jump to navigation

Refleksi HUT Partai Golkar 22 Oktober 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Lampungpost, 21 Oktober 2008

Oleh Ali Usman*

Membincangkan Partai Golkar yang pada 20 Oktober lalu memperingati hari ulang tahun (HUT) tidak hanya menarik selera publik dari segi eksistensi, tetapi juga menyangkut kiprah selama puluhan tahun mengikuti ajang kontestasi pemilu setiap lima tahun sekali.

Setidaknya, ada dua alasan yang layak dikemukan. Pertama, Partai Golkar memiliki sejarah “kelam” sekaligus “terang” dalam percaturan politik negeri ini. Dikatakan kelam, karena Partai Golkar yang oleh banyak analis politik dikatakan penyokong utama pro-status quo rezim otoriterisme Orde Baru di bawah pimpinan mantan Presiden ke-2 RI Soeharto (alm.).

Namun, runtuhnya rezim Orba oleh kekuatan reformasi 1998 tidak otomatis memberangus eksistensi dominasi warba kuning pada lambang partainya itu. Justru sebaliknya, meskipun dengan tekanan bertubi-tubi dan kondisi pahit, sebagian besar “kader tulennya” malah menjadikan serangan pembubaran Golkar sebagai medium evaluasi dan introspeksi diri.

Melalui Munas Luar Biasa Golkar tahun 1998, Akbar Tandjung yang tampil mengambil alih komando memimpin para kerabatnya sesama kader melakukan perubahan-perubahan mendasar dalam internal Golkar, itulah yang belakangan kemudian dikenal dengan paradigma baru Partai Golkar dalam arti konsepsi. Ini secara aplikatif dijabarkan dengan tekad mewujudkan Partai Golkar sebagai “Golkar baru”.

Tidak dinyana, di bawah kendali Akbar saat itu, dua kali mengikuti pemilihan umum era reformasi (tahun 1999 dan 2004), Partai Golkar kemudian membuktikan diri sebagai pemenang pemilu yang tetap mendapatkan simpati rakyat sekaligus membuyarkan pandangan mata para pencerca Partai Golkar sebelumnya. Apa yang tadinya disuarakannya dengan dalih atas nama rakyat untuk menjauhi dan membubarkan Partai Golkar, ternyata tidak mendapatkan landasan faktual kualitatif apalagi kuantitatif.

Kedua, HUT Partai Golkar tahun ini terasa istimewa lantaran bakal kembali berlaga di kancah perpolitikan nasional jelang Pemilu 2009. Apalagi, tanggal 17–19 lalu, Partai Golkar telah melakukan rapimnas.

Namun, sangat disayangkan–sebagimana dilansir banyak media–rapimnas tidak menghasilkan langkah-langkah strategis pemenangan pemilu, termasuk pula tidak memutuskan capres-cawapres internal.

Oleh sejumlah kalangan, keputusan DPP Partai Golkar menunda pengumuman capres hingga diketahuinya hasil pemilu legislatif dinilai tidak menguntungkan. Kondisi tersebut membuat perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu Legislatif 2009 diprediksi tidak akan meningkat dibanding dengan Pemilu 2004 yang mencapai 24.480.757 suara (21,58%) dengan 128 kursi DPR pusat.

Padahal, menurut pakar politik Syamsudin Haris, paling tidak ada dua keuntungan yang bisa diperoleh Partai Golkar jika mengumumkan capres. Pertama, publik dan konstituen tahu lebih awal tentang sosok capres yang dikaitkan dengan rekam jejak, komitmen, serta visi tentang Indonesia ke depan. Itu bisa membantu Partai Golkar meraup dukungan. Kedua, kondisi politik yang mulai terbuka membuat capres tidak perlu lagi “dielus-elus” seperti masa lalu. Capres harus dikenalkan lebih awal kepada publik.

Saatnya Bangkit

Lepas dari pro-kontra kebijakan yang mengitari Partai Golkar kini, yang terpenting bagaimana kemudian para kader dan simpatisan mengambil ruh serta semangat berdirinya Partai Golkar. Jika ditilik secara filosofis, sejarah kelahiran Golkar pada 20 Oktober 1964 mempunyai cita-cita amat mulia. Saat bangsa ini diguncang konflik ideologis, Golkar yang menghimpun golongan-golongan fungsional tampil ke permukaan pasang badan menghadapi sekolompok golongan yang berambisi mengubah ideologi negara ke paham komunis.

Waktu berjalan, Presiden RI Soekarno yang dituding ikut memberi banyak ruang gerak bagi para penganut dan penggiat paham komunis akhirnya dinyatakan tumbang pada pertengahan 1960-an. Kekuasaan kemudian beralih di bawah kepemimpinan Soeharto lalu menggelari kepemimpinannya sebagai jargon Orde Baru. Secara otomatis, kekuasaan yang lalu disebut sebagai Orde Lama.

Untuk memberi legitimasi terhadap kekuasaan yang diambil alih secara darurat, pemerintahan Soeharto yang didukung golongan-golongan fungsional akhirnya menyelenggarakan pemilu tahun 1971. Organisasi golongan fungsional yang tergabung dalam Sekber Golongan Karya ikut serta sebagai salah satu dari sekian kontestan.

Tidak banyak kalangan yang bisa menduga kalau Sekber Golkar pada akhirnya dinyatakan pemenang dengan perolehan suara tertinggi 62,8%. Sejak itulah Golkar berada pada garda terdepan–meminjam istilah Fahry Ali (2004)–sebagai “kekuatan politik alternatif” bagi bangsa dan RI.

Maka itulah yang kemudian menjadikan karakteristik partai politik ini sebagai partai “kebangsaan”, yang mendasarkan seluruh kinerja kelembagaannya untuk bangsa dan negara bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang latar asal usul, golongan, kelompok, agama, dan warna kulitnya. Namun, sejauhmana seseorang memiliki fungsi mengejawantahkan karyanya bagi kemaslahatan kemanusiaan Indonesia yang majemuk, dalam arti berbangsa (nation) dan mengelola kekuasaan negara (state) untuk menyejahterakan rakyat.

Latar filosofis itulah yang kemudian menjiwai lahirnya doktrin dan prinsip dasar perjuangan Golkar, yang secara internal disebutkan dengan istilah Karya Siaga Gatra Praja. Ini diterjemahkan secara kelembagaan sebagai prinsip dasar Karya Kekaryaan untuk dimanifestasikan setiap kader, kapan dan di mana pun ia berada tanpa perlu memikirkan apa yang ia harus “didapatkan” dari partai selain untuk kemaslahatan orang banyak.

Tentang apa yang harus didapatkannya dari partai, hanyalah menjadi konsekuensi logis dari sejauhmana karya yang telah dilakukannya memiliki kemanfaatan sehingga yang didapatkan tidak lagi karena suatu usaha pencapaian tujuan, tetapi menjadi “nilai” dan penghargaan balik atas proses yang dilaluinya.

Pertanyaannya, mungkinkah kejayaan Partai Golkar tetap bertahan pada Pemilu 2009? Kita lihat saja nanti.

Ali Usman, Peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: