jump to navigation

Pendidikan Berparadigma Liberal Arts 7 April 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Suara Karya, 8 April 2008

Oleh Ali usman*

 

Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof. Gumilar Rusliwa Somantri pernah melontarkan gagasannya untuk menerapkan sistem liberal arts pada salah satu PT yang tergolong bonafit di jagad raya negeri itu. Terang gagasan ini patut disimak dan direspons penuh apresiatif oleh mereka yang bergelut di dunia pendidikan, baik pengelola, maha(siswa), aktivis LSM, bahkan hingga ke tingkat menteri dan presiden sekalipun.

 

Apa dan bagaimana sebenarnya paradigma liberal arts tersebut? Secara terminologi, liberal berarti bebas atau merdeka—yang berasal dari bahasa latin libre. Sedangkan kata arts, tidak diartikan sebagai ‘seni’ pada umumnya, tetapi lebih mengarah pada cabang keilmuan yang saat ini melembaga.

 

Konsep dan paradigma liberal arts dalam pendidikan telah lama diterapkan di Eropa. Mereka disebut liberal, menurut Arli Aditya Parikesit (Sinar Harapan, 4/3/2008) karena mereka ditujukan untuk melatih kecerdasan dari orang bebas, sebagai anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi. Liberal arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun untuk mempelajari sains.

 

Sistem liberal arts masih digunakan di sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang. Filusuf besar seperti Pythagoras, Plato, dan St Agustinus sangat berjasa dalam pengembangan liberal arts. Tak terkecuali, lanjut Arli, para filusuf muslim, seperti Ibn Sina, Al Farabi, dan Ibn Rusyd juga mengembangkan paradigma yang serupa. Tidak mengherankan, jika seorang Al Farabi dikenal sebagai filusuf, musisi, dan dokter sekaligus.

 

Lalu bagaimana dengan para ilmuwan (filusuf?) Indonesia? Sepanjang sejarah, para pemikir kita sangat jarang—untuk tidak mengatakan “langka”—menguasai multidisplin ilmu seperti para filosuf dan ilmuwan di atas. Hal itu terjadi, lantaran kecendrungan pendidikan kita diarahkan untuk berjalan secara linear atau untuk menjadi spesialis tertentu.

 

Padahal, kompetisi persaingan global saat sekarang meniscayakan seseorang untuk menguasai lintas disiplin ilmu. Oleh karenanya, lontaran gagasan Prof. Gumilar pada hemat saya, sejatinya tidak hanya untuk diujicobakan di UI, tetapi sebisa mungkin juga dieksperimentasikan di semua lembaga pendidikan di Tanah Air untuk menghasilkan out put yang benar-benar mengabdi pada keilmuan dan negara.

 

Lontaran Prof. Gumilar tersebut adalah seruan untuk semua, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ini sangat penting dicamkan, mengingat kondisi pendidikan kita sampai saat ini masih mencari format ideal lantaran orientasinya yang tak jelas. Pendidikan kita terus mengukuhkan semboyan terkenal yang menyebutklan, “setiap ganti menteri/presiden, maka (dipastikan) ganti pula konsep pendidikan ideal menurut versi pejabat baru tersebut”.

Liberal art sebagai paradigma

 

Akankah ini juga bakal terjadi jika lembaga pendidikan menerapkan paradigma liberal arts? Perlu dimengerti bahwa paradigma liberal arts bukanlah sistem kebijakan pemerintah layaknya KBK atau KTSP, yang sarat dengan nuansa politis demi mempertahankan status quo penguasa.

 

Liberal arts merupakan konsep paradigma keilmuan yang bersifat universal. Penerapannya murni pada pengembangan disiplin keilmuan yang tidak terkait dengan “kepentingan” dan sistem tertentu. Pada paradigma liberal arts, kampus/sekolah menjadi pusat riset (maha)siswa yang diharapkan melahirkan temuan-temuan baru untuk memajukan keilmuan yang digeluti oleh masing-masing individu.

 

Dalam wujud praksis, paradigma liberal arts dapat berjalan secara proporsional antara kepentingan lembaga pendidikan, di satu sisi, dan pemerintah di sisi lain. Hal tersebut dapat dijelaskan lebih detail melalui dua hal berikut.

 

Pertama, bagi lembaga pendidikan yang menerapkan paradigma liberal arts dapat menekan seminimal mungkin kontrol dan intervensi negara. Pemerintah hanya dibutuhkan sebagai penyuntik dana yang bertujuan untuk memberikan fasilitas kepada peserta didik. Pemerintah tidak punya kewenanngan lagi untuk mengatur lembaga pendidikan, sebab segala perangkat keilmuan digagas oleh kampus/sekolah bersangkutan.

 

Kemandirian untuk menentukan arah dan orientasi pendidikan dengan demikian ditentukan

sepenuhnya oleh pengelolanya itu sendiri. Berbeda dengan praktik pendidikan saat ini, yang dalam batas-batas tertentu diseter oleh pemerintah, melalui kebijakan-kebijkan sistem yang berjalan seragam di semua sektor pendidikan.

 

Namun demikian, bagi pengelola pendidikan pun ini bukan perkara gampang. Pengambil kebijakan di kampus, baik dari jajaran rektor sampai ke tingkat paling bawah (kalangan dosen) dituntut untuk mengkaji basic epistemologi keilmuan yang sesuai dengan realitas di lapangan (peserta didik)—yang tentu saja, tetap berpayung di bawah naungan paradigma liberal arts.

 

Liberal arts pada aplikasinya di kurikulum menjadi tugas berat bagi perumus kebijakan dan tenaga pengajar. Seorang pengajar, di samping harus mampu menjelaskan kelimuan yang multidisipliner, juga dituntut untuk meneliti masing-masing kecendrungan peserta didik untuk kemudian di arahkan ke lokus-lokus tertentu. Tugas tni sangat sulit dan butuh kesabaran bagi tenaga pengajar.

 

Kedua, sisi positif atau kelebihan dengan menerapkan paradigma liberal arts pada sistem pendidikan secara langsung mengena pada orientasi pendidikan kontemporer yang sampai saat ini tak jua selesai diperdebatkan, yaitu apakah pendidikan berorientasi pada pasar (market) yang bertumpu pada penyerapan tenaga kerja, atau pada nilai-nilai kemanusiaan yang mesti dibangkitkan melalui pendidikan.

 

Sebuah isu lama yang sebenarnya di awal tahun 1990-an pernah mengemuka dan menjadi polemik berkepanjangan, yang diwakili oleh menteri pendidikan waktu itu, Fuad Hassan dengan menteri Ristek BJ. Habibie. Bagi Fuad Hassan, ukuran keberhasilan seseorang dalam pendidikan ditandai dengan kedewasaaanya sebagai manusia yang memiliki kesadaran tinggi untuk berbuat baik antar-sesama. Sementara BJ. Habibie berpendapat sebaliknya, yakni lebih berorientasi pada berkurangnya angka kemiskinan dan pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja pasacalulus dari masa studinya.

 

Lantas, bisakah pendidikan yang “menganut” paradigma liberal arts mengatasi kesenjangan itu? Saya optimis bisa. Pada level humanisasi, tak dapat disangkal lagi, bahwa dengan paradigma liberal arts, peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan sendiri kecenderungan yang diminatinya. Sedangkan pada level prospek kerja, peserta didik yang “digembleng” lewat paradigma liberal arts juga menjajikan tenaga kerja yang mumpuni dan profesional.

 

Survei mengenai hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja di Amerika membuktikan bahwa banyak perusahaan swasta dan kantor pemerintah lebih suka memilih para lulusan liberal arts ketimbang lulusan vokasional dalam rekrutmen mereka, karena dasar pengetahuan mereka yang lebih umum dan luas, serta lebih mampu dan dapat cepat menyesuaikan diri pada posisi mereka ketika mulai bekerja. Bagaimana dengan negara kita?

 

*Ali usman, peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=196691

Komentar»

1. Agus Wibowo - 7 April 2008

Selamat pak guru, menulis lagi, gagal lagi, menulis dengan lebih baik, gagal dengan lebih baik…menulis dan menulis hingga nyawa meregang..betul

2. aal - 7 April 2008

he2… thanks gus.

3. Benni Setiawan - 8 April 2008

saya sebenarnya kangen di muat di Suara karya, tapi apa daya saya belum punya semangat untuk menulis dengan lebih baik dan belum ada ide liar dalam pikiran saya. Saya juga tidak tahu kemanakah ide tersebut singgah untuk sementara. Semoga sahabat semua bisa mencarikan ide itu untuk saya.
Selamat ya Al.
Salam
BennI Setiawan

4. Agus Haryo Wibowo mangku wanito limo, mrongos sedoyo - 8 April 2008

kita harus bersukur dengan apa yang kita miliki, karena jika tidak, hanya keputusasaan dan kesia-siaan diri. hidup itu terlalu singkat untuk memikirkan segenap kekurangan kita, terlalu “eman” hanya untuk mengurusi “Tidak dimuat media”, masih ada kerja besar….mencoba lagi, gagal, mencoba lagi, gagal dengan lebih baik..kata pak guru aal..
ide atau tidak ada ide juga harus disyukuri..he,bos benni !!!!

5. Musthafa - 9 April 2008

Waw…masuk lagi, hebat….kapan neh tasyakkurannya dikirim ke Malag.🙂

Bang, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Begitu berarti. Hehehe….

Salam

6. yamin - 9 April 2008

Sip juga dech

7. bahul - 13 April 2008

ibid juga

8. Benni - 18 April 2008

Iya. Kok kita jarang ketemu ya. Padahal kita itu sangat dekat. Ya nanti kalau ada waktu saya usahakan. Sukses

9. HILMAN - 18 April 2008

jangan sering pake kata-kata liberal, ntar dimarahin para kiai tau rasa kamu al…!!🙂

10. aal - 18 April 2008

ok ben, sampai ketemu.
untuk Hilman, soal liberal itu sudah aku konsultasikan kepada kiai-kiai khos dan kiai sepuh. Mendapat restu juga dari para kiai kampung maupun kiai kota, he2…🙂

11. Dimas Prasetyo M. - 20 Desember 2009

Lalu, dampak dari liberal arts education itu sendiri apa ya pak kira2?? terima kasih atas pencerahannya🙂

12. aal - 25 Desember 2009

Dimas: sudah saya jelaskan di tulisan itu. silahkan dicermati. tks atas kunjungannya…

13. LIBERAL ARTS | kelompok6d - 21 Desember 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: