jump to navigation

Menegakkan Pluralisme di Tubuh Muhammadiyah 22 Oktober 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Judul Buku: Menegakkan Pluralisme; Fundamentalisme-Konservatif di Tubuh Muhammadiyah

Editor: Ali Usman

Penerbit: LSAF Jakarta dan Ar-Ruzz Media Jogjakarta

Cetakan: Pertama, September 2008

Tebal: 484 Halaman

TAK banyak orang yang mendapat kesempatan seperti Moh. Shofan, menelurkan percik pemikiran kontroversialnya dalam sebuah buku, yang kemudian dikomentari oleh teman-teman sejawatnya. Shofan, di usianya yang masih muda telah menjadi “buah bibir” banyak orang dan cukup “dikenal” bak selebritis yang sedang naik daun. Gaung pemikiran dan keterkenalan dirinya berawal dari tulisan provokatifnya di harian Surya yang berjudul ‘Natal dan Pluralisme Agama’ pada akhir Desember 2006, membuat para petinggi di jajaran kepengurusan Cabang dan Daerah Muhammadiyah serta di kampus tempat dirinya bernaung, Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) “kebakaran jenggot”. Shofan mungkin tak pernah menyangka, bahwa hanya lantaran mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani telah menyebabkan pria kelahiran 23 November 1975 ini tersingkir dari jabatannya sebagai dosen.

“Ah, sungguh malang nasibmu kawan”, kataku selang beberapa hari mendengar berita mengejutkan itu. “Ya, itulah mungkin perjalanan hidup aku yang dititahkan oleh-Nya”, jawabnya menimpali. Kesanku, Shofan dalam hal ini sungguh tegar menerima “cobaan” ini. Entah waktu itu, yang saya pikirkan adalah nasib istri dan anaknya yang masih belia.

Tetapi beberapa waktu kemudian, ia kembali mengabariku, bahwa ia sedang berada di Jakarta. “Wah, kini ia berada di posisi aman”, pikirku—sambil menyamakan layaknya posisi dalam kompetisi atau pertandingan olahraga. Firasatku ternyata benar. Di Jakarta, ia lebih leluasa dapat bertemu secara intens dengan banyak tokoh dan pemikir pluralis tersohor di Tanah Air. Ia pun merapat dan berteduh di PSIK (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan) Universitas Paramadina dan LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat) yang dimotori oleh M. Dawam Rahardjo dan juga Budhy Munawar-Rachman.

Alhasil, dengan terus mengamati kiprahnya sejak di Jakarta, pemikiran-pemikiran Shofan menurut saya, jauh lebih progres dan produktif bila dibandingkan ketika ia berada dalam sangkar yang memenjara kebebasan berfikirnya di UMG. Saya yakin, hal itu juga tampaknya dirasakan oleh Shofan.

Padahal kampus, menurut Shofan, mestinya akomodatif terhadap segala pemikiran yang plural dan liberal sekalipun, sekaligus menjunjung tinggi kebebasan berpikir di lingkungan akademis. Dalam artian kata, perlu dibedakan antara wilayah perguruan tinggi (Islam) dengan masyarakat umum. Sebuah perguruan tinggi menurut Munir Mulkhan, dibangun dan dipelihara untuk mengembangkan tingkat intelektualitas. Salah satu bentuk intelektualitas itu adalah lewat berpikir kritis. Nah, salah satu hasil dari pola berpikir kritis itu adalah dihasilkannya teori baru atau pandangan baru. Dan Shofan menurut saya, mengupayakan hal yang demikian.

Dalam skala lebih luas, “kasus lokal” yang menimpa Shofan sebenarnya terkait erat dengan isu nasional yang sejak masa Orde Baru, pemerintah melalui MUI mengharamkan seorang muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Kondisi ini kembali diperkeruh oleh “lagi-lagi” pengharaman paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme. Sementara bagi Ormas Islam (termasuk Muhammadiyah?) seolah mengamini begitu saja fatwa MUI tersebut, tanpa penyaringan yang ketat.

Shofan adalah korban atas “kesuksesan” negara melakukan intervensi berlebih kepada warga negaranya dalam urusan beragama. Agama yang semestinya menjadi ruang privasi bagi pemeluknya, malah diangkat menjadi kepentingan negara. Mungkin inilah, tulis Hannah Arent dalam The Human Condition-nya, kegagalan modernitas yang menjadi “berhala” bagi negara-negara maju dan berkembang (termasuk Indonesia) menganggap tidak relevan lagi memisahkan antara “ruang publik” dan “ruang privat”.

Maka tak heran, bila Muhammed Yunis, seorang pemikir keagamaan Mesir, dalam al-Takfir baina al-Din wa al-Siyasah mengemukakan, bahwa pengkafiran (takfir), klaim sesat, dan sejenisnya, tak pernah lepas dari persekongkolan antara negara (politik) dan lembaga keagamaan (agama). Bagi Yunis, nuansa politis terhadap sesuatu yang menyangkut persoalan agama dalam hubungannya dengan warga di suatu negara, dipastikan ada “main mata” antara politik dan agama itu sendiri.

* * *

Saya memang tidak terlalu lama mengenal sosok pribadi Shofan. Perkenalan itu terjadi ketika saya ikut serta mencarikan penerbit di Yogyakarta untuk menerbitkan bukunya yang pertama berjudul Pendidikan Berparadigma Profetik: Upaya Konstruktif Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam (IRCiSoD, 2004). Sejak itulah, komunikasi pun terus terjalin hingga saat ini.

Shofan yang saya kenal, tidak seperti yang dicitrakan negatif oleh “musuh-musuhnya” ketika mengomentari pemecatan dirinya, baik di milis (milling list) maupun dalam kesehariannya. Sungguh itu fitnah kubra. Bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh (al-fitnatu asyaddu min al-qatl)?

Tetapi perlu disadari, bahwa pejuang kebenaran itu tak pernah absen dari intimidasi, penindasan, dan pengusiran. Masih beruntung Shofan sebagai salah satu dari para pejuang kebenaran hanya dipecat dari kampus. Para pejuang dari kalangan filsuf-sufi, seperti al-Hallaj, Syekh Siti Jenar, Suhrawardi, dan lain-lain, harus rela mati di tiang gantungan demi mempertahankan kebenaran.

Begitu halnya dengan Shofan. Demi membela pluralisme dan kemanusiaan, ia berani menanggung akibat yang amat “memprihatinkan”. Orang yang tidak sepaham dengannya boleh bilang bahwa pemikiran-pemikirannya “berbahaya”, melenceng dari akidah Islam, bahkan dibilang “sesat dan menyesatkan”. Namun ketersesatan itu menurut saya, berada di jalan yang benar.

Di era kontemporer seperti sekarang, banyak kalangan tiada henti-hentinya mengingatkan akan pentingnya pengakuan sebuah pluralisme, sehingga tercipta keharmonisan dan kedamaian hidup di dunia. Dalam hal ini, terkadang saya berpikir, kok bisa-bisanya Shofan yang secara akademik ber-basic pendidikan (tarbiyah)—baik S1 maupun S2 yang ia tempuh di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)—sangat lihai dan fasih berbicara tentang pluralisme, civil society, kemanusiaan, dan pembelaan terhadap kaum marjinal.

Mengapa ia tidak “tertarik” menyuarakan isu-isu tentang pendidikan yang humanis, pendidikan pembebasan atau kondisi pendidikan nasional di negara kita, misalnya? Hal itu menunjukkan bahwa usaha menyadarkan akan pentingnya mengakui pluralisme dalam pengertian yang seluas-luasnya adalah tugas semua kalangan tanpa melihat kelas dan basic pendidikan.

Dari itu, mengacu pada kasus Shofan tersebut, menurut saya, adalah lagkah mundur bagi Muhammadiyah secara institusional. Sebuah ormas Islam yang mengaku diri sebagai salah satu kelompok pembaharu Islam di Indonesia, yang “bertitel” kaum moderat(isme). Pamor Muhammadiyah secara tidak langsung sebenarnya telah runtuh, dan memang dalam banyak hal, kini sudah mengalami pergeseran.

Secara pribadi, saya sebagai orang luar (bukan warga Muhammadiyah) yang tak tahu apa-apa dan tidak punya kepentingan apapun, turut berempati sekaligus ironi atas kondisi ini. Jika dahulu pada masa-masa berdirinya Muhammadiyah sempat dijuluki sebagai “kaum berdasi” karena sikap moderatnya itu, sementara ormas lain seperti NU dikatakan “kaum sarungan”, santri atau tradisional yang identik dengan sikap kolot, jumud, dan anti kemajuan. Tetapi kini, predikat itu tampaknya telah mengalami keterbalikan.

Terjadinya pemecatan seorang dosen di “kandangnya” sendiri, yang boleh jadi, tidak hanya dilatari oleh alasan teologis tetapi juga diselubungi oleh kepentingan-kepentingan tertentu menjadi bukti kuat adanya “sikap konservatisme” di tubuh Muhammadiyah.

Di samping itu, jika mau jujur, “sikap konservatisme” yang ditunjukkan oleh sebagian tokoh dan kalangan Muhammadiyah merupakan identitas aslinya, yang menurut Nur Khalik Ridwan (2005) sebagai penyeru “Islam murni” dengan berkedok gerakan Wahabi dari Timur Tengah. Karenanya, tak salah bila Muhammadiyah dan ormas Islam lain yang mirip dan “sealiran” dengannya, seperti Persatuan Islam (Persis) yang berpusat di Bandung dilabeli sebagai “agama borjuis”.

Kritik Nur Khalik Ridwan ini mestinya menyadarkan umat Islam Indonesia yang tanpa disadari banyak dipengaruhi kuat oleh “Islam ala Arab”, sementara “Islam berwajah asli nusantara atau Indonesia”—meminjam istilah Gus Dur tentang gagasan pribumisasi Islamnya—tersingkiran. Maka tidak heran apabila pola keberagamaan umat Islam cenderung melenceng dari nilai-nilai luhur keramahan sebagai budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia. Kekerasan dengan jubah atas nama agama sering terjadi di negeri ini yang konon dikenal sebagai bangsa yang ramah.

Di sini, Muhammadiyah berwajah paradoks; moderatisme di satu sisi, dan di sisi lain juga menampilkan wajah konservatismenya. Misalnya, sejak awal berdirinya, Muhammadiyah dengan lantang dan tanpa ampun memerangi penyakit apa yang dinamai TBC (takhayul, bid’ah dan khurafat). Lantas, apakah persoalan kebebasan berpikir dan kreativitas dalam menulis (berkarya) seperti yang ditunjukkan Shofan itu termasuk dari penyakit TBC, sehingga pantas diberantas?

Dalam bidang pendidikan, sikap konservatisme yang ditonjolkan (sebagian?) warga Muhammadiyah itu tak seirama dengan mendulangnya bangunan perguruan tinggi yang dimiliki. Lihatlah betapa canggih dan megahnya universitas-universitas Muhammadiyah yang ada; seperti di Malang (UMM), Yogyakarta (UMY), Jakarta (UMJ), Surabaya (UMS), dan termasuk pula di Gresik (UMG).

Kepopulerannya itu masih menyimpan bias konservatif dalam perilaku, tindakan dan terlebih pada pemahaman keagamaannya. Hukum kausalitas tidak berlaku bagi Muhammadiyah. Bangunan pendidikannya yang semakin mewah, megah dan canggih sebagai penanda kemodernan, tak mampu merubah pola sikap dan pemahaman keagamaan warganya yang masih konservatif dan tradisional. Apalagi, luasnya bidang sosial yang digarap oleh Muhammadiyah yang dikenal dengan tiga serangkai; rumah sakit, pendidikan dan panti asuhan, menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat, terutama dari sisi pembiayaan (finansial).

Mungkin seandainya KH. A. Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah masih hidup, niscaya ia akan menangis dan meratapi kondisi sosial ini. Pendidikan dan prasarana lembaga sosial, yang pada mulanya dicanangkan oleh A. Dahlan untuk membantu sekaligus ikut serta mencerdaskan anak bangsa—terutama bagi kaum miskin—tetapi pada kenyataannya tidak semua lapisan masyarakat menjangkau biaya pendidikan yang dibebankan oleh lembaga Muhammadiyah.

* * *

Kehadiran buku ini sebenarnya berawal dari provokasi saya kepada Shofan, bagaimana jika seandainya dia mengumpulkan ragam tulisan-tulisannya yang berserakan, baik yang sudah dimuat di media massa maupun dalam bentuk makalah, yang ia presentasikan di banyak tempat. Tak dinyana, Shofan menyambutnya dengan sangat antusias, sehingga lahirlah percik pemikiran-pemikirannya dalam buku ini, yang ia tulis kurang lebih satu tahun pascatragedi pemecatan itu.

Beberapa bulan kemudian, sebagai tindak lanjut dari provokasi tersebut—seolah tak mau kalah—Shofan kembali menghubungi saya dengan langsung melemparkan tanggung jawab penyuntingan kepada saya. Dan apa boleh buat, atas nama persahabatan, saya menerimanya dengan senang hati. Apalagi, daya tarik buku ini dilengkapi dengan tanggapan yang berisi pro-kontra atas diri Shofan dan gagasan pluralisme yang ia usung. Saya tidak menganggap kehadiran buku ini sebagai counter dan pembelaan Shofan terhadap oknum yang terlibat “konspirasi” atas pemecatan Shofan yang hanya lantaran mengucapkan selamat Natal. Tetapi lebih dari itu, merupakan sebagai “dokumentasi akademik”, agar di kemudian hari menjadi cerminan untuk generasi intelektual di masa yang akan datang. Biarlah publik dan anak cucu kita kelak tahu yang sebenarnya, bahwa ada yang “tidak beres” dengan Ormas Islam yang menamakan diri Muhammadiyah ini. Shofan hanyalah menjadi “tumbal” atas konservatisme di perguruan tinggi.

Selain itu, belajar dari kasus Shofan, persinggungan dan pertarungan antar kelompok di Muhammadiyah—yang selama ini banyak diragukan, dan bahkan ditutup-tutupi oleh sebagai kalangan—semakin tampak jelas dan tersingkap. Bahwa saat ini, pertentangan antara kelompok progresif-liberal versus kelompok fundamentalisme-konservatif di tubuh Muhammadiyah benar-benar berwujud nyata.

Fakta ini juga diperkuat oleh temuan mutaakhir Pradana Boy dalam tesisnya berjudul “In Defence of Pure Islam: The Conservative-Progressive Debate Within Muhammadiyah“, yang ia pertahankan di Australian National University (ANU). Tidak hanya kasus Shofan, Boy juga mensinyalir tersingkirnya tokoh-tokoh penting seperti M. Dawam Rahardjo, M. Amin Abdullah, dan M. Munir Mulkhan dari kepengurusan Muhammadiyah, hingga kemenangan Din Syamsuddin sebagai ketua di Muktamar Malang 2005, menjadi bukti nyata dominasi kelompok fundamentalisme-konservatif di tubuh Muhammadiyah, yang perlahan-lahan tapi pasti bakal membuang jauh-jauh kelompok progresif-liberal.

Jadi untuk mengetahui perkembangan arah gerakan Muhammadiyah mutaakhir, boleh jadi penelitian Boy tersebut adalah salah satu—untuk tidak mengatakan satu-satunya—acuan yang wajib dibaca dan diketahui oleh khalayak umum. Shofan dan kawan-kawan lain yang “sealiran” dengannya, hemat saya, menjadi apa yang oleh Gayatri Spivak (1985) disebut sebagai “subaltern“, yaitu subjek tertindas dan kelas inferior (Gramscian). Kelompok ini dalam banyak kasus, memang selalu mengalami kekalahan dalam perebutan “kuasa makna” (dalam pengertian Foucault).

Karena itu secara sadar, Shofan mengaku siap dan berani menghadapi resiko atas konsekuensi terbitnya buku ini, yang dipastikan membuka “luka lama” di tubuh Muhammadiyah. Shofan hendak membuktikan, bahwa “subaltern mampu berbicara, mengangkat bendera “perlawanan” demi mempertahankan kebenaran. Pluralisme dalam pandangan Shofan, tidak hanya berkutat pada persoalan ide, tapi sejatinya dapat ditegakkan di muka bumi.

* * *

Selaku editor buku ini, saya harus berterima kasih kepada banyak pihak sehingga memungkinkan buku ini terbit. Kepada mas Shofan, terima kasih atas kepercayaannya kepada saya. Terima kasih kepada Mas Dawam (panggilan akrab M. Dawam Rahardjo) atas pengantarnya yang menohok, dan juga respons baik Mas Budhy Munawar-Rachman atas terbitnya buku ini.

Kepada para kontributor, terima kasih yang tak berhingga atas kesediaan waktunya menulis sepucuk komentar dan pandangannya untuk pluralisme dan Shofan; M. Dawam Rahardjo, Ulil Abshar Abdalla, Dhimam Abror Djuraid, Abd. Rahim Ghazali, Asep Gunawan, Ahmad Gaus AF, Abd. Sidiq Notonegoro, Pradana Boy ZTF, Zuhairi Misrawi, Martin Lukito Sinaga, Zuly Qodir, Henry Simarmata, Hasibullah Satrawi, Herdi Sahrasad, Muh Kholid AS, Trisno S. Sutanto, Abd. A’la, Miming Ismail, M Hilaly Basya, David Krisna Alka, Ahmad Fuad Fanani, Mohamad Asrori Mulky, Masdar Hilmy, Biyanto, Lukman Hakim, Mujtahid, Raja Juli Antony, Khamami Zada, Taufiqullah Ahmady, dan Khusnaini Saputra. Dan tak lupa, kepada Mas Masrur (Ar-Ruzz), terima kasih atas respons positifnya, sehingga berani menerbitkan buku ini.

Sebagai kata pamungkas, saya ingin mendedahkan ungkapan Roland Barthes dalam artikelnya yang terkenal, The Death of Author. Menulis, kata Barthes, adalah kedalamannya subjek melarikan diri, hitam putih dan semua identitas hilang, mulai dengan identitas tubuh pengarang (Heraty, 2000).

Itu sebabnya, Dee (Dewi Lestari) juga menyadari hal yang sama. Bahwa menurutnya, “menulis adalah perjalanan menuju suatu kelahiran. Dan karya yang dilahirkan ibarat air nan bergulir bebas di lereng perasaan dan pikiran. Ia dapat tertahan di semak. Ia bisa hinggap di akar yang merambat. Namun ia juga bisa menggelinding lancar untuk melebur dalam samudera luas. Tak ada yang dapat menghitung berapa ceruk di lereng itu. Tak ada yang tahu seberapa gerah tetumbuhan di sana. Ia hanya akan bisa mengalir… sebisanya”.

Baik Barthes maupun Dee di atas hendak mendengungkan bahwa pengarang (author) sebenarnya telah “mati” bilamana teks yang ia gubah itu telah menyeruak ke publik. Di sini, otonomi pembaca sangatlah ditekankan. Maka selamat menyantap hidangan pluralisme yang menyehatkan ini.

Sapere aude!

*Ali Usman (dilansir dari pengantar editor buku)

Komentar»

1. Mas Dede - 22 Oktober 2008

Mas Ali kapan-kapan boleh nih ikut kumpul blandongan lagi biar kecepretan ilmu Mas Ali. Link blog aku ya biar tambah terkenal🙂 ni alamate http://www.masdede.co.cc

2. aal - 22 Oktober 2008

ok deh… thks.

3. agus - 23 Oktober 2008

ssssst…itu adiknya kirom lho, dia IT nya jago…bisa kita serap ilmunya…

4. aal - 23 Oktober 2008

ah, sama2 manusia gus. canggih mana IT dengan sihir/santet , hi2.🙂

5. muda - 24 Oktober 2008

PASANGAN CAPRES-CAWAPRES IDEAL:
Dr. Sri Mulyani Indrawati – Ir. H. M. Lukman Edy, M.Si.

Sri Mulyani menjadi primadona, cerdas, jelita dan populer. Analisisnya kritis, lugas dan jernih. Kiprahnya sudah teruji di birokrasi dan lembaga internasional. Kurang dari empat tahun, tiga jabatan menteri disandangnya. Tiga jabatan menteri yang disandangnya itu baru pertama kali dipimpin perempuan. Mulai dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan dan Plt Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu. Tak Heran, jika perempuan dan pemimpin muda yang pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Market Forum dan Majalah Euro Money pada 18 September 2006 ini dinilai layak maju sebagai calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2009.

Pertanyaannya, jika Sri Mulyani maju sebagai Capres pada Pemilu 2009, siapa yang layak duduk di sampingnya sebagai Cawapres? Lukman Edy. Sekretaris Jenderal DPP PKB dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini dianggap mampu menerjemahkan kebijakan-kebijakan yang bersifat makro sekalipun ke tindakan nyata tuk kesejahteraan masyarakat luas. Hal ini kian dimungkinkan mengingat posisinya saat ini yang selalu bersinggungan dengan masyarakat di daerah tertinggal. Ia paham betul kondisi ketertinggalan masyarakat, sehingga memudahkannya tuk mengambil kebijakan dan keputusan cepat yang memihak masyarakat. Dengan begitu, pasangan Capres-Cawapres ini ideal banget.

MENANGKAN DR. SRI MULYANI INDRAWATI – IR. H. M. LUKMAN EDY, M.SI.!!!!!!!!!

6. aal - 24 Oktober 2008

aduh, terima kasih ats kampanye gratisnya🙂 tp saya coba dulu tanya ke teman2 lain: ayo acungkan tangan siapa yang setuju pasangan Sri Mulyani-Lukman Edy jadi capres-cawapres 2009?

7. Agus Wibowo, - 25 Oktober 2008

Saya milih duet pasangan ALI USMAN-Neng Gelies Lia ..aja. udah terbukti sehidup semati.soal kridibilitas tidak diragukan…jadi mengapa milih yang laen…ayo kita dukung pasangan itu ke kursi……he kursi pelaminan bukan kursi capres lhoo….
Hehehe tampaknya ada proyek buat pak aal untuk pencitraan kampanye Lukman Edy-Sri Mulyani…Suruh ketempatku aja pak soalnya aku blm dapat job elekton je pas kampanye..

8. Mas Dede - 26 Oktober 2008

Mas Ali terimakasih sudah di link … oh iya blog kamu juga aku link … wah aku sepertinya pengen kayak kamu tulisane melanglang buana. Kapan-kapan kumpul lagi ya ….

9. aal - 26 Oktober 2008

wah, siapa lh tu Lia gus? ada2 aja…🙂
untuk dede, tulisanku tidk seberapa, dibanding temen2 yang lain. bukan melanglang buana, tp melanglang buaya kale… he2. ok deh, ntr km ak hub lagi, insya.

10. Agus Nderek Sultan Aza - 28 Oktober 2008

SLAMAT ZA DI MUAT KONTANNYA KEMAREN…HEBAT BROOO!!!!!

11. aal - 28 Oktober 2008

Agus nederek sultan, seperti bait lagu dangdut: ikut-ikutan ouy… ikut-ikutan….🙂

12. musthafa - 29 Oktober 2008

Kapan nulis bukunya mas?

13. aal - 31 Oktober 2008

kpn nulisnya ya? seingatku, ku belum nulis buku je… kalo yang di atas itu hanyala pengantar untuk judul buku itu. tp bukan bukuku lo…🙂

14. Agus - 1 November 2008

He…padahal penulis ini naskahnya udah bertumpuk setinggi-tinggi..tinggal nyebarin ke penerbit….soalnya orang linuwih

15. aal - 2 November 2008

udah disebarin kok gus, malah laku dibuat bungkus kacang, he2.

16. quantumeconomics - 2 November 2008

berlomba-berlomba dalam kebaikan aja bossssssss

17. ESBE - 12 November 2008

Al, bgm kul pascanya?

18. Agus Wibowo - 12 November 2008

Om….gmana kabar kok sepi????

19. aal - 12 November 2008

sibuk kuliah pung, jadinya sepi gus… he2

20. Friede - 14 November 2008

52 komputer untuk mahasiswa di kampusku terhubung di internet, kebanyakan sedang buka friendster, artikel jurnal luar negeri seperti medscape, medlink, kemudian ada yg buka IT, facebook, ikut forum kaskus, dan forum lain.

dan hanya aku yang menemukan blog ini, karena kebetulan aku nyari artikel Perempuan dan Naga

1 dari 52 orang di ruangan mewah (mepet sawah) bergedung tinggi berkata “Selamat Berkarya”

grazie

21. aal - 14 November 2008

kalo begitu, terima kasih atas kunjungannya. anda dan ke 51 teman anda itu, termasuk “orang mewah”. hebat…

22. mboh - 17 November 2008

lam kenal

23. JAINEM Bin Sudir - 17 November 2008

wuah …udah ganteng, pinter dan intelek, pacar siapa ya???

24. aal - 18 November 2008

utk mboh, salam kenal jg
utk Jainem, ayo acungkan kaki…🙂

25. f.emza - 19 November 2008

ms aal, im still breathin’ lho…
wah, wah, aku ktgglan byak ya ternyata.ha3
aku coment di tulisan NU nya.

26. Jainem Bin Sudir - 21 November 2008

dah punya pacar belum mas aal….saya jatuh hati je setelah membaca kata-kata setiap tulisannya, terlihat kepiawiannya meruwat kata…andai engkai belum punya pacar, jainem siap lho…minta nomer HPnya dong…

27. aal - 21 November 2008

Jainem kok tanya, malah dijawab sendiri… gak jd deh aku mau jwb, he2.

28. ball - 23 Desember 2008

he……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: