dua arti: keterbukaan untuk belajar dan keterbukaan untuk merespons. Yang pertama menekankan bahwa seseorang ingin mempelajarai cakrawala orang lain. Ini hanya terjadi jika seseorang memandang cakrawala orang lain bernilai. Yang kedua berarti seseorang ingin merespons dengan bijaksana. Dengan mempelajari cakrawala orang lain, seseorang berkeinginan meresponsnya, dan orang akan kembali mempertimbangkan pemikirannya, sehingga perbaikan dalam pemahaman terjadi (Hidayati, 2008: 62-63).
Pertanyaanya, apakah kesadaran masyarakat Jogja terhadap pemahaman pluralisme yang seperti itu merupakan hasil dari “kampanye” kaum agamawan dan akademis? Saya tidak sepenuhnya mengiyakan. Sebab, perilaku “living pluralism” khusus di Jogja menurut sumber sejarah, telah melestari bersamaan dengan kultur keratonnya, jauh sebelum kaum agamawan dan akademis kita berkoar-koar mendakwahkan kalau menghormati perbedaan itu baik.
Jadi, toleransi dan saling menghormati antar-sesama merupakan bagian integral dari living pluralism masyarakat Jawa. Negaralah, terutama rezim Orde baru yang memporak-poranda ketentaraman masyarakat demi kepentingan status quo politik dan kekuasaan. Dari kota para Sultan ini, saya terus berharap, semoga living pluralism itu tetap dipupuk higgga waktu tak terbatas nanti. Bagaimana dengan daerah lain?
* Mahasiswa Agama dan filsafat Program Pascasarjana UIN Sunan kalijaga Yogyakarta
4 Maret 2009
Posted by aal in Lansir.5 comments
Dilansir dari Kompas Jatim, 5 Maret 2009
Oleh: Ali Usman*

Dalam hitungan hari, masyarakat Madura dan bangsa Indonesia akan berbangga hati karena memiliki jembatan yang menghubungkan pulau Jawa (Surabaya) dan Madura yang konon, terpanjang ke 15 di dunia hingga mencapai 5,43 km. Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) namanya.
Sampai saat sekarang, proyek berjalan sudah mencapai 90 persen, dan Pemerintah Propinsi Daerah Jawa Timur menargetkan akhir Maret tahun ini bakal tuntas, lalu di bulan April sudah dapat beroperasi. Tentu saja, penyelesaian proyek ini memang banyak ditunggu-tunggu masyarakat luas, di samping agar lebih memudahkan transportasi darat menuju Madura, juga lantaran proyek ini memakan waktu puluhan tahun dari sejak masa perintisan.
Banyak orang mungkin tidak tahu, kalau ide merealisasikan jembatan Suramadu muncul sejak tahun 1960-an. Pencetus ide awal pembangunan jembatan Suramadu adalah Raden Panji Mohammad Noer. Mohammad Noer—demikian ia dipanggil—merupakan putera Madura yang dilahirkan di kampong Beler, Desa Rong Tengah di pinggiran kota sampang, 13 Januari 1918. Ia berasal dari keluarga ningrat Madura dan mempunyai hubungan kerabat dekat dengan beberapa kiai terkenal di Madura seperti KH. Hasib Siradj dan KH. As’ad Syamsul Arifin.
Reputasi Mohammad Noer diakui masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Ini tak lain karena sederet jabatan berhasil ditunaikannya dengan baik, antara lain: Bupati Bangkalan periode 1960-1965, gubernur Jawa Timur 1971-1976, Dubes Indonesia untuk Perancis tahun 1976-1980, anggota DPA, MPR dan sempat menjadi Rektor Universitas Bangkalan (Unibang, yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Trunojoyo, satu-satunya PTN di Madura) periode 1985-1989 (Mutmainnah, 1998: 51).
Kemudian presiden Soeharto waktu itu langsung menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie untuk menyiapkan kajan awal kemungkinan hubungan langsung antarpulau tersebut. Akhirnya, pada 14 Desember 1990 Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu dan Pengembangan Kawasan dikukuhkan sebagai proyek nasional melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990.
Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Akibatnya sejumlah proyek besar tertunda, salah satunya Jembatan Suramadu. Kemudian muncullah Keppres 79 tahun 2003-sekarang merupakan titian awal dimulainya kembali pembangunan Jembatan Suramadu. Dalam Keputusan Presiden tersebut juga dinyatakan pembangunan Jembatan Suramadu dilaksanakan sebagai bagian dari pembangunan kawasan industri, perumahan dan sektor lainnya dalam wilayah kedua sisi ujung jembatan.
Kekhawatiran Industrialisasi
Dari pemaparan panjang-lebar di atas, dapatlah dimengerti bahwa pembangunan jembatan Suramadu melewati jalan berliku dan terjal. Butuh energi ekstra dan pergantian pemimpin bangsa hingga berulangkali, barulah kini terwujud. Pertanyaannya, bagaimana respons masyarakat Madura itu sendiri soal pembagnunan jembatan layang tersebut?
Banyak orang tahu, kalau sejak awal perencanaan, (sebagian atau bahkan mayoritas?) masyarakat Madura menolak pembangunan tersebut. Bagi yang pro, jelas diwakili oleh lembaga pemerintahan. Sedangkan mereka yang kontra atau tidak setuju disuarakan oleh para tokoh-tokoh kiai yang tergabung dalam Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA). Konsekuensinya dari dua kubu yang berseteru ini juga mengakibatkan perpecahan di tingkat masyarakat bawah (grass root).
Dalam perspektif budaya, fenomena yang demikian sebenarnya mematahkan teori seperti dikemukakan A. Latief Wiyata (2003: 1), yang menyebutkan kalau masyarakat Madura secara hierarkis tunduk, pasrah, dan taat kepada empat figur yaitu Buppa’, Babbu’, Guru, ben Rato (Ayah, Ibu, Guru (kiai), dan pemimpin pemerintahan). Masyarakat tidak sepenuhnya sami’na wa atha’na apa kata Rato. Tapi entah mengapa, selang berjalannya waktu, masyarakat, termasuk BASSRA pun, ternyata lunak dan luluh terhadap kekuasaan pemerintah. Meskipun, sengketa pembebasan tanah eksekusi sisa untuk pembangunan jembatan Suramadu baru berakhir dengan paksa 18 Januari 2009 kemarin.
Dari sana, saya baru sadar dan paham arti sebuah “cerita mistis” yang pernah berkembang di masyarakat. Dahulu, semasa saya duduk di bangku sekolah menengah, saya selalu bertanya kepada orang tua, kepada guru di sekolah, dan termasuk kepada guru ngaji, mengapa proyek pembangunan jembatan Suramadu yang sudah terlanjur didengar oleh masyarakat Madura memakan waktu yang sangat lama? Jawaban guru-guru saya waktu itu penuh dengan mitos, semacam cerita khayalan. Katanya: “Kalau Suramadu jadi, pasti meminta ‘tumbal’. Maka beruntunglah tidak jadi-jadi”.
Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud ‘tumbal’ pada ungkapan itu. Tapi bila melihat di depan mata dengan seksama—meski lewat media massa—tampak bahwa berapa banyak orang-orang di Madura maupun di Surabaya harus rela terhempas, angkat kaki, merelakan rumah kelahirannya tergusur dan digantikan tiang-tiang penyangga beton Suramadu di ujung perbatasan.
Maksud lain yang ingin disampaikan adalah bahaya industrialisasi Madura jika tidak diimbangi dengan kontrol masyarakat setempat. Menurut KH. Alawi, industrialisasi Madura itu hendaknya Indonesiawi, manusiawi, dan Islami. Indonesiawi maksudnya industrialisasi itu benar-benar untuk kepentingan bangsa Indonesia. Manusiawi berarti industrialisasi Madura itu harus benar-benar dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dan Islami maksudnya bahwa industri itu tidak boleh ada kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman (Mutmainnah, 1998: 86).
Begitulah, kekhawatiran demi kekhawatiran seringkali menghantui masyarakat Madura setelah dihembuskan industrialisasi lewat jalur jembatan Suramadu. Kemodernan dengan demikian menjadi suatu hal yang paradoks. Dalam wujud modernisasi, ia menjadi kegalauan sekaligus kekaguman manusia modern. Namun dalam wujudnya yang lain, kemodern telah melahirkan nestapa kemanusiaan yang serius dan harus dibayar mahal dalam sejarah kehidupan umat manusia sejagat.
Tak terbayangkan, apa jadinya jika industrialisasi nanti benar-benar menggerus nilai-nilai kebudayaan asli Madura dan menggantinya dengan produk-produk yang konon dibilang modern. Seni musik tradisional, seperti saronen (tiup terompet) dan karawitan sinden (tanda’) mungkian akan tergantikan oleh konser-konser penyanyi metropolis dari ibu kota; kerapan sapi akan tergantikan balapan mobil dan motor; identitas caruk (carok) akan tergantikan dengan senjata api (pistol); dan lain sebagainya.
Apalagi, sempat muncul rumor tak sedap pasca jembnatan Suramadu. Pasalnya, lokalisasi PSK di Surabaya akan dipindahkan atau diletakkan di di pulau-pilau Madura. Alamak, inikah industrialisasi yang menjanjikan kemodernan itu? Hanya satu kata: jaga dan selamatkan Madura untuk bangsa!
*penulis adalah pengkaji kebudayaan Madura, dan peneliti pada Satukata Institiute di Sumenep
GUS DUR 28 Februari 2009
Posted by aal in dari luar.5 comments
| Saturday, 28 February 2009
|
|
| GUS Dur mirip Sokrates. Bedanya Sokrates sudah almarhum lebih dari dua ribu tahun lalu; Gus Dur masih segar bugar, meski kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi.
Sokrates warga Yunani yang tidak pernah menjadi presiden, Gus Dur warga Indonesia yang pernah menjadi presiden. Tetapi keduanya sama-sama kerap keliru ditafsirkan oleh masyarakat lingkungan masingmasing yang tidak mampu dan tidak mau mengerti makna yang sebenarnya dari sikap, perilaku, dan ucapan kedua pemikir akbar itu! Akibat keliru ditafsirkan, Sokrates dihukum mati dengan dipaksa minum racun, sementara Gus Dur dipaksa lengser dari jabatan kepresidenannya.
Akibat sering keliru ditafsirkan, Sokrates dimusuhi Senat Kota Athena, sementara Gus Dur dimusuhi DPR dan MPR yang bermarkas besar di Jakarta.Dengan Ketua MPR Amien Rais yang sebenarnya biang keladi Gus Dur menjadi presiden, terjadi konstelasi interaksi seperti film kartun Tom and Jerry yang berseteru dalam suasana benci-tapi-rindu atau rindutapi- benci! Akhirnya Amien Rais pulalah yang semula memimpin gerakan mendukung kemudian memimpin gerakan melengserkan Gus Dur dari tahta kepresidenan RI! Awal permusuhan Gus Dur versus DPR dipicu pernyataan Gus Dur bahwa DPR persis taman kanak-kanak! Pernyataan Gus Dur keliru ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap DPR, padahal sebenarnya lebih layak dianggap penghinaan bagi taman kanak-kanak, di mana para anggotanya masih polos,lugu,dan belum mengenal korupsi. Kemudian Gus Dur dianggap terlibat penipuan akibat ada seorang penipu merajalela dengan mengaku dirinya tukang pijat Gus Dur padahal begitu banyak orang,termasuk saya, terdorong rasa simpati sempat memijat,terutama bahu Gus Dur! Yang menipu yang mengaku tukang pijat Gus Dur di luar kesadaran Gus Dur (bahkan Gus Dur merasa tidak kenal penipu itu),tetapi yang dituduh kokyang diaku dipijat penipu itu! Jika tuduhan itu tidak dianggap keliru, ya keterlaluan kelirunya! Sebelumnya Gus Dur pernah dituduh korupsi karena menerima sumbangsih dana dari Sultan Brunai dalam kapasitas bukan sebagai presiden, tetapi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, sementara tidak ada undang-undang melarang ketua ormas keagamaan menerima sumbangan dana dari seorang sultan.Mengenai kebersihan Gus Dur, secara empiris saya berani menjamin. Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan Gus Dur mengembalikan amplop dari seorang tokoh politik yang tidak perlu saya sebut namanya,namun saya tahu tokoh ini mengincar sebuah jabatan tinggi kepemerintahan,setelah diberi tahu (Gus Dur tidak bisa melihat!) bahwa amplop itu berisi puluhan lembar uang kertas masing-masing bernilai seribu dolar Amerika Serikat. Rupanya Gus Dur alergi budaya amplop! Seperti Sokrates,ucapan-ucapan Gus Dur memang kerap sering terlalu maju mendahului masanya dan tidak diplomatis, maka terlalu terus terang, apa adanya, hingga kerap tidak tertangkap makna ada apanya oleh khalayak ramai.Tidak kurang dari seorang Miranda Goeltom sempat mengeluh bahwa di masa kepresidenan Gus Dur,setiap pagi selalu ketar-ketir menyimak berita tentang apa saja yang kemarin diucapkan Gus Dur. Karena ucapan seorang presiden—apalagi yang keliru ditafsirkan—sangat rawan menimbulkan prahara malapetaka bagi situasi dan kondisi moneter negara! Di masa perseteruan dengan DPR dan MPR makin memuncak, saya bersama Adnan Buyung Nasution sempat resmi menghadap Presiden Gus Dur di Istana Merdeka untuk memohon Gus Dur menghentikan kegemarannya mengusik DPR, terutama Ketua Umum MPR karena secara konstitusional DPR dan MPR pada waktu itu masih memiliki kesaktian untuk melengserkan seorang presiden. Tapi rupanya timingkami keliru,ternyata pada saat itu Gus Dur masih gemar bermain Tom and Jerry dengan Amien Rais, maka permohonan kami berdua tidak dipedulikan. Setelah Gus Dur dilengserkan, saya insan nonkeluarga Gus Dur yang terakhir mendampingi mantan Presiden RI sebelum meninggalkan Istana Merdeka mengeluh,”Kokjadinya bisa begini,ya Gus?”Gus Dur tegas menjawab: ”Perhitungan saya keliru !”(*) JAYA SUPRANA |
Golkar dan Suksesi Kepemimpinan Nasional 16 Februari 2009
Posted by aal in Lansir.5 comments
Dilansir dari Suara Karya, 17 Februari 2009
Oleh Ali Usman*

Di antara sekian banyak partai yang bakal ikut berlaga dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, setidaknya ada dua partai besar yang saat ini banyak dibicarakan orang, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar. Itu tak lain karena menyangkut kepemimpinan nasional atau tentang siapa calon presiden (capres) yang didelegasikan oleh partainya untuk berkompetisi dengan calon lain dalam rangka mencapai puncak kepemimpinan RI.
Sejumlah nama seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Yuddy Chrisnandi, Marwah Daud Ibrahim, dan Fadel Muhammad tiba-tiba melakukan manuver di luar garis politik Golkar. Bahkan, di antara mereka ada yang terang-terangan mencalonkan diri sebagai presiden dan bermain mata dengan partai lain, seperti yang dilakukan Sri Sultan. Ini bermula saat pisowanan agung di Alun-alun Yogyakarta, akhir Oktober 2008 lalu, di mana Sultan menyatakan siap maju sebagai calon presiden.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar Bidang Hukum Muladi menuding Sultan telah melanggar disiplin partai. Sebab, Sultan yang sampai kini masih menjadi Wakil Ketua Dewan Penasihat Golkar telah bermanuver politik dengan mencalonkan diri menjadi presiden.
Aksi sejumlah kader tersebut, menurut Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Partai Golkar, bisa memancing konflik atau perpecahan. Masing-masing kelompok di partai bisa saja mulai melirik partai lain untuk menyalurkan keinginannya maju dalam pemilihan presiden. Partai lain melihat besarnya perolehan suara Golkar dalam pemilu sebagai peluang.
Partai Golkar, pada hemat saya, sebenarnya sudah kebal dengan konflik dan perpecahan. Pada saat bangsa ini diguncang konflik ideologis, Golkar yang menghimpun golongan-golongan fungsional tampil ke permukaan dan pasang badan untuk menghadapi golongan yang berambisi mengubah ideologi negara Pancasila ke arah paham komunis.
Waktu berjalan, Presiden RI Soekarno, yang dituding ikut memberi banyak ruang gerak bagi para penganut dan penggiat paham komunis tersebut, akhirnya dinyatakan tumbang pada pertengahan tahun 1960-an. Kekuasaan kemudian berada di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang menggelari kepemimpinannya sebagai jargon Orde Baru.
Untuk memberi legitimasi terhadap kekuasaan yang diambil alihnya secara darurat, pemerintahan Soeharto yang tetap didukung oleh golongan-golongan fungsional akhirnya menyelenggarakan pemilu pada 1971. Organisasi golongan fungsional yang tergabung dalam Sekber Golongan Karya ikut serta sebagai salah satu dari sekian kontestan.
Tidak banyak kalangan yang menduga kalau Sekber Golkar akhirnya dinyatakan sebagai pemenang dengan perolehan suara tertinggi 62,80 persen. Sejak itulah Golkar berada di garda terdepan, meminjam istilah Fahry Ali (2004), sebagai kekuatan politik alternatif bagi bangsa dan negara Republik Indonesia.
Itulah yang kemudian menjadikan karakteristik partai politik ini sebagai partai “kebangsaan”, yang mendasarkan seluruh kinerja kelembagaannya untuk bangsa dan negara bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang latar, asal usul, golongan, kelompok, agama, dan warna kulitnya. Tetapi, sejauh mana seseorang memiliki fungsi untuk mengejawantahkan karyanya bagi kemaslahatan kemanusiaan Indonesia yang majemuk, dalam arti berbangsa (nation) dan pengelolaan kekuasaan negara (state), untuk menyejahterakan rakyat?
Dalam konteks masa kini, dengan dihapuskannya konvensi capres internal, partai tersebut memang memiliki kelebihan sekaligus kelemahan. Namun, dari segi positifnya, Golkar telah melakukan evaluasi yang mendalam. Konvensi digantikan dengan mengandalkan survei untuk menjaring calon presiden ketimbang konvensi. Alasannya, hasil konvensi capres dari Golkar terbukti gagal dalam Pemilu 2004.
Konvensi dianggap hanya mengakomodasi kepentingan pimpinan partai, bukan keinginan masyarakat. Sementara dari segi negatifnya, tidak adanya (lagi) konvensi sama halnya dengan menutup ruang demokratisasi di internal partai. Padahal, melalui mekanisme terbuka, akan diperoleh kepuasan dan loyalitas kader terhadap capres dari partai.
Lepas dari corak pandang dan perbedaan pendapat dalam menyikapi konvensi tersebut, yang pasti banyaknya kader Golkar yang kini muncul ke permukaan sebagai capres/ cawapres menandakan kalau di tubuh partai beringin itu terdapat kader-kader potensial yang mempunyai keinginan kuat untuk “mengurusi” negeri ini. Hanya saja, dapatkah cita-cita mulia itu terwujud? Biarlah waktu yang berbicara dan rakyat yang menentukan. Vox populi, vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan)!
* Penulis adalah analis sosial-politik dan peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta
Tauladan Politik dari Pak Wali Kota 13 Februari 2009
Posted by aal in Lansir.add a comment
Dilansir dari Koran Malioboro Ekspress, Minggu III Februari 2009
Oleh Ali Usman*

Judul Buku : Kekuasaan sebagai Wakaf Politik: Manajemen Yogyakarta Kota Multikultur
Penulis : Herry Zudianto
Penerbit : Impulse-Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : viii + 167 halaman
Jogja memang memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu diperbincangkan publik. Bukan hanya lantaran kentalnya adat Jawa dan tradisi keraton yang melekat kuat di dalamnya, tetapi lebih dari itu, Jogja juga sampai saat ini dikenal dengan predikat city of tolerance. Masyarakatnya yang adem-ayem, rukun-sentosa, dan penuh kedamaian, konon, membuat kota gudeg ini banyak dijadikan “daerah percontohan” oleh kota-kota lain seantero nusantara.
Di samping itu, kota yang padanya disematkan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berdasarkan UU RI No. 22 tahun 1948 dan secara khusus dilegalisasi di dalam UU RI No. 3 tahun 1950 mempunyai keunikan tradisi dan budaya. Fenomena tarakhir misalnya menunjukkan, untuk memutuskan perkara yang dianggap penting oleh masyarakat Jogja—dalam hal ini menyangkut pro-kontra Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja sekaligus gubernur DIY menjadi capres RI pada Pemilu 2009 nanti—harus melalui apa yang disebut “Pisowanan Ageng”, seperti yang terselenggara beberapa waktu lalu di Alun-alun Utara Jogjakarta.
Tak terbayangkan, pro-kontra apakah Sultan layak dan patut maju menjadi orang nomor wahid pada Pemilu mendatang tidak hanya memicu kontroversi di tingkat lokal masyarakat Jogja, tapi juga meluas secara nasional. Meski demikian, gejolak politik yang “diperagakan” oleh sebagian masyarakat Jogja, baik sebelum dan sesudah keputusan Sultan siap maju menjadi capres yang ia nyatakan pada “Pisowanan Ageng”, hingga saat ini aman terkendali.
Pertanyaannya adalah, mengapa hal itu terjadi? Selain karena memang kultur masyarakat Jogja yang secara “primordial” terbiasa dengan ragam pandangan atau perbedaan kelompok maupun individu sejak dahulu, lewat buku ini, tersingkap motif baru yaitu terletak pada manajemen kotanya yang sangat apik dikelola oleh pemeritah setempat, yang dalam hal ini dikomandoi oleh Wali Kota. Karena itulah, daya tarik buku setebal 167 halaman ini hemat saya, tidak bisa dilepaskan dari peran penulisnya oleh Herry Zudianto, Pak Wali Kota Jogjakarta sendiri.
Buku berjudul lengkap Kekuasaan sebagai Wakaf Politik: Manajemen Yogyakarta Kota Multikultur berisi catatan dan curahan hati Pak Herry selama dua periode (hingg saat ini) dalam memberikan kebijakan-kebijakan yang tepat dan humanis untuk sebuah kota yang “menganut” plus menjalankan paham “multikulturalisme”. Hal tersebut bisa ditengok pada struktur masyarakat Jogja, yang sebelumnya secara kultural relatif homogen, secara bertahap berkembang menjadi semakin heterogen, semakin multikultural. Fenomena semacam ini sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan. Kota manapun, tidak akan pernah steril dari berbagai pengaruh luar, terutama dari kecenderungan besar pada tingkat nasional, bahkan internasional.
Karena itu, ada satu hal penting yang menarik diungkap dari buku ini lewat kepemimpinan pak Herry—yang barangkali menjadi tauladan politik untuk kita semua. Diakui oleh Pak Herry, salah satu sumbangan terbesar dan terpenting dari pengalaman multikultur sejak ia masa kanak-kanak hingga dewasa, baik terhadap gaya kepemimpinan maupun spiritualitas yang mengilhami kepemimpinan dirinya di kota gudeg, nampak dalam cara memandang dan memperlakukan kekuasaan. Menurutnya, sejak terpilih sebagai Wali Kota Jogjakarta, ada tiga prinsip utama yang dipegang sebagai pedoman pengambilan keputusan dalam kebijakan politik, yakni hakikat kekuasaan, etika komunikasi politik, dan dimensi keadilan (lihat hlm. 35-40). Ketiga hal itu oleh bapak tiga anak itu sebagai prisip etika kepemimpinannya.
Pertama, hakikat kekuasan dimaksudkan sebagai sebuah bentuk kesadaran individu untuk mengetahui hakikat, maksud dan tujuan dari kekuasaan. Bagi Pak Herry, sejak ia terpilih Wali Kota, terbersit dalam benaknya agar benar-benar merasa memiliki dan dimiliki oleh semua pihak. Tokoh politik yang sebelumnya sebagai salah satu pengurus Partai Amanat Nasional (PAN) itu sampai pada kesimpulan bahwa seorang kader partai ketika diusung ke kursi eksekutif, maka filosofi yang harus dipegang adalah kader partai itu sudah diwakafkan untuk kemaslahatan orang banyak.
Kedua, etika komunikasi politik artinya kepekaan sosial oleh setiap pemimpin dalam mendengar aspirasi yang masuk dari yang dipimpin (rakyat). Seorang pemimpin harus belajar mendengar berbagai pendapat dari banyak pihak. Dengan lebih banyak mendengar, dimungkinkan bisa lebih jernih melihat persoalan dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Namun dengan tetap satu catatan penting, yaitu pemimpin juga harus memiliki prinsip sendiri dan keberanian untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Ketiga, dimensi keadilan menjadi hal penting dan krusial untuk ditegakkan. Walaupun di mata manusia tidak ada yang tahu secara pasti tentang kriteria dan takaran keadilan karena problem relativitas di antara lapisan masyarakat, tapi setidaknya, seorang pemimpin dengan mendengar berbagai aspirasi—sebagaimana dipaparkan pada poin ketiga tadi—pendapat dan kepentingan dari berbagai pihak merupakan salah satu metode atau cara ampuh untuk mengeliminasi, atau setidaknya meminimalisir kemungkinan terjadinya keputusan yang tidak adil, keputusan yang hanya memuaskan dan menyenangkan satu pihak tetapi merugikan dan menyusahkan pihak lain.
Akhirnya, apa yang telah diuraikan di atas tentu saja memiliki relevansi kuat dengan problem kepemimpinan di setiap kota, dan terlebih mungkin di tingkat negara. Sebab, masyarakat multikultural atau keberagaman (kelompok) masyarakat di setiap kota pada dasarnya sama. Semoga.
*Ali Usman, pencinta buku, dan belajar filsafat di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jihad Kemanusiaan untuk Palestina 8 Januari 2009
Posted by aal in Lansir.11 comments
Dilansir dari Suara Merdeka, 9 Januari 2008
Oleh: Ali Usman*

”Benturan, ledakan, mereka yang jatuh menukik perlahan-lahan —semua itu, sunguh bukan lagi Hollywood, tapi realitas mengerikan yang benar-benar terjadi secara harfiah di depan mata publik dunia”.
—(Borradori, 2004)
SUNGGUH miris menyaksikan kebrutalan tentara Israel dalam melakukan serangan udara terhadap masyarakat Palestina, selama dua pekan terakhir ini, meskipun mereka mengklaim bahwa target utama dari pembantaian itu adalah para pejuang Hamas.
Namun tetap saja yang menjadi korban adalah warga Palestina yang tak berdosa, terutama anak-anak dan kaum perempuan. Sampai kemarin, aksi brutal militer negara Zionis itu telah menewaskan sekitar 650 orang (separo diantaranya anak-anak), dan mencederai lebih dari 3.000 orang.
Tidak puas dengan gempuran udara dan blokade laut yang terus dilancarkannya, Israel juga telah melakukan serangan darat terbuka. Wakil Menteri Pertahanan Israel Matan Vilnai memperingatkan, operasi tersebut akan berlangsung berminggu-minggu.
ia menyebut aksi negerinya sebagai ”serbuan paling mematikan”, sejak kelompok pejuang Hamas menguasai wilayah itu pada pertengahan Juni 2008.
Atas tragedi kemanusiaan itu, kini dunia berduka. Banyak negara mengutuk pembantaian keji yang dilakukan Israel. Namun tetap saja tak berdaya. Seruan damai dari pemimpin negara-negara muslim, bahkan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon, bagai teriakan di ruang kosong. Dewan Keamanan PBB pun seperti macan ompong dalam menjaga perdamaiann dunia.
Bagaimana sikap Indonesia? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk sekaligus menyayangkan tragedi pelanggaran HAM kembali terulang di Bumi Palestina. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh protes berbagai lapisan masyarakat, baik perorangan maupun kelompok-kelompok yang mengatasnamakan solidaritas untuk Palestina.
Tak tanggung-tanggung, sebagian kelompok tertentu yang cenderung ”ekstrim” berniat mengirim sejumlah orang untuk ikut membantu dalam membebaskan Palestina dari serangan Israel.
Sikap terakhir itulah yang menurut saya sangatlah berlebihan. Karena itu, saya setuju dengan langkah pemerintah Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda, yang meminta semua kelompok yang ingin memberikan dukungan dan solidaritas terhadap warga Palestina menyalurkannya melalui bantuan kemanusiaan kepada para korban (Suara Merdeka, 31/12/2008).
Langkah Pemerintah Indonesia itu merupakan sebuah keputusan yang bijak dan benar, ketimbang harus mengirimkan relawan untuk ikut bertempur di Palestina. Sebab, jika itu terjadi, bukannya menyelesaikan masalah, justru memperuncing bahkan memperlebar peta konflik antara Israel dan Indonesia, karena sikap keberpihakan pemerintah kita terhadap Palestina.
Jadi, usaha pemerintah untuk menggalang bantuan sosial dapat dikategorikan sebagai jihad itu sendiri. Namun jihad yang dimaksud bukan dalam pengertian tekstual, yang berarti peperangan fisik. Jihad yang diprakarsai pemerintah dalam istilah saya adalah ”jihad kemanusiaan”. Ini sesuai dengan asal katanya, yaitu jahada yang berarti usaha sungguh-sungguh dan sekuat tenaga untuk malakukan sesuatu (Ibnu Manshur).
Jihad kemanusiaan tidak didasarkan oleh dorongan doktrin agama yang mengharuskan pemeluknya cenderung bertindak gegabah, mengedepankan otot daripada pertimbangan akal yang matang. Jihad kemanusiaan lebih didorong oleh kepentingan rasa empati antarsesama makhluk Tuhan.
Apakah kemudian peran agama ditiadakan? Tidak! Justru lewat jalan itu, spirit dan misi agama benar-benar tampak berjiwa emansipatoris, yang selalu siap kapan saja mendukung misi kemanusiaan.
Konflik Agama?
Semua orang tahu, konflik antara Palestina dan Israel memang sudah berlangsung sangat lama, dalam kecamuk perang yang sangat kejam. Tetapi, apakah konflik keduanya dapat dikatakan sebagai perang antaragama? Amat sulit menjawabnya. Awalnya mungkin ya, dipicu oleh faktor agama. Tetapi selang beberapa waktu lama, konflik keduanya menurut saya tidak lagi murni demi mempertahankan agama masing-masing.
Konflik Israel-Palestina saat ini lebih tepat jika disebut sebagai konflik memperebutkan teritorial yang dibalut dengan kepentingan politik. Penguasaan dan usaha untuk menghegemoni secara politik jauh lebih kental daripada nuansa agama.
Sebab, konflik antaragama adalah konflik yang terjadi antara dua atau lebih agama yang saling berhadapan dan terang-terangan menyatakan saling bermusuhan. Pihak yang berkonflik bisa berasal dari berbagai negara atau daerah, tetapi mereka memeluk agama yang sama dan bertujuan menegakkan agamanya.
Konflik semacam itu terjadi pada Perang Salib antara Kristen dan Islam, yang menurut Phillip K Hitti dalam The History of Arab terbagi menjadi tiga periode. Pertama adalah Periode Penaklukan (1096-1144), ketika Paus Urbanus II terus membangkitkan semangat kaum Kristen untuk bersiap melaksanakan penyerbuan. Mereka menaklukkan Anatolia Selatan, Tarsus, Antiokia, Aleppo, dan Edessa. Tentara Salib menggunakan baju gambar salib sebagai lambang agama Kristen.
Kedua adalah Periode Reaksi Umat Islam (1144-1192). Kaum muslimin mulai sadar dan menghimpun kekuatannya guna menghadapi pasukan Salib. Di bawah kepemimpinan Imaduddin Zangi, Nuruddin Zangi, dan Shalahuddin al-Ayyubi, kaum muslim berhasil merebut wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib. Misalnya Edesse, Aleppo, Damaskus, Antiokia, dan Mesir.
Selanjutnya periode ketiga atau lebih dikenal perang saudara adalah Periode Kehancuran dalam Perang Salib (1193-1291). Tentara salib mulai terpecah belah akibat ambisi kekuasaan dari tiap kelompok.
Maka teranglah bahwa konflik Israel-Palestina bukan perang antaragama. Baik Palestina maupun Israel menganut agama yang tidak tunggal. Menurut data tahun 2007, Palestina didiami oleh 40 persen penduduk beragama Kristen, dan sekitar 1,3 persen beragama lain —termasuk Yahudi.
Sedangkan di Israel terdapat sekitar 15 persen muslium dan dua persen orang Kristen. Artinya, tidak tepat jika mengatakan konflik ini adalah konflik antaragama, sehingga umat suatu agama merasa menjadi korban dan tertantang untuk membalas. Dengan demikian, mari kita senandungkan satu kata: sudahi perang, perdamaian jauh lebih indah! Semoga.
*Ali Usman, mahasiswa Filsafat Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Alat Pengukur Stress 29 Desember 2008
Posted by aal in Esai.8 comments
Streskah Anda?
Bila makin cepat bergeraknya, makin streslah Anda.
Seorang guru mengatakan “saya merasa gambarnya bergerak tetapi perlahan, seperti bernafas”.
Gambar-gambar ini dipergunakan untuk mengetahui level stress yang dapat ditangani seseorang. Semakin perlahan pergerakan gambarnya, semakin baik kemampuan seseorang mengatasi stress.
Seorang kriminal yang pernah di test mengatakan gambar-gambar tersebut berputar sangat cepat. Seorang usia lanjut dan anak-anak mengatakan gambarnya tidak bergerak. Gambar-gambar ini tidak ada yang animasi, semua adalah gambar statis.
Silahkan mencoba!


