jump to navigation

Memutus Rantai Kekerasan 30 Desember 2007

Posted by aal in Lansir.
add a comment

Dilansir dari Media Indonesia, 27 Desember 2007

    dsc_5221.jpg   dsc_5287.jpg

 [Dok foto. ICRP-Saidiman]

Oleh: Ali Usman*

Penyerangan oleh seribu massa terhadap jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Jawa Barat pada 18 Desember lalu, yang mengakibatkan tiga orang luka-luka, 2 mesjid rusak, dan 8 rumah, semakin melengkapi pelanggaran HAM selama tahun 2007. Ironisnya, penyerangan itu dipicu oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan Ahmadiyah sesat (Tempo Interaktif, 19/12/2007).

Itu berarti, terjadinya tindak kekerasan atas nama agama telah melibatkan banyak pihak, termasuk yang paling fatal adalah negara. Negara dalam hal ini telah gagal menjalankan amanat UUD 1945 tentang kebebasan beragama.

Karena itu, seyogiyanya kepolisian menindak para pelaku penyerangan. Bahkan ke depan, pemerintah perlu juga memikirkan tentang pelarangan organisasi masyarakat yang menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Begitupula Komnas HAM sesegera mungkin melakukan penyidikan kasus pelanggaran berat tersebut.

Ahmadiyah bukanlah satu-satunya kelompok yang menjadi korban pelanggaran HAM atas tindak kekerasan itu. Di sana masih ada umat Kristiani dan jemaat Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang mengalami hal serupa. Berdasarkan laporan PGI dan KWI ke Komnas HAM baru-baru ini tercatat 108 kasus penutupan, penyerangan, dan perusakan gereja terjadi pada 2004-2007. Rinciannya, pada 2004 terdapat 30 kasus, 2005 ada 39 kasus, 2006 ada 17 kasus, dan 2007 ada 22 kasus. Provinsi yang terbanyak terjadi kasus-kasus tersebut adalah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Poso, dan Bengkulu.

Setara Institute for Democracy and Peace mencatat , dalam setahun (2007) setidaknya 185 tindak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dimana serangkaian pengrusakan, kekerasan, dan penangkapan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap “sesat” dipertontonkan kepada publik dengan gamblang.

Dari situ, menarik apa yang diungkap oleh Nasr Hamid Abu Zayd dalam diskusi terbuka di Yogyakarta, bersamaan dengan pencekalan dirinya oleh pemerintah melalui Departemen Agama saat hendak mempresentasikan pandangannya tentang keislaman akhir November lalu. Pemikir kontroversial itu menunjukkan fakta yang sangat ironi bagi sebuah negara dalam menyikapi kebebasan beragama bagi warganya.

Kebebasan beragama seperti yang banyak terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia, berjalan secara paradoks. Abu Zayd membandingkan antara kebebasan pasar dengan kebebasan beragama itu sendiri; kebebasan pasar yang ditandai dengan globalisasi dan sistem kapitalisme justrui diadopsi secara terang-terangan oleh negara. Sementara kebebasan beragama malah tertahan, tidak dibiarkan mengalir secara alami sebagai kodrat manusia.

“Pembajakan nama Tuhan”

Maka dengan menyimak tragedi kekerasan itu, tak ayal lagi, nama Tuhan seringkali “dibajak” untuk melegalkan perbuatannya. Tuhan seolah menjadi bomerang. Padahal, menjadikan Tuhan atau agama semacam “pengkambinghitaman”, menurut René Girard akan bermura pada konflik horizontal yang berujung pada pembunuhan antar sesama.

Terbukti, ramalan Girard memang tampaknya mendapat pembenaran dan relevansi yang amat kuat dengan melihat fakat-fakta yang menimpa masyarakat kita dalam setiap menyelesaikan persoalan, terutama yang menyengkut antar etnik, budaya dan agama di negeri ini.

Simaklah akibat isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti, aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dan Ahmadiyah dikutuk “sesat dan menyesatkan” oleh MUI, secara nyata berimplikasi pada kehidupan sosial masyarakat kita. Di Surabaya, karena ada salah satu dari anggota keluarganya hilang entah ke mana, lantas dikait-kaitkan dengan keikutsertannya ke dalam aliran tersebut.

Lalu bagaimana bila semua orang yang kehilangan sanak keluarganya di negeri ini juga ikut-ikutan menengarahi motif yang sama karena ikut aliran itu? Apakah benar, setiap orang yang kehilangan anggota keluarganya mempunyai motif yang sama lantaran ikut jemaat atau liran tertentu?

Dalam situasi yang serba kronis ini, benar apa kata Sindhunata (2006), bahwa kekerasan sebenarnya menyelimuti kita semua. Tapi kita tidak menyadarinya. Kekerasan membayang-bayangi siapa saja. Tapi siapa pun tak merasakan bayangan-bayangannya. Kekerasan mengancam manusia. Tapi manusia hidup seakan tanpa ancamannya. Kekerasan hadir setiap saat, bagai udara yang ada di mana-mana. Manusia menghirupnya, tanpa merasa, bahwa kekerasan masuk bagai napas yang menghidupinya.

Secara internal, semua pihak mestinya sadar bahwa Islam—yang menjadi pemeluk mayoritas di negeri ini—menurut Bruce B. Lawrence dalam Shattering the Myth: Islam Beyond Violence adalah tidaklah tunggal. Islam adalah banyak hal. Tidak ada satu penjelasan pas yang melukiskan berbagai kelompok muslim dengan nilai dan arti yang sama. Juga, tidak ada lokasi tunggal ataupun budaya seragam yang identik dengan Islam.

Itu sebabnya, pengecaman yang dibarengi dengan tindakan kekerasan terhadap kelompok tetentu yang dianggap “sesat”, bila ditilik dari sisi telogis, sebenarnya menampilkan kedangkalan pemahaman masyarakat kita terhadap pluralisme agama itu sendiri. Lebih-lebih, dialog antar agama yang selama ini didengung-dengungkan oleh banyak pihak menjadi nihil dan tidak berjalan sesuai harapan.

Artinya, meski secara teologis kita tidak membenarkan terhadap keyakinan dan ajaran-ajaran kelompok tersebut, sejatinya tidak serta merta mengusik, apalagi dengan melakukan pengusiran dan tindak kekerasan terhadap para jema’ahnya. Jalan dialog adalah jauh lebih baik ketimbang mendahulukan “otot”. Sehingga tercipta sebuah masyarakat yang oleh Jurgen Habermas sebagai “masyarakat komunikatif”.

Semoga kultur kekerasan di masyarakat kita tidak (lagi) terjadi di tahun-tahun berikutnya.

* Ali Usman, alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Iklan

Untukmu, Natal 23 Desember 2007

Posted by aal in Syair.
5 comments

Di Kalvari

SalibMu tinggi sekali.

Ya, lebih baik kaupanjat tubuhmu sendiri

[Joko Pinorbo, Koran Tempo, 1 Juli 2007]

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan murah hati,

kutemukan celana jinmu yang koyak

di sebuah pasar loak.

Dengan uang yang tersisa dalam dompetku

kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.

Dan aku ingat sabdamu:

“Siapa berani mengenakan celanaku

akan mencecap getir darahku.”

Mencecap darahmu? Siapa takut!

Sudah sering aku berdarah,

walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?

Pencuri yang kelaparan,

pak guru yang dihajar hutang,

atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?

Entahlah. Yang pasti celanamu

pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati,

malam ini aku akan baca puisi

di sebuah gedung pertunjukan

dan akan kupakai celanamu

yang sudah agak pudar warnanya.

Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang

sajak-sajakku meluncur riang.

Makin lama tubuhku terasa menyusut

dan lambat laun menghilang.

Tinggal celanamu bergoyang-goyang

di depan mikrofon,

sementara sajak-sajakku terus menggema

dan aku lebur ke dalam gema.

“Hidup raja celana!” Hadirin terkesima.

Kelak akan ada seorang ibu

yang menjahit sajak-sajakku

menjadi sehelai celana

dan celanaku akan merindukan celanamu.

[Joko Pinurbo, Kompas, 23 Desember 2007]

 

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2008 bagi yang merayakan

Darah kurban 20 Desember 2007

Posted by aal in Gallery.
add a comment

dsc02349.jpgdsc02348.jpgdsc02337.jpgdsc02336.jpgdsc02319.jpgdsc02316.jpg 

Penyembelihan hewan kurban lebih bermakna jika dipahami sebagai jalan kehidupan, bukan sekadar penumpahan darah. Kepada Ibrahim, Ismail dan Hajar kita belajar arti hidup. Totalitas pengabdiannya kepada Sang Khaliq layak dijadikan tauladan bagi umat yang mengaku diri beriman.

Bukuku… 9 Desember 2007

Posted by aal in Gundah.
6 comments

(1) Koleksi Buku

dsc02282.jpgdsc02280.jpgdsc02278.jpgdsc02275.jpgdsc02281.jpgdsc02277.jpgdsc02276.jpg  

Dahulu, sewaktu masih baru mengecap bangku kuliah, cita-cita untuk mengoleksi buku sangat kuidamkan. Menurutku, waktu itu, orang yang banyak mengoleksi buku (biasanya) mencerminkan kepribadiannya; pintar, wawasannya luas, aktif, vokal berbicara, dan lain sebagainya. Benarkah memang secara otomatis demikian? Entah. Tapi setidaknya, “aku juga ingin seperti mereka”, gumamku.

Satu hingga dua tahun berlalu, ada banyak pengalaman dan kesan yang aku peroleh setiap kali berkunjung ke tempat teman-temanku yang suka mengoleksi buku. Sahabatku, Kaesar, seorang aktivis pergerakan mahasiswa di kampusku, koleksi buku-bukunya didominasi buku-buku “kiri”, Marxisme, dan dunia pergerakan; di kamar sahabat perjuanganku, Agus Budianto, Syaiful Bari, dan Hilal Alifi, deretan buku-bukunya banyak didominasi buku sosial-keagaman; di kamar Hatim Gazali pun juga demikian; lain halnya dengan kawan karibku, Muhammad Al-Fayyadl—si penulis buku Derrida—buku-buku koleksinya sangat beragam: filsafat, keagamaan, budaya, sastra, dan lain-lain.

Melihat koleksi buku-buku kawanku yang terakhir itu, terkesima rasa senang sekaligus juga “puyeng“, karena notabene buku-bukunya banyak berbahasa asing terutama buku berbahasa Perancis (maklum aku kan tak bi(a)sa Perancis-an).

Aduhai, melihat semua itu, keinginan mengoleksi buku semakin kuat. Setiap kali aku melihat buku bagus di rak teman-temanku, selalu saja terlintas dalam benak untuk juga dapat memilikinya. Aku berandai, “seandainya semua buku-buku di tempat teman-temanku itu menjadi koleksi pribadiku, betapa betah aku menghabiskan waktu dikamarku yang mungil ini”.

“Aku harus bisa menyisihkan uang saku”, tekadku. Di samping itu, mendapatkan buku gratis dengan meresensi buku menjadi strategi jitu untuk memenuhi keinginanku. Dan semuanya sudah aku lakukan hingga saat ini.

Alhasil, meski tak sebanyak koleksi teman-temanku, ya lumayanlah, koleksi bukuku sudah memenuhi rak—yang memang disiapkan sejak tiga tahun lalu. Koleksi sebanyak 200-an lebih ini aku kira cukup menjadi perpustakaan pribadi, dan lebih baik daripada tidak punya sama sekali. Sebagian temanku yang lain, kuliah selama empat tahun hanya mengoleksi tiga buku yang menurutnya dianggap penting; Kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols), Kamus Filsafat (Lorens Bagus), dan Persoalan-Persoalan Filsafat (Harold H. Titus). Aku tak tahu, apakah ini bermakna ironis atau tidak bagi seorang yang menyandang predikat mahasiswa.

***

Di waktu-waktu berikutnya, mempunyai koleksi buku yang “lumayan banyak”, ternyata tak selamanya enak. Menjadi kolektor buku bak perpustakaan umum, yang selalu dipinjam oleh teman-teman sendiri. Aku selalu bilang, “boleh pinjam asal mematuhi syarat berikut; jangan sampai rusak, hilang, dan segera dikembalikan bila sudah selesai dibaca”.

Tapi sayang, perpustakaan pribadi tidak sama dengan perpustakaan umum, seperti, kewajiban mengganti bila ternyata buku yang dipinjam hilang, dan dikenai denda bila pengembalian bukunya terlambat sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Alamak, buku-bukuku di luar sana, yang dipinjam teman-teman sudah terbilang 30-an lebih. Tak ada kabar hilang maupun mungkin masih belum selesai membacanya. Dalam do’aku, semoga saja masih ada harapan kembali memenuhi rak yang sudah mulai merenggang.

Aku mulai berpikir: jika begini caranya, “lebih baik minta dan menghilangkan uangku saja, daripada buku-buku kesayanganku dihilangkan”. Aku emoh meminjamkan (lagi) buku-bukuku, kecuali “orag-orang tertentu”, yang aku anggap bertanggungjawab.

Apalagi, belum sempat aku baca buku-buku itu, eh, sudah raib entah ke mana. Ya, aku memang belum membaca keseluruhan buku-bukuku itu. Ah, bagaimana aku bisa membacanya? Akan aku tulis nanti. Setelah ini!

Yuk, Menulis… 1 Desember 2007

Posted by aal in Esai.
8 comments

dsc02014.jpg

“Menulis adalah perjalanan menuju satu kelahiran. Dan karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tetumbuhan di sana. Ia hanya akan bisa mengalir… sebisanya”.

—Dee

Kegiatan menulis boleh dibilang gampang-gampang susah. Disebut demikian, karena tidak semua orang bisa menulis kendati ia berprestasi dengan IPK berkepala tiga. Sebab, menulis tidak hanya mengandalkan pengetahuannya secara lisan, tapi dibutuhkan keterampilan jejarinya memegang pena atau menekan tombol kybord komputer untuk menyusun huruf demi huruf, merangkai kata hingga menjadi kalimat yang bisa dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Karenanya tak heran bila banyak di antara mahasiswa meski IPK-nya berkepala satu atau dua koma, tetapi ia memiliki kepiawaian dalam menulis. Karya-karyanya banyak tersebar dan menghiasi kolom-kolom di koran atau majalah lokal maupun nasional. Cobalah simak dan perhatikan, penulis di kolom opini, esai sastra-budaya atau resensi buku, notabene banyak diisi oleh kalangan mahasiswa, meski mereka tak pernah menggunakan identitas mahasiswa.

Menurut penuturan salah seorang pengasuh redaksi opini koran nasional di Tanah Air, lima puluh persen inbox redaksi dalam setiap minggunya banyak dipenuhi oleh kawan-kawan mahasiswa. Bahkan, salah satu penerbit buku di Yogyakarta juga merasa kagum sekaligus “getir”, karena saking banyaknya peresensi yang datang meminta buku plus fee sebagai imbalan atas jasanya meresensi buku milik penerbit tersebut.

Kembali ke soal mahasiswa yang ber-IPK rendah tetapi mempunyai keterampilan menulis tinggi. Bahwa rendahnya nilai IPK si penulis, tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Dia mungkin bukan karena tidak bisa menjawab soal sewaktu menghadapi ujian, tetapi lebih disebabkan karena jarang masuk sehingga tidak memenuhi absen kehadiran yang ditentukan dosen; bisa juga kerena kesibukannya di luar kampus dengan nyambi kerja, jadi aktivis (“jalanan”) mahasiswa, dan aktif pula di salah satu LSM misalnya; atau mungkin juga karena ia merasa bisa atau paham atas materi yang disampaikan dosen di kelas, sehingga ia emoh mendengar “celoteh” para dosen itu. Baginya, mengikuti kuliah sama halnya membuang waktu saja.

Pelbagai alasan yang disebutkan di atas tentu bukan berangkat dari ruang kosong atau hanya sekadar apologi. Konon, tokoh sekaliber mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 Abdurrahman Wahid termasuk penyandang kriteria yang ketiga itu. Gus Dur (panggilan akrabnya) sewaktu kuliah di Mesir hanya berlangsung sampai pada semester dua atau tiga saja. Sebab menurutnya, apa yang dipelajari di kelas pernah ia pelajari hingga “bosan” sewaktu masih belajar di pesantren di Indonesia. Mungkin inikah juga yang melatarbelakangi kawan-kawan yang jarang kuliah? Mungkin saja.

Bagi para penulis yang “menganut” kriteria model ini, bisa saja beragumen bahwa kegiatan menulis jelas lebih menguntungkan secara material daripada ikut kuliah yang mungkin hanya menjadi pendengar setia apa kata dosen. Bagaimana tidak, jika kita beruntung, dengan menulis kemudian dikirim dan dimuat di koran bisa diganjar dengan setumpuk uang berkisar Rp 200.000-500.000 per/tulisan. Sehingga dengan menulis dan dimuat setiap hari (atau paling tidak tiga kali dalam seminggu), bisa menyimpan segudang uang. Mengasikkan bukan? Ya, setidaknya menulis dapat mengenyangkan perut, sementara kuliah malah bikin lapar.

Di satu sisi, pandangan seperti itu dapat dibenarkan dan memang merupakan salah satu ruh kejiwaan penulis yang biasa disebut dengan pragmatisme. Sedangkan di sisi lain, kita juga perlu mengenal kejiwaan penulis lain yang hanya mengedepankan idealisme. Pertarungan “dua godaan” dalam diri penulis ini pasti akan selalu terpendar dalam setiap aktivitas menulisnya.

Bagi tipe penulis kedua, dapat dikatakan bahwa kualitas tulisan lebih diutamakan daripada menulis setiap hari yang terkesan seolah dijadikan “profesi”. Sementara honor tulisan hanyalah dijadikan “sampingan”. Selain itu, penulis yang berjiwa idealis biasanya selalu menulis sesuai dengan bidang yang digelutinya. Kalaupun ia menulis tema tentang politik, misalnya, sementara basic keilmuannya dia filsafat, dipastikan menulis dalam perspektif filsafat politik. Lihatlah gaya tulisan Franz Magnis-Suseno, Donny Gahral Adian dan Haryatmoko, yang acapkali menulis di koran-koran nasional.

Bahkan seorang kawan saya, yang namanya sudah malang-melintang di jagad nusantara pernah berujar, “menulis bagi saya butuh stamina yang fit untuk menghasilkan karya yang baik dan berkualitas”. Bagaimana dengan Anda?

Tampaknya, mempertimbangkan dua kriteria dan karakter kepenulisan di atas dalam konteks mahasiswa terlalu berlebihan. Mahasiswa dapat menyenangi dalam kegiatan tulis-menulis sudah syukur alhamdulillah. Sebab, tradisi menulis di lingkungan kampus dalam pandangan saya, hanyalah segelintir orang saja yang melakukannya. Jika memberanikan diri untuk mempresentase, mungkin hanya 10% (itupun sangat maksimal) dari jumlah keseluruhan mahasiswa di setiap kampus.

Saat ini yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkembangkan dan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya menulis. Mungkin perlu dikampanyekan; bagi orang yang taat beragama, “menulis itu adalah ibadah dan dianggap sebagai ‘jihad intelektual’ (meminjam istilah Ziauddin Sardar)”, bagi mereka yang menjadi aktivis kampus, “menulis itu adalah perjuangan membela hak-hak kaum tertintas melalui tulisan”, bagi mahasiswa yang rajin kuliah dan akademisi an sich, “dengan menulis, dapat memudahkan dan membantu dalam menjawab soal-soal ujian karena terbiasa mengarang”, atau mungkin bagi mereka yang hobinya “berpacaran” perlu dikatakan, bahwa “dengan terampil menulis, bisa membantu dalam mencipta sajak-sajak cinta yang amat romantis, dan dipastikan sang pacar akan tambah ‘lengket kayak prangko’”.

Kesemuanya itu adalah benar, meski diteropong dari perspektif manapun tetap saja tak dapat disangkal. Bukankah motivasi seseorang menulis sangat beragam?

Nadine Gordimer dalam Writing and Being (1995) memberikan arahan berupa stimulusi dalam menulis bagi para penulis masa kini melalui beberapa pertanyaan. Untuk siapa Anda menulis? Pertanyaan ini memiliki banyak turunan: dari manakah karakter dalam tulisan itu muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekatnya, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsanya, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakatnya? Apakah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revolusi? Apakah tulisan memang benar-benar memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah mengalami ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sumbangsih apakah yang wajib diberikan penulis kepada umat manusia?

Budaya menulis di kampus

Yang pasti, budaya menulis di lingkungan kampus perlu ditradisikan sejak dini. Artinya, berbicara soal lingkungan kampus, berarti kita juga harus menyinggung struktur secara keseluruhan, baik dosen maupun karyawan. Tapi tampaknya hanya dosen yang perlu kita “tuntut” dan pertanyakan. Setidaknya dapat kita pilah ke dalam beberapa hal berikut.

Pertama, mengimpikan akan terwujudnya iklim menulis di lingkungan kampus harus pula melibatkan kreativitas dosen. Dalam hal ini, seharusnya tidak hanya mahasiswa yang dituntut untuk berkreatif dengan menulis—sebagaimana yang selalu “diceramahkan” di kelas, tetapi dosen juga perlu melakukan hal yang sama dengan banyak menulis di koran, majalah atau mungkin bisa dalam bentuk buku.

Sejauh ini, iklim kepenulisan dosen di kampus sangat minim. Kalau pun ada, orientasinya berbeda. Yang banyak adalah dosen “menulis” (baca: melaporkan penelitian) demi mendapat “kum” (cumulative credite point) yang berguna bagi kenaikan jenjang akademik mereka. Padahal, menurut pengalaman beberapa mahasiswa/dosen yang pernah kuliah di negeri Paman Sam (Amerika Serikat), di kalangan perguruan tinggi di sana ada dua pameo yang diyakini benar, yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah) dan All scientist are the same, until one of them writes a book (semua ilmuwan adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis [buku]) (Wishnubroto Widarso, 1997).

Maka kedua motto ini mengisyaratkan bahwa warga perguruan tinggi semestinya akrab dengan hal-ikhwal yang berkaitan dengan tulis-menulis, baik hendak dijadikan sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai prestasi. Sejauh ini, banyak pula mahasiswa yang sangat produktif menulis dan mempunyai kualitas tulisan yang amat bagus. Bahkan menulis dalam bentuk buku pun sudah sering dilakukan. Dari itu, mungkin tak heran bila terkadang ada mahasiswa di lingkungan kampus lebih ter(di)kenal masyarakat daripada dosennya yang hanya mengandalkan ruang kelas semata.

Kedua, tidak ada apresiasi yang tinggi dan berharga dari pihak kampus terhadap mahasiswa yang berprestasi dalam bidang kepenulisan. Kalaupun ada dalam bentuk material yang biasa didesign oleh Rektoret masih terasa “menyesakkan dada”. Kawan saya yang sudah biasa menjadi “langganan” menyabet juara I tingkat kampus, selalu berseloroh, “mosok tulisan sebanyak 20 lebih yang sudah dimuat di pelbagai media massa hanya dihadiahi uang Rp 150.000 ?”.

Kurangnya penghargaan terhadap penulis mungkin sudah menjadi hal biasa dalam masyarakat kita. Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi dalam skala luas, negara, juga kurang memerhatikan para penulis yang ada di bumi pertiwi ini. Penulis besar sekelas Pramodya Ananta Toer, lebih banyak mendapat sanjungan dan penghargaan dari luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Sampai di sini, perlu ditekankan, yakni bagi seorang penulis, penghargaan dalam bentuk apapun memang bukanlah hal yang paling utama. Mungkin kita perlu belajar dari sikap Jean Paul Sartre. Pasalnya, tokoh filsuf eksistensialis ini menolak segala penghargaan yang (bakal) diberikan pada dirinya meski ia telah melahirkan banyak karya yang mengagumkan. Tetapi kita bukan Sartre. Dalam konteks Indonesia, mengharap respons publik atas karya yang kita telurkan merupakan penyemangat yang secara psikologis dapat memotivasi para penulis. Benarkah demikian?

“Aku yang mati”

Di sinilah problemnya. Menerima atau mengharap respons publik dalam bentuk dan wujud nyata mungkin dapat dibenarkan. Tetapi menginginkan respons publik sesuai dengan apa kata kita sebagaimana tertuang dalam teks, adalah sebuah hal yang perlu dihindari. Karena dengan melahirkan sebuah karya, maka di waktu itu pula kita tak punya kuasa memiliki teks itu lagi. Teks itu sudah bergentayangan dalam benak publik dan harus siap “dicincang” oleh pembaca.

Teori ini dilontarkan oleh Roland Barthes dalam artikel konstroversialnya, The Deadth of Author. Menulis, kata Barthes, adalah ke dalamnya subjek melarikan diri, hitam putih dan semua identitas hilang, mulai dengan identitas tubuh pengarang (Toety Heraty, 2000: 198). Dalam hali ini, Barthes hendak mendengungkan bahwa pengarang (author) sebenarnya telah mati bilamana teks itu telah menyeruak ke publik. Dan karenanya, otonomi pembaca sangatlah ditekankan.

Mencoba ikut arus teori Barthes di atas, tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa pengarang tidak boleh melakukan pembelaan. Hanya saja, mestinya ia mengambil jarak dari karyanya ketika pembelaan itu dilakukan. Dengan kata lain, ia harus berusaha menempatkan karyanya sebagai teks yang mandiri, tidak memiliki hubungan emosional dengan dirinya. Jika ia mau melakukan pembelaan emosional juga, bentuk pembelaan itu akan lebih cantik jika diwujudkan dalam bentuk lain, yakni dengan terus-menerus berkarya (Iwan Simatupang, 2004: 329-336).

Secara teoritis, ungkapan Barthes ini sungguh menyisakan persoalan pelik nan sulit untuk dicerna oleh orang awam atau “penulis pemula” seperti saya. Tetapi bila diilustrasikan secara sederhana, ungkapan Dee di awal pembuka tulisan ini boleh dibilang sebagai penjelasnya. Selain itu, Pramoedya juga pernah mengungkapkan dengan bahasa lugas dan puitis, bahwa “karya-karya saya ibarat bayi-bayi yang lahir dan yang perkembanganya sampai dewasa mempunyai nasib masing-masing tergantung para pembaca”.

Dalam pandangan Acep Iwan Saidi (2006), tesis ini tidak seluruhnya bisa berlaku dalam konteks kepengarangan di Indonesia. Pengarang tidak serta merta mati ketika pembaca datang menggantikan posisinya di hadapan teks. Pada masyarakat kita, tokoh masih saja menjadi pusat. Pengarang lebih penting daripada teks. Paling tidak, pengarang selalau dituntut hadir menyertai teks yang diproduksinya.

Tengoklah tulisan tinjauan tentang kesusastraan, terutama yang ditulis di media massa, umumnya bahkan nyaris meninggalkan teks. Ketika seseorang mengurai ideologis tertentu dalam prosa atau puisi, misalnya, orang itu akan menyebut “ideologi pengarang”, bukan ideologi “narator” atau “aku lirik”. Dengan demikan, kita tidak bisa sama sekali meninggalkan pengarang, sebaliknya justru sering meninggalkan teks.

Dalam masyarakat kita yang tradisi lisannya masih kuat, sekali lagi, pengarang tidak pernah mati. Bahwa kita pun mengakui dan mentransfer cara berpikir Barat yang tradisi tekstualnya sudah mapan itu, memang betul. Tapi akar kelisanan kita rupanya masih menancap kuat sehingga daya tahan terhadap kritik sulit sekali ditumbuhkan.

  dsc02010.jpg Sekarang, menulislah!

Sebagai kata pamungkas, sampai di sini perlu ditegaskan, bahwa istilah “kematian pengarang” sebenarnya hanyalah metafor untuk mengungkapkan otonomi pembaca dalam menelaah sebuah teks. Tak perlu takut dan khawatir. Maksud “kematian” bukan dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu hilangnya nyawa dari tubuh kita. Buktinya, meski sudah menulis artikel ini, saya masih sehat dan segar-bugar menghirup udara dunia.

Kini, bergegaslah untuk menulis. Tuangkan segala yang ada dalam benak dan kepala dalam tulisan. Tak perlu berdalih “aku tidak bisa”. Semuanya pasti bisa, jika ada kemauan dan keberanian untuk mencoba. Bukankah kegagalan dalam bereksperimentasi hal yang baik tidak berdosa?

Memang, manusia menurut Feby Indriani, makhluk yang suka berdalih. Ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis. Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya (TEMPO, 26 November 2006).

Masih menurut Feby, begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis. “Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis” (ini dalih paling populer). “Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu” (ini dalih khas dunia modern). “Saya tidak punya laptop. Masa sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi” (ini dalih generasi melek teknologi).

Tak ada alasan untuk tidak menulis. Menulis apa saja! “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” adalah sebuah hadis yang sudah sering didengar. Perintah teologis ini juga diperkuat oleh kata-kata iqra’ (bacalah) dalam salah satu ayat di kitab suci. Sebab dengan menulis, terdapat dua hal secara bersamaan yang mesti didapat oleh penulis. Bernalar kritis dan giat membaca. Benarkah?

Sebab menulis, kata Sardar, harus memulai sesuatunya dari pertanyaan atau bersikap kritis. Itu pulalah yang dilakukan Nabi Muhammad saat menerima wahyu pertama ‘Iqra’. Nabi berusaha menggugatnya, “Aku tak bisa membaca”. Bagi Sardar, ini adalah pesan yang kuat.

Mengapa dalam wahyu pertama, Tuhan menyuruh Nabi untuk ‘membaca’, alih-alih mewajibkan shalat, puasa, atau zakat. Dalam wahyu pertama pula, Tuhan menyebut soal kegiatan ‘menulis’. Yakni pada ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan mengajar manusia lewat perantaraan kalam.

Dengan demikian, membaca ternyata juga mempengaruhi kualitas tulisan. Karenanya harus dilakukan. Pater Bolsius, SJ pernah mengatakan, “if you don’t read, you don’t write” (kalau engkau tidak (punya kebiasan) membaca, engkau tidak bisa menulis). Robert Pinckret dalam bukunya The Truth About English juga mengatakan, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think” (menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir).

Saking pentingnya menulis, saya tak bisa membayangkan, apa jadinya bila kitab suci hanya dihafal oleh dan dari generasi ke generasi. Mungkin tidak hanya banyak umat Islam yang tak bisa membaca kitab suci itu lantaran tak ada teks untuk dibaca, tetapi bisa jadi ayat-ayat suci telah punah sejak puluhan tahun silam dikarenakan kemampuan daya ingat manusia.

Terakhir, menarik apa yang ditulis Sulaiman Tripa dalam pengalaman otodidaknya dalam menulis. Ungkapan Tripa itu disusun dalam sebuah puisi yang amat indah dan penuh penghayatan yang amat dalam. Bunyinya:

ketika jari tak pernah berhenti menuliskan kata-kata surga
ketika itulah surga ada
jauh di dalam relung jiwa
yang membaca untaian kata
hasil rangkaian jari-jari

menulislah…
dan jadilah surga
bagi kami semua…

Menulislah, biar orang-orang membacanya!

Menulis adalah suatu kegiatan yang amat mulia. Dengan menulis, mungkin dapat dibaca oleh anak cucu kita bila kita meninggal kelak. Tetapi apa yang kita ucapkan dengan lisan, mungkin akan sirna dan lekang seiring dengan perkembangan zaman. Benar nasehat Pramoedya, “…dan bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”.

Dengan begitu, menulis dapat memberikan kehidupan abadi. Dan tak kalah pentingnya, bahwa menulis dapat menampakkan diri kita, bahwa kita benar-benar ada, benar-benar hidup. “Aku menulis, maka aku ada”, kita perlu berujar seperti layaknya Rene Descartes berfilsafat cogito ergo sum.[]