jump to navigation

Menjajaki Bursa Capres Golkar 13 Agustus 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Suara Karya, 13 Agustus 2008

Oleh Ali Usman*

Suhu politik jelang Pemilu 2009 kian memanas. Para politisi kita tidak lagi mengandalkan “silat lidah” dengan memunculkan pelbagai ragam statamen politiknya yang satu dengan yang lainnya terasa saling menyerang, tetapi juga telah mengarah pada deklarasi diri sebagai capres RI mendatang. Jegal-menjegal antar calon pun semakin terlihat terang-benderang. Isu terakhir yang muncul ke permukaan adalah soal pentingnya pemimpin muda.

 

Secara sinis, mereka yang mengatasnamakan kamu muda melakukan pelemparan wacana, bahwa mereka tidak lagi menghendaki negeri ini dipimpin oleh kaum tua atau yang “itu-itu saja”. Akibatnya, dikotomi pun terjadi, yang menurut sebagian kalangan, sebenarnya sangat tidak produktif untuk dilestarikan, sebab menyalahi aturan demokratisasi itu sendiri. Bukankah aturan main demokrasi mengandaikan adanya kebebasan hak individu tanpa memandang usia (umur), kelas, dan derajat tertentu?

 

Tak heran, bila Megawati, pentolan PDIP itu menanggapinya secara reaksionir dan menantang bagi mereka yang hendak mencalonkan diri sebagai capres dari kalangan muda. Hal yang sama juga datang dari Jusuf Kalla, wakil presiden RI dan ketua umum Golkar, dengan sedikit memberikan statemen politik yang amat arif dan bijak.

 

Kepemimpinan, kata Kalla, terkait erat dengan kapabilitas atau kemampuan dan kedewasaan pikiran seseorang. Usia dan umur hubungannya dengan kesehatan. Tapi kalau kemampuan dan pikiran berhubungan dengan kearifan. “Kalau ada yang tua tapi tidak arif, ya tidak bisa disebut orang tua. Ada juga usia muda tapi kalau kurang fit, ah susah juga itu jadi pemimpin” (Rakyat Merdeka, 23/07/2008).

 

Apa yang diutarakan Kalla di atas seolah hendak meneguhkan bahwa kaum muda haruslah inovatif. Jangan cuma berpolitik untuk mengejar jabatan atau posisi strategis. Jadi di sini, pemuda di samping harus berani dan percaya diri jika memang hendak memimpin negeri, juga harus punya moral, fair dan konsistensi.

 

Bursa capres Golkar

Lepas dari kontroversi pentingnya kaum muda dan kaum tua tersebut, hal menarik lain yang menarik diangkat adalah terkait dengan apa yang diutarakan Jusuf Kalla itu, boleh jadi, merupakan suara dominan secara institusional Golkar. Ini menyangkut suksesi capres-cawapres dari partai berlambang pohon beringin itu.

 

Sampai hari ini, tokoh-tokoh dan para petinggi Golkar banyak berdiri tegak hendak menaiki kursi presiden RI. Di antara mereka yang berhembus ke publik setidaknya ada lima orang penting—sebagaimana dilansir banyak media—yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jusuf Kalla, Agung Laksono, Akbar Tandjung, dan Ginandjar Laksono. Bahkan Sri Sultan, oleh beberapa lembaga survei independen pernah dinobatkan sebagai pemimpin ideal tahun 2009.

 

Di luar itu, tentau saja banyaknnya bursa capres dari Golkar tidak menunjukkan buruknya kondisi internal partai. Tetapi sebaliknya, mengisyaratkan adanya ruang dinamisasi partai, dan menjadi bukti kuat akan demokratisasi yang hidup dan tumbuh berkembang di Golkar. Golkar pada hemat saya, berbeda dengan partai lain karena memiliki kader yang potensial, jika dilihat dari pengalaman mereka, dan juga di dalamnya, banyak “tersimpan” tokoh-tokoh nasional yang siap kapan saja mereka maju menjadi pemimpin bangsa.

 

Pengalaman kepemimpinan kader Golkar dapat disimak dari bursa capresnya. Sri Sultan, selain dikenal sebagai politisi, juga sekian lama menjadi pengayom masyarakat Yogyakarta; Jusuf Kalla seperti kita tahu berpengalaman mendampingi SBY sebagai wakil presiden; Agung Laksono sebagai ketua DPR pusat; Akbar juga merupakan politisi ulung yang sudah memakan kenyang pahit-manis politik; dan Ginadjar adalah ketua DPD RI. Ini belum lagi Surya Paloh, misalnya, yang bisa jadi, akan juga meletup kapan saja ke permukaan— sebagaimana yang pernah terjadi pada pemilu 2004—meski entah sebagai apa nanti.

 

Hanya saja, persoalannya adalah apakah rakyat menghendaki dengan memilih salah satu di antara mereka sebagai pemimpin? Termasuk juga, bagaimana bila memang rakyat benar-benar menghendaki pemimpin muda? Siapkah Golkar menampik anggapan bahwa pemimpin tua sepantasnya “menyingkir” dari parlemen?

 

Baru-baru ini saya menghadiri launching dan bedah buku Beyond Parlemen, karya Yuddi Chrisnandi di Yogyakarta. Dalam buku itu, dan diutarakan lagi oleh anggota DPR Komisi I tersebut, bahwa dirinya siap ikut berlaga menjadi capres jika partai yang menaunginya (Golkar) memang menghendaki untuk maju. Dari situlah, barangkali ini modal penting bagi Golkar jika memang publik menghendaki pemimpin muda dari segi usia di bawah 50 tahun.

 

Tetapi saya kira, melanggengkan isu pemimpin muda dari segi usia tidaklah begitu sehat untuk diteruskan di negara yang menganut sistem demokrasi. Tidak hanya soal diskriminasi, tetapi bisa menjurus pada persoalan truth cklaim, pemvonisan terhadap kelompok tertentu yang dikategorikan tua (dari sisi usia) bahwa mereka tidak kompeten lagi, jika dibandingkan dengan kelompoknya sendiri, kalangan muda. Benarkah demikian?

 

Perihal kepemimpinan, hemat saya, hal yang paling penting diutamakan adalah kapabilitas atau kemampuan. Kapabilitas yang dimaksud tentu merujuk pada banyak hal, baik menyangkut langsung soal kemampuannya dalam memimpin (leader) roda pemerintahan, intelektualisme, dan termasuk kesiapan mental sebagai pemimpin. Barulah jikalau ada sosok yang demikian, jelas tidak lagi memedulikan apakah mereka berusia muda atau tua. Mereka berhak mengajukan untuk dipilih, dan lagi-lagi, disinilah pertarungan itu nanti bakal ditentukan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat.

 

Akhirnya, apapun yang terjadi di pemilu 2009, saya yakin partai sekelas Golkar bakal siap menghadapi tantangan dan resiko yang menghadang, meski kemungkinan terburuk sekalipun. Apalagi, “seburuk-buruknya” kesan negatif yang ditudingkan terhadap Golkar lantaran pernah melakukan “selingkuh politik” dengan Orde Baru, kader-kadernya ternyata masih “laku” di mata rakyat dan parlemen. Pemilu 2004 yang menjadikan Jusuf Kalla sebagai wapres adalah bukti nyata. Tapi entah di 2009 nanti.

*Ali Usman, analis sosial-politik

 

Komentar»

1. Edy Firmansyah - 13 Agustus 2008

Selamat Atas SK-nya. TABIK!

2. Benni - 13 Agustus 2008

Al, besok kalau akbar tanjung jadi capres, kira-kira kamu milih jadi menteri apa?

3. yamin - 13 Agustus 2008

Sip…..

4. aal - 14 Agustus 2008

untuk Edy dan yamin, terima kasih…
untuk Benni, dalam dunia politik, gak etis ben, kalo aku harus bilang sekarang. ya nantilah, sabar ya… km mau jadi stafku gak? he2…

5. Benni - 14 Agustus 2008

Boleh kok al, santai aja. memang realitas yang selalu membenturkan kita untuk terus berkarya. tanpa itu mungkin kita “:tidak bisa hidup”.
Sukses, nanti kalau jadi menteri jangan lupa saya ya. saya jadi stafmu juga boleh kok. hehe

6. agus - 14 Agustus 2008

Saya jadi apa pak….asal jangan jadi yang mbawakan tas atau memayungi saat mo masuk mobil lho…????

7. Musthafa - 14 Agustus 2008

Loch, tak kirain pean ikut jalur independen mas, bareng Fadjroel (Hehehe). Kalo aku mah ikut Golker aja mas (Golongan Kere) soalnya kalo Golkar di Jatim mah jadi Golek Karawitan. Salam…

8. aal - 15 Agustus 2008

untuk semua, adda2 azzaaaa… he2🙂

9. yamin - 15 Agustus 2008

oyi

10. agus - 16 Agustus 2008

Waduh…waduh…he..SELAMAT HARI KEMERDEKAAN, SEMOGA UNTUK SESAAT KITA MERDEKA DARI
1. Penindasan redaktur
2. Pengekangan Calon Istri
3. Utang-utang
4. Ritualitas
5. merdeka dari opo yo?????
Sekali lagi “MERDEKA” ??????????

11. dhe - 17 Agustus 2008

Al, kabar ku baik. Semoga dikau juga selalu begitu baiknya…

Nikahlah kamu, Aal..sebelum engkau dinikahi orang lain….
hahahaha………

Buat Agus: Gus, saya tambahin lagi ya:
6. merdeka dari honor tulisan yang selalu datang tak tepat waktu…
hahahaha………

12. aal - 17 Agustus 2008

satu untuk semua: baggouuuusss,,,🙂

13. Agus - 18 Agustus 2008

Blandongan-blandongan????

14. supris - 18 Agustus 2008

merdekaaaaaaaaaaa….!!!!!

15. yamin - 20 Agustus 2008

Terkait obrol2an dulu, tulisannya sudah dimuat di JP. Selamat…

16. aal - 20 Agustus 2008

he he he. iya tu,, thanks🙂

17. bayu - 30 Maret 2009

salam wat golkar………………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: