jump to navigation

Islam bukan Penjara 28 November 2007

Posted by aal in Esai.
trackback

dsc01943.jpgdsc01936.jpgdsc01934.jpgdsc01979.jpgdsc02003.jpgdsc01922.jpg

Sudah sejak lama saya ingin tahu dan melihat secara langsung sosok pemikir muslim asal Mesir yang harus rela diusir dari negaranya sendiri lantaran kontroversi pemikiran-pemikirannya. Nasr Hamid Abu Abu Zayd, namanya.

Siang itu, Selasa, 27 November 2007, jam 14.00 WIB di Pendopo Yayasan LKiS, saya berkesempatan hadir dalam acara diskusi terbuka bersama tokoh yang dikenal karena pemikirannya tentang hermeneutika al-Qur’an. Sungguh senang rasanya bisa bertatap wajah langsung, berdialog dan foto bareng bersamanya.

Di awal pembicaraan, Abu Zayd langsung menyapa peserta diskusi. “Saya sangat gembira bisa berbicara di depan kalangan muda seperti sekarang. Berbeda jika seandainya saya kemarin diizinkan berbicara di depan para orang tua”, ucapnya. Abu Zayd memang menaruh harapan kepada kaum muda untuk berani mengambil sikap dan “melawan” terhadap segala tiran yang hegemonik, termasuk hegemoni tafsir dalam beragama. Selain itu, ia juga tampak jengkel terhadap sikap Departemen Agama (Depag RI) dan pihak-pihak tertentu yang mencekalnya untuk presentasi dalam acara International Confrence di Malang-Jawa Timur.

Untung saja, teman-teman di LKiS—sebuah lembaga yang belakangan “digosipkan” oleh salah satu Ormas Islam di Tanah Air sebagai penyebar paham kiri (komunis) [meski kebenarannya diragukan dan tak terbukti]—peka dan berinisiatif mengundang Abu Zayd “berorasi” di Yogyakarta tentang Islam dan Kebebasan Beragama.

Abu Zayd menunjukkan fakta yang sangat ironi bagi sebuah negara dalam menyikapi kebebasan beragama bagi warganya. Kebebasan beragama seperti yang banyak terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia, berjalan secara paradoks. Abu Zayd membandingkan antara kebebasan pasar dengan kebebasan beragama itu sendiri; kebebasan pasar yang ditandai dengan globalisasi dan sistem kapitalisme justru diadopsi secara terang-terangan oleh negara. Sementara kebebasan beragama malah tertahan, tidak dibiarkan mengalir secara alami sebagai kodrat manusia. “Sungguh ini merupakan paradoks yang amat nyata”, imbuhnya.

Kebebasan beragama juga mensyaratkan adanya kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual. Namun sayang, para ulama menurut Abu Zayd, lebih banyak menghafal daripada berpikir. Akibatnya, pola pemahaman Islam tidak berjalan secara dinamis sesuai dengan ruang dan waktu, tapi sebaliknya, mengalami stagnasi yang dari dulu hingga masa modern sekarang ini, selalu “itu-itu saja”.

Ulama kita, lanjut Abu Zayd, terlalu sibuk mengkafirkan orang lain—yang sebenarnya itu merupakan hak priogratif Tuhan—daripada berpikir secara kritis. Kata fakkara (memikirkan) dan kaffara (mengkafirkan) memiliki komponen huruf yang sama, fa, kaf, ra. Perubahan bentuk gramatikalnya sangat tipis. “Jangan-jangan ulama kita salah baca; fakkara malah dibaca kaffara, sehingga yang terjadi adalah aktivitas untuk saling mengkafirkan antar sesama”, ledek Abu Zayd sambil menebar senyum dan tawa yang renyah.

Nabi Muhammad adalah sosok tauladan dalam hal ini. Pada masanya, beliau selalu kritis terhadap realitas yang cenderung menindas masyarakat setempat; beliau tak pernah sungkan untuk melawan sistem hegemoni yang mengancam kebebasan individu. Aneh memang, kata Abu Zayd dengan wajah herannya, ulama melarang berpikir kritis dan selalu berkedok karena melindungi umat. Padahal dengan larangan itu sebenarnya mereka (ulama) hendak melindungi kepentingan-kepentinganya. “Apa jadinya bila pengikut ulama tertentu berpaling dan pindah ke lain hati lantaran apa yang mereka yakini sudah tak layak lagi dianut”, spontan para peserta diskusi bertepuk tangan.

Abu Zayd selalu mengingatkan pada kita, sebagaimana juga diserukan oleh al-Qur’an, afala ta’qilun (apakah kamu tidak berpikir)? Kebebasan beragama sama halnya dengan kebebasan memilih, dan itu yang membedakan dengan penjara. Dengan melarang berpikir bebas, kritis, dan radikal, berarti memenjarakan setiap manusia yang tak bersalah. Dan Islam bukan ruang penjara!

Komentar»

1. Benni Setiawan - 28 November 2007

Al, pengungkapan atas pertemuan dengan tokoh besar Abu Zayd menarik untuk dipublikasikan secara luas. Tapi, Aal kok tidak ngabari saya ya. Padahal beberapa hari ini saya di jogja lho Aal. he he
Salam

2. Faruuq Tri Fauzi - 28 November 2007

Assalamu’alaikum Wr Wb:)
Saudara ana Ali Utsman yang ana hormati.
Betapa, Anda mengagungkan Nashr Hamid Abu Zayd, yang dari tulisan Anda seolah-olah dia adalah sosok pahlawan.
tapi saya membaca aneh tulisan Anda. Dalam tulisan tersebut Anda mengagung-agungkannya yang gemar mendorong para pemuda berfikir kritis. Anehnya Anda sendiri tidak kritis terhadap apa yang dilontarkannya. Coba Anda renungkan, Dia tidak menyukai sikap takfir, tapi dia sendiri malah gemar mengejek dan menghina para Ulama’. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dia memukul rata para ulama’, yang berarti sejak ulama’ pertama pada masa sahabat sampai masa sekarang. Sungguh ironi.
Yang lebih Lebih Aneh lagi, Anda lebih membanggakannya lantaran diusir para ulama’. bukan diusir oleh para penjahat. Jika Anda mengajak berfikir kritis, sekaranglah saatnya Anda mencoba berfikir kritis. Coba kritisi kembali tokoh-tokoh yang selama ini Anda Agung2kan.
Coba pula Anda renungkan setiap masalah itu secara mendetail. Sikap mengkafirkan orang Islam memang tidak boleh, tetapi mengkafirkan orang yang telah kafir sudah seharusnya.
Coba Anda baca kembali al-Qur’an Anda. Yang diantara bunyinya adalah: Sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Isa itu adalah anak laki2 Allah (al-Maidah: 17) dan baca kembali sejarah tentang sikap Abu Bakar yang memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, yang kemudian sikap itu di-amin-i oleh Umar Bin Khotob dan semua sahabat utama. Sekarang silahkan Anda pilih, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dll yang dijamin masuk surga atau Nasr Hamid Abu Zayd yang belum dijamin masuk surga dan bahkan di dunianya sudah dimusuhi oleh mayoritas ulama’ Mesir di zamannya.
Sekali lagi, jika Anda mengajak kritis, sekaranglah saatnya Anda kritis terhadap pemikiran2 Anda sendiri.
‘Dan tiadalah aku menginginkan melainkan semata-mata menambah kebaikan”
Akhukum fil-Ma’had al-Ittihad al-Islamy

3. aal - 29 November 2007

Terima kasih kawan Faruuq atas tanggapan kritisnya. Tak disangka, tulisan saya—yang semula sebenarnya hanyalah liputan biasa tentang diskusi terbuka bersama Nasr Hamid Abu Zayd ditanggapi secara serius oleh kawanku, Faruuq di Malang sana (jika belum lulus di UMM). Saya hanya menganggapnya itu sebagai “oleh-oleh” dari acara diskusi tersebut. Ya, sekadar berbagi informasi untuk sesama, untuk kawan-kawan saya yang saya kenal.
Tapi tak apalah, izinkan saya juga berkomentar atas komentarmu. Karena Andalah, saya terbangun dari tidur. Karena Andalah, saya belajar berpikir kritis. Berpikir kritis adalah keniscayaan bagi orang yang berpikir.
Perlu saya klarifikasi, bahwa saya tidak pernah mengatakan dalam tulisan itu Abu Zayd gemar mengejek dan menghina para ulama, seperti yang Anda tudingkan. Itu pemahaman dan tafsiran Anda sendiri. Hati-hatilah menjustifikasi sesuatu tanpa sebab dan alasan yang kuat. Bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh, kata al-Qur’an?
Tak ada yang Agung (dengan huruf ‘A’ besar) dalam kehidupan ini kecuali Yang Maha Agung itu sendiri, Tuhan Semesta Alam. Sekali lagi, saya tidak pernah mengatakan secara implisit maupun eksplisit, bahwa saya meng(A)gung-agungkan Abu Zayd. Semata-mata itu pemahaman dan tafsiran Anda atas tulisan saya. Di tulisan itu, saya hanya mengatakan “saya ingin tahu dan melihat secara langsung… Abu Zayd”. Itu saja. Tak lebih.
Katamu juga Faruuq, “sikap mengkafirkan orang Islam memang tidak boleh, tetapi mengkafirkan orang yang telah kafir sudah seharusnya”. Loh, kalau memang ada orang yang sudah jelas-jelas kafir, mengapa mesti dikafirkan (lagi)? Tentang ayat yang anda cuplik itu, saya menganggapnya tak ada hubungannya dengan apa yang saya tulis.
Sikap Abu Bakar dan Umar yang memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, menurut saya, bukan seperti yang dimaksud dalam Q.S: al-Maidah: 17. Tidak membayar zakat bukan berarti kafir dan tidak secara otomatis mengakui agama lain atau mengakui Isa sebagai anak Allah. Apakah orang yang meninggakan shalat juga berarti kafir?
Di sinilah pentingnya kita membaca teks dan sejarah Islam tidak secara tekstual, dogmatis dan ekslusif. Perlu dimengerti bahwa konteks sejarah Abu Bakar yang memerangi orang-orang yang emoh membayar zakat bukan murni persoalan teologis, tetapi lebih merupakan persoalan kekuasaan dan politik yang menjadi konsekuensi logis bagi orang-orang yang hidup di sebuah sistem khilafah—yang pada waktu itu diterapkan. Saya tidak tahu apakah ini bermakna positif atau sebaliknya bagi negara yang menganut sistem khilafah.
Saya juga mendengar dari Abu Zayd kemarin, hadis yang menerangkan kasus pemurtadan/pengkafiran yang dilakukan oleh Umar adalah hadis Ahad—yang derajatnya dalam ilmu hadis sangat lemah. Mungkin kawan Faruuq bisa cek kebenarannya, yang memang sudah terbiasa mentasrih hadis sejak di pesantren dulu.
Selanjutnya, apakah dengan memilih Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali seseorang akan dijamin pula masuk surga? Saya pilih Ali Usman saja, salah satu sahabat banyak orang, he2…
Begini saudaraku Farruq. Saya memang lebih suka, bersimpati dan kagum (dengan ini saya bukan berarti tidak suka, bersimpati, dan mengangumi para sahabat dan ulama) kepada pemikir seperti Abu Zayd daripada ulama (siapapun mereka) yang hanya sibuk memfatwai orang lain kafir, murtad, dan lainnya. Manusia menurut saya, tak berhak mengkafirkan orang lain hanya lantaran berbeda pendapat dan keyakinan dengan kita. Ini merupakan sifat syetan yang dalam al-Qur’an dikatakan “ana khairun minhu” (aku lebih baik darinya). Urusan teologis, termasuk klaim kafir menurut saya adalah hak mutlak priogratif Tuhan. Saya tidak ingin menjadi Tuhan dengan mencampuri urusan-Nya, karena itu dilarang sebagai perbuatan syirk.
Mungkin itu saja komentar saya, dan mohon maaf bila ada salah kata. Wallahu ‘alam bisshawab…

4. qoedsie - 30 November 2007

bertemu langsung dengan orang yang kita kagumi sangat menyenangkan. dari tulisan antum, emang bener antum ga pernah mengatakan abu zayd mengejek ato menghina para ulama. tapi dari penyampaian beliau ” jangan-jangan ulama kita salah baca FAKKARA di baca KAFFARA…….dst, Dengan ledekan dan senyum renyahnya sudah jelas klo abu zayd meremehkan ulama laen yang tidak sejalan dengan beliau. itu aja komentar saya.
Wallahu a’lam….
Afwan….

GOD Bles you Always
sukses buat antum.

5. qoedsie - 30 November 2007

bertemu langsung dengan orang yang kita kagumi sangat menyenangkan. dari tulisan antum, emang bener antum ga pernah mengatakan abu zayd mengejek ato menghina para ulama. tapi dari penyampaian beliau ” jangan-jangan ulama kita salah baca FAKKARA di baca KAFFARA…….dst, Dengan ledekan dan senyum renyahnya sudah jelas klo abu zayd meremehkan ulama laen yang tidak sejalan dengan beliau. itu aja komentar saya.
Wallahu a’lam….
Afwan….

GOD Bless you Always
sukses buat antum.

6. Hatim Gazali - 3 Desember 2007

selamat deh aal yg makin hebat. setelah salaman dengan SBY, kini nimbrung di belakang nasr hamid abu zayd. Moga nanti waktu lamaran, gak di cekal oleh calon mertua…ntar pengalaman abu zayd menimpa dirimu.

7. Ally Noer - 28 Desember 2007

berfikir kritis memang bagian dari hidup pemikir, manusia itu sendiri adalah mahluk yang dikarunia alat untuk berfikir (akal). aku tidak mau bercuap2 banyak tentang tulisan mas Ali Utsman, yang jelas aku hanya ingin berucap, “tak kenal maka tak sayang, dan tak kenal maka ‘Ta’aruf'”. jadi rasa “kagum” kepada siapapun, dimulai dari perkenalan yang mendalam, bukan perkenalan yang sekedarnya saja. mengetahui positif negatifnya dan latar belakang kehidupannya. begitu juga ketika kita belum mengenal sosok yang sudah dikagumi berjuta bahkan bemiliyar orang, mari kita berusaha mengenalnya dengan mendalam, jangan hanya sekedar luar2nya saja, agar dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan apakah dia layak untuk kita kagumi atau tidak? pada saat itulah nalar kritis kita baru bisa diacungi jempol.

8. aal - 28 Desember 2007

yup… aku setuju denganmu Noer. Thanks

9. Jemcairo - 11 Januari 2008

“Saya sangat merindukan lahirnya orang-orang pembelajar sejati di zaman ini yang tahqiq-oriented dan bukan word-minded”

Is oky.. boleh saya ikut gabungan di sini?

Pertama: bicara tentang nalar dan pemberdayaan akal itu merupakan hal yang basi untuk dibahas, sudah klasikal, namun kalau kita beranjak ke pembahasan lebih dalam lagi yang mampu membedakan antara berfikri liar dan bijak, berfikir brutal dan sitematis, berfikir bebas dan salah atau berfikir bebas dan benar? Semua orang bertameng logika, bisa, dan mengaku benar? Namun sayangnya hasil dari kreasi berfikir itu berfariatif bahkan kontradiktif, ketika ini terjadi kembali lah ke Alquran, sebagai standat dan barometer kebenaran absolut. “Aaah lagi lagi al Quran, semua orang bilang sudah berlandaskan al Quran jem” ya mungkin itu yang menjadi komentar anda… tapi sayang semua yang berdalil al Quran itu ternyata butuh metodelogi dan sistem, bahkan syarat… agar tidak berfikir liar, sayangnya mengaku muslim namun tidak nampak kemuslimannya… dan ini terjadi pada Nash Abu Zaid, sekali lagi terjadi pada Nash Abu Zaid. Herannya mahasiswa Indo ada juga yang mendewaknnya, sayangnya mereka juga tidak gatol membaca para lawan pemikir Nasr Abu Zaid. Hampir tidak ditemua buku2 Nashr Abu Zaid di sini, Mesir, terutama dalam ranah top timur tengah, bahkan sekaliber dunia Islam. Padahal di Mesir amat subur semua hasil karya tulis bisa di orbitkan dengan mudah, kecuali pada penulisnya yang mungkin di usih lah, ya demikianlah Mesir, Ummuddunya.

Bicara “kebebasan beragama juga mensyaratkan adanya kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual.” Ya kebebasan berfikir juga di persilahkan selama tidak mengganggu hak dan frifasi orang lain yang juga berideologi dan mempunya dokma tertentu, ini merupakan hal yang logis, artinya menahan orang untuk tidak merusak pikiran orang lain itu juga merupakan kebabasan berfikir, mempertahankan hak kemurnia keyakinan merupakan hak setiap manusia bukan? kembali lagi ke lebel Abu Zaid kafir juga merupakan hasil dari kreasi dan produk berfikir. Itu merupakan hal yang sah, sebagaimana dia juga sah dalam pikirannya untuk menyatakan bahwa al Quran adalah Intaj Staqofi (produk budaya), terlepas benar atau salahnya. Di sisi lain ada orang yang menyatakan dia kafir juga sah adanya, dan bahkan pengusirannya (Nash Abu Zaid) dari mesir juga merupakan cerminan dari kebebasan berfikir dan saya kirra ini kebebasan berfikir sepeti ini saya katakan benar adanya. Sering kali orang yang bebas befikir juga ogah untuk dikritik dan bahkan menyalahkan orang yang mengkafirkan, aneeehnya lagi tataran kafir atau tidaknya dia (menurut orang aliran berfikir bebas) merupakan hal dan priogafif Tuhan, BUSEET… Tuhan yang mana? Tuhan barat? Tuhan liberalisme atau Tuhan yang mana? Tuhan semesta Allah menganjurkan akan teori dakwah dan untuk diperaktekkan… nyatakan akan kebenaran itu benar, kekafiran itu kafir, itu is oky? Kenapa masih ada yang sewoot dan bahkan mengkaburkan makna kafir? Melarang melebel orang kafir sama halnya mentiadakan unsur kafir dalam semua dimensi kehidupan seseorang siapapun dia dan dimanapun, akhir ujung2-nya meniadakan kafir dan muslim, ini kebatilan yang nyata, kalau hasil bathil maka penopangnya (premis minor mayor, Qodhiyah Sughro dan Qubra; yang belajar manthiq paham ini) akan bathil juga.

Kedua: kepada mas Ali Ustman yang menyatakan “Tidak membayar zakat bukan berarti kafir dan tidak secara otomatis mengakui agama lain atau mengakui Isa sebagai anak Allah. Apakah orang yang meninggakan shalat juga berarti kafir?

Hehehe… Maaf… saya kira anda tidak sedang berkelakar kan?
sekali lagi maaf, sepertinya ada perbedaan mencolok tentang koridor atau syarat orang dikatakan kafiran, saya tannya menurut ada apakan ada orang itu kafir? bisa sebutkan kriteria orang itu dikatakan non islam atau sudah keluar dari islam? Oooh sorri, maaf dalam kamus anda tidak layak menyatakan kafir melaluai lisan manusia biasa, sebagaimana juga nggak ada muslim walaupun ini tidak anda sebutkan, ini yang dalam manthiq disebutkan talazum. Sorri saya hargai pendapat anda. Pembahasan ini berkaitan kafir tidak akan pernah bertemu dalam muara yang satu, taidak akan pernak mencapai titik kesepakatan yang utuh… kholas.

Ketiga : Pentingnya Sejarah Islam, tidak secara tekstual. Is oky, benar adanya, banyak memang dari teks yang ada merupakan kesesuaiyan dengan apa yang ada pada saat itu, tapi herannya bukan berarti semua yang ada dari penafsiran tekstual dibabat habis kebenarannyakan? Kontekstual pun bukan merupakan segalagalanya. disinilah tuntutan untuk lebih profesionalisme menilai dari segala dimensi dan paradikma yang ada. sekali lagi tidak membawa semua penafsiran yang ada di kontekstualkan kan?

Keempat : udah lah… semoga alam kita dalam angunngan Allah selalu.
Selamat menangapi dengan hati yang dingin, maafkan aku ya Allah jika salah dan terlalu merani para saudaraku menggeser pemahaman yang benar akan agamMu…:(

10. Agus Wibowo - 11 Januari 2008

Kang…dirimu dah mendahului…aku kemaleman tidurnya je…
kritikdi atas perlu ditanggapi kang…
Senin, gak usah sms, tak tunggu…aku dari pagi di kost menanti kedatangan penulis besar…he..he
Beni sekarang sedang jaya…jaya diudara he..he. yang jelas kita tidak boleh iri pada rezeki orang laen…
rezeki dah ada yang ngatur…

11. aal - 12 Januari 2008

Untuk kawanku Jemcairo,
Terima kasih atas kesediaanya bertandang di blog saya plus komentar kritisnya. Agar tidak bertele-tele, izinkan saya langsung berkomentar atas komentarmu.
Pertama, tentang kebebasan berpikir. Tarus terang saya menyangsikan sebuah justifikasi dan klasifikasi sebagaimana yang kamu bilang, ada berfikir liar, bijak, sistematis, bebas, salah dan benar, bahkan brutal, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah apa ukuran seseorang dapat dikatakan berpikir liar, bijak, salah, bebas, dan lain-lain itu?
Perlu disadari, berpikir itu tidak sama dengan perbuatan yang digerakkan oleh organ tubuh, sehingga bisa dilarang dan dibatasi. Melarang sesorang berpikir kritis ataupun liberal misalnya, tidak seperti melarang seseorang untuk tidak mencuri mangga. Karenanya, proses dan kinerja berpikir seseorang adalah keniscayaan (sunnatullah) yang bila dilarang boleh jadi tidak menghargai nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Apalagi, orang yang menekuni di bidang filsafat, berfikir apapaun bentuknya merupakan “kewajiban” yang mestinya tidak perlu lagi “ditakuti”. Aneh, orang belajar filsafat kok malah takut berfikir…
Kedua, tentang kebenaran. Secara teologis, bagi saya sangat mudah memahamai “rumus kebenaran”. Bahwa kebenaran itu adalah bersumber dari Tuhan (al-haqqu min arrabbiq). Karena dari Tuhan, maka tidak dibenarkan manusia dengan sangat gampang mencela dan menyalahkan orang lain atas nama kebenaran yang ia yakini. Sebab nilai kebenaran di wilayah manusia secara horizontal bersifat relativ.
Singkatnya, semua pendapat yang dihasilkan oleh olah pikir setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk mencapai kebenaran yang “diinginkan” oleh Tuhan. Manusia tidak mempunyai hak milik kebenaran, karena Tuhanlah Sang Pemilik Kebenaran. Manusia hanya mendamba kebenaran. Jadi, benar atau tidaknya sesuatu, apalagi menyangkut wilayah teologis, sejatinya diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Ketiga, soal kesan negatif terhadap sosok pemikir brilian dan progresif, Nasr Hamid Abu Zayd. Semua orang tentu tak bisa dipaksakan agar suka dan kagum dengan pemikiran-pemikiran Abu Zayd. Begitu pula sebaliknya, tidak dibenarkan juga mengajak dan memprovokasi seseorang agar “membenci” Abu Zayd lantaran kontroversi pemikirannya. Jika itu terjadi, sama halnya dengan melakukan hasutan dan perbuatan fitnah, bila ternyata tidak terbukti kebenarannya.
Oleh karenanya, saya selalu bilang, jangan pernah percaya dengan apa yang dikatakan orang, media, dan lainnya tentang citra seorang tokoh, kecuali berinteraksi langsung dengan tokoh tersebut, seperti misalnya, membaca langsung karya-karyanya. Sejauh ini, alhamdulillah, tidak seperti di Mesir, saya merasa bersyukur, bisa belajar di negeri sendiri, tanpa kesulitan membaca secara langsung buku-buku Abu Zayd (dan pemikir-pemikir lain), yang bahkan berkesempatan ikut diskusi bersamanya.
Semoga kawanku Jemil juga demikian (minimal baca bukunya), meski di Mesir sana, karya-karya Abu Zayd dikatakan langka atau jarang. Sehingga yang terjadi tidak menuduh sembarangan tanpa bukti, lantaran belum tahu atau pernah membaca bukunya secara langsung.
Keempat, soal pengkafiran terhadap orang lain. Saya tetap beranggapan, bahwa pemegang otoritas kebenaran dalam wilayah teologis adalah hak priogratif Tuhan. Bukan manusia. Masih banyak pekerjaan lain yang mesti dikerjakan sebagai amal ibadah, daripada sibuk mengkafir-kafirkan orang lain hanya karena berbeda paham dengan kita. Lihatlah konflik dan kekerasan yang berlatar agama, biasanya bermula dari klaim-klaim egoisme yang saling dipertentangkan.
Saya bukannya menafikan istilah kafir dalam terminologi Islam. Hanya saja, butuh ekstra hati-hati untuk melabeli apakah orang itu kafir atau tidak. Tentang wacana lebih lanjut dan pembahasan mendalam soal ini, saya sarankan kawan Jemil membaca al-Takfir Bayna al-Din wa al-Siyasah karya Muhammed Yunis. Tidak hanya kriteria, tetapi isu-isu kontemporer terutama yang menyangkut takfir dan politik serta HAM tergambar jelas dalam buku ini. Jangan bilang buku ini langka, karena penulisnya adalah selain pernah menjadi jurnalis di kantor berita al-Syarq al-Awsath, juga anggota komisi HAM Mesir.
Kelima, perihal kontekstualisasi al-Quran. Di sini, layak kita bertanya, untuk siapakah al-Qur’an diturunkan? Saya kira jawabannya secara pasti adalah untuk manusia. Al-Qur’an bukan untuk Tuhan. Maka karena untuk manusialah, kontektualiasi makna dan penafsirannya merupakan kewajiban yang mesti dilakukan.
Kecenderungan penafsiran terhadap al-Qur’an oleh kebanyakan orang hanya berhenti pada teks semata dan bercorak ideologis. Padahal, pembacaan seperti itulah yang dikritik Abu Zayd dalam Naqd al-Khitab al-Dini sebagai pembacaan yang tendensius ideologis. Yakni pembacaan yang hanya berhenti pada level tafsir. Berhenti pada pen-talwin-an (pengideologian). Dan tentu saja jauh dari tahap ta’wil yang diharapkan mampu menguak makna terdalam yang terkandung dalam teks yang oleh Abu Zayd disebut al-magza (signifikansi).
Karena itu, dalam pandangan Abu Zayd, penafsiran terhadap teks yang hanya berhenti pada level talwin akan memasung kebebasan berpikir. Tidak sejalan dengan tabiat dan sifat dasar teks sehingga makna yang dihasilkannya tidak melalui mekanisme penafsiran.
Dan terakhir, tak terasa, mungkin terlalu banyak komentar saya ini. Tentu saja apa yang saya tulis itu tidak memuat kebenaran yang bersifat universal, apalagi absolut. Tetapi setidak-tidaknya, pandangan itu benar menurut saya. So, setuju atau tidak dengan pendapat saya ini tidak akan mengurangi sedikitpun rasa keimanan saya kepada Tuhan Sang Pencipta.
Saya merasakan, Tuhan selalu hadir dalam diri saya, dan selalu menegur bila ternyata saya melakukan kesalahan, serta membiarkannya bila itu benar. Wallahu ‘alam bisshawab…

12. Jemcairo - 14 Januari 2008

Eeh masih belum bosen kan, jumpa ane? Sorri kalau nongol lagi hehehe, dan maaf kalau menggangu anda. Dulu kita pernah makan sepiring, sekarang gak apa kan kalau berbagi dialog dengan anda, sedikit saja? Ada beberapa poin yang pengen saya sampaikan.
Pertama: kebebasan berfikir, saya amat sepakat dengan ini, saya mengimaninya, berpikir islami, kritis atau bahkan liberal, setiap orang punya hak penuh untuk itu, sampai-sampai silahkan dalam berfikir meniadakan Tuhan pun diperbolehkan sebagaimana anda sampaikan “berfikir apapaun bentuknya.” Akan tetapi setiap hasil pikir mempunya konskwensi logis, bisa dipertanggungjawabkan dan bisa diuji kelayakan kebenaranya. Namun saya kira bagi anda tidak perlu menguji kreasi kebenaran berfikir, karena demikiannlah yang berlaku bagi penganut relativisme (sufisthoiyin modern), bukankah dalam pandangan anda manusia tidak mempunyai hak milik kebenaran (sebagaimana yang anda katakan). Tentunya saya sadar apa yang saya omongkan sama sekali bukan jelmaan kebenaran menurut anda, demikian juga yang anda sampaikan dalam pandangan anda sendiri bukan? Tapi entahlah apa anda sampai pada keberanian merubah al Quran untuk sesuai dengan kondisi yang ada, untuk penyesuaian? Berdasarkan teori relatifitas?
Berfikir itu mempunya sistem, methode dan daerah kekuasaan diperbolehkannya berfikir, pada titik ini kita berbeda.

Dua: untuk bicara poin ke dua ke tiga dan seterusnya, entahlah apa saya masih bersemangat berdialog dan berhadapan dengan penganut teori relativisme, saya kira cukup saya sudahi sampai di sini.

Dan berkaitan dengan buku Takfir baina al Din wa as Siyasah, saya sudah kirim ke mail anda, silahkan di buka dan nikmati dalam tatanan bahasa arabnya yang sebenarnya.

Thanks banyak Ali Usmanku….😀 senang berdiskusi dengan anda. Teruslah berkreasi DENGAN BENAR. Kapan kita bisa makan nasi uduk lagi, dan apakah kamu masih ingat nong tenong Lii?
Persiapan ujian ane.

Jemcairo

13. aal - 14 Januari 2008

Terima kasih Jemil, atas kesediaanya masih meluangkan waktunya di tengah kesibukanmu mempersiapakan ujian. Saya mengerti, di Mesir berbeda jauh dengan di Indonesia. Saya menangkap, metode belajar-mengajar di sana masih sangat kuat menggunakan sistem hafalan dan text book, hingga harus belajar untuk menghadapi ujian. Ini berbeda dengan Indonesia.
Di tempat saya belajar S1 dulu, terutama di fakultasku (Ushuluddin), mahasiswa yang ingin belajar hanya lantaran untuk persiapan ujian, malah ditertawai oleh teman yang lain. Karena bagi mayoritas mahasiswa, seluruh aktivitasnya sebagai mahasiswa itu sejatinya merupakan bagian dari belajar.
Mahasiswa di Indonesia lebih banyak memilih untuk menimba ilmu di luar kelas dengan mengikuti acara-acara semacam seminar, bedah buku, diskusi, dan lain sebagainya. Karena keaktifan seperti inilah, mahasiswa yang benar-benar terlibat aktivitas ilmiah di luar kampus, merasa tak perlu lagi belajar untuk sekadar menghadapi ujian. Ya maaf, itu sekadar berbagi informafi saja.
Selanjutnya, soal komentarmu itu, ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi dan saya tanggapi balik. Pertama, relativisme menurut saya tidak seekstrim yang kamu kira, bahwa tidak perlu—dalam bahasamu “menguji kreasi kebenaran berfikir”. Justru yang saya pahami malah sebaliknya. Relativisme terlepas dari positif maupun negatifnya, bisa saja “diuji”, dengan misalnya, membuka diri untuk dialog, karena unsur penting di dalamnya adalah keterbukaan (inklusifisme). Ini berbeda dengan konservatisme yang menutup diri dan tidak mau untuk melakukan dialog dan kritik, karena yang dikedepankan adalah klaim kebenaran (truth claim).
Kedua, saya tidak pernah bilang, baik secara eksplisit maupun implisit, agar “merubah al-Qur’an”, sebagaimana yang kamu tanyakan itu. Kontekstualisasi al-Qur’an yang saya maksud adalah pada wilayah makna dan tafsirnya, yang sejatinya dilakukan reinterpretasi sesuai dengan perkembangan zaman dan konteks sosial. Dan ini jika kamu baca secara utuh dan seksama, pada poin kelima di komentar saya sebelumnya, sudah sangat jelas saya paparkan.
Ketiga, meski kamu membenarkan (bahkan mengimani) kebebasan berpikir, tapi saya menangkap kamu masih diselimuti oleh rasa “takut” yang berlebih. Itu dapat dilihat dari pertanyaanmu: “Berfikir itu mempunya sistem, methode dan daerah kekuasaan diperbolehkannya berfikir”. Lalu apa dan bagaimana sistem dan metode berpikir yang kamu maksud itu? Masihkan ada daerah kekuasaan yang dianggap boleh dan tidaknya kreasi berpikir?
Kok malah mundur lagi. Katanya “mengimani” kebebasan berpikir, tapi kok ternyata belum bebas dengan harus mengikuti sistem, metode, dan daerah yang boleh atau tidaknya berpikir. Menurutku, kamu terjebak pada aturan main logika yang kamu pelajari dan kamu pegang teguh itu. Kamu tak bias lepas dan terikat dengan istilah-istilah “Aristetolean” seperti premis mayor, minor, teori kausalitas (sebab-akibat), dan lain-lain. Kalaupun mau mengunakan logika dalam berpikir, mestinya tidak berhenti di situ, tapi juga membaca pandangan al-Ghazali misalnya, yang sangat tidak setuju dan berseberangan dengan paham Aristotelian.
Terakhir, terima kasih atas kiriman bukunya, dan saya sudah menikmatinya. Tentu saja saya masih ingat kenangan-kenangan kita di pesantren dulu, makan nasi sepiring rame2, nong tenong juga, dan lain-lain. Aku rindu suasana itu.
Maaf dan terima kasih…

14. Akhmad Arifin - 18 Januari 2008

Assalamu’alaikum Aal!
Aku Arifin, temen satu kelas kamu di Filsafat UIN. mungkin ini tulisan yang keras, karena apa yang akan aku sampaikan adalah “apa” yang sudah ada dikepalaku dari dulu hingga kini. semoga tulisan ini tidak mengganggu persahabatan kita. Mungkin aku hanya sekali ini posting ke kamu, jadi tanggapanmu mungkin gak aku baca, tapi kalo baca Insya Allah akan aku tanggapi balik.
Setauku tuch “Kebenaran itu Milik Tuhan”, sudah tentu aku dah ribuan kali mendengarnya, apalagi pernyataan selanjutnya, “Oleh Karena itu jangan memaksakan Kebenaran”. “Kebenaran itu relatif apabila dihayati secaara horizontal”. Terus terang apabila aku berfikir seperti kamu hal itu mudah banget bagiku untuk melakukannya, bukan Sombong, tapi itu fakta.
Sebenarnya benar kata temen2 kamu, bahwa kamu itu gak perlu mendewakan pemikiran Abu Zaid, kenapa? Karena kalo buat konsep Islam sebebas-bebasnya, seandainya kita mau, kita bisa buat satu konsep Islam setiap hari.
kita tinggal puter-puter, gilang-giling, dikreasi biar kaya’ sandal jepit setelah itu jadi dech konsepsi Islam yang segar. so, gak butuh intelektual cerdas nan saking pintere tralalala, untuk bisa melakukannya, Insya Allah kusir andhong pun bisa melakukannya apabila kita training setengah jam.
Kamu bisa melakukannya kok, jadi kalo jadi muslim liberal gak usah ikut2an, kalo aku jadi muslim liberal kaya’ kamu Insya Allah aku akan buat konsep sebanyak2nya. entar kalo terkenal dapat beasiswa luar negeri pula hahaha
Al, sebenarnya ini bukan masalah haram apa enggak haram.. aku sich beranggapan berfikir liberal itu sah-sah saja kok. cuma memalukan. memalukan? iya, memalukan! karena orang lain mengira kita itu orangnya superhebat, tapi ternyata kualitas yang kita miliki tak sehebat apa yang kita wacanakan kok.
wacana melangit sampai membahas jenis kelamin Tuhan, tetapi kualitas kaya’ tong sampah.. bagiku na’udzubillah.
Sorry, Al, Kalo aku ini bicara ‘super keras’ ini, kembalilah ke temen2 mu Al. Insya Allah antum menjadi terhormat. Aku memang belum menjadi orang Tarbiyah, tapi percayalah Al, sekarang ini, pemikiran “anak muda IAIN” dari depan mereka serius mendebat pemikiran “anak muda IAIN” (pura2 marah) tapi dari belakangnya mereka menertawakannya, dijadikan bahan lelucon. kenapa? karena mereka beranggapan mereka itu selalu berfikiran kreatif tetapi sebenarnya gak pernah keluar dari SIPILIS (sekularis, Pluralis dan Liberalis). tinggal dikreasi sedikit and di posting di islamlib.com dah jadi tulisan.
Al, kita mempunyai potensi, kita bisa saja memikirkan penanggulangan korban bencana alam, memikirkan alternatif penanggulangan bencana banjir, dll dengan menggunakan kreativitas sebagaimana potensi yang diberikan Allah kepada kita, Al. kita bisa melakukannya walaupun latar belakang kita bukanlah eksak. Tapi, Kalo pemikiran Islam Liberal, Insya Allah kita mudah membuatnya, tidak perlu kreativitas berfikir yang banyak untuk bisa melakukannya
Ingat Jangan melakukan hal yang mudah dilakukannya untuk mendapatkan sebuah prestasi melebihi orang yang melakukan suatu pekerjaan yang lebih sulit.
wassalamu’alaikum wr wb

15. aal - 19 Januari 2008

Thanks fin, atas komentarmu yang menurutku “biasa2 aja” tuch. Tak sekeras yang kamu bilang. Tapi sorry, dari dulu sejak kita kuliah bareng aku dan kamu tidak pernah ketemu di wilayah gagasan dan pemikiran. Termasuk kali ini. Bagiku, komentarmu yang sekarang jauh lebih “kolot” dibandingkan dengan akhir2 kamu mengikuti kuliah bersamaku.
Apalagi, sifat mengada-ngadamu masih saja menghinggapi. Siapa juga yang “memaksakan kebenaran”, seperti yang kamu bilang? Siapa yang mengaku diri “superhebat”? Dan siapa juga yang mendewakan Abu Zayd? Semata-mata itu adalah tafsiranmu atas tulisanku di blog ini.
Menurutku kamu tidak pernah berpikir seperti yang aku lakukan. Kamu masih tetap berkutat pada konservatisme. Kamu takut memfungsikan kreasi otakmu untuk berpikir semaksimal mungkin. Bukankah Tuhan mencipta kreasi berpikir bagi manusia untuk memikirkan segala sesuatu yang dapat dipikirkan? Itulah bedannya antara aku dan kamu.
Sekali lagi fin, aku tidak pernah mengatakan secara eksplisit maupun implisit bahwa saya ikut2an jadi muslim liberal. Semata-mata itu kesan dan tafsiranmu ke aku. Bagi aku, ya terserah.
Lagian, mana mungkin kamu bisa buat konsep seperti yang kamu bilang, la wong sikap konservatismemu itu masih tak hengkang dan masih melekat kuat di pikiranmu. Menurutku, dari dulu sejak semester satu hingga semester sembilan hingga sekarang ini, yang belum juga lulus, pemikiranmu tak pernah berubah dan tak menunjukkan progresifitas sedikitpun. Sangat disayangkan fin, kamu belajar filsafat kok sepeti anak tarbiyah. Kalo aku jadi kamu, mending keluar berhenti aja kuliah, atau pindah jurusan.
Selanjutnya, apa katamu? Kamu menuduh mahasiswa IAIN/ UIN terjangkit penyakit SIPILIS? Dan kamu juga baranggapan pemikiran mahasiswa UIN tinggal dikreasi sedikit lalu dengan mudah diposting di islamib.com? Kalu begitu, jika kamu merasa bisa, saya tantang kamu menulis sebuah artikel di web islamlib.com. Buktikan kecongkakanmu itu benar.
Bagi aku, orang-orang seperti kamu jauh lebih berbahaya mematikan kreatifitas berpikir teman-teman UIN. Aku tidak rela iklim kampusku dulu, yang sejatinya memupuk kreatifitas berpikir “dihuni” dan didominasi oleh orang-orang konservatisme seperti kamu fin.
Sorry…

16. Hatim Gazali - 21 Januari 2008

apa yang salah dari liberalisme, sekularisme dan pluralisme. sebelum menyalahkan, coba baca kembali konsep itu. sebuah konsep yang sebenarnya digariskan oleh tuhan dalam al-qur’an.
persoalan kualitas anak IAIN itu memang benar. Tampak hebat tapi sebenarnya tak berarti alias kosong, termasuk Anda Ahmad Arifin, dan juga saya. Karena itulah, perlu membaca dan menulis dengan serius, tentu saja sebuah tulisan yang ilmiah, bukan tulisan emosional seperti yang saya baca sekarang ini. Iqro kawan, itulah yang diperintahkan. Bukan hanya membaca teks bisu seperti al-Qur’an tetapi juga membaca teks fenomena sebagai ayat kauniyah, yang menurut standar hukumnya lebih tinggi dibanding al-qur’an. Jadi, ayat-ayat kauniyah itu berada diatas ayat-ayat nuzuliyah sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an. Ini sudah dijelaskan dalam ushul fiqh, ulumul qur’an dan hermeneutika. Membacalah, baru memberikan komentar yang baik dan santun. Saya yakin, sekeras apapun komentar anda, aal tidak akan marah. Saya ngerti aal adalah pemikir pluralis yang bisa menghargai pemikiran orang lain, sekalipun bersebrangan dengan dirinya.
Aal, teruslah berkarya. Jangan hiraukan komentar-komentar tidak ilmiah itu dan salam buat Lia (Bukan Lia Aminuddin EDEN, tapi Hurry Lailiatissa’adah)
Aku udah di jogja, kapan-kapan ngobrol.
Salam

17. aal - 21 Januari 2008

Thanks pak Hatim, komentarmu menyejukkan hati…

18. Akhmad Arifin - 22 Januari 2008

Asslwrwb.
Oke, AL. Aku mohon ma’af kalo tulisan saya menyinggung kamu. Dan apabila disuruh mencabut, sudah tentu dengan ikhlas akan aku lakukan. Demi persahabatan.
Dan alhamdulillah ketika melihat tulisan jawabanmu, saya sama sekali tidak menaruh kebencian dan apapun sifatnya, semoga kamu dapat maklum.
dan tentang tulisan, alhamdulillah aku sekarang sama teman2 saya di kantor memfokuskan diri pada masalah kemiskinan struktural dan membuat program pengurangan resiko bencana, sehingga dapat dengan mudah dapat diaplikasikan langsung. Dan aku minta doanya untuk menggunakan segala potensi yang diberikan oleh Allah kepada saya semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat kepada orang lain.
aku ingat pesan Nabi Muhammad “sebaik2 manusia adalah orang yang paling bermanfaat”. dan pesan Nabi tersebut aku usahakan tidak hanya dalam ruang teoritis tetapi dalam ruang praktis, baik dalam pergaulan maupun motivasi utama kami untuk membuat kreasi program yang baru buat LSM,
. mungkin kita bergerak dalam aliran yang berbeda sehingga kita dapat mudah saling tersinggung. dan Demi Allah, melihat tulisan kamu, aku sama sekali tidak tersinggung dan alhamdulillah malah tersenyum. mungkin inilah kisah persahabatan kita yang super lucu.
Tetapi ada beberapa hal yang perlu kami luruskan, salah satunya standart ilmiah. tulisan dianggap sebagai pinggiran, lantas perlu disingkirkan karena ia tidak ilmiah. Tetapi itulah kuasanya metode positivistik. tetapi apabila memakai ukuran ilmiah, standartnya adalah kesesuaian dengan obyek luar dirinya. (korespondensi) yang terukur dan dapat diverifikasi. dan sudah tentu pembahasan apa yang kita diskusikan apakah dapat dikatakan ilmiah? apakah Tuhan yang kita bicarakan dapat terukur, sehingga memenuhi standart ilmiah. apakah “pembebasan” juga ilmiah, singkat kata bukankah kita selalu membahas masalah moralita (dalam artian filsafat atau pemikiran). apakah moralitas atau theologi dapat dikatakan sebagai suatu ilmiah. segalanya penuh dengan rasionalitasnya sendiri-sendiri, dan menurut nalar pemahaman sendiri-sendiri. (lyotard-ian). bukankah apa yang kami sampaikan adalah wacana postmodernisme, dan anda-lah yang lebih tahu, karena selalu menggunakan kata “pluralisme”.
ketika menggunakan kata “pluiralisme” bagaimana mungkin menuduh yang lain sebagai tidak maju karena tidak ilmiah, dan menunjuk diri sebagai maju karena ilmiah.
bahkan ada teman saya, anak sejarah, ada satu tema yang kontroversi, apakah Ilmu sejarah dapat dikatakan sebagai ilmu.
semoga kerancuan pemahaman terhadap ilmiah tidak mejustifikasi diri sebagai pihak yang benar karena ilmiah, sedangkan yang lain kolot dikarenakan ia tidak ilmiah.
kedua, mungkin banyak yang menganggap saya konservatif. Tetapi hal tersebut juga relatif juga. yang namanya konservatif adalah usaha melestarikan tradisi, kebiasaan, pemikiran yang sudah matang dan kurang menyukai pada perubahan.
seandainya itu diterapkan sama Mas Aal kan, mas Aal bisa dibilang konservatif, dikarenakan mas Aal menghendaki tradisi pemikiran dan kebiasaan di Fakultas dan kurang menyukai suara2 perubahan. bukankah “suara” Mas Aal adalah suara mayoritas, dan sesuai dengan mainstream pemikiran dimana mas Aal berkecimpung.
Dan aku sudah terbiasa dengan tulisan2 yang murka, pernyataan2 yang tidak sesuai dengan pendirianku, dan hal tersebut sudah biasa. Bahkan perobekan surat undangan di depan mataku, padahal aku nulis itu malam2 cari rental, dan dengan susah payah memakai semua sisa uangku untuk “memproduksinya”.
dan anehnya orang2 yg merobek undanganku adl org2 yang selalu meneriakkan kebebasan, demokratisme, pembebasan, pluralisme dll.
dan ketika menulis komentar ini, aku tetap tersenyum. Dan mengharapkan mas Aal dingin hati kembali. Semoga kita tetap menghargai pendirian sesama kaum Muslimin, bukankah lebih baik bersahabat dengan kaum muslimin itu sendiri, meresapi kehidupan mereka, merasakan dan memahaminya dan dari situ timbul usaha tolong menolong.
Itulah yang sebenarnya aku kehendaki, sehingga kita dapat saling memahami, bukannya saling memaki. Kalau dengan ummat beragama lain bisa, kenapa dengan ummatnya sendiri tidak bisa?
Semoga kita bisa selalu bertemu, agar ada usaha saling memahami diantara kita. apalagi kita jarang main bersama, Insya Allah apabila kamu mengetahui kehidupanku, maka tuduhan “konservativisme” akan hilang dengan sendirinya. Mainlah di tempatku, dan tanganku akan selalu terbuka terhadap kedatanganmu dengan senyum dari lubuk hatiku, tanpa disertai sikap munafik apapun.
Wassalamu’alaikum wrwb

19. Demit - 23 Januari 2008

Online

Konon, perbedaan adalah sumber ketidaksetujuan atas pendapat orang lain. Benar atau tidak pendapat itu, bukan persoalan penting, karena perasaan lah yang seringkali didahulukan. Menyamakan pendapat? bisa, tapi cenderung berbeda.

dan Konon, Sipilis sudah mengjangkiti otak. Hati-hati aja penyakit atas penyakit kelamin ini (kelainan imajinasi dan neurotik)
🙂🙂🙂

Offline

20. aal - 23 Januari 2008

Ok juga fin. Kalau begini caranya, aku juga bisa lebih santun. Maaf bila tulisanku sebelumnya membuat kamu tersinggung. Aku bukan malaikat yang bebas dari dosa. Aku bukan nabi yang kesabarannya begitu sangat. Aku adalah manusia biasa yang tak mungkin luput dari khilaf. Ya sorry, karena aku merasa “diusik”, aku juga bisa “mengusik”…
Kita memang berbeda dalam banyak hal. Tapi jangan pernah kamu mengira bahwa apa yang aku lakukan ini tidak mempunyai nilai manfaat. Prinsip kita sama atas dasar sabda Nabi: “sebaik2 manusia adalah orang yang paling bermanfaat”. Hanya saja bentuknya berbeda. Kamu lebih memilih praksis, mungkin aku ke wilayah reoritis. Tapi tetap saja keduanya tidak bisa saling menafikan satu sama lain. Apa jadinya bila praksis tanpa teoritis? Begitupula sebaliknya.
Selanjutya, sorry lagi fin, untuk mengomentari tanggapanmu tentang keilmiahan, aku agak sedikit bingung. Aku gak biasa baca tulisan yang tidak/kurang terstruktur dengan baik. Agak sulit menangkap maksud tulisanmu. Tapi aku paham.
Begini, kalo yang kamu maksud dari komentarmu yang muter-muter itu adalah tentang perkataanku bahwa kamu masih “kolot dan konservatif”, sekali maaf, tak ada maksud menyinggungmu. Mungkin kemarin terbawa emosi karena bahasamu sebelumnya itu, bagi aku melampaui batas-batas kesopanan dalam budaya Jawa.
Tapi aku bisa menjelaskannya dari apsek bahasa dan makna. Kolot dan konservatif adalah padanan kata yang serupa. Tidak selamanya sikap kolot dan konservatif itu “tidak ilmiah”. Ilmiah atau tidaknya itu adalah produk dan tuntutan akademik semata. Dalam konteks teologi, soal Tuhan misalnya, justru menurutku, yang perlu ditekankan adalah pengalaman batin dari masing-masing individu. Aspek pengalaman ini tidak membutuhkan ilmiah. Soal Tuhan bias “diilmiahkan” itu persoalan lain. Saya yakin, kamu punya konsepsi sendiri tentang Tuhan. Begitupula aku.
Membaca keseluruhan komentarmu, aku semakin mengerti dan paham karaktermu, terutama membaca tulisanmu yang ini: “yang namanya konservatif adalah usaha melestarikan tradisi, kebiasaan, pemikiran yang sudah matang dan kurang menyukai pada perubahan”. Ya itulah kamu.
Aku tidak demikian. Letak perbedaannya adalah kita berbeda dalam memahami tentang apa itu tradisi. Melestarikan tradisi, seperti yang kamu tulis itu, bagi aku, mengacu pada qaidah ushul: al-muhafadza ‘ala al-qadim ash-shalih, wa al-akhdu ‘ala al-qadimi al-aslah. Kamu hanya berhenti pada kata al-muhafadzah (menjaga), sementara aku merasa tidak begitu, tapi harus pula berani al-akhdu (mengambil) sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Di sini, perubahan adalah keniscayaan. Nah yang demikian itu bukan lagi konservatif dalam pengertianmu, tapi dalam istilah populer disebut “progresif”.
Terakhir, aku ikut prihatin terhadap nasibmu yang banyak mendapat cercaan dan perlakukan yang tidak enak dari orang yang katamu sering meneriakkan kebebasan, demokratisme, pembebasan, pluralisme dll. Tapi menurutku, bukan lantas menyalahkan konsep atau teori, pluralisme, demokratisme, dll itu. Memang sifat manusianyalah yang tidak benar. Apakah jika ada orang yang rajin shalat, puasa, sodakoh, yang ternyata juga melakukan korupsi, kemudian lantas menyalahkan ajaran Islamnya? Tentu tidak bukan…
Mungkin itu saj dulu. Sampai ketemu.

21. aal - 23 Januari 2008

Biarlah aku terjangkit Sipilis, asal bukan menjadi demit…

22. Akhmad Arifin - 24 Januari 2008

Oke. Thank’s
tulisan saya tentang ilmiah itu sebenarnya sangat jelas apabila dilihat dari kritik2 dari post modernisme terhadap kuasa pengetahuan (dan tentu saja mahdzab Frankfurt).
yang dinamakan ilmiah selalu diiddntikkan dengan sains. sedangkan selama ini kita memahami ilmu hanya sebatas pengetahuan belaka. yang dinamakan pengetahuan dalam tradisi islam tak ada standart yang jelas mana yang dinamakan ilmu atau bukan ilmu. bahkan sihir dinamakan ilmu, walaupun nanti ilmu sihir pasti bernilai peyoratif.
berbeda dengan ilmu pengetahuan (dalam perspektif keilmuan barat positivistik) mempunyai standart terjangkau oleh indra dan ilmu hitung. sehingga Tuhan, moralitas (aksiologis), seni, dan berbagai macam ilmu humaniora tidak masuk dalam kawasan ilmu. karena metode yang dianggap sah sebagai sains adalah metode explanation (penjelasan) bukan pemahaman subyektif sebagaimana dalam metode partisipatoris.
Hal ini dikritik terutama oleh Habermas, dimana meletakkan ilmu sosial semestinya mempunyai tujuan untuk memungkinkan komunikasi antar manusia (untuk mencapai konsensus) sehingga pendekatan verstehen merupakan suatu syarat utama bagi keilmuan sosial. ilmu sosial memakai metode induktif untuk mengukur ketepatan sebuah teori, masyarakat dikalkulasi bagian parsialnya kemudian dari beberapa bagian parsial tersebut digeneralisasi sebagai hukum sosial.
pendekatan keilmuan sosial memakai metode eksakta tersebut mempunyai kepentingan “penguasaan” atau dimana sifat rasio tersebut adalah penguasaan terhadap obyek yang semestinya digunakan untuk keilmuan alam.
sehingga keilmiahannya dalam metode pengetahuan sekarang bersifat kalkulatif, menjadikan obyek sebagai obyek yang mati untuk dikalkulasi, dimanipulasi, direncanakan dan diubah. manusia sebagai obyek tidak dipandang sebagai relasi timbal balik dengan subyek, sehingga tidak perlu “memasuki” dunia obyek (manusia) yang diteliti tersebut, cukup dari luar saja.
itulah keilmuan sekarang. sedangkan pengetahuan yang bersifat subyektif, verstehen, memandang perasaan sebagai suatu hal yang utama bukan pengetahuan. dikarenakan pengetahuan tersebut semestinya jelas, teratur, dan mempunyai hukum sendiri. apabila suatu obyek tersebut tidak dapat ditemukan hukumnya maka ia bukan pengetahuan.
pengetahuan dengan asumsi2 di atas merupakan bagian dari grand narasi atau cerita besar pada zaman modern ini. manusia yang bebas, ilmiah, kepastian kemajuan sejarah kedepan (sejarah sebagai progressif), merupakan suatu cerita besar yang semestinya “dipaksakan” kepada budaya2 lain. dalam pemikiran Lyotard asumsi2 yang dibangun oleh zaman modern tersebut, merupakan suatu usaha penundukan, diantara berbagai kultur. bukankah dalam wacana tentang budaya kita mengenal betul suatu istilah “multikulturalisme”.
suatu istilah dimana semua budaya dipandang sebagai suatu hal yang sama, baik itu barat dan timur, sehingga barat tidak perlu memaksakan tradisi, pola pikir serta kebijakan kulural yang lain ke budaya timur. walaupun tema itu tersebut seperti hal tersebut, pembahasan multikulturalisme meluas ke aspek kesederajatan semua tradisi manusia, kesetaraan, inklusifitas dll.
dalam hal ini agama tidak perlu disingkirkan atas nama ilmu pengetahuan sebagaimana yang dimaksudkan sebagaimana Pak Hatim Ghozali, ayat kauniyah 9pengetahuan) itu di atas agama (teks). justru hal tersebut merupakan suatu keberhasilan barat dalam menancapkan kuku2 tradisinya di Timur.
Hasan hanafi juga dengan Barat menggunakan epistemologi yang berbeda dengan Barat, walaupun berbeda dengan tradisi Islam. ia menggunakan epistemologi praksis. pembebasan merupakan suatu hal yang perlu dilakukan oleh kaum muslimin untuk membebaskan manusia dari jerat2 kolonial (barat). oleh karena itu ia menekankan perlunya sifat2 Tuhan untuk dimiliki oleh kaum muslimin. agar seorang muslim tersebut mempunyai eksistensi diri di hadapan barat. Keotentikan diri setiap muslim semestinya dibangkitkan biar tidak ada rasa sungkan, tunduk, ketidakpercayaan diri di hadapan orang lain, terutama ketidakpercayaan diri kepada Barat.
Oh.. iya mungkin ketika aku menjelaskan secara lisan Insya Allah lebih jelas, tulisan itu memang presentasi dari tuturan (aku dalam hal ini berbeda dengan Derrida, masih mempercayai ontologi klasik hehehe). Kapan2, enaknya pada malam minggu (kalau aku bisa), kita bisa berdiskusi bersama dengan Ganyong cs di blandongan
kok, OK?
Kita cukupkan diskusi sampai di sini dulu ya.. diskusi hanya bisa dihentikan oleh urusan2 lain yang siap menanti kita.
Wassalam wr wb

23. aal - 24 Januari 2008

Fin, meski aku bilang tulisanmu sebelumnya tidak terstruktur dengan baik, kamu tidak perlu memperbaiki tulisanmu yang panjang lebar itu dengan menyalin di buku. Aku pernah baca tulisan itu di buku. Sangat terasa beda tulisan aslimu yang dahulu dengan yang tetakhir itu. Malah kalau dicermati, tulisanmu yang terakhir itu sudah menganut pantun: Jaka sembung naik ojek, gak nyambung jek (he2) dengan apa yang kita bahas sebelumnya.
Tapi semoga firasatku ini salah, dan dengan demikian, kamu mengalami sedikit perkembangan.

24. Akhmad Arifin - 25 Januari 2008

banyak nyambungnya, ide Kebebasan dan mitos progressifitas rasio hanya aku kritik melalui post-mo, dan aku gak perlu menyalin dari buku, aku bisa membuktikan hal ini apabila kita bisa berdiskusi secara langsung, kok. dan gak perlu terjangkit penyakit sipilis untuk tidak menyalin buku ketika menulis makalah tentang filsafat. makasih banget atas kritikannya.

25. Akhmad Arifin - 25 Januari 2008

Terimakasih atas pujiannya; “mengalami sedikit perkembangan”. Tapi tak apa aku tetap berada “di bawah” biar dapat kugoyang “di atas”.

26. syaiful - 27 Januari 2008

al, atambe fans-nah… hahaha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: