jump to navigation

Menimbang Caleg dari Kalangan Intelektual 20 Agustus 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Jawa Pos, 21 Agustus 2008

Oleh Ali Usman*

 Ada saja yang menarik untuk disimak setiap kali memasuki masa-masa proses pendaftaran calon legislatif (caleg). Termasuk pada Pemilu 2009, yang penyerahan berkas formolirnya telah berakhir 19 Agustus kemarin. Sejak masa pendaftaran dibuka oleh KPU, komposisi caleg sangat beragam, mulai dari kalangan pengusaha, kader partai, aktivis, artis, tokoh intelektual, ada juga olahragawan (mantan juara), dan lain sebagainya.

 

Oleh sebagaian kalangan, fenomena itu barangkali bukan suatu hal baru lagi di alam demokrasi Indonesia, yang jika ditelisik lebih jauh, pernah terjadi pada pemilu sebelum-sebelumnya. Namun di antara tumpukan formulir yang terkumpul di KPU, hal menarik yang perlu diungkap, menurut saya, adalah keikutsertaan tokoh intelektual (muda) yang dengan terang-terangan menceburkan diri ke dalam politik praktis atau ikut “nyaleg”.

 

Setidaknya ada beberapa nama yang saya kenal lewat pertemuan langsung dengan mereka, maupun lewat pandangan-pandangan kritisnya yang dikemukakan dalam betuk tulisan di media massa. Saya mau menyebut dan mengemukakan dua orang saja; Zuhairi, sebagai intelektual muda NU, dan Indra J. Piliang, seorang peneliti dan analis politik di Center for Strategic and International Strategic (CSIS).

 

Mas Zuhairi—begitu saya biasa memanggil—didapuk oleh PDIP dengan diberi tiket nomor urut dua dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur, Madura yang meliputi empat kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Maklum, mas Zuhairi sebelum didaulat sebagai caleg partai berlambang banteng itu telah terlibat intens di sayap Islam PDIP, Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi).

 

Sementara Indra J. Piliang, diusung oleh partai Golkar dari dapil Sumatera Utara II. Dibandingkan dengan Zuhairi, Indra memiliki sedikit perbedaan sekaligus persamaan. Indra oleh Alfan Alfian—teman sejawatnya yang sama-sama sebagai analis politik—terkesan mendadak masuk ke parpol. Sedangkan kesamaannya, mereka berdua sama-sama dikenal sebagai penulis dan tokoh intelektual muda yang pandangan-pandangannya sangat kritis terhadap segala realitas, fenomena sosial, dan apalagi pemerintahan.

 

Pertanyaannya adalah, dapatkah suara dan pandangan kritis itu dapat dibawa ke birokrasi pemerintahan, bila memang nanti ternyata menjadi anggota dewan?

 

Kekhawatiran

Pertanyaan itu layak dan penting diajukan, untuk menghindari yang oleh Julien Benda disebut “pengkhianatan kaum intelektual”. Kekhawatiran ini saya kira tidaklah berlebihan, mengingat kaum intelektual sejatinya steril dari nuansa politik praktis. Namun di sisi lain, bagi sebagian orang yang tidak setuju dengan pendapat itu boleh saja beralasan bahwa kaum intelektual, di samping memiliki hak yang sama sebagai warga negara untuk menjadi anggota dewan, keterlibatan kaum intelektual di parlemen sangat dibutuhkan untuk merubah keadaan perpolitikan bangsa yang karut-marut.

 

Problem kaum intelektual yang bermain politik praktis sama halnya memperdebatkan sejumlah kalangan atau “kelompok” lain yang melakukan hal sama. Misalnya, ketokohan kiai yang sejatinya konsisten sebagai “guru moral” anak bangsa, justru bisa dipandang sinis manakala ikut cawe-cawe ke politik praktis. Apalagi, ada oknum kiai yang terbukti melakukan tindak korupsi. Maka tak heran bila kemudian Endang Turmudi (2003) mengklasifikasi kiai menjadi empat tipologi, yaitu kiai pesantren, kiai tarekat, kiai politik, dan kiai panggung.

 

Begitupula dengan artis. Aspek pengalaman dan pengetahuan si artis selalu menjadi sasaran empuk untuk digugat dan dipertanyakan oleh mereka yang tidak setuju bila artis terjun ke dunia politik. Lalu bagaimana kaum intelektual? Dengan membaca sejumlah pandangan-pandangan teoritiknya yang berserak di media massa, tentu tak ada yang menyangkal soal kapabilitasnya itu.

 

Tetapi jangan lupa, mereka juga manusia biasa. Siapkah mereka berkata “tidak” manakala disuguhi satu koper uang, seperti yang terpotret jelas pada kasus-kasus korupsi yang menjerat sejumlah petinggi negara? Kaum intelektual dengan demikian dapat dibagi pula ke dalam dua tipologi.

 

Pertama, intelektual murni, yaitu mereka yang meniti jalur akademik-ilmiah secara konsisten. Dan kedua, intelektual plus politisi, yakni seorang intelektual yang menjalankan double standart, akademisi dan politisi. Klasifikasi ini saya kira bisa diberlakukan pada tokoh-tokoh intelektual seperti Zuhairi dan Indra. Tengoklah dua atau tiga tahun ke depan, boleh jadi, keduanya lebih dikenal sebagai politisi, bukan lagi sebagai intelektual.

 

Optimistis?

Jadi apa yang dipaparkan di atas tentu saja saya tidak bermaksud mencederai niat baik Zuhairi dan Indra terjun ke politik praktis. Sebaliknya, saya berharap anggapan dan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut tidak terbukti kebenarannya. Saya tetap menaruh optimistis terhadap kehadiaran Zuhairi dan Indra di dunia politik praktis untuk merubah keadaan—yang dalam bahasa agama disebut min ad-dhulumat ila an-nur (dari kegelapan menuju pencerahan hidup). Konsep dan teori-teori kenegaraannya yang selama ini disuarakan semoga dapat diperjuangakan lewat parlemen yang seringkali memutuskan suatu kebijakan yang tidak populis.

 

Kaum intelektual seperti Zuhairi dan Indra bukanlah jenis politik rendahan, atau apa yang sering dikutip Amien Rais sebagai low politics. Politik kaum intelektual, menurut Alfan Alfian, mestinya high politics. Karenanya, tanggung jawab Zuhairi dan Indra sebagai intelektual sekaligus orang yang merepresentasikan “kaum muda”, sebenarnya memikul beban yang amat berat.

 *Ali Usman, analis sosial politik, dan peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

Komentar»

1. Agus Wibowo - 21 Agustus 2008

PAK AAL LAGI,???? Selamat Ya, aku hanya bisa IRI dan IRI (Ikatan Remaja belum Ijab (nikah))..hehhhhehhhhehh. Pokoknya Pak AAL TOP BGT Joooooooooos, selamat 2000x

2. aal - 22 Agustus 2008

mau tahu rahasianya? Kan kemarin malam kita lagi joinan extrajoss-susu… he2. thanks gus. kita sama2 belajar nulis kok…

3. benni - 22 Agustus 2008

Suara Karya udah, Jawa Pos apalagi, besok imuat mana lagi Al. Selamat.

4. Agus - 22 Agustus 2008

heeee, para pendekar saling intrik, mending Gimana caranya kalau kita merencanakan keblandongan lagi, coz udah kangen dengan kopi,kopi, kopi,,,,,pa lagi “kopi capucino” plus jajanan ringan apem, di tambah rokok cerutu, wuah rasanya aku ingin hidup 1000 tahun lagi..

5. Musthafa - 24 Agustus 2008

EsSyip….!!!

6. tijany - 27 Agustus 2008

aQ ngowohh kie…kapan aQ bs nyusuL ‘peaN Pak Mantan…?hehehe

7. aal - 27 Agustus 2008

gampang. bonceng aja di belakangku. yuuuukk….🙂

8. Bn - 9 September 2008

Ada baiknya Renegoisasi Gas Ulung di posting biar yang lain mengikuti jejak pengamat ekonomi ini

9. aal - 9 September 2008

sorry ben, bukan untuk konsumsi umum. sangat rahasia… he2.

10. Agus - 10 September 2008

ha…..ada rahasia segala to? tak kirain gak da, mbok aku dibocori dikiiit? ntar tak belikan kopi wis??? piye?

11. yamin - 10 September 2008

Biar ramai diskusinya, he….3x

12. aal - 11 September 2008

sekali lagi, sorry ya, hanya yang cukup umur saja yang boleh membaca tulisan Renegosiasi Gas Ulang, he2.

13. yamin - 11 September 2008

Waduh, kalau aku gak berumur ya, he…3x

14. Agus Mutia Nadifa - 14 September 2008

ssssst!!!! mungkin masalahnya itu menyangkut….menyangkut, maaaf gak berani mengatakan, bahaya???????

15. aal - 15 September 2008

ah, mbak Mutia yang cantix ini, bisa2 aja. belum baligh kok ngomongnya sudah jorok toh…🙂

16. benni - 3 Oktober 2008

Selamat idul fitri maaf lahir batin. selamat untuk resensi sindonya. salam

17. aal - 11 Oktober 2008

duh, sama2 ya ben. lahir batin, 0 – 0


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: