jump to navigation

Memutus Rantai Kekerasan 30 Desember 2007

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Media Indonesia, 27 Desember 2007

    dsc_5221.jpg   dsc_5287.jpg

 [Dok foto. ICRP-Saidiman]

Oleh: Ali Usman*

Penyerangan oleh seribu massa terhadap jemaat Ahmadiyah di Kuningan-Jawa Barat pada 18 Desember lalu, yang mengakibatkan tiga orang luka-luka, 2 mesjid rusak, dan 8 rumah, semakin melengkapi pelanggaran HAM selama tahun 2007. Ironisnya, penyerangan itu dipicu oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan Ahmadiyah sesat (Tempo Interaktif, 19/12/2007).

Itu berarti, terjadinya tindak kekerasan atas nama agama telah melibatkan banyak pihak, termasuk yang paling fatal adalah negara. Negara dalam hal ini telah gagal menjalankan amanat UUD 1945 tentang kebebasan beragama.

Karena itu, seyogiyanya kepolisian menindak para pelaku penyerangan. Bahkan ke depan, pemerintah perlu juga memikirkan tentang pelarangan organisasi masyarakat yang menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Begitupula Komnas HAM sesegera mungkin melakukan penyidikan kasus pelanggaran berat tersebut.

Ahmadiyah bukanlah satu-satunya kelompok yang menjadi korban pelanggaran HAM atas tindak kekerasan itu. Di sana masih ada umat Kristiani dan jemaat Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang mengalami hal serupa. Berdasarkan laporan PGI dan KWI ke Komnas HAM baru-baru ini tercatat 108 kasus penutupan, penyerangan, dan perusakan gereja terjadi pada 2004-2007. Rinciannya, pada 2004 terdapat 30 kasus, 2005 ada 39 kasus, 2006 ada 17 kasus, dan 2007 ada 22 kasus. Provinsi yang terbanyak terjadi kasus-kasus tersebut adalah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Poso, dan Bengkulu.

Setara Institute for Democracy and Peace mencatat , dalam setahun (2007) setidaknya 185 tindak pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dimana serangkaian pengrusakan, kekerasan, dan penangkapan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap “sesat” dipertontonkan kepada publik dengan gamblang.

Dari situ, menarik apa yang diungkap oleh Nasr Hamid Abu Zayd dalam diskusi terbuka di Yogyakarta, bersamaan dengan pencekalan dirinya oleh pemerintah melalui Departemen Agama saat hendak mempresentasikan pandangannya tentang keislaman akhir November lalu. Pemikir kontroversial itu menunjukkan fakta yang sangat ironi bagi sebuah negara dalam menyikapi kebebasan beragama bagi warganya.

Kebebasan beragama seperti yang banyak terjadi di banyak negara, termasuk di Indonesia, berjalan secara paradoks. Abu Zayd membandingkan antara kebebasan pasar dengan kebebasan beragama itu sendiri; kebebasan pasar yang ditandai dengan globalisasi dan sistem kapitalisme justrui diadopsi secara terang-terangan oleh negara. Sementara kebebasan beragama malah tertahan, tidak dibiarkan mengalir secara alami sebagai kodrat manusia.

“Pembajakan nama Tuhan”

Maka dengan menyimak tragedi kekerasan itu, tak ayal lagi, nama Tuhan seringkali “dibajak” untuk melegalkan perbuatannya. Tuhan seolah menjadi bomerang. Padahal, menjadikan Tuhan atau agama semacam “pengkambinghitaman”, menurut René Girard akan bermura pada konflik horizontal yang berujung pada pembunuhan antar sesama.

Terbukti, ramalan Girard memang tampaknya mendapat pembenaran dan relevansi yang amat kuat dengan melihat fakat-fakta yang menimpa masyarakat kita dalam setiap menyelesaikan persoalan, terutama yang menyengkut antar etnik, budaya dan agama di negeri ini.

Simaklah akibat isu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti, aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dan Ahmadiyah dikutuk “sesat dan menyesatkan” oleh MUI, secara nyata berimplikasi pada kehidupan sosial masyarakat kita. Di Surabaya, karena ada salah satu dari anggota keluarganya hilang entah ke mana, lantas dikait-kaitkan dengan keikutsertannya ke dalam aliran tersebut.

Lalu bagaimana bila semua orang yang kehilangan sanak keluarganya di negeri ini juga ikut-ikutan menengarahi motif yang sama karena ikut aliran itu? Apakah benar, setiap orang yang kehilangan anggota keluarganya mempunyai motif yang sama lantaran ikut jemaat atau liran tertentu?

Dalam situasi yang serba kronis ini, benar apa kata Sindhunata (2006), bahwa kekerasan sebenarnya menyelimuti kita semua. Tapi kita tidak menyadarinya. Kekerasan membayang-bayangi siapa saja. Tapi siapa pun tak merasakan bayangan-bayangannya. Kekerasan mengancam manusia. Tapi manusia hidup seakan tanpa ancamannya. Kekerasan hadir setiap saat, bagai udara yang ada di mana-mana. Manusia menghirupnya, tanpa merasa, bahwa kekerasan masuk bagai napas yang menghidupinya.

Secara internal, semua pihak mestinya sadar bahwa Islam—yang menjadi pemeluk mayoritas di negeri ini—menurut Bruce B. Lawrence dalam Shattering the Myth: Islam Beyond Violence adalah tidaklah tunggal. Islam adalah banyak hal. Tidak ada satu penjelasan pas yang melukiskan berbagai kelompok muslim dengan nilai dan arti yang sama. Juga, tidak ada lokasi tunggal ataupun budaya seragam yang identik dengan Islam.

Itu sebabnya, pengecaman yang dibarengi dengan tindakan kekerasan terhadap kelompok tetentu yang dianggap “sesat”, bila ditilik dari sisi telogis, sebenarnya menampilkan kedangkalan pemahaman masyarakat kita terhadap pluralisme agama itu sendiri. Lebih-lebih, dialog antar agama yang selama ini didengung-dengungkan oleh banyak pihak menjadi nihil dan tidak berjalan sesuai harapan.

Artinya, meski secara teologis kita tidak membenarkan terhadap keyakinan dan ajaran-ajaran kelompok tersebut, sejatinya tidak serta merta mengusik, apalagi dengan melakukan pengusiran dan tindak kekerasan terhadap para jema’ahnya. Jalan dialog adalah jauh lebih baik ketimbang mendahulukan “otot”. Sehingga tercipta sebuah masyarakat yang oleh Jurgen Habermas sebagai “masyarakat komunikatif”.

Semoga kultur kekerasan di masyarakat kita tidak (lagi) terjadi di tahun-tahun berikutnya.

* Ali Usman, alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: