jump to navigation

Selamat Jalan Pak Harto… 28 Januari 2008

Posted by aal in Ucap.
3 comments

harto.jpg

Pak Harto seolah berdo’a sendiri lantaran rakyat belum sepenuhnya tulus melepas kepergiannya. Selamat jalan Pak Harto, menuju kehidupan kekal abadi di akhirat sana. Sampaikan salam untuk-Nya, bahwa kami meyakini firman: Kullu nafsin dzaiqatu al-maut…

Kasih Maria dan Petaka Kehidupan Modern 20 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
9 comments

Dilansir dari jurnalnet.com, 19 Januari 2008

penampakan-maria.jpg Oleh Ali Usman*

Judul Buku  : Perempuan dan Naga: Penampakan-penampakan Maria

Judul asli : The Woman and the Dragon Apparations of Mary

Penulis : David Michael Lindsey

Penerjemah : L. Prasetya Pr.

Penerbit  : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan  : I, November 2007

Tebal   : 559 halaman

 

Kehidupan di dunia selalu menampilkan dua wajah yang timbal-balik; ada baik-jahat, terang-gelap, baik-buruk, dan lain sebagainya. Tidak seperti kehidupan di surga sana, yang konon menurut doktrin agama, hanya berwajah tunggal dan linear. Semuanya bernafaskan sesuatu yang baik. Tak ada kejahatan dan dosa di surga.

Karenanya, setiap manusia yang beragama dipastikan mengidamkan hal yang sama: surga. Surga yang dijanjikan Tuhan adalah kehidupan kelak, kehidupan “kedua” setelah di dunia. Setelah kita melalui kematian. Lalu bagaimana dalam kehidupan nyata, di dunia sekarang ini?

Itulah problemnya. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang gigih untuk meraih kenikmatan surga. Tentu saja, kehidupan di dunia tidaklah sama dengan yang dijanjikan di surga. Dunia yang kita tempati saat ini penuh dengan jebakan-jebakan yang bisa jadi akan menjebloskan manusia ke neraka—tempat yang juga di janjikan Tuhan bagi pengampu dosa.

Dengan adanya surga dan neraka, Tuhan pun sebenarnya mencipta klasifikasi dan dikotomi yang “beroposisi biner”. Itu sebabnya, di samping mencipta manusia sebagai makhluk yang paling baik dan sempurna di antara makhluk-makhluknya yang lain, Tuhan juga mencipta satan (setan) yang diidentikkan dengan kejahatan. Kebaikan dan kesempurnaan manusia akan ternodai manakala tak tahan dengan godaan satan.

Tepat di aras pemikiran seperti itulah, keseluruhan buku setebal 559 halaman ini ditempatkan. Kata ‘perempuan’ dalam judul buku, dinisbatkan pada bunda Maria yang dalam tradisi Kristen dikenal sebagai ‘Perawan Yang Terberkati’ dan membawa kebaikan. Sementara kata ‘naga’ merupakan simbol kejahatan (satan) yang dilawankan dengan ajaran-ajaran yang dibawa bunda Maria.

Buku Perempuan dan Naga: Penampakan-Penampakan Maria merupakan catatan-catatan historis mendalam tentang penampakan-penampakan Maria dan peretempuran terus-menerus antara surga dan neraka, dengan tekanan utama pada peranan unik Maria sebagai duta istimewa Allah kepada dunia. Generasi sekarang, Menurut David Michael Lindsey, penulis buku ini, adalah generasi jahat seperti diperingatkan Yesus dalam Injil, generasi “akhir zaman” ketika tanda-tanda dan hal-hal yang menakjubkan terpenuhi pada saat Kedatangan Yesus yang kedua. Di mana-mana kita melihat catatan-catatan cuaca dihancurkan.

Buku ini meski bercorak Kristiani, hemat saya, cocok dan tak rugi bila juga dibaca umat lain di tengah-tengah kondisi dunia yang tak lagi kondusif untuk hidup. Dunia saat ini didominasi oleh kejahatan daripada kebaikan, yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. Seolah-olah bumilah yang berusaha memperingatkan kita agar Pencipta menghukum bangsa manusia karena pelanggaran yang tak terkira banyaknya. Menurut beberapa penglihat yang disebutkan dalam buku ini, jika bukan karena Perawan Maria Yang Terberkati, yang mengendalikan murka Allah, dunia akan dihukum dalam jangka waktu yang lama.

Berkali-kali, tulis David, Allah mengutus bunda Maria ke dunia memperingatkan manusia bahwa Dia akan menghukum dunia. Jika mungkin, Kristus akan turun kembali dari surga dan wafat di kayu salib lagi. Tetapi Bapa tidak membiarkan Dia, maka sebagai penggantinya Allah mengutus bunda-Nya. Maria adalah peringatan terakhir bagi dunia (hlm 18).

Sebagai pembaca muslim, saya coba mencari dan menerka-nerka ajaran yang menjadi isi di dalam buku ini ke dalam agama yang saya anut, Islam. Dalam pandangan saya, setidaknya ada dua hal penting yang menarik dari keseluruhan buku ini bila “disandingkan” dengan tradisi Islam.

Pertama, penampakan-penampakan seorang yang dianggap suci (baca: wali), dan bahkan Tuhan sekalipun termanisfestasi (tajalli) melalui ciptaan-ciptaan-Nya di dunia. Pandangan ini biasanya banyak ditemukan dalam ajaran-ajaran kaum sufi atau dunia tasawuf.

Kedua, bunda Maria dalam tradisi Kristen diyakini sebagai manusia suci dan bebas dari dosa lantaran mendapat berkat dan rahmat dari Bapa Kekal. Ini serupa dengan keyakinan umat Islam yang berkeyakinan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling sempurna di antara manusia-manusia lain, dan juga dibebaskan dari dosa (ma’sum) oleh Tuhan.

Dengan ini, bukan berarti saya hendak menyamakan antara Nabi Muhammad dan bunda Maria yang nantinya akan berujung pada “relativisme absolut”. Tetapi lebih merupakan mencari titik temu ajaran antar-agama, sehingga tercipta keharmonisan dan perdamanan di dunia.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan dalam buku ini, yaitu pesan Maria adalah pesan kenabian. David selalu mengingatkan kepada pembaca, bahwa kisah atau catatan-cacatan historis ini bukanlah berdasarkan pada mitos yang kebenarannya masih diragukan, tetapi berdasarkan doktrin agama yang ia gali dari Wahyu 12: 1.

Namun sangat disayangkan, tokoh Katolik konservatif ini seolah tak memberikan ruang dialogis kepada pembaca. Pendiriannya tentang apa yang ia yakini bercorak “otoriter” dan anti-dialogis. Ia menulis, “jika Anda mencari buku yang tidak konfrontasional, zaman baru (new-age) Maria yang tidak ada, buku ini bukan untuk Anda. Saya tidak menulis buku ini untuk menggelitik telinga orang. Jika Anda merasa bahwa Anda harus mengkritisi ungkapan iman Katolik saya, anda berhak…” (hlm 21).

Padahal, setiap orang yang beragama dengan taat, mestinya merasakan kegelisahan iman seperti yang dirasakan oleh Santo Augustinus, seorang mistikus Kristen abad pertengahan. Dalam karyanya yang sangat fenomenal, Confessions-nya, ia berusaha mati-matian mencari Tuhan dan keotentikan imannya.

Di dalamnya kita menemukan pengembaraan tanpa henti Augustinus yang terus bertanya kepada langit dan bumi, kepada binatang dan tumbuhan, bahkan kepada dirinya sendiri, pada relung-relung ingatannya yang sangat rahasia. Apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Dikau, Tuhanku (Quid ergo amo, cum Deum meum amo)? Tetapi siapakah Engkau, Tuhanku? Bagaimana dan di mana aku harus mencari Engkau, ya Tuhanku?

Andai buku ini bisa menjawab rentetan pertanyaan yang menghujam dan “maha-pelik” ini.

* Ali Usman, pemerhati sosial lintas agama-budaya, dan alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ketika Akademisi Menggugat Kerja Pers 6 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
18 comments

Dilansir dari Jawa Pos, 7 Januari 2008 

Oleh Ali Usman*

Beragam tanggapan soal hasil penelitian yang dilakukan Jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Pusat Pengkajian dan Pelatihan Ilmu Sosial-Ilmu Politik (P3-ISIP) Universitas Indonesia (UI) sungguh menghentakkan publik; masyarakat kampus dan aktivis pers, serta masyarakat luas seantero pada umunya. Kedua lembaga itu telah meneliti pemberitaan majalah Tempo dan Koran Tempo mengenai kasus dugaan korupsi penggelapan pajak Asian Agri.

Pertama, mempertanyakan motif di balik penyelenggaraan acara seminar terbuka dan besar-besaran pada 18 Desember 2007 atas prakarsa Veloxxe Consulting. Sebab, jika memang itu merupakan kegiatan akademis murni (an sich) sebagai perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, mestinya diuji terlebih dahulu secara ilmiah (tentang perangkat teori, metodologi, analisis, dan lainnya) di kampus setempat, dan tidak serta merta membeberkannya ke publik. Apalagi penyelenggaraan seminar tersebut menggandeng sponsor utama dari objek yang mereka teliti (pihak yang terbelit kasus), Asian Agri Group (AAG). Ada apa ini?

Kedua, perihal hasil penelitiannya yang menyimpulkan bahwa majalah Tempo dan Koran Tempo telah mengabaikan prinsip netralitas dengan perlakuan yang berbeda dalam pemberitaan kasus penggelapan pajak AAG dan kasus lumpur Lapindo. Yaitu perbedaan pembingkaian berita yang mencerminkan adanya keberpihakan terutama dalam melakukan personifikasi terhadap sosok Sukanto Tanoto selaku bos AAG dan Abu Rizal Bakrie selaku bos Lapindo Brantas.

Ketiga, lantaran tim peneliti, baik dari UGM maupun UI disinyalir menjalankan “riset pesanan” dari AAG. Maka tak dapat dimungkiri, kucuran dana pun secara nyata mengalir deras ke kantong para anggotanya. “Kami dapat 10 persen dari Rp 1,3 triliun,” kata salah satu anggota tim dengan nada bergurau—sebagimana dilansir banyak media. Dengan begitu, sangat wajar, bila hasil penelitiannya secara otomatis akan bias, tidak netral, timpang, dan lebih memenangkan suara salah satu pihak.

Atas kejadian tersebut, tampaknya para akademisi kampus itu telah terjebak pada “nafsu pragmatisme”. Atau jangan-jangan, apa yang dilakukan tak lebih dari sebagai pesona mencari “sensasi” semata—yang dalam istilah Koentjaraningrat (1987) disebut sebagai “mentalitas menerabas”.

Sungguh banyak kalangan menyayangkan, dunia kampus yang sejatinya dapat menjaga indepedensi dan netralitasnya, malah tergelincir pada godaan “riset pesanan” yang mungkin barangkali jauh lebih menguntungkan secara material, ketimbang melakukan “riset biasa” pada umumnya sebagai kewajiban kaum intelektual.

Di sisi lain, pers yang merupakan representasi realitas sosial, dan dalam wujud praksis sebagai “katalisator” suara rakyat dengan menyoroti kasus-kasus yang merugikan negara dan rakyat, malah dituding sebagai “pencemar nama baik”. Bukankah kerja pers telah diselimuti oleh lapisan kode etik?

Mengasumsikan pers sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai dan bertemali dengan ideologi tertentu tentu sah-sah saja. Namun di luar itu semua, “pandangan ekstrim” itu mesti dipahamai secara berimbang (balance) dan proporsional. Artinya, tendensius pers sebenarnya “berafiliasi” kepada rintih dan suara rakyat itu sendiri.

Oleh karenanya, para akademisi kampus dan semua elemen masyarakat seyogiyanya menyokong penuh kinerja pers sebagai bagian “propaganda” yang menuntut keadilan dan kebenaran atas tindak korupsi yang diperbuat oleh oknum-oknum tertentu. Bukan malah mencerca dan menikam dari belakang.

Posisi peneliti

Betapapun tim peneliti mengklaim penelitiannya—sebagaimana diakui Hermin Indah Wahyuni PhD, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM— telah menggunakan tiga jenis metodologi, yakni analisis isi (content analysis), analisis bingkai (framing analysis) dan analisis wacana kritis (critical discourse analysis) untuk mengobservasi 126 item berita yang berisi 1.115 paragraf, tetapi hemat saya, masih berpijak pada paradigma positivistik yang mengandaikan realitas yang bersifat objektif, sesuatu yang berada di luar diri peneliti.

Bagi penganut kaum positivistik, peneliti harus membuat jarak sejauh mungkin dengan objek yang ingin ditelitinya. Dalam hal ini, analisis diarahkan untuk menemukan ada atau tidak ada bias dengan meneliti sumber berita, pihak-pihak yang diwawancarai, bobot dari penulisan, dan kecenderungan dari pemberitaan.

Ini berbeda dengan paradigma atau pendekatan kritis, yaitu hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti, menurut Egon G. Guba dan Yevonna S. Lincoln (1990) selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu.

Penempatan sumber berita yang menonjol dibandingkan dengan sumber lain, menempatkan wawancara seorang tokoh lebih besar dari tokoh lain, liputan yang hanya satu sisi dan merugikan pihak lain, tidak berimbang dan secara nyata mamihak satu kelompok tidaklah dianggap sebagai kekeliruan atau bias tetapi memang itulah praktik yang dijalankan oleh pers atau wartawan (Eriyanto, 2001).

Di samping itu juga, tentu tidak fair bila mereka (para peneliti) menginginkan pers netral, tetapi pihak peneliti yang melakukan riset jauh melampau kenetralan. Untuk mengerti mengapa praktik jurnalistik bisa semacam itu, bukan dengan meneliti sumber bias, tetapi mengarahkan pada aspek ideologi di balik media yang melahirkan berita. Dengan begitu mungkin (akan) lebih aman.

*Ali Usman, mantan aktiviis pers, dan peneliti di Civil Society Institute Yogyakarta. Tulisan ini pendapat pribadi.

Menggalang Solidaritas untuk Korban 1 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
2 comments

Dilansir dari Harian Joglosemar, 29 Desember 2007

 korban-longsor.jpg 

Bayi yang tak berdosa itu jadi korban [Dok. foto: Jawa Pos]

Oleh Ali Usman*

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa“. (Ebiet G. Ade)

Sebegitu besarkah dosa kita, hingga Tuhan memberi adzab yang amat dahsyat bagi Indonesia? Atau mungkin itu menunjukkan kasih sayang-Nya dengan memberikan peringatan kepada kita melalui kekuasaan-Nya? Lalu Apa yang bisa kita harapkan di tengah kondisi bangsa yang tak lagi kondusif untuk sebuah pencerahan hidup?

Bencana demi bencana datang silih berganti seolah tak pernah bosan mendera negeri kita, yang konon, katanya makmur, sejahtera, aman, ramah, bersih, dan segudang predikat mulia lainnya. Hari-hari duka. Pekan sedih. Itulah kata-kata yang bisa menggambarkan kondisi bangsa saat ini.

Berharap di akhir tahun 2007 akan ditutup dengan wajah sedikit sumringah setelah di penghujung 2004 lalu kita semua sebagai negara-bangsa berkabung atas musibah stunami yang menelan puluhan ribu korban di bumi Aceh. Kini, seolah terjadi “reinkarnasi”—di tanggal yang sama, 26 Desember—saat masyarakat Aceh dan bangsa ini berkhidmat memanjatkan do’a dalam rangka mengenang tragedi stunami tiga tahun lalu, tiba-tiba saja di belahan bumi lain terdengar musibah lagi.

Sebagaimana dilansir media, banjir, air laut pasang, dan tanah longsor terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Korban berjatuhan di mana-mana. Insiden di eks Karesidenan Surakarta yang paling parah. Paling tidak 75 orang hilang terkubur tanah longsor atau terbawa banjir di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri.

Dalam kondisi demikian, masihkah kita bisa tersenyum dan menatap masa depan yang lebih ceria di tahun 2008, dalam suasana penuh kekalutan ini? Mungkin jari-jari kita tak cukup lagi untuk sekadar menghitung, berapa korban jiwa yang telah hilang melayang karena musibah yang menimpa saudara-saudara kita; mulut kita mungkin juga telah mengeluarkan “busa” dikarenakan kecapeaan komat-kamit, bukan karena membaca mantra mbah dukun, dan bukan pula menghitung berapa jumlah hutang negara kepada pihak luar, tetapi lebih memikirkan berapa kerugian negara dan masyarakat, setelah rumah dan lahan tani masyarakat porak-poranda di tengah gelimpangan mayat-mayat yang berserakan.

Karena itu, tampaknya hanya empati sebagai bukti solidaritas yang layak dan dapat kita perbuat. Sebab, mata kita seakan telah kering untuk sekadar mengeluarkan setetes air kepedihan. Wajah-wajah “manusia Indonesia”—meminjam istilah Mochtar Lubis semakin suram dan terlihat suntuk meratapi manusia-manusia lainnya yang kurang beruntung. “Dan Kematian pun Semakin Akrab”, kata penyair Subagio Sastrowardoyo.

Meski kita mungkin tidak pernah berpikir, kawasan-kawasan yang mengalami longsor merupakan lokasi yang tidak aman. Boleh jadi, semula lokasi itu memang telah diprediksi mengandung kerawanan, namun kemudian muncul pemicu-pemicu yang mempercepat menipisnya daya akomodasi tanah. Apakah karena dampak langsung maupun tidak langsung dari realitas pemanasan global, ketidakterkendalian tata guna lahan sehingga memperlemah daerah-daerah tangkapan air, atau penurunan kualitas daya tahan tanah akibat meningkatnya ketidakseimbangan ekosistem yang bisa dipicu oleh penggundulan lahan.

Nyatanya, tragedi itu terjadi, tanpa ada yang mampu mencegahnya. Pesan alam telah mengemuka di banyak peristiwa. Dari banjir, penurunan tanah, banjir bandang, rob, empasan gelombang laut, hingga tanah longsor. Sebagian atau seluruhnya dipicu oleh sikap manusia terhadap alam. Ada kepentingan-kepentingan ekonomi yang dampaknya dirasakan oleh rakyat. Ada pula karena sikap dan kebijakan yang abai terhadap komitmen keseimbangan lingkungan. Hukum belum sepenuhnya bisa diandalkan sebagai barikade pencegah secara preventif, walaupun semua tentu kembali pada pikiran dan langkah manusia sendiri.

Membangun solidaritas

Lalu bagaimana sikap dan respons manusia lainnya (kita) yang beruntung hidup dan masih bisa menghirup udara segar dalam mencurahkan solidaritasnya? Secara pasti, tentu saja ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Tapi dalam parktiknya, setidaknya dapat kita pilah menjadi dua elemen.

Pertama, pemerintah atau negara yang menaungi rakyat sebagai institusi formal masyarakat mestinya juga secara nyata menunjukkan rasa empati dan solidaritas itu. Sangat disayangkan, upaya pemerintah dalam menanggulangi korban bencana di hampir semua sektor riil terkuras habis dan mengalami “kebingungan”.

Dalam konteks perekonomian negara misalnya, secara jelas mengungkapkan betapa buruknya kondisi keuangan pemerintah. Artinya, jangankan untuk memenuhi amanat UUD 1945, yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan belanja pendidikan sebasar 20 persen dari APBN, atau untuk “memelihara” fakir miskin dan menyediakan lapangan kerja, untuk menyantuni para korban bencana pun pemerintah tampak kalang-kabut.

Kedua, pentingnya membangun solidaritas kemanusiaan yang datang dari masyarakat biasa atau sipil. Hal tersebut dapat dilakukan melalui dukungan dan bantuan material maupun moral. Secara material, sejatinya masyarakat kita kembali melakukan penggalangan dana sebagaimana pernah dilakukan pada musibah stunami. Sedangkan secara moral, solidaritas yang diberikan oleh masyarakat harus benar-benar an sich karena dorongan kemanusiaan, tidak diselimuti kepentingan tertentu. Model solidaritas seperti inilah, hemat saya, jauh lebih mengena dan riil daripada bentuk solidaritas model pemerintah.

Sikap dan tingkah perbuatan terpuji dari masyarakat itu tentu saja harus selalu dijaga. Dalam hal ini, masyarakat perlu disadarkan, betapa harta benda menjadi tak berarti manakala musibah menimpa mereka. Maka jalan satu-satunya adalah ikut berbagi rasa dalam penderitaan yang dialamai para korban bencana.

Bukankah ajaran agama telah mengajarkan kita untuk selalu melakukan amal baik dan solidaritas sosial sebagai wujud dari persaudaan umat manusia (ukhuwah). Misalnya, ajaran yang menyatakan, bahwa manusia dengan manusia lainnya adalah satu tubuh, maka jika salah satu anggota tubuhnya sakit (saudara kita yang tertimpa musibah), maka organ tubuh lainnya akan merasakan sakit pula (kita yang masih sehat dan hidup bernyawa).

Oleh karenanya, kita harus menggalang solidaritas dalam bentuk yang lebih fundamental dan permanen. Bukan sekedar solidaritas sesaat atau temporal. Sebab, tentu tak sulit untuk membayangkan bahwa hal yang sama—sebagaimana yang dialami korban bencana—bisa setiap saat terjadi pada diri kita. “Tangan Tuhan” bisa merampas apa saja yang kita miliki saat ini dengan berbagai cara.

* Ali Usman, alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta