jump to navigation

Menggenggam Dunia… 30 November 2007

Posted by aal in Gallery.
4 comments

dsc00329.jpg

“Menggulingkan batu sebesar ini aku memang tidak mampu, tapi untuk menggenggam dunia aku bisa…”

Islam bukan Penjara 28 November 2007

Posted by aal in Esai.
26 comments

dsc01943.jpgdsc01936.jpgdsc01934.jpgdsc01979.jpgdsc02003.jpgdsc01922.jpg

Sudah sejak lama saya ingin tahu dan melihat secara langsung sosok pemikir muslim asal Mesir yang harus rela diusir dari negaranya sendiri lantaran kontroversi pemikiran-pemikirannya. Nasr Hamid Abu Abu Zayd, namanya.

Siang itu, Selasa, 27 November 2007, jam 14.00 WIB di Pendopo Yayasan LKiS, saya berkesempatan hadir dalam acara diskusi terbuka bersama tokoh yang dikenal karena pemikirannya tentang hermeneutika al-Qur’an. Sungguh senang rasanya bisa bertatap wajah langsung, berdialog dan foto bareng bersamanya.

Di awal pembicaraan, Abu Zayd langsung menyapa peserta diskusi. “Saya sangat gembira bisa berbicara di depan kalangan muda seperti sekarang. Berbeda jika seandainya saya kemarin diizinkan berbicara di depan para orang tua”, ucapnya. Abu Zayd memang menaruh harapan kepada kaum muda untuk berani mengambil sikap dan “melawan” terhadap segala tiran yang hegemonik, termasuk hegemoni tafsir dalam beragama. Selain itu, ia juga tampak jengkel terhadap sikap Departemen Agama (Depag RI) dan pihak-pihak tertentu yang mencekalnya untuk presentasi dalam acara International Confrence di Malang-Jawa Timur.

Untung saja, teman-teman di LKiS—sebuah lembaga yang belakangan “digosipkan” oleh salah satu Ormas Islam di Tanah Air sebagai penyebar paham kiri (komunis) [meski kebenarannya diragukan dan tak terbukti]—peka dan berinisiatif mengundang Abu Zayd “berorasi” di Yogyakarta tentang Islam dan Kebebasan Beragama.

Abu Zayd menunjukkan fakta yang sangat ironi bagi sebuah negara dalam menyikapi kebebasan beragama bagi warganya. Kebebasan beragama seperti yang banyak terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia, berjalan secara paradoks. Abu Zayd membandingkan antara kebebasan pasar dengan kebebasan beragama itu sendiri; kebebasan pasar yang ditandai dengan globalisasi dan sistem kapitalisme justru diadopsi secara terang-terangan oleh negara. Sementara kebebasan beragama malah tertahan, tidak dibiarkan mengalir secara alami sebagai kodrat manusia. “Sungguh ini merupakan paradoks yang amat nyata”, imbuhnya.

Kebebasan beragama juga mensyaratkan adanya kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual. Namun sayang, para ulama menurut Abu Zayd, lebih banyak menghafal daripada berpikir. Akibatnya, pola pemahaman Islam tidak berjalan secara dinamis sesuai dengan ruang dan waktu, tapi sebaliknya, mengalami stagnasi yang dari dulu hingga masa modern sekarang ini, selalu “itu-itu saja”.

Ulama kita, lanjut Abu Zayd, terlalu sibuk mengkafirkan orang lain—yang sebenarnya itu merupakan hak priogratif Tuhan—daripada berpikir secara kritis. Kata fakkara (memikirkan) dan kaffara (mengkafirkan) memiliki komponen huruf yang sama, fa, kaf, ra. Perubahan bentuk gramatikalnya sangat tipis. “Jangan-jangan ulama kita salah baca; fakkara malah dibaca kaffara, sehingga yang terjadi adalah aktivitas untuk saling mengkafirkan antar sesama”, ledek Abu Zayd sambil menebar senyum dan tawa yang renyah.

Nabi Muhammad adalah sosok tauladan dalam hal ini. Pada masanya, beliau selalu kritis terhadap realitas yang cenderung menindas masyarakat setempat; beliau tak pernah sungkan untuk melawan sistem hegemoni yang mengancam kebebasan individu. Aneh memang, kata Abu Zayd dengan wajah herannya, ulama melarang berpikir kritis dan selalu berkedok karena melindungi umat. Padahal dengan larangan itu sebenarnya mereka (ulama) hendak melindungi kepentingan-kepentinganya. “Apa jadinya bila pengikut ulama tertentu berpaling dan pindah ke lain hati lantaran apa yang mereka yakini sudah tak layak lagi dianut”, spontan para peserta diskusi bertepuk tangan.

Abu Zayd selalu mengingatkan pada kita, sebagaimana juga diserukan oleh al-Qur’an, afala ta’qilun (apakah kamu tidak berpikir)? Kebebasan beragama sama halnya dengan kebebasan memilih, dan itu yang membedakan dengan penjara. Dengan melarang berpikir bebas, kritis, dan radikal, berarti memenjarakan setiap manusia yang tak bersalah. Dan Islam bukan ruang penjara!

Siapa mau Presiden? 25 November 2007

Posted by aal in Gallery.
3 comments

presidenku2.jpg

Hormat dan ta’dhimku ini hanya untuk berkata kepadamu wahai presiden: “Jika kau tetap saja menyengsarakan rakyat, lebih baik tinggalkan saja kursi kepresidenanmu. Biar aku dan kawan-kawanku yang revolusioner yang memimpin!” [Foto bersama presiden SBY di Bali, 12 Juli 2007]

Guru… 24 November 2007

Posted by aal in Esai.
1 comment so far

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Momen ini mestinya tidak berhenti pada ritual dan seremonial tahunan belaka. Guru tidak cukup hanya diberi predikat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang diulang-ulang dalam setiap tahunnya oleh pemerintah.

Kesabaran, kegigihan, dan ketelatenannya, telah mengantarkan kita menjadi manusia yang bisa menulis, membaca, serta berkomunikasi dengan baik antar sesama. Guru adalah penterjemah pengetahuan.

Karenanya, ia layak “digugu dan ditiru”. Orang yang lupa akan jasa seorang guru, berarti tak layak untuk ditiru. Begitupula dengan negara. Negara, sejatinya mensejahterakan dan memperjuangakan nasib guru—sebagaimana mereka (para guru) memperlakukan presiden, wakil presiden dan orang-orang pintar lainnya di parlemen sana sewaktu masih belajar mengeja di bangku SD. Sudahkan nasibmu kian membaik wahai guru?

***

Bicara soal guru, saya teringat kisah perjuangan seorang guru bernama Erin Gruwell dalam film The Freedom Writers. Ia mampu menciptakan perdamaian untuk siswa-siswinya, di tengah konflik pertentangan antar etnis, ras, kelompok: antara kulit hitam dan kulit putih.

Dalam film itu, terkesimak hubungan dialogis antara siswa dan guru. Tak ada subjek dan objek di sana. Semuanya bertindak menjadi subjek. Persis seperti gagasan pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire yang tidak menginginkan kegiatan belajar mengajar “gaya bank”.

Di sana terlihat bagaimana sang guru memberikan stimulasi kepada siswa-siswinya untuk menulis dan membaca dengan cara yang unik; menulis sebuah catatan harian dan juga membaca sebuah karangan yang temanya amat dekat dengan kondisi siswa-siswinya.

Memang begitulah semestinya. Guru dituntut dalam mengajari anak didik tidak dengan cara monoton dan penuh positivistik. Tetapi dibutuhkan kreatifitas dan seni mengajar yang baik untuk dapat menyerap ilmu dengan mudah dan lancar.

***

Menonton film itu saya membayangkan hal tersebut terjadi di negara kita. Karena konon, model pembelajaran seperti itu diterapkan di lembaga pendidikan tempat film itu dibuat. Bila anda juga pernah menonton, sudikah anda memberikan komentar?