jump to navigation

Dari Keraton sampai Stadion 17 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
7 comments

Dilansir dari Koran Tempo, 17 Februari 2008

 bola1.jpg

 Judul Buku       : Sepakbola Tanpa Batas

Penulis              : Anung Handoko

Pengantar         : Bakdi Soemanto

Penerbit            : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan             : I, 2008

Tebal                 : 160 halaman

Peresensi          : Ali Usman*

Hikayat sepak bola Indonesia makin lusuh saja. Sudah miskin prestasi, stadion sepak bola juga sudah berganti menjadi panggung pertunjukan kekerasan. Tragedi teranyar, seorang pendukung Persija tewas saat laga semifinal Liga Djarum 207 Persija melawan Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bungkarno Jakarta, Rabu pertama Februari.

Dalam bingkai pemikiran itulah buku ini ditulis. Anung Handoko, penulisnya, tidak hanya berhenti pada analisis deskriptif dan linear semata, tapi mampu meracik pelbagai persoalan sepak bola dari banyak aspek. Kompleksitas pesoalan yang menyangkut persepakbolaan kita, baik politik, sosiologis, hingga pada persoalan psikologis suporter.Handoko memulai uraiannya lewat pintu masuk fenomena sepak bola yang menjadi kegandrungan masyarakat seantero penjuru dunia.

Banyak negara yang menjadi besar dan terkenal lantaran prestasi sepak bolanya sangat mengagumkan. Begitupula banyak pemain-pemain sepak bola tersohor melebihi pejabat-pejabat penting yang memegang posisi strategis di negaranya.David Beckham, Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, Rooney, dan lain-lain, misalnya, konon lebih dikenal oleh masyarakat umum daripada Perdana Menteri Inggris ataupun presiden Brasil. Begitupula di Indonesia, pemain-pemain nasional seperti Boaz Solossa, Hamka Hamzah, dan Bambang Pamungkas seolah lebih dikenal oleh masyarakat daripada nama-nama pejabat seperti menteri ataupun kepala daerah (hlm 24).

Melihat perhatian dan animio masyarakat yang begitu tinggi tersebut, tak jarang pula dunia persepakbolaan kadangkala digunakan sebagai “panggung politik” atau kempanye yang sangat ampuh untuk mendapat simpati kelompok atau person tertentu. Lihatlah saat ini, banyak calon pemimpin di pusat maupun daerah, tak segan-segan lagi menebar pesona dan menggalang suara dari para suporter bola.

Tak terbayangkan, apa jadinya bila ribuan suporter itu mengiyakan ajakan si “juru kampanye”.Hal yang menjadi fokus utama dan daya tarik dari buku ini adalah keunikan fenomena suporter yang dalam batas-batas tertentu menunjukkan semangat nasionalisme, kompetisi dan sekaligus juga berpotensi menimbulkan konflik. Dalam skala kecil, setiap pertandingan antar klub atau daerah, sangat tampak dukungan suporter yang amat massif dari masing-masing tempat klub tersebut. Nama kelompoknya pun dibuat dengan sangat kreatif dan dan atraktif, seperti Slemania (Sleman Yogyakarta), Jakmania (Jakarta), Pasoepati (Solo), Aremania (Malang), dan sebagainya.

Sementara pada skala lebih besar, terlihat pula semangat nasionalisme masyarakat Indonesia tatkala tim merah putih melawan negara tetangga, seperti kejuaraan di Sea Games, Piala Asia, Piala Tiger, dan lain-lain. Namun di samping semangat nasionalisme itu, secara bersamaan disadari atau tidak, potensi konflik dan spirit kompetisi juga sebenarnya muncul di alam bawah sadar suporter.

Sebagai bentuk konflik, menurut Aji Wibowo (2005), pada dasarnya sepakbola merupakan olahraga yang di dalamnya terdapat upaya saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan spirit kompetisi diwujudkan dengan adanya aturan-aturan permaianan, yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, guna menjamin keadialan dalam lapangan.

Dalam kondisi demikian, suporter sebagai bagian yang terlibat langsung dengan tim yang bertanding ikut terseret dalam situasi konflik. Suporter hadir di arena pertandingan dengan tujuan mendukung untuk menaikkan mental dan moral tim yang didukung sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter bertemu di arena pertandingan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, dan saling ejek (hlm 62).

Karena itu, meski ruang lingkup objek penelitian yang dilakukan Handoko dalam buku ini hanyalah pada kelompok pendukung PSS Sleman, tapi itu merupakan titik awal untuk mengetahui kondisi internal secara psikologis di setiap kelompok-kelompok suporter bola. Suporter Slemania, yang mempunyai slogan, “Slemania Edan Tapi Sopan” tampaknya memang layak diapresiasi karena pada 2004 mendapat penghargaan sebagai suporter terbaik.Secara sosiologis, keramahan, ketertiban, dan kesopanan Slemania dapat dibenarkan.

Menurut penelitian Wahyudiyono (2004) basis kulutural sangat mempengaruhi kejiwaan masing-masing suporter. Ia membuat komparasi antara kelompok suporter Slemania dan Panser Biru Semarang. Alhasil, Slemania yang berasal dari masyarakat Yogyakarta dengan kultur yang agraris, non-industrial, dan memiliki loyalitas secara kultural terhadap kraton yang memegang nilai-nilai Jawa yang kuat.

Nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat Yogyakarta, seperti nrimo ing pandum atau alon-alon waton kelakon, ikut membentuk perilaku Slemania dalam mempertahankan identitas sebagai pendukung PSS Sleman yang kreatif dan anti-anarkis. Sebaliknya, Panser Biru dilahirkan dari masyarakat kota industri yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial masyarakat industrial. Ciri masyarakat perkotaan yang cenderung individualis dan persaingan sosial yang ketat memberi dampak bagaimana konsep solidaritas dalam kelompok suporter Panser Biru.

Pada ranah itu, solidaritas mereka menjadi kurang kuat, fanatisme mereka pun cenderung teraktualisasi dalam bentuk vandalisme, anarkisme, dan destruktifisme. Tidak heran jika kekalahan mereka pandang sebagai suatu hal yang tabu terjadi karena mereka merasa hak atau harga diri mereka diambil oleh orang lain.Akhirnya, melalui perspektif ini, dapatlah kita menerka sendiri perilaku tiap-tiap suporter yang menyertai tim kesayangnya. Adakalanya damai, sopan, dan tertib. Tapi tak bisa disembunyikan pula, bahwa terdapat suporter yang hobi melakukan tindakan anarkis.

Dengan demikian, kita menjadi tahu bahwa perkumpulan suporter mencerminkan banyak aspek atau nilai-nilai: toleransi, solidaritas yang tinggi, dan bahkan konflik. Jika ini tidak diurus dengan baik oleh pihak terkait, maka tetaplah terpuruk nasib persepakbolaan kita. Maju terus sepak bola Indonesia, damai selalu para supporter.

*Ali Usman, Pustakawan, dan penggemar bola, tinggal di Yogyakarta

 

Iklan

Happy Valentines Day 13 Februari 2008

Posted by aal in Ucap.
7 comments

zwani.com myspace graphic comments

Happy Valentines Day bagi yang merayakan. Selamat berbagi cinta dan kasih antar sesama. Cinta abadi, bukan cinta musiman… semoga.

(4) Kisah Di Balik Layar Ayat-Ayat Cinta 10 Februari 2008

Posted by aal in dari luar.
5 comments

Dicuplik dari blog pribadi Hanung Bramantyo

img_0414.jpg

Bagian IV (terakhir)

Shooting di Jakarta sudah selesai. Aku puas dengan kerja tim AAC yang solid. Sekalipun berat, tetap commit untuk menyelesaikan film ini apapun hambatannya. Padahal secara legal, kontrak crew sudah habis 1 bulan sebelumnya. Artinya, mereka bekerja tanpa ikatan kontrak lagi. Ini yang membuat aku terharu atas commitment mereka. Terlebih lagi, banyak diantara mereka non-muslim. Tapi tidak satupun dari mereka yang mengkaitkan keyakinan itu dengan kualitas kerja mereka.
Sebagaimana sudah direncanakan sebelumnya, meski Allan bisa menyulap Semarang dan Jakarta jadi kairo. Secara geografis, tidak akan tergambar jika tidak ada shooting di Kairo. Awalnya producer sudah puas dengan hasil shooting di Indonesia tanpa perlu shooting di Kairo. Saya sangat keberatan.
Sebenarnya, dari hasil sisa adegan yang belum diambil, hanya membutuhkan waktu 5 hari saja shooting di kairo. Akhirnya producer mengerti dan menjalin hubungan dengan local production lain di kairo. Local producer itu sering menangani film-film asing yang shooting di Cairo. Sebuah perusahaan yang juga berpengalaman d bidang produksi film. Setelah melihat konsep film AAC, dia menawarkan harga untuk shooting disana selama 5 hari. Jumlah yang diajukan sebesar 3 Milyar untuk shooting 5 hari. Nilai yang bahkan di Indonesia bisa membuat satu film.
‘Angka yang tidak masuk akal’ kata producerku.
Aku sepakat dengan producerku, meski aku tahu konsekwensi membuat film sesuai dengan novel Kang Abik memang berbujet besar. Tapi aku tetap tidak percaya degan penawaran itu. Setelah kita cek quote yang diajukan, aku melihat item-item yang tidak rasional. Misalnya, makan per orang dia budjet kan 100 US$ sehari. Padahal pada saat riset di sana, aku bisa makan dengan 25 ribu sehari. Bujet penawaran itu tidak bisa ditawar kecuali kita mengurangi jumlah hari dan kru. Negosiasi tertutup.
Kemudian muncul gagasan shooting di India dari salah seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Cairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, saya jadi yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.
Disaat persiapan menuju India, tercetus ide untuk tetap bisa shooting di Kairo dengan dibarengi workshop film buat mahasiswa Indonesia-Al Azhar. Lalu aku menghubungi PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhammadiyah). Mereka setuju dengan ideku. Kita bahkan dibantu KBRI. Di Kairo, aku dan PCIM berencana menggelar workshop dengan peserta anggota PCIM (mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sekolah di Azhar Univ yang menjadi anggota Muhammadiyah) dan akan Shooting mengambil suasana kota dengan kamera kecil bersama dengan mahasiswa peserta workshop tersebut. Biasanya, kegiatan yang mengatasnamakan mahasiswa tidak perlu ijin berbelit-belit. Maka segala sesuatu dipersiapkan. Dari Jakarta, tim yang berangkat ke India 20 orang termasuk pemain, tetapi 6 diantaranya berangkat duluan ke Kairo selama 4 hari. 6 orang tersebut adalah, Fedi Nuril, Faozan Rizal (Kamera), Kasnan (Asisten Kamera), seorang pengawal alat, Adi molana (tata suara) dan aku.
Producer setuju dengan rencana tersebut. Tapi ditengah persiapan itu, muncul kendala di pengurusan Visa. Karena hari shooting di India dan Kairo berurutan, membuat pengurusan visa tarik-tarikan antara keduanya. Waktu kita hanya 1 minggu sebelum keberangkatan shooting, sementara mengurus Visa di India membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari karena jumlah orang yang akan berangkat banyak. Begitupun mengurus Visa Kairo. Akhirnya aku minta tolong pihak PCIM dengan bantuan KBRI menguruskan visa on arrival. KBRI setuju dan sudah menghubungi pihak emigrasi cairo bahwa akan datang tim dari Indonesia berjumlah 6 orang untuk workshop. Kamipun senang dengan kabar tersebut. Terbayang eksotisnya kota kairo, kios-kiosnya, menara-menara masjid yang menjulang, jalan raya yang macet, kampung- el giza. Bahkan pihak KBRI bisa menyediakan fasilitas khusus masuk kawasan pyramid dengan bebas. Rasa optimisku bangkit lagi. Akhirnya … aku bisa shooting di Kairo …
Tapi, lagi-lagi semua itu cuma mimpi. Sesampainya di bagian Check In Bandara Sukarno-Hatta, aku dan 5 kru lainnya tidak boleh berangkat. Waktu itu kami berencana terbang ke Kairo dengan Sinagpore Airlines (SQ). Pihak SQ tidak bisa memberangkatkan kami dengan alasan tidak ada visa. Aku menjelaskan, bahwa kita dapat fasilitas Visa on Arrival dari KBRI Cairo. Mereka minta bukti tertulis dari pihak KBRI sebagai pegangan. Aku tunjukkan undangan dari PCIM untuk workshop atas nama Muhammadiyah ke pihak SQ. Mereka tidak mau terima. Yang mereka minta adalah surat tertulis yang menjamin 6 orang yang diterbangkan SQ bisa diterima di Kairo. Itu tanggungjawab Airlines atas keselamatan penumpang. Aku segera telpon pihak PCIM untuk menghubungi KBRI. Ternyata hari itu kantor KBRI libur. Sekalipun bisa terhubung secara pribadi dengan bagian konsulat KBRI, tapi untuk urusan administrasi harus melalui kantor. Akhirnya, kami tidak jadi berangkat. Kamera yang sudah kita sewa, tiket yang sudah kita beli dan segala harapan untuk bisa shooting di Kairo buyar … Dada ini terasa sakit sekali. Dalam perjalanan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta, tanpa sadar, air mataku meleleh lagi. Ya Alloh, Apakah aku terlalu kotor memproduksi film ini, maka kau berikan hambatan buatku untuk yang terbaik?
Tidak ada harapan lagi kecuali shooting ke India saja. Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.
Pesawat Malaysia Airlines take off dari Jakarta membawa 20 Kru dan pemain AAC beserta dua kopor berisi Kostum pemain, 3 kopor berisi property keperluan Artistik dan dua kopor lain berisi bahan baku film 35mm serta kabel-kabel. Kira-kira 8 jam perjalanan, kami mendarat di Banglore untuk transit. Saat itu malam hari. Udara agak dingin. Pesawat yang membawa kita ke Bombay baru besok pagi sekitar jam 10 take off dari bandara. Menurut travel agent di Jakarta, di Banglore kita disediakan penginapan. Tetapi kenyataannya bukan penginapan sebagaimana layaknya sebuah hotel transit di bandara international. Kita disediakan satu apartement dengan 6 kamar. Padahal kami berjumlah 20 orang dimana tidak semuanya laki-laki. Kopor kami juga banyak. Tidak layak buat kami untuk menempati satu apartement. Malam itu sudah jam 12 malam. Pihak administrasi apartement sudah tutup untuk meminta tambahan satu apartement lagi. Kami kebingungan sendiri. Setelah beberapa lama terkatung-katung, salah seorang pembantu apartement lain menawari bisa memakai apartementnya kalau cuma buat semalam, karena pemiliknya sedang keluar kota. Akhirnya kami patungan menyewanya. Apartement itu untuk crew dan pemain perempuan. Aku bersama crew laki-laki lainnya saling tumpang tindih di apartement satunya. Aku dan Rajish (Make up artist) tidur di sofa depan. Faozan Rizal dan tim kamera tumpuk-tumpukan satu kamar. Fedi, Oka dan Iqbal tidur satu ranjang bertiga. Lainnya tidur sekenanya.
Tepat jam 11 siang kami meninggalkan Banglore menuju Bombay. Kami sudah dijemput sebuah bis yang akan membawa kami 15 jam menuju Jodhpur. Bayangan kami, Jodhpur adalah kota kecil yang tidak ada bandaranya disana. Tapi ternyata Jodhpur adalah kota wisata. Banyak turis eropa-Amerika datang kesana menggunakan pesawat, apalagi di bulan-bulan November. Bandaranya-pun lebih bagus dari Halim Perdanakusuma. Jadi penggunaan bis semata-mata buat ngirit bujet produksi, mengingat harga tiket Bombay-Jodhpur di bulan-bulan libur naik. Kami cuma menghela nafas. 15 jam perjalanan, bayangan kami, seperti perjalanan Jakarta Surabaya. Tidak apalah, aku bisa istirahat di bis, pikirku.
Setelah keluar dari bandara Bombay dengan tumpukan kopor-kopor, kami melihat bis yang disediakan kami kecil. Warnanya kuning. Bis tersebut bukan selayaknya kendaraan tempuh Jakarta-Surabaya. Bis itu seperti bis Jakarta-Sukabumi yang diberi AC. Tempat duduknya sempit hanya memuat 20 orang saja. Sedangkan kopor-kopor kami banyak. Aku komplain dengan orang india (staff MD) yang mengurusi kami disana. Dia bilang, bis ini disediakan berdasarkan bujet dari producer. Kami tetap tidak mau naik. Aku melihat wajah teman-teman kusut. Tika (line producer AAC) marah dan meminta local unit menyediakan tiket pesawat. Sayangnya, tiket pesawat ke jodhpur habis sampai 3 hari kedepan. Setelah berdebat lama, akhirnya kami disediakan satu mobil kijang khusus untuk kopor-kopor. Allan menyertai kopor-kopor itu di mobil Kijang. Yang lainnya naik bis. Fedi yang berkaki panjang menduduki bagian belakang tepat di selasar tengah bis diapit Rianti, Prita (Pencatat Script), dan Clarissa. Ditengah diisi Oka, Pao, Tarmiji, Kasnan (tim kamera), Adi molana dan pak Rajish. Di depan ada Aku, Retno Damayanti (kostum), mbak Tia (asisten Retno) dan Tika. Seorang supir bernama Ganesh membawa kami membelah negeri India melintasi Gujarat. Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan terbayang …
Perjalanan Bombay-Jodhpur mirip seperti perjalanan Jakarta-Surabaya. Padang Ilalang terbentang di kiri kanan. Rumah-rumah gubuk, warung-warung tempat mangkal bis dan Container berderetan sepanjang jalan seperti di film Iran Café Transit, jajaran rumah-rumah pedesaan diselingi pohon-pohon besar dan sawah-sawah tandus berseliweran. Pemandangan luar biasa buatku. Eksotis. Bis kami melaju bersama dengan puluhan bahkan ratusan truk-truk. Kadang bis kami berhenti sekedar minum teh hangat India yang dicampur susu bersama sopir-sopir berkulit hitam. Di perbatasan Gujarat. Kami mendapat persoalan. Bis kami dilarang melintasi perbatasan karena dokumen tidak lengkap. Selama 2 jam kami dicuekin, sementara Ganesh mondar-mandir dari post satu ke post lainnya yang jaraknya 1 km untuk menyelesaikan administrasi. Terlihat dia begitu stress, dia meminjam Hp Tika untuk menghubungi seseorang. Terlihat dari cara bicaranya, Ganesh sedang bertengkar. Mungkin orang itu yang menyebabkan Ganesh mendapat persoalan. Kami nyaris balik ke Bombay karena tidak ada ijin melintas. Ditengah situasi panik itu Rianti, Clarrisa, Oka dan Fedi didatangi militer bersenapan karena mereka foto-foto.
‘Ini bukan tempat wisata!’ kata Militer itu.
Terlihat wajah Rianti pucat karena takut. Akhirnya Ganesh menjelaskan ketidaktahuan kami. Merekapun mengerti. Setelah 2 jam lewat dengan perasaan tidak menentu, kami bisa melintasi perbatasan, melanjutkan perjalanan atas perjuangan Ganesh. Malam yang panjang terasa. Sekalipun sulit buat kami tidur di tempat sempit seperti itu, kami tidak bisa melewatkan rasa ngantuk. Pagi berikutnya kami berhenti di sebuah kota kecil. Kami menyewa losmen kecil buat mandi dan sarapan. Kami istirahat selama 4 jam memberikan kesempatan Ganesh tidur. Di tempat itu kami diliatin penduduk sekitar. Apalagi Rianti dan Clarissa. Orang-orang India memiliki keramahan berbeda dengan Indonesia. Apalagi bukan di kota besar seperti Bombay, Delhi atau Madrass. Suara mereka yang keras membuat kami mengira mereka marah. Tetapi sebenarnya tidak. Di tempat itu kami baru sadar bahwa kami sudah menempuh 15 jam perjalanan. Tetapi kami masih berada setengah perjalanan menuju Jodhpur. Setelah membuka peta baru kami sadar berapa jarak sebenarnya dan berapa waktu tempuh sebenarnya antara Bombay-Jodhpur. Bombay-Jodhpur berjarak 850km, Kira-kira 24 jam waktu perjalanan darat jika ditempuh secara non-stop. Kami merasa ditipu. Fedi yang biasanya diam, kini marah-marah, dia protes ke producer atas perlakuan ini. Jawab producerku, pihak MD tidak tahu menau soal ini. Mereka juga minta maaf. Pak Rajish, salah satu karyawan MD dari India bagian make up artis banyak membantu kami. Setidaknya membantu kami berkomunikasi. Ternyata, dibalik semua itu ada yang tidak jujur, memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan. Aku marah, tetapi aku tahu itu tidak ada gunanya. Akibat dari kesalahpahaman ini kami kehilangan waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan buat Shooting. Kami cuma bisa pasrah …
Jam 8 malam, tepat 30 jam perjalanan dari Bombay, kami masuk Hotel. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa merebahkan diri di tempat yang layak. Diatas tempat tidur aku melepaskan pikiran. Sepanjang hidupku, tidak pernah aku membayangkan melintasi negeri Gujarat naik bis. Tanpa asuransi, tanpa perlindungan apapun. Untung tidak ada teroris menghadang kami. Sungguh, aku sudah tidak kuat. Aku ingin lari saja dari produksi. Toh, tidak ada jaminan apapun buatku untuk menyelesaikan film ini? Uang? Demi Alloh, gajiku tidak sebanding dengan persoalan yang aku hadapi. Kalau orang mengira aku melakukan ini semua demi uang? Demi jualan? Kehormatan? Wallohi, orang itu benar-benar picik. Tidak ada keuntungan materi yang aku dapat di film ini. Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap Film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan Film dengan Novelnya. Lantas jika tidak sama dengan Novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa.
Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
‘Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.’ Kata ibuku yang terus menerus terngiang.
Pagi harinya aku mulai shooting. Dan persoalan seperti tidak selesai. Dari mulai peralatan yang kami pakai sudah ditinggalkan industri India 5 tahun yang lalu alias butut: Lampu-lampu yang fliker (menghasilkan cahaya kelap-kelip seperti neon yang habis watt nya), Kamera tua yang ketika dipakai mengeluarkan bunyi berisik, generator kami yang lebih layak dipakai buat menyalakan mesin pemarut kelapa dibanding buat shooting. Lalu kru-kru India yang disediakan untuk membantu kami bukan kru profesional. Di bagian akomodasi makanan kami selalu datang telat sehingga banyak yang protes. Tidak hanya kru Jakarta saja yang protes, kru India juga begitu. Suatu kali pernah mereka mogok kerja tidak shooting karena hanya di kasih makan sekali sehari. Padahal shooting sampai jam 12 malam. Di lokasi gurun, kami harus mendaki gunung pasir dengan jalan kaki sebelum menuju lokasi utama. Kami menggunakan Unta buat mengangkat Kamera dan perlengkapannya. Kaki-kaki kami sakit tertusuk tanaman duri. Bibir kami banyak yang pecah karena panas matahari. Sebelum mencapai tempat lokasi, kami istirahat mirip kafilah-kafilah yang kehausan ditengah sahara.
Tapi dari semua kesulitan itu, Alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Lokasi yang aku dapatkan luar biasa. Kecuali lokasi Gurun, lokasi Nil, Taman, Rumah Sakit berada di satu hotel peninggalan Kasultanan Pakistan. Lokasi gurun Pasir kami tempuh 4 jam perjalanan dari Jodhpur. Melelahkan tapi juga menyenangkan.
3 hari kami melakukan shooting dan 2 hari sisanya adalah perjalanan. Di hari ketiga, rombongan kembali ke Jakarta. Aku bersama 20 cann film hasil shooting di Jodhpur terbang menuju Madras untuk editing dan processing lab. Sastha Sunu, editor Ayat-Ayat Cinta sudah menungguku disana. Sampai tulisan ini dikirim, aku masih menyelesaikan proses film Ayat-Ayat Cinta yang semakin lama semakin rumit secara teknis. Sehingga mengakibatkan jadwal Tayang Ayat-Ayat Cinta mundur di bulan Januari. Aku tidak berani menjelaskan kerumitan itu, karena sifatnya technical sekali. Pendeknya, produksi Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya.

Semoga Cobaan ini membuktikan Cinta Alloh masih bersama Kami semua …

(3) Kisah Di Balik Layar Ayat-Ayat Cinta 10 Februari 2008

Posted by aal in dari luar.
1 comment so far

Dicuplik dari blog pribadi Hanung Bramantyo

 img_0414.jpg

Bagian III

Bukan sekali ini aku mendapatkan persoalan pada saat membuat film. Persoalan buatku adalah sahabat karib. Di Dapur Film aku menekankan ke teman-teman, jika mau terjun ke dunia film, persoalan adalah bagian hidup kita. Bukan berarti kita mencari persoalan, tapi persoalan harus kita sikapi sebagai tantangan. Akan tetapi persoalan yang menimpaku sekarang ini seolah tak berujung. Menangis sudah bukan suatu yang luar biasa lagi.
Sejak kabar kita bakal sulit shooting di kairo aku jadi tidak bergairah. Tapi kabar film AAC bakal diproduksi sudah beredar. Posisiku sulit. Bersamaan dengan itu film produksi pertama MD yang berbujet besar drop di pasaran. Sebuah film yang dianggap idealis, bahkan tidak mampu menembus angka 100 ribu penonton. Keyakinan producer mulai goyah.
‘Apakah kamu masih yakin AAC akan diproduksi?’ Kata producer padaku,
‘Iya’ jawabku yakin. Sekalipun aku sendiri tidak tahu apakah keyakinan itu sekuat dulu.
‘Apakah AAC adalah film yang bakal di tonton?’ tanyanya kemudian.
Aku lalu ingat pernyataannya tentang 80% penduduk Indonesia adalah muslim. Kemudian aku membalikkan pernyataan itu kepadanya. Jawabnya …
‘Ya, tetapi setelah melihat realitas, penonton kita masih belum bisa menerima film-film berat.’
Beberapa detik aku sempet bingung dengan istilah film berat. Aku tahu pada waktu itu kondisi psikologis producerku sedang drop. Tidak hanya satu-dua juta kerugian yang dia tanggung di film pertama. Wajar jika sudah menggoyahkan keyakinannya. Aku berusaha meyakinkan dia lagi kalau AAC adalah film yang ditunggu penonton. Aku juga meyakinkan kalau kita di dukung oleh Muhammadiyah. Tapi alasan itu tidak cukup buat dia. Sebuah dukungan bisa dengan gampang dicabut. Tetapi sebuah produk yang sudah diproduksi tidak bisa diuangkan. Investor tetap menanggung beban besar. Intinya, dia butuh keyakinan kalau AAC adalah film yang bakal ditonton lebih dari 1 juta penonton. Jumlah tersebut diperhitungkan secara bisnis untuk balik modal, mengingat bujet yang dipersiapkan untuk memproduksi AAC duakali lipat bujet standart Film Indonesia. Yah, sekitar 7 Milyar.
Lalu produk seperti apa yang ditonton oleh satu juta penonton?
Pertanyaan itu yang akan merobah karakter Film Ayat-Ayat Cinta yang selanjutkan menjadi persoalanku kemudian.
Pertama yang dilakukan untuk menset-up produk agar ditonton oleh satu juta penonton adalah mengubah scenario menjadi light. Scenariopun dirombak total. Producer sempat menghubungi Musfar Yasin untuk menggantikan Salman Aristo, karena pada saat itu Nagabonar jadi 2 meraih 1,3 juta penonton. Musfar menolak dengan alasan tidak etis. Salman Aristo kemudian bersedia merubah scenario dengan catatan sedikit keluar dari novel. Kita sepakat. Dalam hal ini Kang Abik sedikit kita abaikan dengan maksud segalanya berjalan lancar. Mengingat kang Abik kondisinya waktu itu tidak di Jakarta, sehingga untuk melakukan diskusi scenario harus menghadirkannya dari semarang.
Skenario dibuat dalam 2 minggu. Selama 2 minggu itu kegiatan persiapan menjelang shooting dihentikan. Di minggu ketiga seharusnya kita sudah melakukan shooting, terpaksa dilakukan persiapan lagi. Jadwal akhirnya mundur satu bulan. Keberatan muncul dari para pemain. Sebagian pemain Ayat-Ayat Cinta adalah pemain dengan jadwal ketat. Fedi Nuril sibuk dengan album dan tour Garasi. Ryanti sibuk dengan jadwal MTV, Carissa dan tante Marini sibuk dengan sinteron striping, Melanie putria dan Surya Saputra sibuk dengan presenter. Kalau produksi ini mundur schedule pemain yang akan sulit. Di bulan kedepan para pemain tersebut sudah masuk schedule lain diluar Ayat-Ayat Cinta. Hal itu membuat Iqbal Rais, asistenku kelabakan mengatur schedule. Dalam 2 minggu itu pekerjaan Iqbal berkali-kali melakukan revisi schedule dan breakdown shooting. Sedangkan Amelia Oktavia (amek) dan Ruth Damai Pakpahan (Iyuth) yang bertugas sebagai casting director me-loby pemain kembali. Itu tidak mudah tentunya. Schedule di luar AAC sudah terlanjur di booking oleh para manajer. Malah beberapa ada yang sudah kontrak.
Seperti yang disepakati bersama, scenario rampung dalam 2 minggu. Tapi bukan berarti persoalan selesai disitu. Tahap berikutnya adalah menentukan dimana shooting dilakukan, mengingat kairo sudah tertutup buat MD. Oh,ya … Hal mendasar yang membuat produksi ini mengalami kendala kreatif adalah producer mulai menekan bujet produksi akibat kerugian di film pertama. Pemindahan shooting di Indonesia dilakukan dengan asumsi bujet produksi tidak semahal di Kairo. Padahal kenyataan di lapangan tidak semudah asumsi itu. Sesuatu yang diciptakan dengan set akan lebih mahal dibanding kita menggunakan set yang sudah jadi. Kalau toh ditemukan rumah yang mirip dengan yang ada di Kairo, perabot didalam rumah itu tidak bisa dipakai.
Menjelang shooting aku dan producer banyak bertengkar soal itu. Pengajuan bujet untuk tata artistic di potong. Begitupun dengan pengajuan lampu. Aku seperti berada dalam ruang isolasi yang semakin lama dinding itu bergerak menghimpit. Pada awal persiapan, konsep film AAC adalah menghadirkan keindahan kota kairo dengan memotret lansekap sebagaimana tertulis di novelnya kang Abik. Kini, terpaksa harus aku persempit mengingat lokasi shooting tidak memadai dan peralatan pendukung dikurangi. Aku dan Salman Aristo memutuskan memperkuat dramatik cerita daripada keindahan gambar. Oleh sebab itu beban jatuh pada para pemain. Pemain harus mampu secara meyakinkan membawakan karakter yang diperankan. Disini muncul persoalan baru. Sekalipun Amek dan Iyuth berhasil me-loby pemain untuk mundur shooting, tapi tidak bisa dapat waktu untuk latihan. Jangankan untuk melakukan riset dan observasi peran, untuk melakukan reading scenario saja waktunya terbatas. Kepalaku mendadak berat sekali. Hari-hari shooting tinggal beberapa hari, tapi permainan mereka masih jauh dari harapanku. Ya Alloh, selamatkan aku. Selamatkan film ini …
Pernah suatu kali aku minta mundur lagi karena pemain belum siap, terutama Rianti dan Carrisa. Producer tidak memberikan ijin. Aku bingung. Aku melihat Rianti dan Cariisa masih jauh dari harapanku. Pada awalnya tokoh Aisha diperankan Carrisa dan Rianti sebagai Maria. Saat latihan berlangsung, aku merasa keduanya tidak pernah mencapai klimaks. Selalu saja ada yang salah. Kemudian mas Whani Darmawan selaku acting coach (Penata laku) mencoba merobah posisi. Rianti sebagai Aisha dan Carrisa sebagai Maria. Aku melihat ada perubahan ke lebih baik. Mungkin tepatnya: Lebih pas … Tapi aku masih belum yakin dengan itu, dikarenakan banyak persoalan kreatif lain yang menghimpitku. Aku tidak bisa dengan jernih memutuskan. Lalu Aku minta bantuan Salman Aristo untuk ikut memutuskan. Setelah melewati test kamera, aku, Salman Aristo dan Producer bersama-sama melihat dan memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha. Aku ingat waktu itu rapat untuk memutuskan siapa yang pantas menjadi Aisha dilakukan 10 menit sebelum acara pers conference yang menghadirkan PP Muhammdiyah Din Sayamsudin dan wartawan dari media cetak dan TV. Di ruang lain, Rianti dan Carisa menunggu keputusan itu, karena berhubungan dengan siapa yang akan memakai cadar dan jilbab pada saat acara pers conference. Akhirnya, kami memutuskan Rianti yang menjadi Aisha. Cadarpun terpasang menutup sebagian wajah cantik Rianti
Ketika hari Shooting ditentukan, pemain sudah disiapkan secara schedule, Set sudah dibangun, mendadak ada kabar Ryanti akan di deportasi karena masa tinggalnya sudah habis (Rianti masih menjadi warag Negara Inggris saat ini), sehingga dia harus kabur ke Singapura beberapa hari sambil mengurus perpanjangan masa tinggalnya di Indonesia. Shooting yang sudah kita tentukan harus mundur lagi. Set yang sudah dibangun harus dibongkar. Kepalaku mulai berat. Mataku mulai kabur. Allohu akbar! Apa lagi yang harus aku hadapi? Berapa tetes lagi air mataku kutumpahkan dan berapa lapang lagi dadaku aku rentangkan? Ingin rasanya aku lari dari semua ini. Tapi aku selalu ingat pesan ayahku, wong lanang kui kudu mrantasi … (Lelaki itu harus menyelesaikan segala persoalan). Aku melihat sisi positif dari kemunduran ini. Aku bisa focus latihan buat pemain. Akhirnya kamipun mundur. Karena set yang sudah dibuat tidak bisa dibongkar, kita terpaksa shooting satu hari tapi setelah itu break seminggu.
Pada saat shooting, aku melihat kairo berdiri di Jakarta dan semarang. Aku melihat metro yang dibangun bangsa Prancis di stasiun Manggarai. Aku melihat perpustakaan Al Azhar dan ruang Talaqi masjid Al Azhar di Gedung Cipta Niaga Jakarta Kota. Flat Fahri, Flat Maria dan Pasar El Khalili di kota lama dan Gedung Lawang Sewu Semarang. Ruang sidang pengadilan Fahri di Gereja Imanuel Jakarta. Apa yang dibangun Allan, art directorku, berhasil meski dengan berbagai kendala keuangan yang tidak lancar. Untuk membangun set dan menyediakan property, Allan sering mengeluarkan uang pribadinya untuk menutup aliran uang yang tidak lancar. Gajinya yang seharusnya di bagi-bagikan kepada krunya, habis buat belanja property dan membangun set. Karenanya banyak krunya pada marah-marah dan kabur.
Pada saat shooting berlangsung, tidak begitu saja mulus dan on schedule. Hari-hari pertama kami berhasil menghadirkan suasana kairo dengan menyewa orang-orang arab sebagai extras. Karena shooting selalu selesai tengah malam, orang-orang arab lama-lama tidak mau diajak shooting lagi. Maklumlah, mereka bukan berprofesi sebagai pemain. Kebanyakan dari mereka pedagang, mahasiswa, karyawan bahkan ada yang dokter. Suatu kali pernah si dokter marah-marah karena shooting sampai malam, padahal sebagai dokter dia tidak pernah berpraktek sampai malam. Di hari-hari menjelang akhir shooting AAC, bahkan untuk mengajak gembel Arab pasar Tanah Abang pun tidak bisa. Masya Alloh!!
Di Kota lama dan Lawang sewu Semarang, kami menghadapi persoalan kamera terbakar, hujan, berhadapan dengan preman Kota Lama, ruang sempit dan lapuk karena tua yang membuat set lampu lama. Dengan begitu scene yang seharusnya diambil jadi banyak terhutang. Untuk membayarnya, kita menunggu jadwal pemain kosong, Amek dan Iyuth kembali me-loby, iqbal rais kembali membongkar break down. Hal itu terus menerus mereka lakukan sampai-sampai Amek dan Iyuth kehilangan muka di hadapan manajer dan pemain. Tidak jarang aku melakukan improvisasi demi efisiensi. Banyak adegan aku sederhanakan. bahkan dibuang. Tapi aku cukup senang karena aku bisa merobah salah satu sudut kota lama semarang menjadi pasar di El-Giza. Aku menghadirkan unta dari Kebun Binatang Gembiraloka Jogjakarta. Penduduk kota lama Semarang dibikin heboh dengan munculnya unta secara tiba-tiba di sana.
Shooting paling berat yang aku rasakan pada saat adegan sidang Fahri. Aku memilih gereja Imanuel Jakarta untuk di set sebagai ruang pengadilan. Aku menghadirkan lebih dari 300 ekstrass. Semua pemain utama kumpul jadi satu. Penata kostum, penata make up kewalahan menghadapi banyaknya pemain. Ini salah satu scene dengan jumlah pemain paling banyak. Aku melihat hal yang unik di sana. Banyak pemain memakai Jilbab bahkan bercadar, tapi mereka berada di dalam gereja. Tanda salib bertebaran di atas kepala mereka. Suatu yang lucu dan menarik aku lihat. Lalu aku ingat, pada saat aku masuk masjid Al Azhar, bahkan untuk ijin memotret saja tidak mudah. Apalagi shooting. Tapi di gereja Imanuel ini, aku tidak hanya membawa kamera dan lighting. Aku bahkan memasukkan teralis penjara sebesar 3 meter persegi didalamnya. Aku tertawa kalau memikirkan itu …
Tidak terasa, persoalan sudah menjadi bagian dari produksi ini. Malah, ketika persoalan tidak muncul aku merasa ada yang aneh. Terlepas dari semua itu, aku senang bisa terlibat dalam persoalan. Terlebih lagi, persoalan itu bisa terpecahkan sekalipun dengan air mata. Semoga kedepan, aku bisa lebih dewasa.

Robbana afrigh alaina shabran wa tsabit aghda mana fanshurnaa ala qaumil kafiriin …
( …Ya Alloh, limpahkan kami kesabaran. tegakkanlah kaki kami kembali. Lindungilah kami
atas orang-orang yang membenci kami …)

Hingga shooting ini selesai, kami masih berhadapan dengan puluhan persoalan lagi. Nantikan di bagian IV (AAC hijrah ke India untuk menghadirkan Sungai Nil, Padang Pasir dan kota) …

(2) Kisah Di Balik Layar Ayat-Ayat Cinta 10 Februari 2008

Posted by aal in dari luar.
add a comment

Dicuplik dari blog pribadi Hanung Bramantyo

img_0414.jpg

Bagian II

Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta. Kairo sangat indah kata kang Abik. Sudut-sudut pasar El Khalili, jalanan di Down Town, Menara-menara masjid termasuk didalamnya Masjid Al Azhar dan University of Azhar Cairo. Sangat detil kang Abik menggambarkan itu dalam novelnya, yang membuat aku tertantang untuk mewujudkan dalam gambar: Bangunan-bangunan tua peninggalan 3 Dinasti (Firaun, kesultanan dan Penjajah Perancis), Kios-kios berdempetan berhadapan dengan trotoar-trotoar sempit yang penuh dengan pejalan kaki, terkadang diisi kursi-kursi rotan café pinggir jalan yang meletakkan seorang tua sedang menyedot shisa. Lalu 5 jam dari tempat itu, menuju matahari terbit, kita melihat kampung tua El Giza dengan aroma kotoran unta yang … hmmm, sekilas menjijikkan, tetapi … tertutup oleh eksotisnya lingkungan khas kairo. Bangunan itu berdiri dari tumpukan bata-bata merah yang dipoles campuran semen dan pasir. Menjadikan warna coklat muda dominan, berpadu selaras dengan warna tanah, warna kain-kain yang dipakai membalut tubuh gadis-gadis kairo, dan warna kulit unta. Bangunan itu ada banyak. Bertebaran. Saling berdiri begitu saja. Tidak begitu rapi seperti bangunan-bangunan kuno di Itali atau paris, tapi sangat menarik bagiku. Apalagi dengan latar belakang sepasang pyramid yang gagah menjulang menyentuh langit.
Kairo … ah, Kairo. Di kota ini aku akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.
Aku datang bersama tim kecil, menjalin kerjasama dengan local production house, Egypt Production. Mereka sangat senang menyambut kedatangan kami. Kata mereka, tidak mudah membuat film di kairo. Skenario film harus dapat ijin dari sensor film. Tidak seperti di Indonesia. Bisa dengan gampang membuat film apa aja. Karena waktu yang kita punya sangat sempit, ijin yang seharusnya 3 bulan, bisa diurus dalam 2 minggu oleh seorang local producer bernama Tammer Abbas; seorang muslim kairo, cerdas, berpengalaman di bidang film dan kharismatis. Tammer mem-provide apa yang kita butuhkan: Hunting Lokasi, akomodasi dan transportasi hingga penyewaan alat. Di benankku, sedemikian jelas tergambar film ini akan sedetil seperti yang kang abik tuliskan di novel.
Setelah riset selesai dan scenario jadi, 20 tim dari Jakarta datang untuk melakukan hunting lokasi sekaligus test kamera. Kami melakukan shooting di sebuah tempat di El Giza. Alat-alat yang di sediakan buat kami jauh lebih bagus dari yang sering kita pakai di Indonesia. Kami sangat di support disana. Kami melakukan persiapan di kairo selama 2 minggu. Tammer akan mensupport semua shooting di Kairo berikut kostum, lokasi, crew dan pemain pendukung. Film ini benar-benar akan menjadi film Indonesia yang shooting total di Luar Negeri. Baru pertama kali terjadi dalam sejarah perkembangan film nasional. Bisa dibayangkan, bagaimana perasaanku waktu itu. Ibu, aku akan persembahkan yang terbaik buatmu … sebuah film agama yang indah dan bersahaja. Yang akan kau kenang … dan semua umat muslim Indonesia dan dunia tentunya …
`Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Producer membatalkan shooting di Kairo dengan alasan bujet produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal. Tammer Abbas menawarkan angka 3 kali lipat produksi standart Film Indonesia. 1 Film AAC di produksi sama saja memproduksi 3 film layar lebar di Jakarta. Siapapun producer di negeri ini akan berfikiran sama: Membatalkan produksi Film.
Seakan runtuh bangunan mimpi yang sudah aku bangun. Satu persatu menimpaku.
Tapi producerku tidak begitu saja berniat membatalkan produksi film ini.
‘Kita sudah terlanjur berjanji dengan banyak orang.’ Katanya …
Bersama-sama kita mulai memikirkan bagaimana AAC bisa diproduksi sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kemudian kita mencari sponsor untuk bisa tetap shooting di Kairo. Kita menjalin kerjasama dengan The Embassy of Egypt di Jakarta. Lewat hubungan baik dengan ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, mereka setuju dengan tawaran ini. Kata Dubesnya, Film ini akan dikelola oleh dua Negara: Indonesia dan mesir. Sebelum di putar di bioskop, film ini harus diputar dihadapan presiden Negara-Negara Islam di Asia dan Timur Tengah, begitu kata Dubes. Betapa senangnya aku mendengar kabar ini. Impianku bangkit. Ku kabarkan berita ini ke teman-teman crew dan pemain. Mereka kembali semangat. Akhirnya dibuatkan kesepakatan antara dua Negara melalui Dubes Mesir-DepBudPar-PP Muhammadiyah. Bersama-sama kita melakukan pers conference, mengabarkan berita gembira ini ke masyarakat.
Namun lagi-lagi semua itu tidak ada artinya. Pemerintah mesir, sekalipun memberikan dukungan buat kerjasama ini, tidak bisa melakukan intervensi terhadap harga-harga termasuk di dalamnya Equiptment, lokasi, property. Itu adalah hak perusahaan swasta. Artinya, sekalipun di dukung pemerintah, tetap tidak bisa mempengaruhi harga. Harapan shooting di Kairo akhirnya kandas. Terlebih lagi pihak Egypt Production tiba-tiba mengirimkan tagihan atas hunting, pelayanan persiapan dan test kamera selama di kairo sebesar 500 juta rupiah. Angka yang tidak masuk akal buat producer untuk harga test kamera dan hunting. Biasanya di Jakarta kami melakukan hunting sekitar 5 juta sampai 10 juta. Test kamera gratis kita lakukan karena itu salah satu fasilitas perusahaan penyewaan alat.
Akhirnya producer tidak mau membayarnya. Terjadilah perselisihan antara keduanya. Pihak Egypt Production melayangkan surat gugatan ke pihak KBRI di Kairo. Pihak KBRI kairo mengirimkan surat ke Departemen Luar Negeri Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang isinya terjadi penipuan pihak MD kepada perusahaan Kairo. Berita ini membuat Deplu dan Depbudpar menarik kembali dukungannya. Begitu juga dengan pihak Dubes Mesir. Seperti sebuah drama tragedy saja, nasib produksi Ayat-Ayat cinta tidak terselamatkan.
Terbayang olehku bangunan-bangunan bersejarah, menara-menara masjid Azhar yang tinggi menjulang, kios-kios berjajar, pasar-pasar tradisional, pyramid, guran sahara, pantai Alexandria yang indah … hilang … hilang ditelan angin begitu saja. Lalu pesan ibu terngiang : … Kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film agama …
Ana aasif … ya ummi …

(1) Kisah Di Balik Layar Ayat-Ayat Cinta 10 Februari 2008

Posted by aal in dari luar.
2 comments

Dicuplik dari blog pribadi Hanung Bramantyo

  img_0414.jpg

Bagian I

Aku mulai sadar bahwa tidak mudah membuat film agama. Itulah kenapa ibuku dulu berpesan kalau kamu sudah bisa membuat film, buatlah film tentang agamamu: Islam. Awalnya aku cuma tersenyum mendengar kata-kata ibuku. Senyum yang menyangsikan. Sebab pada waktu itu buatku film agama tidak lebih dari sekedar petuah-petuah yang membosankan. Lelaki berpeci dengan baju koko, bertasbih, kadang berewokan, mulutnya nerocos soal ayat dengan cara menghadap kamera. Membuat dirinya tampak suci dengan mengumbar ayat-ayat Quran. Ah, tidak terbayang olehku sebuah film agama. Tapi aku tidak begitu saja lantas menyerah. Aku coba berangkat dari apa yang aku kenal: Muhammadiyah. Lalu merentet ke sebuah nama: Ahmad Dahlan. Hmm, aku memang menyukai film yang mengangkat satu tokoh: Gandhi, Erin Brokovich, Henry V, Shakespeare, Baghad Sigh, Malcom X, dan mungkin juga nanti Sukarno (kalau memang jadi difilmkan oleh Hollywood). Film yang mengangkat tokoh bisa membuat penonton bercermin. Dan Agama adalah cermin bagi manusia untuk senantiasa melihat kembali dirinya: Kotor atau bersih?
Lalu aku membuat proposal Ahmad Dahlan untuk aku tawarkan ke PP Muhammadiyah. Ditolak! Muhammadiyah tidak ada uang, katanya . Aku cuma bengong saja. Tidak ada uang? Kataku dalam hati. Ah, sudahlah. Mungkin waktu itu aku belom dipercaya. maklum masih kuliah di IKJ semester Akhir.
Lalu kutinggalkan itikadku membuat film Agama. Aku terjun membuat film Cinta: Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Jomblo, dsb … dsb … Tapi aku tetap yakin bahwa suatu saat akan datang masa aku membuat film tentang agama.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Aku jadi berfikir, kenapa Muhammadiyah tidak berfikiran begitu ya? Kalau cuma mengumpulkan 2 juta penonton, masa Muhammadiyah tidak sanggup? Bukankah dari 80% tersebut 40% adalah warga Muhammadiyah? Ah, dasar stupid pikirku. Banyak orang Islam tidfak berfikir luas seperti orang-orang Yahudi. Oleh sebab itu Islam selalu dimarjinalkan, mudah diadu domba, dibohongi … diakali.
Lalu aku mulai memasuki tahap persiapan dan riset.
Wallohu … Aku melihat islam dari dekat sekali. Sangat dekat. Di Kairo, aku menatap Menara Azhar, aku menyentuh dinding dan lantai Azhar university, aku mencium bau apek baju-baju dan karpet mahasiswa Alzhar tetapi memiliki roman muka bersih dan santun. Aku melihat keikhlasan mereka saat bersujud diatas sajadah buluk. Bibir mereka pecah-pecah oleh panas sekaligus dingin hawa Kairo, tetapi dibalik bibir pecah itu terlantun dzikir panjang menyebut: Alloh … Alloh …
Lalu aku melihat seorang syaih duduk bersila dihadapan murid-muridnya. ‘Tallaqi’ mereka menyebutnya. Aku mendengar seorang melantunkan ayat-ayat Al quran di sudut masjid. Dan juga di pinggiran jalan. Seolah quran bagaikan bacaan novel. Allohu Akbar … Allohu Akbar. Inikah caramu membuatku dekat dengan agamaku, Ibu?
Darahku menggelora membuat mataku terbelalak. Islam sangat indah. Islam sangat eksotis. Tapi orang-orang islam seperti tidak mengerti semua itu. Orang-orang Islam di Jakarta lebih memilih jalan-jalan ke eropa daripada ke Kairo.
‘Saya akan membuat film ini eksotis, pak’ begitu kata saya ke producer.
Dan mulailah persiapan dimulai. Semangatku menggelora. Aku baca buku-buku tentang Fiqih dan sunnah. Aku libatkan mahasiswa Al Azhar untuk mendampingiku. Aku sangat hati-hati sekali melakukan ini agar apa yang tertulis dalam novel dengan indah pula tersampaikan lewat gambar. Sebuah film yang lembut, yang indah, yang suci tergambar di depan mataku dan aku yakin sekali bisa mewujudkannya.
Namun semua impianku itu tidak begitu saja mudah diwujudkan.
Pertama kali berita tentang pembuatan film AAC tersebar, halangan pertama datang justru dari pembaca. Diantara banyak yang berharap, mereka juga menyangsikan, sinis, dan mencemooh. Bahkan ada yang bilang : ‘Wah, sayang sekali novel sebagus ini akan difilmkan. Jadi ill Feel, deh’. ada juga yang bilang ‘Tidak pernah aku lihat Novel yang di filmkan hasilnya bagus, sekalipun Harry Potter. Apalagi ini.’
Pada suatu hari ada sekelompok orang datang ke kantor MD, mereka bilang dari organisasi Islam. Mereka datang dengan membawa seorang lelaki berwajah putih dan seorang gadis berjilbab. Mereka bilang …
‘Ini calon pemain Fahri dan ini calon pemain Aisha’ sambil menunjuk ke lelaki berwajah putih dan gadis berjilbab itu.
‘Kami dari organisasi Islam’ lanjutnya ‘Kami sangat concern terhadap dakwah islamiah. Kami tidak ingin film Ayat-Ayat Cinta melenceng dari novel dan ajaran Islam. Kang Abik (Nama panggilan Habiburrahman El Shirasy) sudah tahu tentang ini.’
Kami hanya saling pandang dan tersenyum. Aku … malu sekali.
Tentu saja kami menolaknya. Kami tahu bahwa film ini harus dibuat dengan hati-hati sekali. Kami juga tidak begitu saja memilih pemain hanya semata-mata ganteng dan ‘menjual’. Karena itu kami menggandeng ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin sebagai penasehat kami.
Sebelum aku melakukan casting, aku berdiskusi dulu dengan kang Abik. Kang abik sangat concern dengan sosok Fahri. Dia harus turut serta memilih tokoh Fahri. Semula kami membuka casting di pesantren-pesantren . Tetapi hasilnya Nol. Bukan berarti para santri tidak ada yang ganteng dan pintar seperti fahri. Tetapi banyak diantara mereka sudah menganggap ‘Film’ adalah produk sekuler. Oleh sebab itu banyak diantara mereka tidak mau ikut casting. Saya pernah membaca satu hadist, jangankan membuat film, menggambar manusia saja hukumnya Haram. Nanti di Neraka hasil gambar yang kita buat harus kita hidupkan. Kalau tidak bisa, Malaikat Jibril akan mencambuk kita dengan cambuk api.
Kami melakukan casting lebih dari 5 bulan. Semua yang ikut casting adalah pemain-pemain terkenal. Tapi diantara mereka banyak terjebak pada tuntutan atas ‘Kesucian Fahri’. Banyak diantara mereka beracting ’sok suci’ dengan melantunkan ayat-ayat dan menyebut asma Alloh dengan berlebihan, mirip seperti ustadz-ustadz di TV-TV. Pernah aku menemukan seorang yang menurutku pas bermain sebagai Fahri. Tetapi lelaki itu tidak beragama Islam. Kang Abik tidak setuju. Lalu ditengah keputusasaan kami datang seorang lelaki. Ganteng, tetapi tidak sombong (tidak merasa dirinya ganteng). Sering kita lihat di Mal-Mal, banyak lelaki pesolek, sadar sekali bahwa dirinya ganteng. Tetapi lelaki ini tidak . Dia sangat santun. Bahasanya pun santun. Ketika berucap Alloh, dia agak-agak canggung. Bahkan tidak fasih seperti ustadz. Pada saat dia sholat aku melihat gerakannya jauh dari sempurna. Tetapi lelaki itu punya mata yang didalamnya mengandung semangat belajar. Dia adalah Fedi Nuril. Aku berdiskusi dengan kang Abik. Terjadi tarik ulur dan perdebatan panjang. Akhirnya kita sepakat memutuskan dia yang main sebagai Fahri. Alasanku adalah, Fahri bukan lelaki sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar bahwa dirinya tidak sempurna. Keputusan Fedi Nuril sebagai Fahripun mengundang banyak kesangsian di kalangan pembaca fanatik AAC, terutama di Malaysia. Karena film Fedi Nuril sebelumnya menampilkan Fedi ciuman dengan perempuan bukan muhrim. Fedi pun mengakui itu. Yang membuat aku terharu, Fedi menganggap film AAC sebagai media dia buat dekat dengan Islam. Belajar kembali tentang Islam. Karena film ini, Fedi jadi rajin membuka-buka lagi buku tentang Islam. Bahkan Fedi menyadari segala tingkah lakunya yang tidak Islami selama ini setelah memerankan Fahri. Sungguh, baru kali ini aku rasakan dampak film yang begitu besar mempengaruhi keimanan seseorang. Terima kasih kang abik. terima kasih Ibu.
Pada saat kami mencari sosok Aisha dan Maria, semula kami bersepakat untuk mencari pemain Mesir. Tetapi setelah kami melakukan riset disana, sangat mengagetkan. Perempuan-perempuan Mesir lebih tua dari umurnya. Aku mengcasting seorang perempuan mesir bernama Roughda untuk berperan sebagai Aisha. Tidak hanya cantik, tetapi mainnya luar biasa. Tetapi setelah di sejajarkan dengan Fahri, terlihat Roughda lebih pas sebagai kakaknya daripada isteri Fahri. Padahal umurnya lebih muda 3 tahun dari Fedi Nuril. Lalu kami mencari pemain dengan umur 8 tahun lebih muda dari Fedi. Pada saat kami sejajarkan, sangat pas. Tetapi disaat dia berdialog tentang perkimpoian, tidak bisa dipungkiri ‘kedewasaannya’ tidak tampak. Alias belum matang. Kami bingung dan akhirnya kami sepakat untuk mencari pemain indonesia saja.
Tidak gampang mencari pemain indonesia yang cantik sekaligus solihah. Pak Din Syamsudin berpesan kalau bisa pemain Aisha kesehariannya ber jilbab. Lihatlah siapa artis kita yang bertampang Bule yang seperti itu. Hanya Zaskia Meca saja yang berjilbab dan cantik. Selebihnya tidak ada. Sementara itu Zascia tidak bertampang bule. Dia sangat sunda. Pernah kita meng casting Nadine Candrawinata. Dia sangat cantik dan bermain bagus. Dangat cocok pula berdampingan dengan Fedi Nuril. Tapi Nadine bukan Muslim. Padahal Nadine sudah mau bermain sebagai perempuan Muslim. Aku pernah berdiskusi panjang dengan kang abik soal itu. Aku bilang padanya …
‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.’
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Ketiga pemain itu dikursuskan bahasa arab secara privat untuk mendalami kehidupan Muslim di kairo. Mereka sangat antusias. Namun antusiasme itu harus berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka juga punya kesibukan lainnya. Ryanti sebagai VJ di MTV dan Carrisa bermain sinetron. Ryanti yang bagiku sangat keteter ketika berperan sebagai Aisha. Asiha adalah sosok yang memiliki beban berat. Sementara Ryanti sebagai VJ MTV harus selalu tampak riang dan ringan. Sering sekali benturan itu membuat proses pendalaman karakter tidak sempurna. Aku frustasi sendiri. Tetapi aku ingat, bahwa di Film ini kesabaranku benar-benar di uji. Impianku mewujudkan keindahan dan kedalaman Islam terbentur oleh kenyataan sebaliknya: Ringan, Riang, Hedonistik dan Pop. Apalagi ketika producer tiba-tiba berubah pikiran melihat kenyataan penonton Film Indonesia banyak di dominasi anak-anak muda yang pop, ringan dan tidak menyukai hal-hal bersifat perenungan. Dia lantas ingin mengubah karakterr film AAC menjadi sangat pop seperti Kuch Kuch Hotahai … Tuhanku! Tuhanku! selamatkan film ini …
Tidak jarang aku berperang mulut dengan producerku ketika meminta adegan Talaqi dibuang. Karena boring dan membuat penonton mengantuk. Lalu beberapa adegan yang bersifat perenungan, seperti pada saat Fahri dipenjara dan menemukan hakikat kesabaran dan keikhlasan dari seorang penghuni penjara yang absurd (dalam novel digambarkan sebagai seorang professor agama bernama Abdul Rauf), Tetapi di Film saya adaptasi sebagai sosok imajinatif, bergaya liar, bermuka buruk tetapi memiliki hati bersih dan suara yang sangat tajam melafatskan kebenaran. Semua adegan itu diminta untuk dibuang atau dikurangi dan lebih mementingkan adegan romans seperti AADC ataupun Kuch Kuch Hotahai …
Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan … cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan. Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam …
La haula wa kuwwata illa billahi …

 

Menjadi Tionghoa, Menjadi Indonesia 6 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
1 comment so far

Dilansir dari Jalan Ketiga (Impulse), edisi Februari 2008

Oleh: Ali Usman*

Sejarah etnis atau masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah sejarah perlawanan. Perlawanan terhadap penindasan, juga perlawanan melawan ketidakadilan atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang cenderung diskriminatif. Pembekuan hak politik, hingga tidak diperbolehkannya menjadi PNS menjadi pil pahit yang harus ditelan bagi warga Tionghoa pada masa Orde Baru.

Bahkan lebih dari itu, tidak hanya ditenggelamkan dalam penulisan sejarah, masyarakat Tionghoa telah menjadi “tumbal” dan “kambinghitam” rezim demi mempertahankan status quo. Beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran pembunuhan massal atau penjarahan seperti pembantaian di Batavia 1740, pembantaian Tionghoa masa perang Jawa 1825-1930, pembunuhan massal etnis Tionghoa di Jawa 1946-1948, peristiwa rasialis 10 Mei 1963, 5 Agustus 1973, Malari 1974 dan Kerusuhan Mei 1998.

Kategori dan klasifikasi “pribumi” dan “non-pribumi” serta “WNI” sejak pertengahan tahun 1960-an tampaknya menjadi pemicu utama terjadinya kekerasan dan penistaan terhadap masyarakat Tionghoa di banyak daerah.

Padahal menurut Claudine Salmon—peneliti asal Perancis yang mendedikasikan hampir seluruh kariernya untuk meneliti kebudayaan Tionghoa dan juga kebudayaan Tionghoa di Indonesia—dalam bukunya, Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, a Provisional Annotated Bibliography (1981), mengatakan, bahwa di Indonesia, tulisnya, kalau ada istilah suku-suku, orang Tionghoa dianggap sebagai suku asing. Tetapi, siapa yang “asing”, siapa yang “pribumi”, sebenarnya tidak terpisah seperti minyak dengan air. Bahkan menurut Claudine, “saya kira sejumlah orang Indonesia yang menganggap diri sebagai orang ’pribumi’ adalah keturunan Tionghoa”.

Sadar akan hal itu, baru pascareformasi atau tepatnya di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah diterbitkan Keputusan Presiden (Kepres) No 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Inpres No 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat China. Berdasarkan Keppres No 6/2000 itu, ekspresi budaya, agama, dan kepercayaan bagi etnis Tionghoa telah dibebaskan secara terbuka dengan tanpa ijin.

Kepres inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pengakuan tradisi Imlek dirayakan setiap tahun, bahkan dijadikan sebagai hari libur nasional setara dengan hari-hari libur lainnnya. Namun Keppres ini masih sebatas pengakuan simbolik atas ekspresi bagi etnis Tionghoa dalam ranah publik dan belum menyentuh pada ranah agama dan kepercayaan Khonghucu.

Pengakuan negara terhadap ekspresi tradisi China sejatinya bukan hanya menyentuh wilayah budaya, seperti peringatan Imlek setiap tahun, suguhan tarian barongsay dan liong. Tetapi harus menyentuh wilayah agama dan kepercayaan, sehingga yang diperingati sebagai hari libur nasional bukan Tahun Baru Imleknya. Melainkan pada perayaan agamanya, seperti pengakuan negara terhadap hari libur nasional selama ini, selalu identik dengan ekspresi agama bukan budaya, seperti Natal, Waisak, Nyepi, Idul Fitri, Idul Adha, Hijrah, Maulid, Kenaikan Isa As dan lain-lain.

Hal itulah yang juga diresahkan oleh dua tokoh Tionghoa di Yogyakarta, Hari Setyo, ketua umum Perkumpulan Budi Abadi dan Tjundaka Prabowo, pengurus Festival Budaya Tionghoa, ketika ditemui di tempat kediamannya, hari Sabtu (2/2/2008) kemarin.

Baik Setyo maupun Prabowo mengakui, bahwa era reformasi memang menghembuskan angin segar bagi eksistensi masyarakat Tionghoa untuk survive kembali setelah sekian lama “bopeng” menjadi korban kekejaman rezim Orde Baru. Namun sebagai sebuah catatan, era reformasi tidaklah bebas dari kritik dan kekurangan.

“Masyarakat saat ini sudah terbuka dan ada semacam edukasi untuk bisa menerima etnis lain (Tionghoa–red). Secara kultural, kita sudah dapat diterima dengan baik, dan kami pun sangat senang membaur dengan mereka. Tetapi pada level-level tertentu, seperti pencantuman agama dan kode khusus pada KTP bagi warga Tionghoa masih menyisakan problem”, kata salah seorang Tionghoa yang enggan disebutkan identitasnya. “Jadi, tidak perlu melihat wajah atau foto di KTP, orang melihat kode saja pasti tahu: ini orang China”, imbuhnya lagi.

Proses akulturasi antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat sekitar sebenarnya bukan lagi hal baru. Sebab dalam sejarah, kita ingat, pembantaian etnis Tionghoa di Batavia 1740, melahirkan gerakan perlawanan dari etnis Tionghoa yang bergerak di beberapa kota di Jawa Tengah yang dibantu pula oleh etnis Jawa. Pada gilirannya ini mengakibatkan pecahnya kerajaan Mataram.

Bukankah pula sejarah telah mencatat, kapten Tionghoa Tan Djin Sing sempat menjadi Bupati Yogyakarta? Menurut Setyo, proses akulturasi sampai saat ini masih terjalin sangat baik. Ia juga menambahkan, “asal anda tahu, keanggotaan Perkumpulan Budi Abadi juga melibatkan masyarakat di luar Tionghoa, atau dalam hal ini masyarakat yang menganut agama Islam”.

Karena itu ke depan, sudah sepantasnya pemerintah untuk segera memulihkan hak penuh masyarakat Tionghoa, yang tidak lagi membeda-bedakan dengan etnis lain. Jangan lagi ada katagori warga “pribumi” dan “non-pribumi”.

Apalagi, sangat menarik bila menyimak pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam Hoakiau di Indonesia (1998), yang mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa pendatang. Penduduk asli Indonesia yang sesungguhnya terdesak terus oleh pendatang-pendatang, sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya ataupun kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru.

Golongan Tionghoa, lanjut Pram, yang datang kemudian, memasuki masyarakat yang telah menjadi masyarakat baru dan sekaligus menjadi bagian dari masyarakat ini secara integral. Mereka sudah ada sejak nenek moyang
kita. Mereka itu sebenarnya orang-orang Indonesia, yang hidup dan mati di
Indonesia juga, tetapi karena suatu tabir politik, tiba-tiba menjadi orang
asing yang tidak asing.

Dengan melihat fakta tersebut di atas, disadari atau tidak, boleh jadi darah yang mengalir di dalam tubuh kita sebenarnya berasal dari keturunan Tionghoa. Kita adalah bagian dari mereka. Kita menjadi Tionghoa, sekaligus menjadi warga Indonesia. Ini yang perlu disadari. Semoga.

*Ali Usman, peneliti, dan alumnus program Teologi dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Membekukan Demokrasi 5 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
6 comments

Dilansir dari Media Indonesia, 5 Februari 2008

Oleh: Ali Usman*

Perkembangan politik yang berakhir pada kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, membuka jalan untuk lawannya: diktator

(Mohammad Hatta, 1960).

Demokrasi yang baru seumur jagung di belantika perpolitikan Tanah Air dalam beberapa waktu belakangan ini mengalami guncangan hebat dan “maha dahsyat”. Ini terjadi lantaran konstelasi politik yang kian memanas; penyelesaian konflik Pilkada yang tak berujung, timbulnya “riak-riak kecil” rasa primordialisme (etnisitas-kedaerahan), dan situasi pra-kondisi menjelang Pemilu 2009.

Akibatnya, demokrasi yang sejatinya terus dipupuk dan disemai keberadaannya, malah dikotori dan coba diacak kembali oleh oknum-oknum yang mengaku diri “sang demokrat” sejati. Untuk menunjukkan kebenaran fakta tersebut, setidaknya ada beberapa indikasi yang patut diuangkap, sekaligus agar menjadi wahana refleksi di awal atau pembuka tahun 2008 ini.

Di sini, komitmen demokrasi yang mulai tumbuh subur pascareformasi 1998 seolah terserang hama yang membahayakan. Pertama, mengacu pada lontaran presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai gagasan kemungkinan mekanisme pemilihan gubernur tidak lagi dilakukan oleh rakyat, tapi ditunjuk oleh presiden. “Gubernur itu sebaiknya dipilih atau ditunjuk (oleh presiden), silakan direspons, ditanggapi, dan dikritisi siapa saja yang peduli”, (Media Indonesia, 7/12/2007).

Presiden SBY tidak sendiri. Sebab pasalnya, pernyataan itu juga atas rekomendasi dari peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan atau PPRA XL Lembaga Ketahanan Nasional. Lantas, apa motif di balik lontaran itu?

Dalam konteks perwujudan demokrasi melalui Pilkada, presiden tampaknya gerah dan tak tahan menyaksikan sengketa politik setiap kali Pilkada berlangsung di daerah-daerah. Termasuk, penunjukkan Tanribali Lamo sebagai Carateker Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) baru baru ini oleh sejumlah analis, merupakan testcase kembalinya militerisme dalam panggung politik Republik Indonesia.

Mungkin presiden lupa, bukankah demonstrasi merupakan sebuah keniscayaan bagi negara yang menjunjung tinggi demokrasi sebagai sebuah sistem politik? Jika tak ada demonstarasi, lalu apa bedanya era sekarang ini dengan rezim Orde Baru? Seán M. Sheehan dalam bukunya, Anarchism berpendapat sangat ekstrim. Menurutnya, hampir dipastikan semua negara yang berdaulat melewati masa-masa revolusi dan demonstrasi besar-besaran yang bahkan berujung pada tindakan “anarkis”.

Dalam konteks perwujudan demokrasi melalui Pilkada, Toto Sugiarto (Koran Tempo, 9/1/2008), mempunyai analisis menarik tentang persoalan ini, bahwa menurutnya, jika presiden benar seorang demokrat, ia tidak akan membuka kemungkinan kembali dilakukannya pemilihan jabatan publik secara tidak demokratis.

Artinya, meskipun jabatan gubernur lebih merupakan kepanjangan tangan pemerintah pusat, berbeda dengan bupati/wali kota yang otonom, hal itu tidak berarti menghilangkan keharusan pengisian jabatan gubernur secara demokratis. Gubernur adalah jabatan politik dan setiap jabatan politik harus diisi melalui proses demokratis.

Kedua, terkait dengan wacana yang baru-baru ini sempat santer terdengar, yaitu persyaratan Capres-Cawapres pada pemilu 2009 mesti sarjana, jangan yang tua, wapresnya non-Jawa, dan sebagainya. Lagi-lagi ini menjadi penanda, bahwa demokrasi yang kita jalankan saat ini “tidak sehat”. Atau meminjam istilah Budiarto Shambazy disebut elective feudalism.

Bukankah demokrasi sebagaimana diungkap Ernesto Laclau dan Chantal Mouffle dalam Hegemony and Socialist Strategy adalah sarana atau fasilitas dalam kebebasan, oleh karenanya ia selalu merupakan arena kosong yang terbuka, atau dalam istilah lain disebut sebuah penanda kosong (empty signifier)? Mengapa bangsa ini selalu gamang untuk memilih pemimpin yang dapat betul-betul mengurus kesejahteraan rakyat?

Boleh jadi, tulis Ignas Kleden (2001), persoalan politik Indonesia di masa depan bukanlah mencari pemerintahan yang kuat dan presiden yang kuat. Kegagalan Orde lama dan Orde Baru tidak disebabkan kedua presiden pada masa itu terlalu lemah. Melainkan karena keduanya terlalu kuat. Yang lebih perlu dibenahi adalah pembentukan suatu masyarakat politik yang kuat, yang mau dan mampu mengawasi pemimpin politik mana pun yang dipilih.

Ketiga, menyangkut persoalan status hukum mantan presiden Soeharto yang sampai sekarang belum tuntas lantaran. Adakah keterkaitan semua itu dengan demokrasi? Tentu saja ada. Sebab demokrasi memuat unsur-unsur penting seperti persamaan hak (hukum), kesetaraan, dan keadilan.

Tak heran bila para politisi dan aktivis HAM tak henti-hentinya “ribut” soal status hukumnya yang sampai saat ini masih belum mendapat kepastian dari pemerintah. Presiden SBY juga tampaknya mengalami kegamangan lantaran opini publik di masyarakat yang sedang berkembang memang terlihat tidak menyatu alias pecah belah. Ada yang setuju ketok palu agar kasus pidananya dihentikan, tapi ada pula sebagian yang tetap getol untuk mengadili Pak harto meski dalam kondisi apapun.

Kini, dengan bepulangnya Pak Harto ke Haribaan Tuhan, status hukumnya yang sejak beliau diturunkan secara paksa pada reformasi 1998, mengalami kejelasan yang pasti. Atas dasar ketiadaanya, Pak Harto telah bebas hukum secara pidana. Aturan main undang-undang di negara kita meniadakan hukum pidana manakala terdakwah telah meninggal dunia.

Namun di sisi lain, status hukum perdata yang juga membelit ketujuh yayasannya—meski pula masih kontroversi—tetap harus diproses sebagaimana mestinya. Apalagi, kejaksaan menurut Abdul Rahman Saleh, yakin terdapat bukti-bukti yang kuat, akan adanya perbuatan melawan hukum oleh Soeharto dalam pengelolaan yayasan yang dipimpinnya. Karenanya, gugatan perdata bakal terus dilanjutkan kendati Soeharto sudah meninggal dunia karena bisa dialihkan ke para ahli warisnya.

Kali ini mungkin tak ada lagi kontrovesi mengenai status hukum Pak Harto. Yang ada adalah Pak Harto telah bebas hukum secara pidana, sementara yayasan dan para ahli warisnya kemungkinan besar akan tetap dijerat proses hukum perdata. Dengan begitu, jangan ada lagi gunjingan soal kejelekan dan dosa-dosa politik Pak Harto. Jadikan saja apa yang pernah dilakukan oleh beliau dan kroni-kroninya sebagai pelajaran berharga bagi bangsa agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Akhir dari semua itu, dengan menyimak potret perjalanan demokrasi kita sampai detik ini, barangkali perlu berterus terang dan jujur, bahwa sebenarnya kita belum—untuk tidak mengatakan “tidak”—mendapati semprotan demokratisasi yang mengarah pada progresivitas. Malah kian tampak berjalan di tempat.

Sebuah kondisi (baca: tatanan) yang seolah-olah ada haru-biru perubahan, tapi sesungguhnya tumpul akan kemajuan. Meminjam terminologi George Sorensen (1993), sesungguhnya secara perlahan kita sedang terperangkap ke dalam lumbung frozen democracy (demokrasi beku). Benarkah demikian? Akui saja.

*Ali Usman, analis sosial-politik, dan peneliti utama pada Civil Society Institute di Yogyakarta

Mengikhlaskan Kepergian Soeharto 1 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
11 comments

Dilansir dari Suara Karya, 1 Februari 2008

 mangkat.gif [Mangkat dalam Kebesaran. dok. SP]

Oleh Ali Usman*

Suasana duka menyelimuti seluruh masyarakat Indonesia atas wafatnya mantan presiden ke-2 RI, H. M. Soeharto (selanjutnya Pak Harto) pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB. Pak Harto meninggal dunia setelah sekian lama dirawat di RSPP Jakarta, dan pasalnya, beliau mengalami multiorgan dan sesak nafas sejak Minggu, jam 01.00 dini hari.

Dari itu, tidak hanya keluarga, tapi semua elemen masyarakat tentunya ikut bersedih lantaran pria kelahiran Kemusuk Godean-Bantul Yogyakarta 8 Juni 1921 itu—terlepas dari dosa-dosa politiknya di masa Orde Baru—sebagai putra terbaik bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan bangsa selama 32 tahun lamanya.

Semua mata dunia kini mungkin tertuju ke Indonesia. Mengingat, di samping ketokohan Pak Harto dalam memimpin bangsa sekian lama, yang tidak atau jarang ditemui di negara-negara manapun, beliau mempunyai pengaruh yang amat besar bagi negara-negara tetangga sewaktu menjadi presiden RI.

Karenanya, atas nama rakyat yang pernah dipimpin oleh presiden kharismatik itu, sudah sepantasnya kita memaafkan agar amal ibadahnya dapat diterima dan segala kesalahannya diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta. Berilah keikhlasan untuk Pak Harto agar beliau tenang di alam berikutnya. Pak Harto butuh sepenggal maaf dari setiap rakyat Indonesia. Bukankah manusia (siapapun dia) tak mungkin luput dari khilaf?

Tidak sepantasnya dalam situasi seperti sekarang ini kita masih harus menambah berat beban masalah ke pundak Soeharto yang sudah “tiada”, misalnya dengan terus melancarkan kecaman. Menghadapi keadaan yang tengah dihadapi mantan presiden itu, secara moral kita dituntut berpikir jernih dan bersikap lebih bijaksana.

Kemarahan dan kecaman publik kepadanya selama satu dasawarsa terakhir rasanya sudah lebih dari cukup. Itu adalah cara rakyat “menghukumnya”. Tanpa bermaksud melupakan sejarah, sudah waktunya kita menghormati hak asasi Pak Harto menerima perlakuan sebagaimana mestinya.

Memetik hikmah

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari mantan panglima gagah perkasa itu. Dengan meninggalnya Pak Harto, bila kita cermati dengan seksama, sebenarnya mematahkan pelbagai spekulasi tentang dirinya sewaktu dalam kondisi kritis di RS. Sebagaimana jamak diketahui, selang beberapa hari beliau masuk ke RS awal Januari lalu, banyak kalangan angkat bicara membincangkan segala kemungkinan yang bakal terjadi dengan Pak Harto.

Setidaknya ada dua fenomena yang menarik diulas di sini. Pertama, tim dokter kepresidenan beberapa waktu lalu pernah melontarkan kemungkinan sembuhnya Pak Harto. Hal ini membuat keluarga dan banyak pihak merasa bersyukur atas optimistis itu. Apalagi, sempat terdengar rumor, dari para tokoh spiritual dan paranormal di Jawa, bahwa Pak harto diprediksi akan sembuh dan diperkirakan akan tetap hidup sampai usia 90 tahun.

Tetapi apa yang terjadi? Takdir dan kuasa Tuhan bicara lain. Tuhan menghendaki Pak Harto untuk segera kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kematian bagi Pak harto, mungkin, dipandang lebih baik oleh Tuhan. Hanya Dia yang tahu dan mengerti misteri hidup dan mati bagi hamba-Nya. Sebab boleh jadi, “Tangan Tuhan” akan menjangkau salah seorang di antara kita yang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Kedua, para politisi dan aktivis HAM tak henti-hentinya “ribut” soal status hukumnya yang sampai saat ini masih belum mendapat kepastian dari pemerintah. Presiden SBY tampaknya mengalami kegamangan lantaran opini publik di masyarakat yang sedang berkembang memang terlihat tidak menyatu alias pecah belah. Ada yang setuju ketok palu agar kasus pidananya dihentikan, tapi ada pula sebagian yang tetap getol untuk mengadili Pak harto meski dalam kondisi apapun.

Kini, dengan bepulangnya Pak Harto ke Haribaan Tuhan, status hukumnya yang sejak beliau diturunkan secara paksa pada reformasi 1998, mengalami kejelasan yang pasti. Atas dasar ketiadaanya, Pak Harto telah bebas hukum secara pidana. Aturan main undang-undang di negara kita meniadakan hukum pidana manakala terdakwah telah meninggal dunia.

Namun di sisi lain, status hukum perdata yang juga membelit ketujuh yayasannya tetap harus diproses sebagaimana mestinya. Apalagi, kejaksaan menurut Abdul Rahman Saleh, yakin terdapat bukti-bukti yang kuat, akan adanya perbuatan melawan hukum oleh Soeharto dalam pengelolaan yayasan yang dipimpinnya. Karenanya, gugatan perdata bakal terus dilanjutkan kendati Soeharto sudah meninggal dunia karena bisa dialihkan ke para ahli warisnya.

Kali ini mungkin tak ada lagi kontrovesi mengenai status hukum Pak Harto. Yang ada adalah Pak Harto telah bebas hukum secara pidana, sementara yayasan dan para ahli warisnya tetap dijerat proses hukum perdata. Dengan begitu, jangan ada lagi gunjingan soal kejelekan dan dosa-dosa politik Pak Harto. Jadikan saja apa yang pernah dilakukan oleh beliau dan kroni-kroninya sebagai pelajaran berharga bagi bangsa agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Pak Harto saat ini membutuhkan keikhlasan ampunan dan maaf dari segenap rakyat Indonesia. Meski beliau kaya raya, toh hartanya tidak beliau bawa ke alam kubur. Semua itu memendarkan pesan berharga bagi kita, bahwa harta adalah kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan yang utama dan kekal akan diperoleh di akhirat kelak, apalagi bila kita beruntung dimasukkan ke dalam surga oleh-Nya.

Akhirnya, sekali lagi, kepada segenap masyarakat dan bangsa, atas nama moral dan agama, sudah sepantasnya kita memafkan segala kekhilafan yang diperbuah pak Harto. Seruan mantan ketua MPR Amien Rais beberapa waktu lalu, agar mengampuni Pak Harto secara individu maupun hukum pidana layak diapresiasi. Bukankah Tuhan saja sebagai Pemberi Maaf Maha Pengampun (al-rahman) dan Maha Penyayang (al-rahim)? Mengapa kita sebagai makluknya tidak?

Selamat jalan Pak Harto menuju kekekalan hidup…

* Ali Usman, Peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta, dan tulisan ini pendapat pribadi