jump to navigation

Mebangkitan Islam Berwajah Iran 24 April 2008

Posted by aal in Esai.
trackback

Oleh: Ali Usman

Pencapaian kejayaan bangsa Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia tidak bisa serta merta menafikan perjumpaannya dengan kebudayaan negara lain. Salah satu pintu masuk untuk memeriksa kebenaran ini adalah lewat pelacakan masuknya Islam ke nusantara yang datang bergelombang dan berangsur-angsur sejak abad pertama Hijriyah (abad ke-7 Masehi).

Perlu disadari bahwa penduduk asli Indonesia bukanlah beragama Islam. Tetapi menganut agama atau ajaran yang bersumber dari Syiwa dan Hindu-Budha. Islam di Indonesia sebenarnya adalah “tamu”—untuk tidak mengatakan “penjajah”—yang kemudian dikenal dengan pengislaman atau islamisasi penduduk pribumi.

Ada dua teori klasik yang menjelaskan proses masuknya Islam pertama ke nusantara. Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lantaran dibawa oleh pedagang Arab atau Timur Tengah. Teori ini dalam sejarah dikenal dengan teori Arab, yang dipelopori oleh Crawfurd, Niemann, de Holander, dan termasuk Fazlur Ramhan (pemikir Islam kontemporer yang namanya tak asing lagi di tengah masyarakat Indonesia).

Kedua, teori Gujarat (India), yang mengatakan bahwa masuknya Islam ke nusantara lewat orang-orang India yang mempunyai motif sama dengan Arab, yakni berdagang. Kelompok ini dipelopori oleh Pijnapel yang kemudian diteliti lebih lanjut oleh Snouck, Fatimi, Vlekke, Gonda, dan Schrieke (Drewes: 1985)

Bertolak dari dua pandangan tersebut—dalam beberapa dekade yang amat panjang—pandangan “ekstrim” di atas diterima dengan baik oleh sejarawan dunia (dan juga Indonesia), hingga kemudian menjadi semacam mainstream. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1999) adalah termasuk tokoh muslim Indonesia yang juga ikut mengamini pendapat itu.

Baru di tahun 2003, sejarawan dan masyarakat kita digemparkan oleh terbitnya buku Arus Cina-Islam-Jawa; Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa Dalam Penyebaran Agama Islam Di Nusantara Abad XV&XVI yang ditulis oleh peneliti dan penulis muda bernama Sumanto Al Qurtuby. Sumanto mendedahkan fakta yang berbanding terbaik dengan “teori Arab” maupun “teori Gujarat” yang selama ini mengakar kuat di antara pengkaji Islam nusantara.

Masuknya Islam ke nusantara, menurut Sumanto, juga melibatkan peran Cina-muslim yang hal itu dapat disimak pada peninggalan-peningalan sejarah, seperti Ukiran padas di masjid kuno Mantingan-Jepara, menara masjid pecinaan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, konstruksi masjid Demak—terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya.

Bukti lain dapat ditambah dari dua bangunan masjid yang berdiri megah di Jakarta, yakni masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Bahkan lebih dari itu, Sumanto mendapati bahwa pada nama tokoh yang menjadi agen sejarah, ternyata telah terjadi verbastering dari nama Cina ke nama Jawa.

Nama Bong Ping Nang misalnya, kemudian terkenal dengan nama Bonang. Raden Fatah yang punya julukan pangeran Jin Bun, dalam bahasa Cina berarti “yang gagah”. Raden Sahid (nama lain Sunan Kalijaga) berasal dari kata “sa-it” (sa = 3, dan it = 1; maksudnya 31) sebagai peringatan waktu kelahirannya di masa ayahnya berusia 31 tahun.

“Islam Iran-Indo”

Sampai di sini, adakah sisi lain dari keragaman pendapat tersebut? Jawabannya ada. Yaitu “teori Persia (Iran)”, yang dalam pandangan saya, jarang mendapat porsi yang memadai di mata peneliti. Arus Islam Iran-Indonesia seolah (sengaja?) ditenggelamkan oleh sejarawan. Entah ini mungkin lantaran persoalan ideologi Iran yang masyarakatnya banyak menganut Islam syi’ah, sehingga mengakibatkan masyarakat Indonesia enggan meresponsnya—yang sudah lebih dulu menerima Islam sunni.

Maka pada aras itulah, sangat penting bila kita kembali membuka lembaran sejarah masuknya Islam melalui Iran. Penyemaian sejarah ini makin relevan, sebab hubungan negara kita dengan Iran sampai saat ini masih terpelihara dengan sangat baik. Kunjungan bilateral presiden Susilo Bambang Yudhoyuno yang bermuwajjah langsung dengan Ahmadinadjed beberapa waktu lalu, dapat dikatakan merupakan bukti nyata yang tak terbantahkan, bahwa dua negara tersebut memang bersahabat lantaran eratnya hubungan primordial masa lalu.

Terlebih, perjumpaan Islam Iran dengan masyarakat Indonesia waktu itu, tidak hanya bernuasa agama, tetapi dalam batas-batas tertentu, nilai-nilai budaya Iran ikut memperngaruhi ke(budaya)an kita—sebagaimana yang akan saya tunjukkan dalam tulisan ini.

Pada mulanya, tujuan utamanya adalah sama dan tidak jauh berbeda dengan “misi” orang-orang Arab dan India, yaitu berdagang. Karena alasan itulah, profesor Husein Djajadiningrat percaya dan berkesimpulan, bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Iran. Pengaruh Iran dalam pengembangan Islam di Indonesia bagi Husein teramat sangat besar, sehingga mustahil dapat terlupakan.

Mohammad KH. H. Azad—seorang kuasa usaha kedutaan besar Republik Islam Iran di Jakarta—mencatat setidaknya ada dua hal yang menjadi bukti kuat pengaruh Islam Iran bagi masyarakat di Asia Tenggara (khusunya Indonesia). Hal itu dapat dilihat pada corak budaya dan perkembangan sastra masyarakat setempat.

Pertama, pengucapan harakat Arab dalam bahasa Indonesia jabar dan pes. Tapi, dalam bahasa Arab disebut fatha, kasrah, dan dzammah. Di bulan Muharram, ada upacara Tabut dalam rangka peringatan syahadat Iman Hussein (cucu nabi Muhammad di Karbala). Upacara tersebut di Sumatera Barat disebut Tabut, di Aceh disebut bulan apui (api) atau bulan asanusen (Hasan dan Hussein nama cucu-cucu Nabi).

Ada lagi peneliti bernama Abu Bakar Aceh menulis tentang halim asyura, yang dalam bahasa Jawa disebut bubur suram. Orang Sunda menyebutnya bubur sora dan orang Aceh menyebutnya kanciacur. Peneliti Mohammad Amin Husein mengatakan bahwa di Iran ada satu kaum bernama Leren yang sama dengan di kota Giri, sedangkan di Jawa juga ada nama yang sama, dan juga ada kaum Iran lain bernama Jawi yang mengajari bahasa Jawa dengan tulisan Arab.

Kedua, pengaruh sastra Persia (Farsi) dalam sastra Melayu, menurut pengamatan Azad, menunjukkan Iran punya hubungan yang baik dan dalam dengan negara-negara di Asia Tenggara. Ini memperkuat pendapat Abdul Hadi W.M, salah seorang sastrawan dan penyair Indonesia yang mengatakan, “setelah berkembangnya kerajaan di Pasai (Sumatera) dan dibangunnya institusi-institusi ajaran Islam pada abad ke-14 Masehi, semua buku Melayu dan Jawa secara langsung merujuk kepada buku Farsi, khususnya buku irfani seperti Bustan, Gholestan Sa’di, dan Najjari Aljohari dalam buku Tajjus Salatin dan Nurudin Arraini dalam buku Bustanul Salatin”.

Kita juga bisa tengok, pada sastra lama Indonesia dalam bentuk hikayat, roman sejarah dan cerita rakyat sudah dipengaruhi juga oleh Iran. Sebagai contoh, buku Seribu Masalah karya syeikh Abdulrauf Singkil yang terkenal dari segi agama dan madzhab. Karya-karya Hamzah Fansuri tentang irfan, seperti Syarabol Asyeghin, Zinatatul-Muwahidin, Almuntaha wa Asrar Al-Arifin. Dari segi puisi, karya-karya Hamzah itu, antara lain, Syair Perahu, Ruba’i Hamzah Fansuri, puisi Burung Binggai, dan puisi Dagong.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketokohan Hamzah Fansuri tidak hanya dikenal sebagai sastrwan dan penyair, ia juga dikenal sebagai tokoh dan guru sufi nusantara yang mendapat transfer ilmu tasawuf langsung dari negara Iran. Murid-muridnya yang cemerlang cukup banyak, seperti Syeikh Syamsudin Pasai, Syeikh Hasan Fansuri, Syekih Abdul Djamal, Syeikh Daud, dan lain-lain. Semua itu telah banyak diulas dengan gamblang oleh Abdu Hadi W.M di beberapa tulisannya—terutama pada disertasinya yang dibukukan berjudul Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri (2001).

Akhir kata, apa yang ditulis di atas hanyalah secuil dari keluasan samudera perjumpaan Islam Iran dengan masyarakat Indonesia. Untuk kemudian, dapat ditindaklanjuti melalui penelitian dan tulisan-tulisan yang lebih serius. Dengan begitu, kita akan tahu, bahwa ternyata, proses akulturasi dan masuknya Islam ke nusantara tidaklah tunggal, tetapi dipengaruhi oleh banyak narasi.

Komentar»

1. Agus Wibowo - 25 April 2008

dimuat dimana lagui toean goerue? syeeeet, “ini ada kabar menarik, “begundal” bikin ulah lagi lho, hari ini dua media berhasil dijajah…padahal pasukanku sudah ngantri di perbatasan, tapi tuan rumah lebih memilih si “Begundal” he..he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: