jump to navigation

Menggiring Bola BBM 8 Juli 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Pikiran Rakyat, 26 Juni 2008

Oleh Ali Usman

Begitu Piala Eropa ke-13 resmi ditabuh di stadion St Jakob Park, pada 7 Juni 2008 lalu, publik dan masyarakat dunia menyambutnya dengan sangat antusias. Tak ketingalan, di negara kita, pelbagai acara, baik disiarkan langsung oleh TV swasta maupun lembaga independen komunitas tertentu, meluapkan kebahagiaanya dengan melototi pertandingan sepakbola akbar di tahun ini hingga dini hari.

 

Animo masyarakat yang begitu tinggi di seluruh penjuru duania terhadap persepakbolaan dunia itu, semakin menguatkan asumsi bahwa sepak bola memang olah raga yang paling disukai oleh semua lapisan masyarakat. Tak peduli tua, muda, remaja, laki-laki, perempuan, pengusaha, buruh, kuli, dan lain sebaginya, berduyun-duyun menjadi satu demi menyaksikan sang bola ajaib.

 

Karena itu, kegandrungan masyarakat terhadap sepak bola  telah mengglobal di seluruh penjuru dunia. Ini ditandai dengan banyaknya penonton atau suporter yang mengiringinya dalam setiap pertandingan. Bahkan dalam batas-batas tertentu, banyak negara menjadi besar dan terkenal lantaran prestasi sepak bolanya sangat bagus.

 

David Beckham, Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, Rooney, dan lain-lain, misalnya, konon lebih dikenal oleh masyarakat umum daripada Perdana Menteri Inggris ataupun presiden Brasil. Begitupula di Indonesia, pemain-pemain nasional seperti Boaz Solossa, Hamka Hamzah, dan Bambang Pamungkas seolah lebih dikenal oleh masyarakat daripada nama-nama pejabat seperti menteri ataupun kepala daerah (Handoko, 2008).

 

Dalam konteks saat ini, di Indonesia, menjadikan sepak bola sebagai sebuah hiburan tentu sah-sah saja dan tak ada larangan atasnya. Tetapi disadari atau tidak, lantaran perhatian masyarakat terhadap Euro 2008, seolah melupakan pelbagai problem krusial yang melanda bangsa kita. Dalam hal ini, kebijakan pemerintah yang menuai kontroversial, yaitu kenaikan BBM yang berlaku sejak akhir Mei lalu.

 

Sayang seribu sayang, masyarakat kita, terutama kalangan muda (mahasiswa), yang semula menjadi garda depan dalam setiap aksi-aksi penolakan kenaikan BBM, lihatlah kini, mereka malah berpaling dan terbuai dengan aksi pertandingan sepak bola dunia. Mereka, para pendemo yang konon siap pasang dada demi membela hak-hak rakyat, tidak lagi mengamati perkembangan politik di Istana, namun mata, hati, dan pikiran mereka tertuju jauh ke daerah seberang, Austria-Switzeriand.

 

Asumsi-asumsi mendasar di atas tentu buklanlah fakta yang mengada-ada. Tengoklah sendiri, pascadiresmikannya pembukaan Eoro 2008, heroisme masyarakat menolak kenaikan BBM mulai menyusut. Sepi, tak ada lagi terdengar kata “perlawan” terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang mencekik nasib rakyat kecil.

 

Kondisi ini juga diperparah dengan konflik dan kerusuhan penyerangan jema’ah FPI terhadap anggota AKKBB di Monas, 1 Juni 2008. Tragedi Monas itu juga disinyalir mampu mengalihkan perhatian masyarakat dengan paradigma politik “adu-domba”, yakni antara anggota AKKBB, warga NU, dan elemen terkaitnya dengan FPI. Bahkan, sejumlah kalangan dan analis politik, seperti Amien Rais, mencurigai insiden kekerasan di Monas sengaja direkayasa pemerintah untuk memuluskan agenda kenaikan BBM (Suara Merdeka, 6/06/2008).

 

Lantas, apa yang bisa kita harapkan dari kemandulan kondisi ini, bila tak ada lagi pekikan massa dalam menuntut pertanggungjawbaan pemerintah atas kenaikan BBM? Dapatkah masyarakat terbangun kembali dari istirahatnya di tengah-tengah himpitan arus pembuaian lewat pertandingan sepak bola?

 

Pertanyaan itu hemat saya, sangat penting ditancapkan bagi setiap insan untuk dapat mengimbangi budaya massa yang terus berkompetisi mendapat simpati dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Jika hal ini gagal dilakukan, maka jelas telah menjadi bukti nyata dan kuat, masyarakat kita sungguh benar-benar terhipnotis dengan tendangan pisang Ronaldo yang menjurus tajam ke gawang lawan. Sementara di sisi lain, kita pun harus rela, “bola BBM” malah digiring ke tempat sampah, dikubur, dan menjadi pemanis bibir belaka di antara banyak kalangan.

 

Berharap pada media

Maka dari itu, di antara secuil harapan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar tetap terus bersiaga dan mengontrol kebijakan pemerintah, terkait dengan kenaikan BBM, optimisme sebenarnya dapat muncul dari provokasi dan liputan media. Mungkin (untuk sementara waktu), masyarakat memang terlena dengan buaian hiburan sepak bola, tetapi kita berharap, media baik cetak maupun leketronik tidak ikut terlena atas hal itu.

 

Media massa seyogianya tetap menyediakan ruang-ruang adventorial untuk pelipuatan perkembangan ekonomi dan kondisi masyarakat pascakenaikan BBM. Peliputan dampak kenaikan BBM diharapkan dapat terpotret setiap waktu, sepanjang masa–sebagaimana pula yang ditunjukkan media dalam meliput secara massif perkembangan Euro 2008.

 

Dalam beberapa hari ini, terhitung sejak tanggal 8 Juni (kesokan hari pascaperesmian Euro 2008), saya selalu menyempatkan diri hunting ke banyak media, dengan menelisik adakah salah satu media (terutama cetak) yang melewatkan atau tidak meliput gemuruh Euro 2008? Alhasil, tidak hanya koran nasioanal, yang memang saban hari menyajikan liputan olahraga, tetapi koran-koran lokal yang biasanya fokus pada isu-isu seperti kriminal dan dunia gaib pun, secara tiba-tiba ikut larut mendedahkan sajian informasi Euro 2008. Alamak!

 

Rasanya tak lengkap bila untuk saat ini, koran tak meliput perkembangan aktual Piala Eropa dengan segala kemegahannya itu. Tak tanggung-tanggung, sekadar informasi, bahwa stasiun televisi RCTI dipastikan meraih Rp 450 miliar dari penayangan Euro 2008, baik dari iklan acara maupun off air (Bisnis Indonesia, 7/06/2008).

 

Di sinilah, idealisme media dipertaruhkan, apakah akan terjebak pada liputan yang menguntungakan kepentingan-kepentingan global, atau dapat mempertahankan kepentingan masyarakat lokal. Kebutuhan publik terhadap informasi yang berimbang sangat ditekankan.

 

Artinya, di samping liputan bola yang memang (mungkin) menjadi kebutuhan bagi banyak lapisan masyarakat, sudah semestinya media juga tidak melewatkan informasi yang sifatnya pemberdayaan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap kesenjangan sosial yang diciptakan oleh sistem sosial yang ada. Semoga!

Komentar»

1. HILMAN - 8 Juli 2008

goooaaallllll…..!!!! BBM kebobolan lagi…!!

2. Syaiful - 9 Juli 2008

BBM=BUKAN BAHAN MENULIS!!!

3. aal - 9 Juli 2008

BBM = Bahan Bakar Menulis
he he he…

4. AGus Wibowo - 10 Juli 2008

Selama Masih diperkenankan “Nyantri Di Pondok Deritamu” Saya akan terus produktif menulis pak….heeeee, tapi saya bukan penindas lho, saya khan pencinta ,,,,trim selalu. Salam Tabik

5. AGus Wibowo - 10 Juli 2008

Oh ya…kapan saya diajari Chatting????? saya masih gagap teknologi je..he..he maklum orang gunung

6. Edy Firmansyah - 16 Juli 2008

Salam kang Aal. panjenengan itu ono-ono wae. tapi cerdas!

7. aal - 16 Juli 2008

kok?🙂

8. Akhmad Arifin - 18 Juli 2008

kebalik, Man
pemerintah sengaja menaikkan harga BBM itu untuk mengalihkan perhatian dari Sepak Bola Piala Eropa.

9. syaiful - 19 Juli 2008

Bos, jangan lupa, sempatkan buka http://www.gudangkliping.blogspot.com. Tq.

10. aal - 21 Juli 2008

ok. meski ada2 aja.🙂

11. BEnni - 23 Juli 2008

Al, tulisan yang di Kontan dan PR diupdate dong.
Nuwun

12. aal - 24 Juli 2008

wah, tulisan di PR dan Kontan mana ya?🙂

13. dhe - 26 Juli 2008

Al, aku sudah berburu informasi kesana kemari. Tapi tetep aja ga nemu itu nomer telpon khudori.
Maafkan, yach…
Ntar, kalo dapet, aku kasih tau ke dirimu seorang saja.

14. aal - 26 Juli 2008

he2. matur tangkyu den. maap, dah ngerepotin. km baik deh…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: