jump to navigation

Dari Keraton sampai Stadion 17 Februari 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Koran Tempo, 17 Februari 2008

 bola1.jpg

 Judul Buku       : Sepakbola Tanpa Batas

Penulis              : Anung Handoko

Pengantar         : Bakdi Soemanto

Penerbit            : Kanisius, Yogyakarta

Cetakan             : I, 2008

Tebal                 : 160 halaman

Peresensi          : Ali Usman*

Hikayat sepak bola Indonesia makin lusuh saja. Sudah miskin prestasi, stadion sepak bola juga sudah berganti menjadi panggung pertunjukan kekerasan. Tragedi teranyar, seorang pendukung Persija tewas saat laga semifinal Liga Djarum 207 Persija melawan Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bungkarno Jakarta, Rabu pertama Februari.

Dalam bingkai pemikiran itulah buku ini ditulis. Anung Handoko, penulisnya, tidak hanya berhenti pada analisis deskriptif dan linear semata, tapi mampu meracik pelbagai persoalan sepak bola dari banyak aspek. Kompleksitas pesoalan yang menyangkut persepakbolaan kita, baik politik, sosiologis, hingga pada persoalan psikologis suporter.Handoko memulai uraiannya lewat pintu masuk fenomena sepak bola yang menjadi kegandrungan masyarakat seantero penjuru dunia.

Banyak negara yang menjadi besar dan terkenal lantaran prestasi sepak bolanya sangat mengagumkan. Begitupula banyak pemain-pemain sepak bola tersohor melebihi pejabat-pejabat penting yang memegang posisi strategis di negaranya.David Beckham, Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, Rooney, dan lain-lain, misalnya, konon lebih dikenal oleh masyarakat umum daripada Perdana Menteri Inggris ataupun presiden Brasil. Begitupula di Indonesia, pemain-pemain nasional seperti Boaz Solossa, Hamka Hamzah, dan Bambang Pamungkas seolah lebih dikenal oleh masyarakat daripada nama-nama pejabat seperti menteri ataupun kepala daerah (hlm 24).

Melihat perhatian dan animio masyarakat yang begitu tinggi tersebut, tak jarang pula dunia persepakbolaan kadangkala digunakan sebagai “panggung politik” atau kempanye yang sangat ampuh untuk mendapat simpati kelompok atau person tertentu. Lihatlah saat ini, banyak calon pemimpin di pusat maupun daerah, tak segan-segan lagi menebar pesona dan menggalang suara dari para suporter bola.

Tak terbayangkan, apa jadinya bila ribuan suporter itu mengiyakan ajakan si “juru kampanye”.Hal yang menjadi fokus utama dan daya tarik dari buku ini adalah keunikan fenomena suporter yang dalam batas-batas tertentu menunjukkan semangat nasionalisme, kompetisi dan sekaligus juga berpotensi menimbulkan konflik. Dalam skala kecil, setiap pertandingan antar klub atau daerah, sangat tampak dukungan suporter yang amat massif dari masing-masing tempat klub tersebut. Nama kelompoknya pun dibuat dengan sangat kreatif dan dan atraktif, seperti Slemania (Sleman Yogyakarta), Jakmania (Jakarta), Pasoepati (Solo), Aremania (Malang), dan sebagainya.

Sementara pada skala lebih besar, terlihat pula semangat nasionalisme masyarakat Indonesia tatkala tim merah putih melawan negara tetangga, seperti kejuaraan di Sea Games, Piala Asia, Piala Tiger, dan lain-lain. Namun di samping semangat nasionalisme itu, secara bersamaan disadari atau tidak, potensi konflik dan spirit kompetisi juga sebenarnya muncul di alam bawah sadar suporter.

Sebagai bentuk konflik, menurut Aji Wibowo (2005), pada dasarnya sepakbola merupakan olahraga yang di dalamnya terdapat upaya saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan spirit kompetisi diwujudkan dengan adanya aturan-aturan permaianan, yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, guna menjamin keadialan dalam lapangan.

Dalam kondisi demikian, suporter sebagai bagian yang terlibat langsung dengan tim yang bertanding ikut terseret dalam situasi konflik. Suporter hadir di arena pertandingan dengan tujuan mendukung untuk menaikkan mental dan moral tim yang didukung sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter bertemu di arena pertandingan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, dan saling ejek (hlm 62).

Karena itu, meski ruang lingkup objek penelitian yang dilakukan Handoko dalam buku ini hanyalah pada kelompok pendukung PSS Sleman, tapi itu merupakan titik awal untuk mengetahui kondisi internal secara psikologis di setiap kelompok-kelompok suporter bola. Suporter Slemania, yang mempunyai slogan, “Slemania Edan Tapi Sopan” tampaknya memang layak diapresiasi karena pada 2004 mendapat penghargaan sebagai suporter terbaik.Secara sosiologis, keramahan, ketertiban, dan kesopanan Slemania dapat dibenarkan.

Menurut penelitian Wahyudiyono (2004) basis kulutural sangat mempengaruhi kejiwaan masing-masing suporter. Ia membuat komparasi antara kelompok suporter Slemania dan Panser Biru Semarang. Alhasil, Slemania yang berasal dari masyarakat Yogyakarta dengan kultur yang agraris, non-industrial, dan memiliki loyalitas secara kultural terhadap kraton yang memegang nilai-nilai Jawa yang kuat.

Nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat Yogyakarta, seperti nrimo ing pandum atau alon-alon waton kelakon, ikut membentuk perilaku Slemania dalam mempertahankan identitas sebagai pendukung PSS Sleman yang kreatif dan anti-anarkis. Sebaliknya, Panser Biru dilahirkan dari masyarakat kota industri yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial masyarakat industrial. Ciri masyarakat perkotaan yang cenderung individualis dan persaingan sosial yang ketat memberi dampak bagaimana konsep solidaritas dalam kelompok suporter Panser Biru.

Pada ranah itu, solidaritas mereka menjadi kurang kuat, fanatisme mereka pun cenderung teraktualisasi dalam bentuk vandalisme, anarkisme, dan destruktifisme. Tidak heran jika kekalahan mereka pandang sebagai suatu hal yang tabu terjadi karena mereka merasa hak atau harga diri mereka diambil oleh orang lain.Akhirnya, melalui perspektif ini, dapatlah kita menerka sendiri perilaku tiap-tiap suporter yang menyertai tim kesayangnya. Adakalanya damai, sopan, dan tertib. Tapi tak bisa disembunyikan pula, bahwa terdapat suporter yang hobi melakukan tindakan anarkis.

Dengan demikian, kita menjadi tahu bahwa perkumpulan suporter mencerminkan banyak aspek atau nilai-nilai: toleransi, solidaritas yang tinggi, dan bahkan konflik. Jika ini tidak diurus dengan baik oleh pihak terkait, maka tetaplah terpuruk nasib persepakbolaan kita. Maju terus sepak bola Indonesia, damai selalu para supporter.

*Ali Usman, Pustakawan, dan penggemar bola, tinggal di Yogyakarta

 

Komentar»

1. Arie - 18 Februari 2008

hai, ini arie bali

2. Hatim Gazali - 18 Februari 2008

kapan nikah bung

3. syaiful - 22 Februari 2008

msh e madureh?

4. Tukang Nongkrong - 22 Februari 2008

Sriwijaya FC juara Ligina dan Copa
Tercatat, Markus Horison, Kiper PSMS Medan mencoba mencetak gol yang berujung kebobolan.
Sebelumnya Stadion Kediri Luluh lantak oleh Arema
SUGBK juga rusuh.
Ah kapan bisa tenang nonton bola

Lihat situs ini bang:
http://tongkronganbudaya.wordpress.com

5. aal - 1 Maret 2008

akhirnya, hinggap lagi di Jogja…

6. Aji Wibowo - 20 Februari 2009

Alo bro…saya Aji Wibowo yang disebutkan ditulisan diatas…Met kenal ya kunjungi juga blog saya: bangunsuporter.blogspot.com

7. aal - 20 Februari 2009

sama2 mas. salam kenal jg. tks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: