jump to navigation

Ketika Akademisi Menggugat Kerja Pers 6 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Jawa Pos, 7 Januari 2008 

Oleh Ali Usman*

Beragam tanggapan soal hasil penelitian yang dilakukan Jurusan Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Pusat Pengkajian dan Pelatihan Ilmu Sosial-Ilmu Politik (P3-ISIP) Universitas Indonesia (UI) sungguh menghentakkan publik; masyarakat kampus dan aktivis pers, serta masyarakat luas seantero pada umunya. Kedua lembaga itu telah meneliti pemberitaan majalah Tempo dan Koran Tempo mengenai kasus dugaan korupsi penggelapan pajak Asian Agri.

Pertama, mempertanyakan motif di balik penyelenggaraan acara seminar terbuka dan besar-besaran pada 18 Desember 2007 atas prakarsa Veloxxe Consulting. Sebab, jika memang itu merupakan kegiatan akademis murni (an sich) sebagai perwujudan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, mestinya diuji terlebih dahulu secara ilmiah (tentang perangkat teori, metodologi, analisis, dan lainnya) di kampus setempat, dan tidak serta merta membeberkannya ke publik. Apalagi penyelenggaraan seminar tersebut menggandeng sponsor utama dari objek yang mereka teliti (pihak yang terbelit kasus), Asian Agri Group (AAG). Ada apa ini?

Kedua, perihal hasil penelitiannya yang menyimpulkan bahwa majalah Tempo dan Koran Tempo telah mengabaikan prinsip netralitas dengan perlakuan yang berbeda dalam pemberitaan kasus penggelapan pajak AAG dan kasus lumpur Lapindo. Yaitu perbedaan pembingkaian berita yang mencerminkan adanya keberpihakan terutama dalam melakukan personifikasi terhadap sosok Sukanto Tanoto selaku bos AAG dan Abu Rizal Bakrie selaku bos Lapindo Brantas.

Ketiga, lantaran tim peneliti, baik dari UGM maupun UI disinyalir menjalankan “riset pesanan” dari AAG. Maka tak dapat dimungkiri, kucuran dana pun secara nyata mengalir deras ke kantong para anggotanya. “Kami dapat 10 persen dari Rp 1,3 triliun,” kata salah satu anggota tim dengan nada bergurau—sebagimana dilansir banyak media. Dengan begitu, sangat wajar, bila hasil penelitiannya secara otomatis akan bias, tidak netral, timpang, dan lebih memenangkan suara salah satu pihak.

Atas kejadian tersebut, tampaknya para akademisi kampus itu telah terjebak pada “nafsu pragmatisme”. Atau jangan-jangan, apa yang dilakukan tak lebih dari sebagai pesona mencari “sensasi” semata—yang dalam istilah Koentjaraningrat (1987) disebut sebagai “mentalitas menerabas”.

Sungguh banyak kalangan menyayangkan, dunia kampus yang sejatinya dapat menjaga indepedensi dan netralitasnya, malah tergelincir pada godaan “riset pesanan” yang mungkin barangkali jauh lebih menguntungkan secara material, ketimbang melakukan “riset biasa” pada umumnya sebagai kewajiban kaum intelektual.

Di sisi lain, pers yang merupakan representasi realitas sosial, dan dalam wujud praksis sebagai “katalisator” suara rakyat dengan menyoroti kasus-kasus yang merugikan negara dan rakyat, malah dituding sebagai “pencemar nama baik”. Bukankah kerja pers telah diselimuti oleh lapisan kode etik?

Mengasumsikan pers sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai dan bertemali dengan ideologi tertentu tentu sah-sah saja. Namun di luar itu semua, “pandangan ekstrim” itu mesti dipahamai secara berimbang (balance) dan proporsional. Artinya, tendensius pers sebenarnya “berafiliasi” kepada rintih dan suara rakyat itu sendiri.

Oleh karenanya, para akademisi kampus dan semua elemen masyarakat seyogiyanya menyokong penuh kinerja pers sebagai bagian “propaganda” yang menuntut keadilan dan kebenaran atas tindak korupsi yang diperbuat oleh oknum-oknum tertentu. Bukan malah mencerca dan menikam dari belakang.

Posisi peneliti

Betapapun tim peneliti mengklaim penelitiannya—sebagaimana diakui Hermin Indah Wahyuni PhD, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM— telah menggunakan tiga jenis metodologi, yakni analisis isi (content analysis), analisis bingkai (framing analysis) dan analisis wacana kritis (critical discourse analysis) untuk mengobservasi 126 item berita yang berisi 1.115 paragraf, tetapi hemat saya, masih berpijak pada paradigma positivistik yang mengandaikan realitas yang bersifat objektif, sesuatu yang berada di luar diri peneliti.

Bagi penganut kaum positivistik, peneliti harus membuat jarak sejauh mungkin dengan objek yang ingin ditelitinya. Dalam hal ini, analisis diarahkan untuk menemukan ada atau tidak ada bias dengan meneliti sumber berita, pihak-pihak yang diwawancarai, bobot dari penulisan, dan kecenderungan dari pemberitaan.

Ini berbeda dengan paradigma atau pendekatan kritis, yaitu hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti, menurut Egon G. Guba dan Yevonna S. Lincoln (1990) selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu.

Penempatan sumber berita yang menonjol dibandingkan dengan sumber lain, menempatkan wawancara seorang tokoh lebih besar dari tokoh lain, liputan yang hanya satu sisi dan merugikan pihak lain, tidak berimbang dan secara nyata mamihak satu kelompok tidaklah dianggap sebagai kekeliruan atau bias tetapi memang itulah praktik yang dijalankan oleh pers atau wartawan (Eriyanto, 2001).

Di samping itu juga, tentu tidak fair bila mereka (para peneliti) menginginkan pers netral, tetapi pihak peneliti yang melakukan riset jauh melampau kenetralan. Untuk mengerti mengapa praktik jurnalistik bisa semacam itu, bukan dengan meneliti sumber bias, tetapi mengarahkan pada aspek ideologi di balik media yang melahirkan berita. Dengan begitu mungkin (akan) lebih aman.

*Ali Usman, mantan aktiviis pers, dan peneliti di Civil Society Institute Yogyakarta. Tulisan ini pendapat pribadi.

Komentar»

1. dhe - 7 Januari 2008

Wah, masuk Japos lagi ya…
Ya Al, ini kayaknya baru kali ini(?) akademisi menghajar pers…
Atau ini adalah langkah baru yang unik untuk mengekang pers–yang harus diakui juga, kadang pers suka kebablasan–paska tumbang rezim orba..
Jadi negara tak lagi diikutkan oleh pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers…

salam takzim;
d.a.

2. Agus Wibowo - 8 Januari 2008

Saya hanya membayangkan jika program pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, dosen metopen nya kang Ali…wah mahasiswanya pasti cerdas-cerdas….
Banyak mas penelitian proyek-proyek kaya gitu….
ada yang motifnya untuk cari uang, meningkatkan nilai kum dan sebagainya…
Kang Ali identitasnya gagah ya..(ada inggrisnya)..yang jelas..harus ditiru kreativitas serta semangat menulis yang tiada akhir..he..he..kapan ya aku bisa meniru kang Ali, Mungkin Mei…Mei.by yes,…mei bye no…he (salam dari putra gunungkidul yang ingin belajar )

3. aal - 8 Januari 2008

Untuk Deny (dhe), terima kasih atas motivasi dan semangatnya. Juga untuk Agus. Tapi gus, kamu itu terlalu berlebih2an, bisa2 aja😉. Meniru itu gak baik. Jadilah diri-sendiri. Eh, sorry kalo salah ucap? He2..

4. syaiful - 8 Januari 2008

daftar aja Al. siapa tahu diterima jadi Dosen beneran…. hehe…

5. Agus Wibowo - 8 Januari 2008

eh..kang ali nasibnya mirip aku ya…kemana-mana bersama sepeda…jadi kaya “oemar Bakri”…tapi yang ini lain, “omar bakri” terkenal..Oh ya aku dah nonton filmnya…lumayan aku jadi semangat lagi…
“ku ingin hidup 1000 tahun lagi,
punya mobil mewah
istri cantik, setia, jujur, dan memuaskan..he.he
Penghasilan di atas rektor
rumah mewah
saudara-saudara rukun
bangsa yang damai
mati masuk surga

katanya boleh berandai-andai
asal kita percaya, katannya bisa he..he

6. aal - 8 Januari 2008

untuk Syaiful, ambu je’ agejek.🙂
untuk Agus, kalo mau beralasan kenapa kita pake sepeda, ya itu bagian dari kewaspadaan menghadapai global warning, he2. aku terkenal? terkenal dari Hongkong…
Andai2mu gus, ntar jadi film “The Secret” Indonesia, hi2.

7. momo - 9 Januari 2008

Untuk Ali Usman,

Seorang ilmuwan sejati mengatakan yang terpahit sekalipun, karena kodenya benar dan tidak benar sebagai kesejatian ilmu, jangan gampang termakan frame Tempo yang maunya mengaburkan hasil penelitian
Sungguh sulit negeri ini bertumbuh, karena semuanya dipolitisir, hasil kajianpun tak dihargai, bahkan mempermasalahkan dana yang dengan distatementkan secara bergurau…(penuh prasangka pula)
Sungguh kacau negeri ini…
Ya layak aja sih namanya juga aktivis selalu mempolitisir setiap masalah…
Mari bung jernihkan pikiran anda dan hargai perspektif lain yang berbeda dengan anda punya…
Civil society tak menguat dnegan pers yang tak lagi sehat… jujurlah dengan kondisi pers yang makin memprihatinkan
Bukannya beranjak untuk dewasa, kok tetap mempertahankan kebobrokan karena tak mau dikritik…
Ikut prihatin….

8. yunan - 9 Januari 2008

yth. bpk/sdr/mas ali usman

ass. wr. wb.

saya sudah membaca tulisan anda hari ini, di harian
jawa pos. menurut saya, bagus, kritis dan bernas. ada
apa dengan hasil penelitian jur. IKOM UGM itu? maaf
saya belum mendapatkan hasil kopian (salinan)
penelitian itu.
pernah aktif di pers mana, kalo boleh tahu? sekarang
aktif dimana?

wass. wr. wb

hormat kami,

yunan syaifullah
(pernah aktif juga di lembaga pers, kini sedang
menyelesaikan studi lanjut di ilmu ekonomi UGM yogyakarta)

9. Agus Wibowo - 9 Januari 2008

Kang Ali…aku mendukung mu…
seorang penulis harus melihat bahwa sesuatu itu diyakini benar
Jika kasus-kasus seperti di UGM terus berlangsung, Lembaga pendidikan bakal kehilangan wibawa. Semakin banyak lembaga-lembaga profit yang meminjam jasa dunia pendidikan untuk mendukung tindakan tercelanya…
Hemat saya,
Sudah saatnya dunia pendidikan mengurusi wilayahnya. didiklah putra-putri titipan orangtua dengan sebaik-baiknya.agar jika lulus kelak bisa berguna.
kalau dunia pendidikan terpancing meladeni penelitian”pesanan” tersebut, mau jadi apa pendidikan kita. Perlu kearifan dalam menyikapi setiap tawaran.

10. aal - 9 Januari 2008

Untuk momo,
Terima kasih atas komentar “pedasnya”. Begini, pada prinsipnya, kita sebenarnya sama, bahwa kebenaran itu harus dikatakan walaupun itu pahit. Anda dan saya, bahkan pihak majalah atau koran Tempo, berkata atas nama kebenaran. Kalau bukan demi kebenaran, mustahil Tempo berani memberitakan kasus Asian Agri yang memang sejak awal sangat berisiko untuk diekspose.
Begitupula dengan apa yang saya tulis. Saya menulisnya sesuai dengan apa yang saya anggap itu benar. Tetapi saya tidak hendak memprovokasi anda dan pembaca, untuk mengikuti apa yang saya angap benar itu. Karena kebenaran bukan milik saya, bukan milik anda juga, bukan para peneliti, dan bukan pula milik Tempo. Kebenaran milik semua.
***
Menurut saya, letak kesalahan yang paling mendasar adalah lantaran pihak peneliti yang melakukan “riset pesanan”, dan diperparah lagi, dengan mengatasnamakan lembaga kampus, yang sejatinya bersih dari kepentingan-kepentingan tertentu. Andai mereka (para peneliti) melakukan riset akademik murni sebagai perwujudan dari Tri Dharma Perguruan tinggi, saya yakin, persoalannya tidak akan serunyam ini.
Selanjutnya, jika anda mempunyai pandangan dan perspektif lain atas “kasus” itu, atau mungkin anda merasa keberatan atas tulisan saya, silahkan tulis dan tanggapi tulisan saya itu di media yang anda suka. Dengan begitu saya kira, sangat fair dan tidak ada yang merasa dirugikan. Biarlah pembaca dan publik yang menilai siapa yang salah dan siapa yang benar.
Terakhir, jika anda merasa prihatin, saya pun juga demikian. Semoga dugaan saya salah: “andakah salah satu dari yang saya maksud dari tulisan itu”? Ataukah anda mempunyai relasi dengan para peneiti itu? Hanya Tuhan yang tahu.
Salam…

11. aal - 9 Januari 2008

Terima kasih mas Yunan, atas respons positifnya untuk tulisan saya. Saya mungkin masih seusia Anda (jika anda masih S1 atau baru melanjutkan S2). Semasa kuliah dulu, saya memang pernah aktif di Lembaga Pers Kampus (LPM) di tempat saya mengenyam pendidikan.
Pernah juga aktif di kepengurusan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Jogjakarta. Saat ini saya tidak terikat aktif di lembaga manapun.
salam…

12. dhe - 11 Januari 2008

Al, saya gak ada dana buat terbitin indie…
rencananya tahun 2008 ini mau ngumpulin dulu dari honor puisi yang dimuat di koran…he2

Weleh2…ada keributan kecil ya disini…
Selamat Al, blogmu sudah menuai apa yang disebut oleh Oom Marx sebagai syarat dialektika…he2

Keep spirit ya…Jang peduli dengan burung2 emprit…Maju terus…

salam takzim;

d.a.

13. dhe - 13 Januari 2008

Al,saya juga gak bisa tidur gara2 buku Nora itu…
Pertama, saya baca satu malam penuh tanpa henti, kecuali beli rokok dan bikin kopi…
Kedua, usai membaca, saya masih tercenung dgn cerita di buku itu…sambil merutuk dalam hati: “Putu Wijaya macam tukang dongeng yang dengan ringan saja bercerita tanpa berhitung dengan hati pembaca!!!!”. Ya, saya ngeri membayangkan isi novel itu jika ada di dunia nyata. Akhirnya, saya cari KBBI, saya cari entri kata “Nora” tapi tiada maknanya. Ada juga “Norak”, maknanya kekagetan, atau tidak pas…Ya, buku itu memang menawarkan norak yang mendalam. Ampun saya baca buku itu…
Sampai kini masih ngeri kalau ingat2 isinya…
Makasih ya, Al buat aprsesiasinya…
Saya baru dapatkan koran MI hari Minggu…Di Jember MI telat satu hari…Saya hanya ingat komentar seorang kawan kalau soal itu: “Jember gitu loh…”, he2…
Tapi kau jangan coba-coba meledek Jember ya…Bisa2 “diberi” sama Ipung…he2…

Salam takzim

d.a.

14. aal - 14 Januari 2008

Iya Den, buku Nora(k) itu…

15. musthafa - 14 Januari 2008

Berat,,,kasus peneliti pesanan. Bingung juga dengan skala besar seperti UGM. Ah bingung lagi aku. Kampus dengan yang kukenal “Pasar Tumpah” malah menumpahkan segalanya demi sebuah …ah tak usah lah.
Kak, kalo penulis pesanan dan peneliti pesanan, ternyata udah terlalu banyak di negeri ini. Dulu di UIN sempat ada yang begitu, meskipun tidak bombastis seperti ini, karna hubungannya hanya antara dosen dan aktivis pers. Demi satu tujuan: Sertifikasi…
Ah Ujian Akhir ini memang bikin pusing. Pingin jadi Sarjana nih, biar entar jadi Petani Kontemporer, alias sarjana yang yang bertani. hehe

Law of Attraction? Kapan cewek bisa tertarik sama saya. haha

16. aal - 15 Januari 2008

mus, sssssssstttttttt, jangan sebut semua kampus yang melakukan “riset pesanan”. Itu rahasia. He2,🙂
Ya udah, belajar yang rajin, ntar kalo dah lulus, status akan meningkat, dari mahasiswa menjadi pengangguran🙂 Kamu mau cewek? Ni tak kasih, tapi ada kembaliannya gak?🙂

17. Agus Wibowo - 15 Januari 2008

belajar yang rajin belum cukup bos, coz orang pinter katanya masih kalah dengan orang yang beruntung, betul to ?
Menurut mu, dosen yang melakukan penelitian pesanan sama tidak dengan yang menjadi konsultan atu Biro KKN ?
Blogku yang lama bos:http://www.agus82.wordpress.com

18. aal - 16 Januari 2008

Kalo aku bilang sama, ntr kamu tersinggung gus??? He2… ya jelas beda lah menurutku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: