jump to navigation

Mengikhlaskan Kepergian Soeharto 1 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Suara Karya, 1 Februari 2008

 mangkat.gif [Mangkat dalam Kebesaran. dok. SP]

Oleh Ali Usman*

Suasana duka menyelimuti seluruh masyarakat Indonesia atas wafatnya mantan presiden ke-2 RI, H. M. Soeharto (selanjutnya Pak Harto) pada 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB. Pak Harto meninggal dunia setelah sekian lama dirawat di RSPP Jakarta, dan pasalnya, beliau mengalami multiorgan dan sesak nafas sejak Minggu, jam 01.00 dini hari.

Dari itu, tidak hanya keluarga, tapi semua elemen masyarakat tentunya ikut bersedih lantaran pria kelahiran Kemusuk Godean-Bantul Yogyakarta 8 Juni 1921 itu—terlepas dari dosa-dosa politiknya di masa Orde Baru—sebagai putra terbaik bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dan bangsa selama 32 tahun lamanya.

Semua mata dunia kini mungkin tertuju ke Indonesia. Mengingat, di samping ketokohan Pak Harto dalam memimpin bangsa sekian lama, yang tidak atau jarang ditemui di negara-negara manapun, beliau mempunyai pengaruh yang amat besar bagi negara-negara tetangga sewaktu menjadi presiden RI.

Karenanya, atas nama rakyat yang pernah dipimpin oleh presiden kharismatik itu, sudah sepantasnya kita memaafkan agar amal ibadahnya dapat diterima dan segala kesalahannya diampuni oleh Tuhan Sang Pencipta. Berilah keikhlasan untuk Pak Harto agar beliau tenang di alam berikutnya. Pak Harto butuh sepenggal maaf dari setiap rakyat Indonesia. Bukankah manusia (siapapun dia) tak mungkin luput dari khilaf?

Tidak sepantasnya dalam situasi seperti sekarang ini kita masih harus menambah berat beban masalah ke pundak Soeharto yang sudah “tiada”, misalnya dengan terus melancarkan kecaman. Menghadapi keadaan yang tengah dihadapi mantan presiden itu, secara moral kita dituntut berpikir jernih dan bersikap lebih bijaksana.

Kemarahan dan kecaman publik kepadanya selama satu dasawarsa terakhir rasanya sudah lebih dari cukup. Itu adalah cara rakyat “menghukumnya”. Tanpa bermaksud melupakan sejarah, sudah waktunya kita menghormati hak asasi Pak Harto menerima perlakuan sebagaimana mestinya.

Memetik hikmah

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari mantan panglima gagah perkasa itu. Dengan meninggalnya Pak Harto, bila kita cermati dengan seksama, sebenarnya mematahkan pelbagai spekulasi tentang dirinya sewaktu dalam kondisi kritis di RS. Sebagaimana jamak diketahui, selang beberapa hari beliau masuk ke RS awal Januari lalu, banyak kalangan angkat bicara membincangkan segala kemungkinan yang bakal terjadi dengan Pak Harto.

Setidaknya ada dua fenomena yang menarik diulas di sini. Pertama, tim dokter kepresidenan beberapa waktu lalu pernah melontarkan kemungkinan sembuhnya Pak Harto. Hal ini membuat keluarga dan banyak pihak merasa bersyukur atas optimistis itu. Apalagi, sempat terdengar rumor, dari para tokoh spiritual dan paranormal di Jawa, bahwa Pak harto diprediksi akan sembuh dan diperkirakan akan tetap hidup sampai usia 90 tahun.

Tetapi apa yang terjadi? Takdir dan kuasa Tuhan bicara lain. Tuhan menghendaki Pak Harto untuk segera kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kematian bagi Pak harto, mungkin, dipandang lebih baik oleh Tuhan. Hanya Dia yang tahu dan mengerti misteri hidup dan mati bagi hamba-Nya. Sebab boleh jadi, “Tangan Tuhan” akan menjangkau salah seorang di antara kita yang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Kedua, para politisi dan aktivis HAM tak henti-hentinya “ribut” soal status hukumnya yang sampai saat ini masih belum mendapat kepastian dari pemerintah. Presiden SBY tampaknya mengalami kegamangan lantaran opini publik di masyarakat yang sedang berkembang memang terlihat tidak menyatu alias pecah belah. Ada yang setuju ketok palu agar kasus pidananya dihentikan, tapi ada pula sebagian yang tetap getol untuk mengadili Pak harto meski dalam kondisi apapun.

Kini, dengan bepulangnya Pak Harto ke Haribaan Tuhan, status hukumnya yang sejak beliau diturunkan secara paksa pada reformasi 1998, mengalami kejelasan yang pasti. Atas dasar ketiadaanya, Pak Harto telah bebas hukum secara pidana. Aturan main undang-undang di negara kita meniadakan hukum pidana manakala terdakwah telah meninggal dunia.

Namun di sisi lain, status hukum perdata yang juga membelit ketujuh yayasannya tetap harus diproses sebagaimana mestinya. Apalagi, kejaksaan menurut Abdul Rahman Saleh, yakin terdapat bukti-bukti yang kuat, akan adanya perbuatan melawan hukum oleh Soeharto dalam pengelolaan yayasan yang dipimpinnya. Karenanya, gugatan perdata bakal terus dilanjutkan kendati Soeharto sudah meninggal dunia karena bisa dialihkan ke para ahli warisnya.

Kali ini mungkin tak ada lagi kontrovesi mengenai status hukum Pak Harto. Yang ada adalah Pak Harto telah bebas hukum secara pidana, sementara yayasan dan para ahli warisnya tetap dijerat proses hukum perdata. Dengan begitu, jangan ada lagi gunjingan soal kejelekan dan dosa-dosa politik Pak Harto. Jadikan saja apa yang pernah dilakukan oleh beliau dan kroni-kroninya sebagai pelajaran berharga bagi bangsa agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Pak Harto saat ini membutuhkan keikhlasan ampunan dan maaf dari segenap rakyat Indonesia. Meski beliau kaya raya, toh hartanya tidak beliau bawa ke alam kubur. Semua itu memendarkan pesan berharga bagi kita, bahwa harta adalah kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan yang utama dan kekal akan diperoleh di akhirat kelak, apalagi bila kita beruntung dimasukkan ke dalam surga oleh-Nya.

Akhirnya, sekali lagi, kepada segenap masyarakat dan bangsa, atas nama moral dan agama, sudah sepantasnya kita memafkan segala kekhilafan yang diperbuah pak Harto. Seruan mantan ketua MPR Amien Rais beberapa waktu lalu, agar mengampuni Pak Harto secara individu maupun hukum pidana layak diapresiasi. Bukankah Tuhan saja sebagai Pemberi Maaf Maha Pengampun (al-rahman) dan Maha Penyayang (al-rahim)? Mengapa kita sebagai makluknya tidak?

Selamat jalan Pak Harto menuju kekekalan hidup…

* Ali Usman, Peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta, dan tulisan ini pendapat pribadi

Komentar»

1. agus wibowo - 2 Februari 2008

wuah….emang penulis besar…apa aja jadi tema..
rokok jadi tema, korupsi jadi tema, bahkan orang mati sekalipun jadi tema…..tapi inget ya gak boleh ngusulkan gelar “pahlawan”. Mending buat para fakir miskin aja ….

2. BN - 2 Februari 2008

memang Soeharto harus kita lepas. Masih banyak hal yang patut kita tiru dan perjuangkan dari Soeharto. dan jangan mencela orang mati, karena itu perbuatan sia-sia, begitu kira-kiran agama kita mengajarkan.
Sukses Aal.
Tulisanmu tambah bagus.

3. syaiful - 2 Februari 2008

emm…

4. dhe - 4 Februari 2008

Al,imelmu apa?

Ini no hp ku: 081809767751

5. Musthafa - 4 Februari 2008

Kak, jadi ini tulisan yang anda rahasiakan waktu chatting dulu. hehe, salut. Break dulu dari dunia blog, saya mau pulang. salam kagum

6. aal - 5 Februari 2008

Mus, gak pake rahasia2an kok. sekarang kan bukan lagi Orba, tapi era re(pot)formasi,,..

7. ratih - 6 Februari 2008

apa kabar mas All?Tulisannya bagus..

8. Hatim Gazali - 6 Februari 2008

Kekerasan atas nama agama dan pemasungan kebebasan beragama baik oleh sekelompok umat ataupun oleh pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia sepanjang tahun 2007 merupakan catatan hitam yang menodai kebebasan beragama sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Klaim sesat dan penyerangan terhadap suatu kelompok sungguh seakan menjadi tradisi keberagamaan di Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan tahun 2008? Akankah kekerasan dan pemasungan kebebasan beragama masih menjadi tontonan menarik dimasa-masa mendatang, ataukah bangsa Indonesia semakin dewasa dalam beragama? Dan, bagaimana mestinya menyipaki perbedaan keyakinan, aliran dan agama? Haruskah dengan kekerasan dengan alas an menumpas kemungkaran atau dengan cara yang lebih santun?

Kesemuanya itu akan didiskusikan pada Seminar Sehari “Prospek Kebebasan Beragama di Indonesia; Belajar dari Masa Lalu”, yang diadakan atas kerjasama Reform Project (RePro) dengan Community for Religion and Social engineering (CRSe) dan Senat Fakultas Ushuluddin, pada Selasa 12 Februari 2008 di Ruang Theatrical Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga jam 08.00 sampai 13.00,

dengan menghadirkan narasumber :

Dr. Lutfi Assyaukanie (Koordinator Jaringan Islam Liberal, JIL),

Dr. Farsijana Aderney Risakota (Aktivis HAM),

dan Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin (Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Hatim Gazali

Telp : 08174121513

9. aal - 6 Februari 2008

Utk Ratih. Kabar baik. Semoga juga demikian dengan mbak Ratih. Thanks atas sanjungan dan kunjungannya.

10. aal - 6 Februari 2008

Utk Hatim. Terima kasih banyak atas infonya. Undangan itu sekaligus juga sebagai pemberitahuan bagi teman-teman lain yang hendak berkenan hadir. Boleh kan pak Hatim?

11. Hatim Gazali - 8 Februari 2008

undangan untuk siapa saja, tanpa pandang bulu. Jadi silahkan teman-teman hadir pada acara diskusi tentang prospek kebebasan beragama di Theatrical Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga pada selasa, 12 Februari 2008, alias terbuka untuk umum. kalau kurang jelas kontak saya
Salam,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: