jump to navigation

Ayat-ayat Cinta Hidayat Nur Wahid 15 Mei 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Seputar Indonesia, 15 Mei 2008

Oleh Ali Usman*

Begitu mendengar berita Hidayat Nur Wahid melamar seorang perempuan bernama Diana Abbas Thalib, sontak media mewartakannya sangant antusias—seperti yang tampak pada pertengahan April lalu. Begitu pula saat ketua MPR RI itu melangsungkan pernikahan pada 11 Mei 2008, media terus membuntuti dengan ragam sajian yang sensasional, termasuk koran ini juga yang menempatkannya di halaman utama (Seputar Indonesia, 12/05/2008). 

Ibarat jargon sebuah iklan: “semua mata tertuju padamu (Hidayat)”. Bak infotainment, kabar bahagia bagi keluarga besar Hidayat dan calonnya tersebut menjadi berita aktual. Pemberitaan politisi PKS itu semakin meledak disiarkan secara massif oleh media massa cetak maupun elektornik, lantaran presiden SBY dan wapres Jusuf Kallah sebagai saksinya.

Mengapa pemberitaan “wah” itu bisa terjadi? Saya punya pembacaan lain soal ini. Cobalah simak dan perhatikan prosedur dan seremonial prosesi “lamaran” dan walimahannya. Itu terkait dengan kemasyhuran film Ayat-ayat Cinta (AAC) yang sedang booming dan disukai oleh semua lapisan masyararakat. Benarkah?

Kemiripan peran antara dunia nyata Hidayat sangat mirip dengan apa yang terjadi di dunia fiktif di film AAC. Di film AAC, digambarkan bagaimana prosesi ta’aruf (perkenalan) Fahri dengan Aisha. Pasalnya, sebagaimana dilansir banyak media, ta’aruf ala AAC tergambar dalam relasi Hidayat dengan Diana, namun prosesnya lebih rumit.

Maklum, Fahri hanyalah mahasiswa biasa, sedangkan Hidayat adalah ketua MPR. Pertemuan dokter yang juga direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Indah, Jakarta dengan Hidayat ini dilakukan di rumah ibu Yoyoh, seorang guru ngaji sekaligus teman baik Hidayat.

Seperti proses ta’aruf dalam salah satu scene film AAC, pertemuan tersebut dihadiri Hidayat, Yoyoh berserta suami, dan beberapa saksi di antaranya teman Diana, dokter Femmy. Setelah ber-ta’aruf dan memperkenalkan diri masing-masing, kedua insan yang memiliki latar belakang sedikit berbeda itu ternyata mempunyai visu hidup yang sama (Suara Merdeka, 17/04/2008).

Pertanyaan berikutnya adalah, Sebegitu pentingkah informasi pemberitaan pernikahan petinggi PKS itu untuk diketahui oleh publik? Dan apakah memang masyarakat membutuhkannya?

Jika kesemua pertanyaan itu jawabannya “iya”, boleh jadi, masyarakat kita dalam menilai berita tersebut di satu sisi, tidak hanya pada ritual prosesi “lamaran” saja. Tapi lebih dari itu, juga terkait dengan sosok Hidayat, sebagai politisi, ustadz, dan guru moral.

Namun bersamaan dengan itu juga, disadari atau tidak, dengan memfokuskan diri pada berita perihal Hidayat dan Diana—yang sebenarnya berita biasa, yang semua orang juga bisa melakukannya—telah mengendapkan berita-berita lain yang jauh lebih penting untuk kehidupan masyarakat, seperti kemiskinan, kenaikan dan kelangkaan BMM, dan sejenisnya.

Masihkah itu dianggap demi kepentingan publik (public interest), sehingga layak dan menarik ditampilkan di liputan utama sebuah media massa? Pada aras itulah, pendapat Blumer (1998 ) barangkali dapat dijadikan tolok ukur.

Bahwa menurutnya, ada tiga hal yang berkaitan dengan public interest, yaitu, pertama, dalam kasus pemerintah. Adanya authority dan power dalam komunikasi, begitu juga media kekuasaan digunakan untuk melegitimasi sesuatu. Kedua, kualitas media (khususnya media penyiaran yang menggunakan frekuensi milik publik) melekat dengan urusan public interest. Ketiga, pengertian public interest mesti diberlakukan pada kenyataan yang tak sempurna dan tidak murni.

Politik pencitraan

Sebagai politisi yang saat sekarang menjabat sebagai orang nomor satu di jajaran MPR, berita seputar jalinan kasih pernikahan Hidayat dan Diana dapat pula dibaca secara politis. Asumsi ini jelas secara nyata absah, sebab segala gerak-gerik Hidayat telah menjadi “teks” ataun konsumsi masyarakat luas, yang dengannya bisa “disortir” dari arah mana saja.

Artinya, prosesi ta’aruf Hidayat hingga rencana ke jenjang pernikahan dengan Diana, dalam dunia politik dapat disebut ”simbol”, yang hendak dicitrakan kepada masyarakat luas. Hidayat mendobrak budaya dan tradisi kebanyakan orang Indonesia, yang biasanya untuk menuju pelaminan, pasangan harus melalui perkenalan yang amat lama atau dijalani layaknya anak muda berupa pacaran.

Jadi apa yang ditempuh Hidayat juga merupakan pencitraan dirinya sebagai panutan bagi para kader di internal PKS, dan masyarakat umum pada umumnya. Orang tentu akan melihat sisi positif yang dilakukan Hidayat, bahwa untuk menjalin hubungan dengan orang yang kita cintai berbeda jenis (bukan muhrim) tidak mesti melalui interaksi langsung. Model interaksi ini oleh mereka yang sepaham dengan Hidayat, disebut “metode Islami”.

Yang pasti, terlepas dari diskursus keabasahan model ta’aruf yang demikian, Hidayat yang merupakan tokoh sentral di PKS beserta “jema’ahnya” tampaknya terus secara konsisten membangun citra yang bersih, jujur, dan berani tampil beda dengan lainnya. Alhasil, kemenangan kader PKS menjadi kepala daerah di sejumlah tempat—seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Utara—saya kira, terkait erat dengan politik pencitraan PKS yang tetap terjaga amat baik di mata masyarakat.

Entah berikutnya. Apakah kemenangan PKS itu juga berlaku di Pilgub Jawa Timur,  Jawa Tengah, dan Bali yang sebentar lagi akan segera melangsungkan hajatan politik? Kita lihat saja nanti.

*Ali Usman, analis media, dan peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

Komentar»

1. HILMAN - 15 Mei 2008

yang jelas, Ayat-ayat Cinta Hidayah Nur Wahid tidak akan sekeren dan serumit Ayat-ayat Cinta Ali Usman. Ayat-ayat Cinta Ali Usman banyak pengorbanan, ditolak bekali-kali baru diterima, itupun ceweknya karena kasihan sama si Ali Usman. Sudah lolos tantangan pertama, kabarnya sekarang sedang menyusun strategi untuk menaklukkan calon mertua. Huuuhhh, Ayat-ayat Cintamu begitu rumit kawan…

Selamat yah…tulisanmu keren….!!

2. syaiful - 15 Mei 2008

hehe…

3. Hatim Gazali - 15 Mei 2008

Pak hilman, tolong jangan ngobrol persoalan ceweknya aal. Pikirkan dulu, siapa cewekmu? Biar status jomblo tak terus melekat padamu, kawan…..Cinta juga adalah bagian dari masa depan…falyatakkar

4. aal - 15 Mei 2008

betul itu man, kata pak hatim. kali ini aku sependapat dengan pak hatim kalo soal cewek. sekali2 kamu man, gandeng ceweklah, jangan bendera hijau+kombinsi hitam terus yang digotong, he2. wah, kalo ayat2 cintaku jelas lebih bagus dari Abik. ntr deh km man, tak tunjuk jd tukang make upnya ya pas syuting….🙂

5. Gus Bowo (kepingin jadi gus, sayang bukan NU he..) - 15 Mei 2008

yang jelas ayat-ayat cinta membawa berkah. buktinya sekarang dimuat lagi di suara karya…selamat pak…memang bangsa ini lagi “Histeria Ayat-Ayat Cinta”….jadi semua serba ayat-ayat cinta he…he. Tapi kayaknya tuan hilman (William) salah deh, coz kayaknya Pak AAL itu super dingin ma cewek…kemungkinan besar ceweknya dulu yang nyerang… itu menurut ramalan tuan begundal..
Apapun, selamat buat pak guru, semoga bsa mempersiapkan diri menghadapi kedatangan CALMER. di buat se “Dewasa” mungkin biar dia mempercayakan anaknya. kalau tidak, bisa2 si Caurie di kasih ma santrinya yang lain..lak yo ciloko to mas?????

6. aal - 15 Mei 2008

waduh2, thanks gus, atas petuahmu. btw, CALMER itu merek minuman impor ya? he he he…

7. bahul - 18 Mei 2008

ternyata AAC membuat heboh….

8. Benni - 18 Mei 2008

Ya, Al. Saya sering kirim ke sana tapi baru berhasil tulisan ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: