jump to navigation

Mengapa AS Tidak Menyerang Indonesia? 30 April 2008

Posted by aal in Lansir.
12 comments

“Kenalan saya di Beijing mewartakan sebuah berita penting (dikirim lewat email) untuk masyarakat Indonesia khususnya, dan dunia internasional pada umumnya”. Berikut isi berita tersebut:

Pentagon membayangkan jika AS terpaksa harus menyerang Indonesia berapa kerugian yang harus dipikul pihak AS, dan berapa keuntungan pihak Indonesia dari kehadiran tentara AS di sana.

Pertimbangan AS tidak menyerang Indonesia:

( 1 ) Begitu memasuki perairan dataran indonesia, mereka akan di hadang pihak bea cukai karena membawa masuk senjata api dan senjata tajam serta peralatan perang tanpa surat izin dari pemerintah RI. Ini berarti mereka harus menyediakan “Uang Damai”, coba hitung berapa besarnya jika bawaanya sedemikian banyak.

( 2 ) Kemudian mereka mendirikan Base camp militer, bisa di tebak di sekitar basecamp pasti akan dikelilingi oleh penjual Bakso, Tukang Es kelapa, lapak VCD bajakan, sampai obral Cel-Dam Rp. 10000 3 Pcs. Belum lagi para pengusaha komedi puter bakal ikut mangkal di sekitar base camp juga.

( 3 ) Camp akan di kenakan retribusi parkir oleh petugas dari dinas perpakiran daerah. Jika dua jam pertama perkendaraan dikenakan Rp.10.000,- (maklum tarif orang bule), berapa yang harus di bayar AS kalau kendaraan & tank harus parkir selama sebulan??

( 4 ) Sepanjang jalan ke lokasi base camp pasukan AS harus menghadapi para Mr.Cepek yang berlagak memperbaiki jalan sambil memungut biaya bagi kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan jika kendaran tempur dan tank harus membelok atau melewati pertigaan mereka harus menyiapkan recehan untuk para Mr. Cepe.

( 5 ) Suatu kerepotan besar bagi rombongan pasukan jika harus berkonvoi, karena konvoi yang berjalan lambat pasti akan di hampiri para pengamen, pengemis dan anak-anak jalanan, ini berarti harus mengeluarkan recehan lagi.

( 6 ) Belum lagi jika di jalan bertemu polisi yang sedang bokek, udah pasti kena semprit kerena konvoi tanpa izin. Bayangkan berapa uang damai yang harus dikeluarkan.

( 7 ) Di base camp militer , tentara AS sudah pasti nggak bisa tidur, karena nyamuknya masya Allah, gede-gede kayak vampire. Malam hari di hutan yang sepi mereka akan di kunjungi para wanita yang tertawa dan menangis. Harusnya mereka senang karena bisa berkencan dengan wanita ini tapi kesenangan tersebut akan sirna begitu melihat para wanita ini punya bolong besar di punggungnya.

( 8 ) Pagi harinya mereka tidak bisa mandi karena di sungai banyak di lalui “Rudal Kuning” yang di tembakkan penduduk setempat dari “Flying helicopter” alias wc terapung di atas sungai.

( 9 ) Pasukan AS juga tidak bisa jauh jauh dari pelaratan perangnya, karena di sekitar base camp sudah mengintai pedagang besi loakan yang siap mempereteli peralatan perang canggih yang mereka bawa. Meleng sedikit saja tank canggih mereka bakal siap dikiloin. Belum lagi para curanmor yang siap beraksi dengan kunci T-nya siap merebut jip-jip perang mereka yang kalau di dempul dan cat ulang bisa di jual mahal ke anak-anak orang kaya yang pengen gaya-gayaan.

( 10 ) Dan yang lebih menyedihkan lagi badan pasukan AS akan jamuran karena tidak bisa berganti pakaian. Kalau berani nekat menjemur pakaiannya dan meleng sedikit saja, besok pakaian mereka sudah mejeng di pasar jatinegara di lapak-lapak pakaian bekas.

( 11 ) Peralatan telekomunikasi mereka juga harus di jaga ketat, karena para bandit kapak merah sudah mengincar palatan canggih itu.

( 12 ) Dan mereka juga harus membayar sewa tanah yang digunakan untuk base camp kepada haji Husin, haji mamat, dan engkong jai’ para pemilik tanah. Disamping itu mereka juga harus minta izin kepada RT/ RW dan kelurahan setempat, berapa meja yang harus di lalui dan berapa banyak dana yang harus disiapkan untuk meng-Amplopi pejabat-pejabat ini??

( 13 ) Para komandan di pasukan AS ini juga akan kena tugas tambahan mengawasi para prajuritnya yang banyak menyelinap keluar base camp buat nonton dangdut di RW 06, katanya ada Inul di sana .

( 14 ) Membayangkan ini semua akhinya Rumsfield memutuskan: TIDAK JADI MENYERANG INDONESIA!!!

SUMBER : Radio Republik Indonesia 1 & TVRI program 2

Mebangkitan Islam Berwajah Iran 24 April 2008

Posted by aal in Esai.
1 comment so far

Oleh: Ali Usman

Pencapaian kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak bisa serta merta menafikan perjumpaannya dengan kebudayaan negara lain. Salah satu pintu masuk untuk memeriksa kebenaran ini adalah lewat pelacakan masuknya Islam ke nusantara yang datang bergelombang dan berangsur-angsur sejak abad pertama Hijriyah (abad ke-7 Masehi).

Perlu disadari bahwa penduduk asli Indonesia bukanlah beragama Islam. Tetapi menganut agama atau ajaran yang bersumber dari Syiwa dan Hindu-Budha. Islam di Indonesia sebenarnya adalah “tamu”—untuk tidak mengatakan “penjajah”—yang kemudian dikenal dengan pengislaman atau islamisasi penduduk pribumi.

Ada dua teori klasik yang menjelaskan proses masuknya Islam pertama ke nusantara. Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lantaran dibawa oleh pedagang Arab atau Timur Tengah. Teori ini dalam sejarah dikenal dengan teori Arab, yang dipelopori oleh Crawfurd, Niemann, de Holander, dan termasuk Fazlur Ramhan (pemikir Islam kontemporer yang namanya tak asing lagi di tengah masyarakat Indonesia).

Kedua, teori Gujarat (India), yang mengatakan bahwa masuknya Islam ke nusantara lewat orang-orang India yang mempunyai motif sama dengan Arab, yakni berdagang. Kelompok ini dipelopori oleh Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan Schrieke (Drewes: 1985)

Bertolak dari dua pandangan tersebut—dalam beberapa dekade yang amat panjang—pandangan “ekstrim” di atas diterima dengan baik oleh sejarawan dunia (dan juga Indonesia), hingga kemudian menjadi semacam mainstream. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1999) adalah termasuk tokoh muslim Indonesia yang juga ikut mengamini pendapat itu.

Baru di tahun 2003, sejarawan dan masyarakat kita digemparkan oleh terbitnya buku Arus Cina-Islam-Jawa; Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa Dalam Penyebaran Agama Islam Di Nusantara Abad XV&XVI yang ditulis oleh peneliti dan penulis muda bernama Sumanto Al Qurtuby. Sumanto mendedahkan fakta yang berbanding terbaik dengan “teori Arab” maupun “teori Gujarat” yang selama ini mengakar kuat di antara pengkaji Islam nusantara.

Masuknya Islam ke nusantara, menurut Sumanto, juga melibatkan peran Cina-muslim yang hal itu dapat disimak pada peninggalan-peningalan sejarah, seperti Ukiran padas di masjid kuno Mantingan-Jepara, menara masjid pecinaan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, konstruksi masjid Demak—terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya.

Bukti lain dapat ditambah dari dua bangunan masjid yang berdiri megah di Jakarta, yakni masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Bahkan lebih dari itu, Sumanto mendapati bahwa pada nama tokoh yang menjadi agen sejarah, ternyata telah terjadi verbastering dari nama Cina ke nama Jawa.

Nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang. Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun.

“Islam Iran-Indo”

Sampai di sini, adakah sisi lain dari keragaman pendapat tersebut? Jawabannya ada. Yaitu “teori Persia (Iran)”, yang dalam pandangan saya, jarang mendapat porsi yang memadai di mata peneliti. Arus Islam Iran-Indonesia seolah (sengaja?) ditenggelamkan oleh sejarawan. Entah ini mungkin lantaran persoalan ideologi Iran yang masyarakatnya banyak menganut Islam syi’ah, sehingga mengakibatkan masyarakat Indonesia enggan meresponsnya—yang sudah lebih dulu menerima Islam sunni.

Maka pada aras itulah, sangat penting bila kita kembali membuka lembaran sejarah masuknya Islam melalui Iran. Penyemaian sejarah ini makin relevan, sebab hubungan negara kita dengan Iran sampai saat ini masih terpelihara dengan sangat baik. Kunjungan bilateral presiden Susilo Bambang Yudhoyuno yang bermuwajjah langsung dengan Ahmadinadjed beberapa waktu lalu, dapat dikatakan merupakan bukti nyata yang tak terbantahkan, bahwa dua negara tersebut memang bersahabat lantaran eratnya hubungan primordial masa lalu.

Terlebih, perjumpaan Islam Iran dengan masyarakat Indonesia waktu itu, tidak hanya bernuasa agama, tetapi dalam batas-batas tertentu, nilai-nilai budaya Iran ikut memperngaruhi ke(budaya)an kita—sebagaimana yang akan saya tunjukkan dalam tulisan ini.

Pada mulanya, tujuan utamanya adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan “misi” orang-orang Arab dan India, yaitu berdagang. Karena alasan itulah, profesor Husein Djajadiningrat percaya dan berkesimpulan, bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Iran. Pengaruh Iran dalam pengembangan Islam di Indonesia bagi Husein teramat sangat besar, sehingga mustahil dapat terlupakan.

Mohammad KH. H. Azad—seorang kuasa usaha kedutaan besar Republik Islam Iran di Jakarta—mencatat setidaknya ada dua hal yang menjadi bukti kuat pengaruh Islam Iran bagi masyarakat di Asia Tenggara (khusunya Indonesia). Hal itu dapat dilihat pada corak budaya dan perkembangan sastra masyarakat setempat.

Pertama, pengucapan harakat Arab dalam bahasa Indonesia jabar dan pes. Tapi, dalam bahasa Arab disebut fatha, kasrah, dan dzammah. Di bulan Muharram, ada upacara Tabut dalam rangka peringatan syahadat Iman Hussein (cucu nabi Muhammad di Karbala). Upacara tersebut di Sumatera Barat disebut Tabut, di Aceh disebut bulan apui (api) atau bulan asanusen (Hasan dan Hussein nama cucu-cucu Nabi).

Ada lagi peneliti bernama Abu Bakar Aceh menulis tentang halim asyura, yang dalam bahasa Jawa disebut bubur suram. Orang Sunda menyebutnya bubur sora dan orang Aceh menyebutnya kanciacur. Peneliti Mohammad Amin Husein mengatakan bahwa di Iran ada satu kaum bernama Leren yang sama dengan di kota Giri, sedangkan di Jawa juga ada nama yang sama, dan juga ada kaum Iran lain bernama Jawi yang mengajari bahasa Jawa dengan tulisan Arab.

Kedua, pengaruh sastra Persia (Farsi) dalam sastra Melayu, menurut pengamatan Azad, menunjukkan Iran punya hubungan yang baik dan dalam dengan negara-negara di Asia Tenggara. Ini memperkuat pendapat Abdul Hadi W.M, salah seorang sastrawan dan penyair Indonesia yang mengatakan, “setelah berkembangnya kerajaan di Pasai (Sumatera) dan dibangunnya institusi-institusi ajaran Islam pada abad ke-14 Masehi, semua buku Melayu dan Jawa secara langsung merujuk kepada buku Farsi, khususnya buku irfani seperti Bustan, Gholestan Sa’di, dan Najjari Aljohari dalam buku Tajjus Salatin dan Nurudin Arraini dalam buku Bustanul Salatin”.

Kita juga bisa tengok, pada sastra lama Indonesia dalam bentuk hikayat, roman sejarah dan cerita rakyat sudah dipengaruhi juga oleh Iran. Sebagai contoh, buku Seribu Masalah karya syeikh Abdulrauf Singkil yang terkenal dari segi agama dan madzhab. Karya-karya Hamzah Fansuri tentang irfan, seperti Syarabol Asyeghin, Zinatatul-Muwahidin, Almuntaha wa Asrar Al-Arifin. Dari segi puisi, karya-karya Hamzah itu, antara lain, Syair Perahu, Ruba’i Hamzah Fansuri, puisi Burung Binggai, dan puisi Dagong.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketokohan Hamzah Fansuri tidak hanya dikenal sebagai sastrwan dan penyair, ia juga dikenal sebagai tokoh dan guru sufi nusantara yang mendapat transfer ilmu tasawuf langsung dari negara Iran. Murid-muridnya yang cemerlang cukup banyak, seperti Syeikh Syamsudin Pasai, Syeikh Hasan Fansuri, Syekih Abdul Djamal, Syeikh Daud, dan lain-lain. Semua itu telah banyak diulas dengan gamblang oleh Abdu Hadi W.M di beberapa tulisannya—terutama pada disertasinya yang dibukukan berjudul Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (2001).

Akhir kata, apa yang ditulis di atas hanyalah secuil dari keluasan samudera perjumpaan Islam Iran dengan masyarakat Indonesia. Untuk kemudian, dapat ditindaklanjuti melalui penelitian dan tulisan-tulisan yang lebih serius. Dengan begitu, kita akan tahu, bahwa ternyata, proses akulturasi dan masuknya Islam ke nusantara tidaklah tunggal, tetapi dipengaruhi oleh banyak narasi.

Pada 20 April 20 April 2008

Posted by aal in Gundah.
Tags:
12 comments

doaSetiap kali melintasi 20 April, perasaan harap-harap cemas selalu muncul. Berharap, lantaran di waktu itulah segala asa dan cita kembali dipancangkan. Cemas, karena dengan bertambahnya usia, beban hidup semakin berat. Bukan hanya persoalan tambah dewasa, tapi lebih dari itu, makin menyadarkan akan hakikat umur; semakin beranjak, semakin mendekati maut, walau itu tak ada yang tahu takdir hidup, kecuali Sang Pemilik ruh dan jasad ini.

Saya melewati pergantian hari tidak seperti biasanya, yang tergeletak lunglai di atas kasur. Hari itu saya dalam keramaian, berdiskusi penuh ketegangan. Semalam suntuk. Saya meleburkan hari jadi itu—yang oleh sebagain orang mungkin dianggap hari “sakral”—dalam sesak nafas kepulan rokok, meski saya sendiri tidak merokok.

Di antara banyak asa, cita, dan pengharapan tersebut, sepintas terbersit dalam bayang tentang kuasa Tuhan. Dulu semasa kecil, saya tak pernah menyangka akan hidup sampai “likuran” tahun seperti yang sekarang saya rasakan. Bagi saya, ini adalah kasih sayang Tuhan tiada tara untuk hamba-Nya. Dan saya bersyukur atas semua itu. Meski mungkin, saya masih merasa selalu mengabaikan nikmat-Nya.

Pada 20 April, saya mau banyak belajar arti hidup: untuk saat ini, dan esok, bila nyawa sudah meregang, meninggalkan orang-orang yang saya kenal, yang saya cintai.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini. Amien…

Pendidikan Berparadigma Liberal Arts 7 April 2008

Posted by aal in Lansir.
13 comments

Dilansir dari Suara Karya, 8 April 2008

Oleh Ali usman*

 

Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Gumilar Rusliwa Somantri pernah melontarkan gagasannya untuk menerapkan sistem liberal arts pada salah satu PT yang tergolong bonafit di jagad raya negeri itu. Terang gagasan ini patut disimak dan direspons penuh apresiatif oleh mereka yang bergelut di dunia pendidikan, baik pengelola, maha(siswa), aktivis LSM, bahkan hingga ke tingkat menteri dan presiden sekalipun.

 

Apa dan bagaimana sebenarnya paradigma liberal arts tersebut? Secara terminologi, liberal berarti bebas atau merdeka—yang berasal dari bahasa latin libre. Sedangkan kata arts, tidak diartikan sebagai ‘seni’ pada umumnya, tetapi lebih mengarah pada cabang keilmuan yang saat ini melembaga.

 

Konsep dan paradigma liberal arts dalam pendidikan telah lama diterapkan di Eropa. Mereka disebut liberal, menurut Arli Aditya Parikesit (Sinar Harapan, 4/3/2008) karena mereka ditujukan untuk melatih kecerdasan dari orang bebas, sebagai anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi. Liberal arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun untuk mempelajari sains.

 

Sistem liberal arts masih digunakan di sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang. Filusuf besar seperti Pythagoras, Plato, dan St Agustinus sangat berjasa dalam pengembangan liberal arts. Tak terkecuali, lanjut Arli, para filusuf muslim, seperti Ibn Sina, Al Farabi, dan Ibn Rusyd juga mengembangkan paradigma yang serupa. Tidak mengherankan, jika seorang Al Farabi dikenal sebagai filusuf, musisi, dan dokter sekaligus.

 

Lalu bagaimana dengan para ilmuwan (filusuf?) Indonesia? Sepanjang sejarah, para pemikir kita sangat jarang—untuk tidak mengatakan “langka”—menguasai multidisplin ilmu seperti para filosuf dan ilmuwan di atas. Hal itu terjadi, lantaran kecendrungan pendidikan kita diarahkan untuk berjalan secara linear atau untuk menjadi spesialis tertentu.

 

Padahal, kompetisi persaingan global saat sekarang meniscayakan seseorang untuk menguasai lintas disiplin ilmu. Oleh karenanya, lontaran gagasan Prof. Gumilar pada hemat saya, sejatinya tidak hanya untuk diujicobakan di UI, tetapi sebisa mungkin juga dieksperimentasikan di semua lembaga pendidikan di Tanah Air untuk menghasilkan out put yang benar-benar mengabdi pada keilmuan dan negara.

 

Lontaran Prof. Gumilar tersebut adalah seruan untuk semua, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ini sangat penting dicamkan, mengingat kondisi pendidikan kita sampai saat ini masih mencari format ideal lantaran orientasinya yang tak jelas. Pendidikan kita terus mengukuhkan semboyan terkenal yang menyebutklan, “setiap ganti menteri/presiden, maka (dipastikan) ganti pula konsep pendidikan ideal menurut versi pejabat baru tersebut”.

Liberal art sebagai paradigma

 

Akankah ini juga bakal terjadi jika lembaga pendidikan menerapkan paradigma liberal arts? Perlu dimengerti bahwa paradigma liberal arts bukanlah sistem kebijakan pemerintah layaknya KBK atau KTSP, yang sarat dengan nuansa politis demi mempertahankan status quo penguasa.

 

Liberal arts merupakan konsep paradigma keilmuan yang bersifat universal. Penerapannya murni pada pengembangan disiplin keilmuan yang tidak terkait dengan “kepentingan” dan sistem tertentu. Pada paradigma liberal arts, kampus/sekolah menjadi pusat riset (maha)siswa yang diharapkan melahirkan temuan-temuan baru untuk memajukan keilmuan yang digeluti oleh masing-masing individu.

 

Dalam wujud praksis, paradigma liberal arts dapat berjalan secara proporsional antara kepentingan lembaga pendidikan, di satu sisi, dan pemerintah di sisi lain. Hal tersebut dapat dijelaskan lebih detail melalui dua hal berikut.

 

Pertama, bagi lembaga pendidikan yang menerapkan paradigma liberal arts dapat menekan seminimal mungkin kontrol dan intervensi negara. Pemerintah hanya dibutuhkan sebagai penyuntik dana yang bertujuan untuk memberikan fasilitas kepada peserta didik. Pemerintah tidak punya kewenanngan lagi untuk mengatur lembaga pendidikan, sebab segala perangkat keilmuan digagas oleh kampus/sekolah bersangkutan.

 

Kemandirian untuk menentukan arah dan orientasi pendidikan dengan demikian ditentukan

sepenuhnya oleh pengelolanya itu sendiri. Berbeda dengan praktik pendidikan saat ini, yang dalam batas-batas tertentu diseter oleh pemerintah, melalui kebijakan-kebijkan sistem yang berjalan seragam di semua sektor pendidikan.

 

Namun demikian, bagi pengelola pendidikan pun ini bukan perkara gampang. Pengambil kebijakan di kampus, baik dari jajaran rektor sampai ke tingkat paling bawah (kalangan dosen) dituntut untuk mengkaji basic epistemologi keilmuan yang sesuai dengan realitas di lapangan (peserta didik)—yang tentu saja, tetap berpayung di bawah naungan paradigma liberal arts.

 

Liberal arts pada aplikasinya di kurikulum menjadi tugas berat bagi perumus kebijakan dan tenaga pengajar. Seorang pengajar, di samping harus mampu menjelaskan kelimuan yang multidisipliner, juga dituntut untuk meneliti masing-masing kecendrungan peserta didik untuk kemudian di arahkan ke lokus-lokus tertentu. Tugas tni sangat sulit dan butuh kesabaran bagi tenaga pengajar.

 

Kedua, sisi positif atau kelebihan dengan menerapkan paradigma liberal arts pada sistem pendidikan secara langsung mengena pada orientasi pendidikan kontemporer yang sampai saat ini tak jua selesai diperdebatkan, yaitu apakah pendidikan berorientasi pada pasar (market) yang bertumpu pada penyerapan tenaga kerja, atau pada nilai-nilai kemanusiaan yang mesti dibangkitkan melalui pendidikan.

 

Sebuah isu lama yang sebenarnya di awal tahun 1990-an pernah mengemuka dan menjadi polemik berkepanjangan, yang diwakili oleh menteri pendidikan waktu itu, Fuad Hassan dengan menteri Ristek BJ. Habibie. Bagi Fuad Hassan, ukuran keberhasilan seseorang dalam pendidikan ditandai dengan kedewasaaanya sebagai manusia yang memiliki kesadaran tinggi untuk berbuat baik antar-sesama. Sementara BJ. Habibie berpendapat sebaliknya, yakni lebih berorientasi pada berkurangnya angka kemiskinan dan pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja pasacalulus dari masa studinya.

 

Lantas, bisakah pendidikan yang “menganut” paradigma liberal arts mengatasi kesenjangan itu? Saya optimis bisa. Pada level humanisasi, tak dapat disangkal lagi, bahwa dengan paradigma liberal arts, peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan sendiri kecenderungan yang diminatinya. Sedangkan pada level prospek kerja, peserta didik yang “digembleng” lewat paradigma liberal arts juga menjajikan tenaga kerja yang mumpuni dan profesional.

 

Survei mengenai hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja di Amerika membuktikan bahwa banyak perusahaan swasta dan kantor pemerintah lebih suka memilih para lulusan liberal arts ketimbang lulusan vokasional dalam rekrutmen mereka, karena dasar pengetahuan mereka yang lebih umum dan luas, serta lebih mampu dan dapat cepat menyesuaikan diri pada posisi mereka ketika mulai bekerja. Bagaimana dengan negara kita?

 

*Ali usman, peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=196691