jump to navigation

Menggalang Solidaritas untuk Korban 1 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Harian Joglosemar, 29 Desember 2007

 korban-longsor.jpg 

Bayi yang tak berdosa itu jadi korban [Dok. foto: Jawa Pos]

Oleh Ali Usman*

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa“. (Ebiet G. Ade)

Sebegitu besarkah dosa kita, hingga Tuhan memberi adzab yang amat dahsyat bagi Indonesia? Atau mungkin itu menunjukkan kasih sayang-Nya dengan memberikan peringatan kepada kita melalui kekuasaan-Nya? Lalu Apa yang bisa kita harapkan di tengah kondisi bangsa yang tak lagi kondusif untuk sebuah pencerahan hidup?

Bencana demi bencana datang silih berganti seolah tak pernah bosan mendera negeri kita, yang konon, katanya makmur, sejahtera, aman, ramah, bersih, dan segudang predikat mulia lainnya. Hari-hari duka. Pekan sedih. Itulah kata-kata yang bisa menggambarkan kondisi bangsa saat ini.

Berharap di akhir tahun 2007 akan ditutup dengan wajah sedikit sumringah setelah di penghujung 2004 lalu kita semua sebagai negara-bangsa berkabung atas musibah stunami yang menelan puluhan ribu korban di bumi Aceh. Kini, seolah terjadi “reinkarnasi”—di tanggal yang sama, 26 Desember—saat masyarakat Aceh dan bangsa ini berkhidmat memanjatkan do’a dalam rangka mengenang tragedi stunami tiga tahun lalu, tiba-tiba saja di belahan bumi lain terdengar musibah lagi.

Sebagaimana dilansir media, banjir, air laut pasang, dan tanah longsor terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Korban berjatuhan di mana-mana. Insiden di eks Karesidenan Surakarta yang paling parah. Paling tidak 75 orang hilang terkubur tanah longsor atau terbawa banjir di Kabupaten Karanganyar dan Wonogiri.

Dalam kondisi demikian, masihkah kita bisa tersenyum dan menatap masa depan yang lebih ceria di tahun 2008, dalam suasana penuh kekalutan ini? Mungkin jari-jari kita tak cukup lagi untuk sekadar menghitung, berapa korban jiwa yang telah hilang melayang karena musibah yang menimpa saudara-saudara kita; mulut kita mungkin juga telah mengeluarkan “busa” dikarenakan kecapeaan komat-kamit, bukan karena membaca mantra mbah dukun, dan bukan pula menghitung berapa jumlah hutang negara kepada pihak luar, tetapi lebih memikirkan berapa kerugian negara dan masyarakat, setelah rumah dan lahan tani masyarakat porak-poranda di tengah gelimpangan mayat-mayat yang berserakan.

Karena itu, tampaknya hanya empati sebagai bukti solidaritas yang layak dan dapat kita perbuat. Sebab, mata kita seakan telah kering untuk sekadar mengeluarkan setetes air kepedihan. Wajah-wajah “manusia Indonesia”—meminjam istilah Mochtar Lubis semakin suram dan terlihat suntuk meratapi manusia-manusia lainnya yang kurang beruntung. “Dan Kematian pun Semakin Akrab”, kata penyair Subagio Sastrowardoyo.

Meski kita mungkin tidak pernah berpikir, kawasan-kawasan yang mengalami longsor merupakan lokasi yang tidak aman. Boleh jadi, semula lokasi itu memang telah diprediksi mengandung kerawanan, namun kemudian muncul pemicu-pemicu yang mempercepat menipisnya daya akomodasi tanah. Apakah karena dampak langsung maupun tidak langsung dari realitas pemanasan global, ketidakterkendalian tata guna lahan sehingga memperlemah daerah-daerah tangkapan air, atau penurunan kualitas daya tahan tanah akibat meningkatnya ketidakseimbangan ekosistem yang bisa dipicu oleh penggundulan lahan.

Nyatanya, tragedi itu terjadi, tanpa ada yang mampu mencegahnya. Pesan alam telah mengemuka di banyak peristiwa. Dari banjir, penurunan tanah, banjir bandang, rob, empasan gelombang laut, hingga tanah longsor. Sebagian atau seluruhnya dipicu oleh sikap manusia terhadap alam. Ada kepentingan-kepentingan ekonomi yang dampaknya dirasakan oleh rakyat. Ada pula karena sikap dan kebijakan yang abai terhadap komitmen keseimbangan lingkungan. Hukum belum sepenuhnya bisa diandalkan sebagai barikade pencegah secara preventif, walaupun semua tentu kembali pada pikiran dan langkah manusia sendiri.

Membangun solidaritas

Lalu bagaimana sikap dan respons manusia lainnya (kita) yang beruntung hidup dan masih bisa menghirup udara segar dalam mencurahkan solidaritasnya? Secara pasti, tentu saja ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Tapi dalam parktiknya, setidaknya dapat kita pilah menjadi dua elemen.

Pertama, pemerintah atau negara yang menaungi rakyat sebagai institusi formal masyarakat mestinya juga secara nyata menunjukkan rasa empati dan solidaritas itu. Sangat disayangkan, upaya pemerintah dalam menanggulangi korban bencana di hampir semua sektor riil terkuras habis dan mengalami “kebingungan”.

Dalam konteks perekonomian negara misalnya, secara jelas mengungkapkan betapa buruknya kondisi keuangan pemerintah. Artinya, jangankan untuk memenuhi amanat UUD 1945, yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan belanja pendidikan sebasar 20 persen dari APBN, atau untuk “memelihara” fakir miskin dan menyediakan lapangan kerja, untuk menyantuni para korban bencana pun pemerintah tampak kalang-kabut.

Kedua, pentingnya membangun solidaritas kemanusiaan yang datang dari masyarakat biasa atau sipil. Hal tersebut dapat dilakukan melalui dukungan dan bantuan material maupun moral. Secara material, sejatinya masyarakat kita kembali melakukan penggalangan dana sebagaimana pernah dilakukan pada musibah stunami. Sedangkan secara moral, solidaritas yang diberikan oleh masyarakat harus benar-benar an sich karena dorongan kemanusiaan, tidak diselimuti kepentingan tertentu. Model solidaritas seperti inilah, hemat saya, jauh lebih mengena dan riil daripada bentuk solidaritas model pemerintah.

Sikap dan tingkah perbuatan terpuji dari masyarakat itu tentu saja harus selalu dijaga. Dalam hal ini, masyarakat perlu disadarkan, betapa harta benda menjadi tak berarti manakala musibah menimpa mereka. Maka jalan satu-satunya adalah ikut berbagi rasa dalam penderitaan yang dialamai para korban bencana.

Bukankah ajaran agama telah mengajarkan kita untuk selalu melakukan amal baik dan solidaritas sosial sebagai wujud dari persaudaan umat manusia (ukhuwah). Misalnya, ajaran yang menyatakan, bahwa manusia dengan manusia lainnya adalah satu tubuh, maka jika salah satu anggota tubuhnya sakit (saudara kita yang tertimpa musibah), maka organ tubuh lainnya akan merasakan sakit pula (kita yang masih sehat dan hidup bernyawa).

Oleh karenanya, kita harus menggalang solidaritas dalam bentuk yang lebih fundamental dan permanen. Bukan sekedar solidaritas sesaat atau temporal. Sebab, tentu tak sulit untuk membayangkan bahwa hal yang sama—sebagaimana yang dialami korban bencana—bisa setiap saat terjadi pada diri kita. “Tangan Tuhan” bisa merampas apa saja yang kita miliki saat ini dengan berbagai cara.

* Ali Usman, alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar»

1. Syaiful Bari - 2 Januari 2008

hebat2… koran baru pun “dijajah”… invasinya sudah kemana2.

2. aal - 2 Januari 2008

Maklum, menjelang tahun baru, semuanya dipersiapkan utuk bisa menjangkau hal2 yang baru pula…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: