jump to navigation

Antara Soeharto dan Jusuf Ronodipuro 6 Mei 2008

Posted by aal in Esai.
trackback

Tanggal 5 Mei 2008 diperingati sebagai 100 hari meninggalnya dua tokoh penting Indonesia: H. M. Soeharto dan Jusuf Ronodipuro. Di hari yang sama, tangal 27 Januari 2008 lalu, mantan presiden ke-2 RI, H. M. Soeharto (86) menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 13.10 WIB, dan Jusuf Ronodipuro (lahir 30 September 1919) tutup usia 88 tahun pada pukul 23.20 WIB.

Jusuf Ronodipuro dikenal sebagai penyiar radio yang menyiarkan pertama kali berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh wilayah di Tanah Air dan seluruh dunia pada 17 Agustus 1945. Namun sangat disayangkan, lantaran bersamaan hari atau waktu meninggalnya dengan mantan penguasa Orde Baru 32 tahun itu, sang penyiar tak banyak tersiar oleh media cetak maupun elektronik.

Masyarakat pun lelap terlena perhatiannya kepada sang jenderal besar. Tetapi tidak begitu dengan sang penyiar yang luput dari perhatian publik. Pejuang kemerdekaan ini mengembuskan napas terakhir setelah dirawat intensif selama lebih dari 40 hari di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Menurut pihak keluarga, salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI) itu menderita stroke disertai komplikasi radang paru-paru dan ginjal. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Siti Fatma, tiga anak, serta tujuh cucu.

Jika Soeharto dikebumikan dengan sangat “meriah”, penuh khidmat, dan digerumuli banyak masyarakat di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah, tidak dengan Jusuf Ronodipuro. Jusuf dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta yang sedikit agak sepi dari pelayat bila dibandingkan dengan sang jenderal.

Saya memang tidak begitu tahu dan mengenal banyak hal tentang sosok sang penyiar. Tetapi sejak menjadi “aktivis jalanan” pers semasa saya kuliah dahulu, saya pernah membaca sejarah pers Indonesia, yang di antara salah satu tokoh penting dan tak dapat dilupakan adalah Jusuf Ronodipuro. Setidak-tidaknya, melalui tulisan orang lain atau teman sejawatnya, saya sedikit lebih tahu dari pada mereka yang tak tahu sama sekali tentang perjuangan Jusuf Ronodipuro.

Untuk mengenang dan mengiringi 100 hari kepergian sang penyiar, ada dua kisah nyata yang menarik ditampilkan dalam tulisan ini. Pertama, seperti yang dikisahkan oleh Lusia Kus Anna, bahwa pada tanggal 14 Agustus 1945, Jusuf muda yang bekerja sebagai reporter di Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang di Jakarta) datang seperti biasa ke kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara.

Sepulang dari Kemayoran, Jusuf mendapat pesan dari Sukarni agar merebut radio Hoso Kyoku karena akan ada pengumuman sangat penting. Tetapi di pintu masuk kantor tampak tentara Kempetai berjaga-jaga dan melarang orang masuk ke kantor.  Karena Jusuf adalah karyawan, ia diizinkan masuk. Jusuf lalu menyampaikan pesan Sukarni itu kepada Bahtar Lubis yang sama-sama bekerja di bagian pengabaran (redaksi).

Hari itu pimpinan Hoso Kyoku menyampaikan dua pengumuman kepada para karyawan. Pertama, para karyawan yang sudah di kantor dilarang keluar lagi dan yang di luar tidak diizinkan masuk. Kedua, siaran luar negeri dihentikan (mungkin agar berita kekalahan Jepang tidak sampai ke rakyat Indonesia).

Jadilah mereka semua diisolasi di kantor radio dan terpaksa bermalam di sana. Esoknya, hari Kamis 16 Agustus 1945 tidak ada kejadian berarti, siaran berjalan seperti biasa. Malam harinya ada sedikit keributan di depan kantor, ternyata Sukarni datang bersama beberapa orang Jepang tetapi dilarang masuk. Dari dalam mobil, Sukarni berteriak, “Tunggu, akan ada pengumuman penting,” lalu ia pergi.

Hari Jum’at sore, pada 17 gustus 1945, sekitar jam 17.30, ketika Jusuf sedang menyiapkan menu berbuka puasa, masuk seorang teman dari kantor berita Dome (Jusuf lupa namanya). Dengan pakaian kotor dan basah oleh keringat karena ia meloncati tembok belakang kantor radio, ia menyampaikan secarik kertas bertuliskan tulisan tangan dari Adam Malik. Tertulis : “Harap berita terlampir disiarkan.” Lampiran berita yang dimaksud adalah naskah proklamasi yang sudah dibacakan pukul 10 pagi.

Untuk menghindari kecurigaan Kempetai, siaran tetap berjalan seperti biasa, tetapi kabelnya tidak diteruskan ke pemancar. Karena sesungguhnya yang disiarkan adalah proklamasi yang dibacakan Jusuf dari studio siaran luar negeri. Selama 15 menit mereka melakukan siaran gelap.

Tiba-tiba, Brak!! Pintu ruang redaksi ditendang. Dengan wajah merah padam karena murka masuklah tentara Kempetai. Beberapa staf radio yang berada di ruangan tersebut lari kocar-kacir. Mereka lalu menyeret Bahtar dan Jusuf ke sebuah ruangan. Di sana mereka menjadi bulan-bulanan kemarahan Kempetai, ditonjok dan ditendangi. Rupanya tentara Jepang baru tersadar bahwa Jusuf dkk berhasil lolos dari pengawasan dan melakukan siaran.

Dalam perjalanan pulang, ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian kaki dan dada akibat diinjak sepatu lars tentara (sampai sebelum berpulang kemarin, tempurung kaki Jusuf bengkok sehingga ia agak pincang saat berjalan).

Kedua, Rosihan Anwar, teman sebaya Jusuf juga menceritakan, bahwa pada suatu hari dia mendampingi Jenderal Surono sebagai Sekretaris Dewan Harian Angkatan 45, mengunjungi Presiden Soeharto untuk meminta persetujuan mengenai desain mata uang dari emas yang hendak dibuat memperingati HUT ke-50 RI.

Pada desain gambar itu terlukis kepala dua presiden, yakni Soekarno dan Soeharto. Setelah dilihat oleh Soeharto komentarnya hanyalah “kenapa dua, Satu saja cukup”. Sebagai orang Jawa tentu Surono paham apa maksudnya. Lalu ditanyakan bagaimanakah baiknya gambar bapak presiden itu?

Soeharto menjawab, “itu lho, seperti gambar yang ada di uang kertas itu”. Maksudnya, gambar Soeharto di tengah rakyat yang duduk di depannya. Jusuf ternganga mendengar keterangan Soeharto itu yang menunjukkan sekali bagaimana wataknya. Jusuf mau ngomong, tapi kakinya diinjak oleh Surono. “Hssstt, diam bae”, tulis Rosihan Anwar sembari mengenang sahabat dekatnya itu.

Kisah perjuangan Jusuf memang sering terlupakan dalam cerita-cerita sejarah revolusi, padahal berkat jasanya ia berhasil menyampaikan kabar kemerdekaan sampai ke negara-negara tetangga.

Selamat jalan sang penyiar. Kepergianmu yang selang beberapa jam setelah kepulangan sang jenderal besar, seolah kau juga yang menyiarkan. Kini tugasmu telah selesai mengantarkan bangsa ini menuju bangsa yang berdaulat. [Ali Usman]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: