jump to navigation

Kasih Maria dan Petaka Kehidupan Modern 20 Januari 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari jurnalnet.com, 19 Januari 2008

penampakan-maria.jpg Oleh Ali Usman*

Judul Buku  : Perempuan dan Naga: Penampakan-penampakan Maria

Judul asli : The Woman and the Dragon Apparations of Mary

Penulis : David Michael Lindsey

Penerjemah : L. Prasetya Pr.

Penerbit  : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan  : I, November 2007

Tebal   : 559 halaman

 

Kehidupan di dunia selalu menampilkan dua wajah yang timbal-balik; ada baik-jahat, terang-gelap, baik-buruk, dan lain sebagainya. Tidak seperti kehidupan di surga sana, yang konon menurut doktrin agama, hanya berwajah tunggal dan linear. Semuanya bernafaskan sesuatu yang baik. Tak ada kejahatan dan dosa di surga.

Karenanya, setiap manusia yang beragama dipastikan mengidamkan hal yang sama: surga. Surga yang dijanjikan Tuhan adalah kehidupan kelak, kehidupan “kedua” setelah di dunia. Setelah kita melalui kematian. Lalu bagaimana dalam kehidupan nyata, di dunia sekarang ini?

Itulah problemnya. Butuh perjuangan dan pengorbanan yang gigih untuk meraih kenikmatan surga. Tentu saja, kehidupan di dunia tidaklah sama dengan yang dijanjikan di surga. Dunia yang kita tempati saat ini penuh dengan jebakan-jebakan yang bisa jadi akan menjebloskan manusia ke neraka—tempat yang juga di janjikan Tuhan bagi pengampu dosa.

Dengan adanya surga dan neraka, Tuhan pun sebenarnya mencipta klasifikasi dan dikotomi yang “beroposisi biner”. Itu sebabnya, di samping mencipta manusia sebagai makhluk yang paling baik dan sempurna di antara makhluk-makhluknya yang lain, Tuhan juga mencipta satan (setan) yang diidentikkan dengan kejahatan. Kebaikan dan kesempurnaan manusia akan ternodai manakala tak tahan dengan godaan satan.

Tepat di aras pemikiran seperti itulah, keseluruhan buku setebal 559 halaman ini ditempatkan. Kata ‘perempuan’ dalam judul buku, dinisbatkan pada bunda Maria yang dalam tradisi Kristen dikenal sebagai ‘Perawan Yang Terberkati’ dan membawa kebaikan. Sementara kata ‘naga’ merupakan simbol kejahatan (satan) yang dilawankan dengan ajaran-ajaran yang dibawa bunda Maria.

Buku Perempuan dan Naga: Penampakan-Penampakan Maria merupakan catatan-catatan historis mendalam tentang penampakan-penampakan Maria dan peretempuran terus-menerus antara surga dan neraka, dengan tekanan utama pada peranan unik Maria sebagai duta istimewa Allah kepada dunia. Generasi sekarang, Menurut David Michael Lindsey, penulis buku ini, adalah generasi jahat seperti diperingatkan Yesus dalam Injil, generasi “akhir zaman” ketika tanda-tanda dan hal-hal yang menakjubkan terpenuhi pada saat Kedatangan Yesus yang kedua. Di mana-mana kita melihat catatan-catatan cuaca dihancurkan.

Buku ini meski bercorak Kristiani, hemat saya, cocok dan tak rugi bila juga dibaca umat lain di tengah-tengah kondisi dunia yang tak lagi kondusif untuk hidup. Dunia saat ini didominasi oleh kejahatan daripada kebaikan, yang diperbuat oleh manusia itu sendiri. Seolah-olah bumilah yang berusaha memperingatkan kita agar Pencipta menghukum bangsa manusia karena pelanggaran yang tak terkira banyaknya. Menurut beberapa penglihat yang disebutkan dalam buku ini, jika bukan karena Perawan Maria Yang Terberkati, yang mengendalikan murka Allah, dunia akan dihukum dalam jangka waktu yang lama.

Berkali-kali, tulis David, Allah mengutus bunda Maria ke dunia memperingatkan manusia bahwa Dia akan menghukum dunia. Jika mungkin, Kristus akan turun kembali dari surga dan wafat di kayu salib lagi. Tetapi Bapa tidak membiarkan Dia, maka sebagai penggantinya Allah mengutus bunda-Nya. Maria adalah peringatan terakhir bagi dunia (hlm 18).

Sebagai pembaca muslim, saya coba mencari dan menerka-nerka ajaran yang menjadi isi di dalam buku ini ke dalam agama yang saya anut, Islam. Dalam pandangan saya, setidaknya ada dua hal penting yang menarik dari keseluruhan buku ini bila “disandingkan” dengan tradisi Islam.

Pertama, penampakan-penampakan seorang yang dianggap suci (baca: wali), dan bahkan Tuhan sekalipun termanisfestasi (tajalli) melalui ciptaan-ciptaan-Nya di dunia. Pandangan ini biasanya banyak ditemukan dalam ajaran-ajaran kaum sufi atau dunia tasawuf.

Kedua, bunda Maria dalam tradisi Kristen diyakini sebagai manusia suci dan bebas dari dosa lantaran mendapat berkat dan rahmat dari Bapa Kekal. Ini serupa dengan keyakinan umat Islam yang berkeyakinan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling sempurna di antara manusia-manusia lain, dan juga dibebaskan dari dosa (ma’sum) oleh Tuhan.

Dengan ini, bukan berarti saya hendak menyamakan antara Nabi Muhammad dan bunda Maria yang nantinya akan berujung pada “relativisme absolut”. Tetapi lebih merupakan mencari titik temu ajaran antar-agama, sehingga tercipta keharmonisan dan perdamanan di dunia.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan dalam buku ini, yaitu pesan Maria adalah pesan kenabian. David selalu mengingatkan kepada pembaca, bahwa kisah atau catatan-cacatan historis ini bukanlah berdasarkan pada mitos yang kebenarannya masih diragukan, tetapi berdasarkan doktrin agama yang ia gali dari Wahyu 12: 1.

Namun sangat disayangkan, tokoh Katolik konservatif ini seolah tak memberikan ruang dialogis kepada pembaca. Pendiriannya tentang apa yang ia yakini bercorak “otoriter” dan anti-dialogis. Ia menulis, “jika Anda mencari buku yang tidak konfrontasional, zaman baru (new-age) Maria yang tidak ada, buku ini bukan untuk Anda. Saya tidak menulis buku ini untuk menggelitik telinga orang. Jika Anda merasa bahwa Anda harus mengkritisi ungkapan iman Katolik saya, anda berhak…” (hlm 21).

Padahal, setiap orang yang beragama dengan taat, mestinya merasakan kegelisahan iman seperti yang dirasakan oleh Santo Augustinus, seorang mistikus Kristen abad pertengahan. Dalam karyanya yang sangat fenomenal, Confessions-nya, ia berusaha mati-matian mencari Tuhan dan keotentikan imannya.

Di dalamnya kita menemukan pengembaraan tanpa henti Augustinus yang terus bertanya kepada langit dan bumi, kepada binatang dan tumbuhan, bahkan kepada dirinya sendiri, pada relung-relung ingatannya yang sangat rahasia. Apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Dikau, Tuhanku (Quid ergo amo, cum Deum meum amo)? Tetapi siapakah Engkau, Tuhanku? Bagaimana dan di mana aku harus mencari Engkau, ya Tuhanku?

Andai buku ini bisa menjawab rentetan pertanyaan yang menghujam dan “maha-pelik” ini.

* Ali Usman, pemerhati sosial lintas agama-budaya, dan alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar»

1. shofiyullah - 22 Januari 2008

apik, tapi sst….jangan2 modusnya spt PT Agis by ugm and ui?

2. dhe - 22 Januari 2008

Resensi yang ciamik…apalagi kalo saya dikirimi bukunya..he2
Al…yang penting kita jangan jadi sosok yang selalu berucap:
Eli, Eli Lama Sabakhtani—Tuhanku, Tuhanku mengapa aku kau tinggalkan?

3. Musthafa - 23 Januari 2008

Allahumma Amin…

4. Agus Wibowo - 24 Januari 2008

He…he, saya sudah merasakan manfaat meresensi buku spt Kang Ali..Trimakasih Bos..saya lagi libur nulis..lagi Ujian yang terakhir di Pasca. Sukses kagem Tauladan ku…

5. Akhmad Arifin - 24 Januari 2008

Assalam wr wb
berbicara tentang penampakan Yesus lihat saja dalam pedson.blogspot.com. arti penampakan dipahami oleh umumnya kaum Kristen sebagai sebuah mukjizat atau keajaiban2. sehingga penampakan Kristus (yang seringkali disamping Maria), bisa disejajarkan dengan pengobatan atas nama Kristus, Kesaksian2 seseorang yang telah dibimbing oleh ruh kudus.
dalam banyak kasus kristenisasi, hal tersebut acap digunakan untuk menunjukkan kebenaran agama Kristen. tidak hanya ditujukan kepada agama Islam, tetapi juga hindhu, budha dan penganut agama lokal (Kejawen).
Tetapi beberapa akhir ini, tentang kristologi, yang menarik bukan pada permasalahan penampakan2 tsb, tetapi pada sisi kontroversial sejarahnya. memang ada banyak yang perlu diangkat dalam mencari sisi2 gelap sejarah Kekristenan. “misteri” tersebut menjadi menarik, apalagi menyangkut kepercayaan terbesar sedunia tersebut.
tidak hanya status Yesus, sebagai seorang Rabi (pemuka Yahudi) yang mampu mendatangkan mukjizat, sampai \tentang kontroversial apakah kerajaan tuhan tersebut sebagai suatu konotasi atau denotasi. selain itu permasalahan misteri Maria Magdalena sangat menarik. apakah ia seorang mantan pelacur yang kelak menjadi murid setia Kristus ataukah ia seorang istri Yesus, yang mampu meneruskan keturunan Yesus di Prancis?
apalagi catatan2 dan bukti sejarah lebih banyak dikuasai oleh kaum Templar bukan pada Vatikan. Kaum Templar ini menurut isu yang berkembang menjadi sebuah gerakan Mason yang anti pada agama dan gereja dengan menghidupkan pemikiran Humanisme, tetapi tentang misteri mason yang lain, ia mendirikan relijiusitas rahasia yang berbeda dengan gereja Katholik paska inkuisisi Vatikan kepada kelompok ini. (semisal ordo Sion).
buku Dan Brown (novel Da Voinci Code) hanya permulaan, masih banyak yang lain yang serupa yang sudah diterbitkan.
Wassalam wrwb

6. Musthafa - 24 Januari 2008

Klarifikasi …

Bos, saya tidak tidur pulas koq, hanya merebahkan badan aja di kasur. terus maksudnya tutup jendela itu apa? riilnya, kamar saya gak ada jendela. But, kalo ada makna lain, saya tak tahu. entah kepala siapa yang kena penggal nantinya.

Membaca sejarah melalui Sastra semacam Prosa. tentu keabsahannya perlu diperiksa ulang. Kalimat yang terlalu ditimpuki kiasan-kiasan akan menenggelamkan sisi historis itu. Terus terang saya bingung. Memang, untuk karya-karya besar seperti milik Bung Pram, Tohari dan lainnya saya masih bisa mencerna [barangkali karena status saya sebagai warga indonesia, sehingga cukup mudah memahami sejarah Indo]. But, untuk sejarah agama, saya agak khawatir. Terutama, ketika karya sastra tersebut berisi sebuah alur yang menuju pemikiran keagamaan yang radikal. Kala’ gempangah, lain dengan common thought of its religious teaching {hihi, sok-sokan}. Jadinya pembredelan.

Padahal, sebuah karya sastra yang tercipta, dipengaruhi lingkungan sang pengarang berada. Jadi, menemukan kebenaran historis di dalam sastra, mungkinkah?

Tapi, sebelumnya, berhubung saya tidak tahu macam buku di atas. Apakah ia novel, buku sejarah, dokumenter atau yang lain. Harap dimaklumi. Beri masukan yang banyak buat saya, biar saya pun bisa pub dengan banyak. Biasalah, omongan orang yang baru bangun tidur seperti saya.

Biner? kalo dengan Manzilah baina Manzilah (bungkoh di antara perbungko’an) gimana menurut sampean bos.

Malang sepi, warung pada nutup.
Nestapa setelah UAS

7. aal - 24 Januari 2008

untuk Arifin,
Soal sejarah kontroversi itu, mungkin kamu lebih tahu daripada aku. Tapi itu mungkin lo… asal bukan menyebar gosip aja🙂

8. aal - 24 Januari 2008

untuk musthafa,
buku itu mungkin ketiga2nya: novel, sejarah, dan dokumenter juga. Tapi sebeumnya, kamu cuci muka dulu gih, kan baru bangun tidur, he2..🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: