jump to navigation

Relasi Sosial dalam Budaya Carok Madura 3 Agustus 2008

Posted by aal in Esai.
trackback

Dilansir dari Media Indonesia, 3 Agustus 2008

Oleh Ali Usman*

Ada sebuah kesan menarik selama saya beriteraksi dengan banyak orang di luar masyarakat Madura. Oleh mereka—yang memang notabene bukan dari etnis Madura—beranggapan bahwa orang Madura itu, katanya, bisa bermakna ‘madu’ dan ‘racun’ sesuai nama pulau itu. Seketika saya langsung tersentak kaget, dan bertanya balik, apa maksudnya?

 

Dikatakan madu, pasalnya, adalah mengacu pada hubungan sosial antar sesama, yang hal itu dapat terpotret dalam pertemanan (friendship) mereka, baik sesama orang Madura maupun dengan di luar masyarakat Madura. Tali persahabatan tersebut, tak jarang melebihi kedekatannya dengan saudara atau kerabatnya sendiri. Benarkah demikian? Kita lihat nanti.

 

Sementara orang Madura dikatakan racun, bertumpu pada sebagian sifat kerasnya disertai dengan pendendam. Dari situlah, masyarakat Madura kemudian selalu diidentikkan dengan budaya kekerasan (baca, carok) yang melekat kuat pada laku dan tindak-tanduk perilaku individunya.

 

Tetapi untuk menjelaskan sekaligus membuktikan kebenarannya, kita perlu menengok relasi sosial yang sebenarnya di antara mereka. Dan salah satu pintu masuk untuk mengeceknya adalah dengan menelaah konsep persaudaraan (dalam bahasa Madura disebut taretan).

 

Hakikat persaudaraan

Bagi masyarakat Madura, persaudaraan tidak selalu identik dengan hubungan darah kekerabatan, tetapi juga pada pertemanan. Persaudaraan yang mungkin masih satu rumpun keluarga, bisa saja berubah menjadi permusuhan lantaran ada problem yang tak dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Relasi seperti itu, lalu secara kolektif biasa disebut dengan teman (kanca) dan musuh (moso).

 

Kedua macam bentuk relasi sosial ini berada dalam suatu rentang tingkat keakraban, yang pada dasarnya masing-masing berada pada titik ekstrim. Artinya, teman merupakan relasi sosial dengan tingkat keakraban paling tinggi, dan sebaliknya, musuh merupakan relasi sosial dengan tingkat keakraban paling rendah.

 

Dengan demikian, adalah benar kondisi kehidupan sosial-budaya orang Madura tidak selalu dalam suasana yang harmonis, tetapi diwarnai pula oleh konflik. Di mana, kondisi kehidupan harmonis ditandai oleh dominannya semangat pertemanan, sedangkan kondisi kehidupan yang bernuansa konflik ditandai oleh dominasi perasaan permusuhan (enmity).

 

Dalam konteks inilah, menurut Latief Wiyata (2002), peristiwa carok ada dasarnya merupakan manifestasi dari relasi sosial yang tingkat keakrabannya sangat rendah, karena didominasi secara signifikan oleh rasa permusuhan. Dengan kata lain, peristiwa carok hanya akan terjadi jika pelakunya berada dalam kondisi bermusuhan (amoso).

 

Menurut pengertian orang Madura, bala, selain menunjuk pada pengertian teman, juga menunjuk pada orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan, sehingga bala seringkali diartikan identik atau sama dengan taretan. Ada tiga klasifikasi konsep taretan: taretan dalem (kerabat inti atau core kin) seringkali disebut juga sebagai bala dalem; taretan semma’ (kerabat dekat atau close kin) sebagai bala semma’; dan taretan jau (kerabat jauh atau peripheral kin) sebagai bala jau. Selanjutnya, ada bala dalam arti taretan atau diistilahkan dengan bala taretan, dan ada pula bala dalam arti bukan termasuk taretan, atau dalam terminologi lain lazim disebut kanca (teman) (Wiyata, 2002).

 

‘Bala’, ‘moso’, dan carok

Apa yang telah dipaparkan di atas barangkali terlalu rumit untuk dipahami secara teoritis, tapi dalam realitas sosial sebenarnya sangatlah mudah dan bisa berjalan secara natural. Begitu pula bila hendak memahami kebalikan dari konsep taretan itu, yaitu moso (musuh). Pengertian moso dalam konteks konflik kekerasan carok, adalah seseorang atau kelompok orang yang harus dibunuh, karena dianggap telah melakukan pelecehan harga diri.

 

Mirip dan hampir serupa dengan konsep taretan dalam hal relasi sosial, moso dibedakan menjadi dua kategori, yakni moso dalem dan moso lowar. Moso dalem adalah musuh dari lingkungan keluarga sendiri, sedangkan moso lowar adalah musuh yang tidak mempunyai ikatan kekeluargaan atau bukan dari lingkungan keluarga sendiri.

 

Baik moso dalem maupun moso lowar, Wiyata memberikan penjelasan lebih terperinci lagi dengan membedakannya ke dalam dua hal; antara moso mata dan moso ate. Moso mata adalah seseorang atau sekelompok orang yang secara terang-terangan diperlakukan sebagai musuh, sehingga carok dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Sedangkan moso ate adalah seseorang atau sekelompok orang yang dalam pergaulan sehari-hari tidak secara terang-terangan diperlakukan sebagai musuh, tapi diperlakukan seolah-olah sebagai teman.

 

Konsep bala dan moso dalam konteks yang sama dikenal juga oleh masyarakat Sulu, khususnya suku Tausung di Filipina Selatan (Kiefer, 1972: 59-65). Berdasarkan temuannya dari kegiatan penelitian antropologis tentang kekerasan (violence) yang pernah dilakukan di sana, Kiefer menyatakan bahwa pertemanan (friendship, bagay) dan permusuhan (enmity, bantah) merupakan dua konsep yang selalu muncul dalam organisasi sosial masyarakat ini.

 

Bahkan, kedua konsep tersebut menjadi semakin penting bila dikaitkan dengan kondisi  kehidupan masyarakat Sulu, yang setiap harinya selalu menghadapi konflik dengan kelompok masyarakat lain. Karena itu, sejalan dengan konsep bala dan moso dalam masyarakat Madura, menurut Kiefer, cara terbaik untuk memahami kedua hal tersebut adalah dengan menjabarkannya secara rinci, sehingga dapat terlihat hubungan tentang arti dan maknanya.

 

Jadi dengan memahami konsep taretan dalam tradisi dan budaya masyarakat Madura, sama halnya dengan mengetahui pola hubungan antar masyarakat yang satu dengan yang lainnnya. Konsep taretan bagi orang Madura sangatlah terbuka (inklusif) bagi masyarakat luar dan atau di luar kekerabatannya.

 

Menjadi taretan bagi orang Madura cukup dengan menjadi kanca yang dalam klasifikasi berikutnya dibagi berdasarkan kualitasnnya. Jika kualitas hubungan yang terjalin sebatas hubungan pertemanan biasa, orang Madura menyebutnya kanca biyasa, tapi jika kualitas hubungan menjadi akrab disebut kanca rapet.

 

Nah, pada kualitas yang kedua itulah, kanca rapet, yang kualitas pertemanannya mencapai hampir tidak berbeda dengan persaudaraan darah, maka bisa dianggap dan diperlakukan juga sebagai anggota keluarga atau taretan. Itulah sisi lain dari akar relasi sosial masyarakat Madura.

*Ali Usman, pengkaji kebudayaan Madura, dan jamaah masjid al-Muhajirin di Kebun Dadap Barat-Sumenep.

Komentar»

1. Benni - 4 Agustus 2008

media indonesia, makyossssss

2. Musthafa - 4 Agustus 2008

Menabi ngak genekah, saonngunah masyarakat madureh lakar kentel dengan nuansa taretanan se teggih. Ca’epon oreng madure sering dijodohkan molae ghi’ kene’. manabi panjenengan kadi ka’dimmah? Hehehe

Kemana Aja Bang, kok jarang muncul di dunia maya

Salam

3. yamin - 4 Agustus 2008

Bagus, sejak kapan jadi pengamat madura? Itu satu hal yang perlu dilestarikan…. Sip….

4. aal - 4 Agustus 2008

Benni, thanks.
Musthafa, aku gak ambil paket jodoh molae gi’ kene’. soal itu, aku melanggar tradisi Madura, he2. Iya ni, lg bersemedi di dunia nyata🙂
Yamin, kalo bukan kita yang menggali budaya sendiri, siapa lagi. Ya sekadar coba-cobalah. Sejak saat ini, aku mau mengembangbiakkan hal baru itu min, he2. thanks

5. yamin - 5 Agustus 2008

Aku sepakat dengan itu karena sudah banyak putra-putra madura ketika sudah go public seolah sudah melupakan identitas awalnya, seakan a-historis. Ini sangat ironis, ibarat kacang lupa sama kulitnya…

6. Agus Wibowo - 6 Agustus 2008

Tampaknya perusahaan blogger di Indonesia perlu membuat undang-undang menggunakan bahasa indonesia saja dalam komunikasi, takutnya kalau para dewa juga menggunakan bahasa sendiri, Artalita menggunakan bahasa sendiri, para makhluk halus juga menggunakan bahas itu..he,he.
Bukan sebuah kekaguman, tetapi memang analisis Gus Aal pada artikel ini sangat mantab plus objektif. Oleh karena itu, tidak ada salahnya media massa yang belum mempunyai editor budaya khusus madura, bisa meminang Gus Aal…salam, TABIK.

7. aal - 6 Agustus 2008

he he he untuk Yamin, dan juga Agus…

8. IPUL - 9 Agustus 2008

BUAT AAL, AGUS, YAMIN, BENNI: A K U KAGUM PADA KONSISTENSI KALIAN. SEPERTINYA, AKU HARUS BELAJAR PADA KALIAN.

9. SYAIFUL - 9 Agustus 2008

AL, SELAIN MENULIS, APA AKTIVITASNYA SEKARANG?

10. aal - 10 Agustus 2008

aku jarang nulis, jarang dimuat lagi pung. menulis kadang membuatku jenuh. entahlah… tp saya tetap berusaha untuk mengatasi itu. aktivitas yang siap menghadang, kuliah bos…. he2.

11. yamin - 10 Agustus 2008

Semangat……

12. Agus - 11 Agustus 2008

Kagem Pak IPUL…….keluaran energi tuan mingke, biar ide menulis terus mengalir…

13. Edy Firmansyah - 13 Agustus 2008

Jarang berkunjung, jadi kelewatan tentang Madureh nih. Aal memang kreatif. TOP-lah!

14. aal - 14 Agustus 2008

ah, itu biasa bos Edy, yang semua org juga bisa menulis. dikau juga pasti bisa menulis ttg tanah kelahiran. marik jek koloppae ka madure kek, . Madure itu sogi dengan ilmu pengetahuan, he2

15. Edy Firmansyah - 19 Agustus 2008

Om Aal, Boleh tidak saya muat Artikel Anda ini di Majalah FOKUS. sebuah majalah lokal yang terbit di Madura. Mohon Ijin???

16. aal - 19 Agustus 2008

boleh saja, dengan senang hati. aku kirim teks aslinya aja ke emailmu gi. tp ntr kalo bisa, aku minta majalahnya… thanks be4.

17. Edy Firmansyah - 20 Agustus 2008

Beres, Pak Bozz! kirim saja ke stapers2002@yahoo.com. beserta alamat sampeyan. SUWON SENG AKEH.

18. Deas Syah - 30 April 2012

se penting jek manyala ka oreng madureh

19. Muhammad Haqiqi - 16 Agustus 2012

Galanon nompang lebat ! Abdinah katoronan Oreng Madura se bada e Banyuwangi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: