jump to navigation

Yuk, Menulis… 1 Desember 2007

Posted by aal in Esai.
trackback

dsc02014.jpg

“Menulis adalah perjalanan menuju satu kelahiran. Dan karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tetumbuhan di sana. Ia hanya akan bisa mengalir… sebisanya”.

—Dee

Kegiatan menulis boleh dibilang gampang-gampang susah. Disebut demikian, karena tidak semua orang bisa menulis kendati ia berprestasi dengan IPK berkepala tiga. Sebab, menulis tidak hanya mengandalkan pengetahuannya secara lisan, tapi dibutuhkan keterampilan jejarinya memegang pena atau menekan tombol kybord komputer untuk menyusun huruf demi huruf, merangkai kata hingga menjadi kalimat yang bisa dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Karenanya tak heran bila banyak di antara mahasiswa meski IPK-nya berkepala satu atau dua koma, tetapi ia memiliki kepiawaian dalam menulis. Karya-karyanya banyak tersebar dan menghiasi kolom-kolom di koran atau majalah lokal maupun nasional. Cobalah simak dan perhatikan, penulis di kolom opini, esai sastra-budaya atau resensi buku, notabene banyak diisi oleh kalangan mahasiswa, meski mereka tak pernah menggunakan identitas mahasiswa.

Menurut penuturan salah seorang pengasuh redaksi opini koran nasional di Tanah Air, lima puluh persen inbox redaksi dalam setiap minggunya banyak dipenuhi oleh kawan-kawan mahasiswa. Bahkan, salah satu penerbit buku di Yogyakarta juga merasa kagum sekaligus “getir”, karena saking banyaknya peresensi yang datang meminta buku plus fee sebagai imbalan atas jasanya meresensi buku milik penerbit tersebut.

Kembali ke soal mahasiswa yang ber-IPK rendah tetapi mempunyai keterampilan menulis tinggi. Bahwa rendahnya nilai IPK si penulis, tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Dia mungkin bukan karena tidak bisa menjawab soal sewaktu menghadapi ujian, tetapi lebih disebabkan karena jarang masuk sehingga tidak memenuhi absen kehadiran yang ditentukan dosen; bisa juga kerena kesibukannya di luar kampus dengan nyambi kerja, jadi aktivis (“jalanan”) mahasiswa, dan aktif pula di salah satu LSM misalnya; atau mungkin juga karena ia merasa bisa atau paham atas materi yang disampaikan dosen di kelas, sehingga ia emoh mendengar “celoteh” para dosen itu. Baginya, mengikuti kuliah sama halnya membuang waktu saja.

Pelbagai alasan yang disebutkan di atas tentu bukan berangkat dari ruang kosong atau hanya sekadar apologi. Konon, tokoh sekaliber mantan Presiden Republik Indonesia (RI) ke-4 Abdurrahman Wahid termasuk penyandang kriteria yang ketiga itu. Gus Dur (panggilan akrabnya) sewaktu kuliah di Mesir hanya berlangsung sampai pada semester dua atau tiga saja. Sebab menurutnya, apa yang dipelajari di kelas pernah ia pelajari hingga “bosan” sewaktu masih belajar di pesantren di Indonesia. Mungkin inikah juga yang melatarbelakangi kawan-kawan yang jarang kuliah? Mungkin saja.

Bagi para penulis yang “menganut” kriteria model ini, bisa saja beragumen bahwa kegiatan menulis jelas lebih menguntungkan secara material daripada ikut kuliah yang mungkin hanya menjadi pendengar setia apa kata dosen. Bagaimana tidak, jika kita beruntung, dengan menulis kemudian dikirim dan dimuat di koran bisa diganjar dengan setumpuk uang berkisar Rp 200.000-500.000 per/tulisan. Sehingga dengan menulis dan dimuat setiap hari (atau paling tidak tiga kali dalam seminggu), bisa menyimpan segudang uang. Mengasikkan bukan? Ya, setidaknya menulis dapat mengenyangkan perut, sementara kuliah malah bikin lapar.

Di satu sisi, pandangan seperti itu dapat dibenarkan dan memang merupakan salah satu ruh kejiwaan penulis yang biasa disebut dengan pragmatisme. Sedangkan di sisi lain, kita juga perlu mengenal kejiwaan penulis lain yang hanya mengedepankan idealisme. Pertarungan “dua godaan” dalam diri penulis ini pasti akan selalu terpendar dalam setiap aktivitas menulisnya.

Bagi tipe penulis kedua, dapat dikatakan bahwa kualitas tulisan lebih diutamakan daripada menulis setiap hari yang terkesan seolah dijadikan “profesi”. Sementara honor tulisan hanyalah dijadikan “sampingan”. Selain itu, penulis yang berjiwa idealis biasanya selalu menulis sesuai dengan bidang yang digelutinya. Kalaupun ia menulis tema tentang politik, misalnya, sementara basic keilmuannya dia filsafat, dipastikan menulis dalam perspektif filsafat politik. Lihatlah gaya tulisan Franz Magnis-Suseno, Donny Gahral Adian dan Haryatmoko, yang acapkali menulis di koran-koran nasional.

Bahkan seorang kawan saya, yang namanya sudah malang-melintang di jagad nusantara pernah berujar, “menulis bagi saya butuh stamina yang fit untuk menghasilkan karya yang baik dan berkualitas”. Bagaimana dengan Anda?

Tampaknya, mempertimbangkan dua kriteria dan karakter kepenulisan di atas dalam konteks mahasiswa terlalu berlebihan. Mahasiswa dapat menyenangi dalam kegiatan tulis-menulis sudah syukur alhamdulillah. Sebab, tradisi menulis di lingkungan kampus dalam pandangan saya, hanyalah segelintir orang saja yang melakukannya. Jika memberanikan diri untuk mempresentase, mungkin hanya 10% (itupun sangat maksimal) dari jumlah keseluruhan mahasiswa di setiap kampus.

Saat ini yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkembangkan dan menyadarkan mahasiswa akan pentingnya menulis. Mungkin perlu dikampanyekan; bagi orang yang taat beragama, “menulis itu adalah ibadah dan dianggap sebagai ‘jihad intelektual’ (meminjam istilah Ziauddin Sardar)”, bagi mereka yang menjadi aktivis kampus, “menulis itu adalah perjuangan membela hak-hak kaum tertintas melalui tulisan”, bagi mahasiswa yang rajin kuliah dan akademisi an sich, “dengan menulis, dapat memudahkan dan membantu dalam menjawab soal-soal ujian karena terbiasa mengarang”, atau mungkin bagi mereka yang hobinya “berpacaran” perlu dikatakan, bahwa “dengan terampil menulis, bisa membantu dalam mencipta sajak-sajak cinta yang amat romantis, dan dipastikan sang pacar akan tambah ‘lengket kayak prangko’”.

Kesemuanya itu adalah benar, meski diteropong dari perspektif manapun tetap saja tak dapat disangkal. Bukankah motivasi seseorang menulis sangat beragam?

Nadine Gordimer dalam Writing and Being (1995) memberikan arahan berupa stimulusi dalam menulis bagi para penulis masa kini melalui beberapa pertanyaan. Untuk siapa Anda menulis? Pertanyaan ini memiliki banyak turunan: dari manakah karakter dalam tulisan itu muncul? Apakah penulis harus berpijak pada realitas terdekatnya, berpihak pada keprihatinan yang dialami bangsanya, ikut serta menentukan arus perubahan kondisi sosial masyarakatnya? Apakah penulis harus memiliki kesadaran politik atau revolusi? Apakah tulisan memang benar-benar memiliki makna bagi masyarakat dan pembaca yang tengah mengalami ketidakadilan, keprihatinan, penindasan, atau kesewenang-wenangan? Sumbangsih apakah yang wajib diberikan penulis kepada umat manusia?

Budaya menulis di kampus

Yang pasti, budaya menulis di lingkungan kampus perlu ditradisikan sejak dini. Artinya, berbicara soal lingkungan kampus, berarti kita juga harus menyinggung struktur secara keseluruhan, baik dosen maupun karyawan. Tapi tampaknya hanya dosen yang perlu kita “tuntut” dan pertanyakan. Setidaknya dapat kita pilah ke dalam beberapa hal berikut.

Pertama, mengimpikan akan terwujudnya iklim menulis di lingkungan kampus harus pula melibatkan kreativitas dosen. Dalam hal ini, seharusnya tidak hanya mahasiswa yang dituntut untuk berkreatif dengan menulis—sebagaimana yang selalu “diceramahkan” di kelas, tetapi dosen juga perlu melakukan hal yang sama dengan banyak menulis di koran, majalah atau mungkin bisa dalam bentuk buku.

Sejauh ini, iklim kepenulisan dosen di kampus sangat minim. Kalau pun ada, orientasinya berbeda. Yang banyak adalah dosen “menulis” (baca: melaporkan penelitian) demi mendapat “kum” (cumulative credite point) yang berguna bagi kenaikan jenjang akademik mereka. Padahal, menurut pengalaman beberapa mahasiswa/dosen yang pernah kuliah di negeri Paman Sam (Amerika Serikat), di kalangan perguruan tinggi di sana ada dua pameo yang diyakini benar, yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah) dan All scientist are the same, until one of them writes a book (semua ilmuwan adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis [buku]) (Wishnubroto Widarso, 1997).

Maka kedua motto ini mengisyaratkan bahwa warga perguruan tinggi semestinya akrab dengan hal-ikhwal yang berkaitan dengan tulis-menulis, baik hendak dijadikan sebagai sumber pengetahuan ataupun sebagai prestasi. Sejauh ini, banyak pula mahasiswa yang sangat produktif menulis dan mempunyai kualitas tulisan yang amat bagus. Bahkan menulis dalam bentuk buku pun sudah sering dilakukan. Dari itu, mungkin tak heran bila terkadang ada mahasiswa di lingkungan kampus lebih ter(di)kenal masyarakat daripada dosennya yang hanya mengandalkan ruang kelas semata.

Kedua, tidak ada apresiasi yang tinggi dan berharga dari pihak kampus terhadap mahasiswa yang berprestasi dalam bidang kepenulisan. Kalaupun ada dalam bentuk material yang biasa didesign oleh Rektoret masih terasa “menyesakkan dada”. Kawan saya yang sudah biasa menjadi “langganan” menyabet juara I tingkat kampus, selalu berseloroh, “mosok tulisan sebanyak 20 lebih yang sudah dimuat di pelbagai media massa hanya dihadiahi uang Rp 150.000 ?”.

Kurangnya penghargaan terhadap penulis mungkin sudah menjadi hal biasa dalam masyarakat kita. Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi dalam skala luas, negara, juga kurang memerhatikan para penulis yang ada di bumi pertiwi ini. Penulis besar sekelas Pramodya Ananta Toer, lebih banyak mendapat sanjungan dan penghargaan dari luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Sampai di sini, perlu ditekankan, yakni bagi seorang penulis, penghargaan dalam bentuk apapun memang bukanlah hal yang paling utama. Mungkin kita perlu belajar dari sikap Jean Paul Sartre. Pasalnya, tokoh filsuf eksistensialis ini menolak segala penghargaan yang (bakal) diberikan pada dirinya meski ia telah melahirkan banyak karya yang mengagumkan. Tetapi kita bukan Sartre. Dalam konteks Indonesia, mengharap respons publik atas karya yang kita telurkan merupakan penyemangat yang secara psikologis dapat memotivasi para penulis. Benarkah demikian?

“Aku yang mati”

Di sinilah problemnya. Menerima atau mengharap respons publik dalam bentuk dan wujud nyata mungkin dapat dibenarkan. Tetapi menginginkan respons publik sesuai dengan apa kata kita sebagaimana tertuang dalam teks, adalah sebuah hal yang perlu dihindari. Karena dengan melahirkan sebuah karya, maka di waktu itu pula kita tak punya kuasa memiliki teks itu lagi. Teks itu sudah bergentayangan dalam benak publik dan harus siap “dicincang” oleh pembaca.

Teori ini dilontarkan oleh Roland Barthes dalam artikel konstroversialnya, The Deadth of Author. Menulis, kata Barthes, adalah ke dalamnya subjek melarikan diri, hitam putih dan semua identitas hilang, mulai dengan identitas tubuh pengarang (Toety Heraty, 2000: 198). Dalam hali ini, Barthes hendak mendengungkan bahwa pengarang (author) sebenarnya telah mati bilamana teks itu telah menyeruak ke publik. Dan karenanya, otonomi pembaca sangatlah ditekankan.

Mencoba ikut arus teori Barthes di atas, tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa pengarang tidak boleh melakukan pembelaan. Hanya saja, mestinya ia mengambil jarak dari karyanya ketika pembelaan itu dilakukan. Dengan kata lain, ia harus berusaha menempatkan karyanya sebagai teks yang mandiri, tidak memiliki hubungan emosional dengan dirinya. Jika ia mau melakukan pembelaan emosional juga, bentuk pembelaan itu akan lebih cantik jika diwujudkan dalam bentuk lain, yakni dengan terus-menerus berkarya (Iwan Simatupang, 2004: 329-336).

Secara teoritis, ungkapan Barthes ini sungguh menyisakan persoalan pelik nan sulit untuk dicerna oleh orang awam atau “penulis pemula” seperti saya. Tetapi bila diilustrasikan secara sederhana, ungkapan Dee di awal pembuka tulisan ini boleh dibilang sebagai penjelasnya. Selain itu, Pramoedya juga pernah mengungkapkan dengan bahasa lugas dan puitis, bahwa “karya-karya saya ibarat bayi-bayi yang lahir dan yang perkembanganya sampai dewasa mempunyai nasib masing-masing tergantung para pembaca”.

Dalam pandangan Acep Iwan Saidi (2006), tesis ini tidak seluruhnya bisa berlaku dalam konteks kepengarangan di Indonesia. Pengarang tidak serta merta mati ketika pembaca datang menggantikan posisinya di hadapan teks. Pada masyarakat kita, tokoh masih saja menjadi pusat. Pengarang lebih penting daripada teks. Paling tidak, pengarang selalau dituntut hadir menyertai teks yang diproduksinya.

Tengoklah tulisan tinjauan tentang kesusastraan, terutama yang ditulis di media massa, umumnya bahkan nyaris meninggalkan teks. Ketika seseorang mengurai ideologis tertentu dalam prosa atau puisi, misalnya, orang itu akan menyebut “ideologi pengarang”, bukan ideologi “narator” atau “aku lirik”. Dengan demikan, kita tidak bisa sama sekali meninggalkan pengarang, sebaliknya justru sering meninggalkan teks.

Dalam masyarakat kita yang tradisi lisannya masih kuat, sekali lagi, pengarang tidak pernah mati. Bahwa kita pun mengakui dan mentransfer cara berpikir Barat yang tradisi tekstualnya sudah mapan itu, memang betul. Tapi akar kelisanan kita rupanya masih menancap kuat sehingga daya tahan terhadap kritik sulit sekali ditumbuhkan.

  dsc02010.jpg Sekarang, menulislah!

Sebagai kata pamungkas, sampai di sini perlu ditegaskan, bahwa istilah “kematian pengarang” sebenarnya hanyalah metafor untuk mengungkapkan otonomi pembaca dalam menelaah sebuah teks. Tak perlu takut dan khawatir. Maksud “kematian” bukan dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu hilangnya nyawa dari tubuh kita. Buktinya, meski sudah menulis artikel ini, saya masih sehat dan segar-bugar menghirup udara dunia.

Kini, bergegaslah untuk menulis. Tuangkan segala yang ada dalam benak dan kepala dalam tulisan. Tak perlu berdalih “aku tidak bisa”. Semuanya pasti bisa, jika ada kemauan dan keberanian untuk mencoba. Bukankah kegagalan dalam bereksperimentasi hal yang baik tidak berdosa?

Memang, manusia menurut Feby Indriani, makhluk yang suka berdalih. Ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis. Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya (TEMPO, 26 November 2006).

Masih menurut Feby, begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis. “Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis” (ini dalih paling populer). “Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu” (ini dalih khas dunia modern). “Saya tidak punya laptop. Masa sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi” (ini dalih generasi melek teknologi).

Tak ada alasan untuk tidak menulis. Menulis apa saja! “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya” adalah sebuah hadis yang sudah sering didengar. Perintah teologis ini juga diperkuat oleh kata-kata iqra’ (bacalah) dalam salah satu ayat di kitab suci. Sebab dengan menulis, terdapat dua hal secara bersamaan yang mesti didapat oleh penulis. Bernalar kritis dan giat membaca. Benarkah?

Sebab menulis, kata Sardar, harus memulai sesuatunya dari pertanyaan atau bersikap kritis. Itu pulalah yang dilakukan Nabi Muhammad saat menerima wahyu pertama ‘Iqra’. Nabi berusaha menggugatnya, “Aku tak bisa membaca”. Bagi Sardar, ini adalah pesan yang kuat.

Mengapa dalam wahyu pertama, Tuhan menyuruh Nabi untuk ‘membaca’, alih-alih mewajibkan shalat, puasa, atau zakat. Dalam wahyu pertama pula, Tuhan menyebut soal kegiatan ‘menulis’. Yakni pada ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan mengajar manusia lewat perantaraan kalam.

Dengan demikian, membaca ternyata juga mempengaruhi kualitas tulisan. Karenanya harus dilakukan. Pater Bolsius, SJ pernah mengatakan, “if you don’t read, you don’t write” (kalau engkau tidak (punya kebiasan) membaca, engkau tidak bisa menulis). Robert Pinckret dalam bukunya The Truth About English juga mengatakan, “writing is thinking. If you can’t think you can’t write. Learning to think” (menulis adalah berpikir. Kalau Anda tak bisa berpikir, Anda tak bisa menulis. Belajar menulis berarti belajar berpikir).

Saking pentingnya menulis, saya tak bisa membayangkan, apa jadinya bila kitab suci hanya dihafal oleh dan dari generasi ke generasi. Mungkin tidak hanya banyak umat Islam yang tak bisa membaca kitab suci itu lantaran tak ada teks untuk dibaca, tetapi bisa jadi ayat-ayat suci telah punah sejak puluhan tahun silam dikarenakan kemampuan daya ingat manusia.

Terakhir, menarik apa yang ditulis Sulaiman Tripa dalam pengalaman otodidaknya dalam menulis. Ungkapan Tripa itu disusun dalam sebuah puisi yang amat indah dan penuh penghayatan yang amat dalam. Bunyinya:

ketika jari tak pernah berhenti menuliskan kata-kata surga
ketika itulah surga ada
jauh di dalam relung jiwa
yang membaca untaian kata
hasil rangkaian jari-jari

menulislah…
dan jadilah surga
bagi kami semua…

Menulislah, biar orang-orang membacanya!

Menulis adalah suatu kegiatan yang amat mulia. Dengan menulis, mungkin dapat dibaca oleh anak cucu kita bila kita meninggal kelak. Tetapi apa yang kita ucapkan dengan lisan, mungkin akan sirna dan lekang seiring dengan perkembangan zaman. Benar nasehat Pramoedya, “…dan bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”.

Dengan begitu, menulis dapat memberikan kehidupan abadi. Dan tak kalah pentingnya, bahwa menulis dapat menampakkan diri kita, bahwa kita benar-benar ada, benar-benar hidup. “Aku menulis, maka aku ada”, kita perlu berujar seperti layaknya Rene Descartes berfilsafat cogito ergo sum.[]

 

 

Komentar»

1. Alfian - 5 Desember 2007

Oiiii…. tau darimana alamat blog baruQ? Masih baru, dan belum kusebarin ke tmn2… Berema kaber?

2. ipung - 9 Desember 2007

wah… ada likn khusus para gus ya… betul2 terobsesi mjd gus. smg sukses.

jkt, 9/12/07

3. ipung - 9 Desember 2007

kalau bolh usul, link “para gus” di ganti aja dengan “para dewan pengasuh”. hehehehe….

4. aal - 10 Desember 2007

Wah, gak bener tu pung. Aku malah pengen buat link “para-politisi” atau “kejar-impian”, yang di antaranya namamu masuk di situ. Baik2 di Jkt ya. Jangan nakal… bisa2 gajimu dipotong. he2

5. ipung - 10 Desember 2007

wah… semua buku yang ada di kaleksi buku tu dari hasil resensi buku semua ya gus…

6. aal - 11 Desember 2007

kalo dihitung2, mungkin dari hasil resensi hanya 20 persen. selebihnya beli sendiri cong. He2.. Mulai nakal ni? ntar tak laporin ke bosmu biar gaji bulan ini dipotong 70 persen, dan buat aku. Hi2…

7. Hatim Gazali - 12 Desember 2007

kalaupun dari hasil resensi kan gak ada yang salah. Itu juga bagus. Ketimbang membeli buku mending cari gratisan.
positif jadi calon gus nich kayaknya…..
Aal, aku punya ide, gimana kalau buat blog untuk penulis-penulis UIN, kurang lebih teman-teman kita. Kalau setuju, kita tingal diskusi tentang format dan sebagainya. Nanti kan dikelola bersama. Bilang ma yang lain yach….

8. aal - 13 Desember 2007

aku sih setuju2 aja pak Hatim. Situ aja dech yang atur…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: