jump to navigation

Mengutamakan Dakwah Kontekstual 20 November 2008

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Solopos, 21 November 2008

Oleh Ali Usman*

 dsc00980

Membaca tulisan Dwi Widodo di koran ini (SOLOPOS, 14/11/2008) berjudul Inspirasi Pergerakan Dakwah yang Solutif memunculkan kesan yang “harap-harap cemas”. Mengamati sepintas dari judulnya itu, saya sempat berharap ada hal baru atau unsur kebaruan dalam tulisan tersebut. Tetapi yang terjadi hemat saya malah sebaliknya. Saudara Widodo justru terjebak pada doktrin normatif—yang ia anggap sebagai langkah solutif—dan malah membiarkan setiap bait teks yang ia kutip itu apa adanya, tekstual, dan dogmatis.

Salah satu doktrin dakwah yang Widodo kemukakan misalnya bunyi hadis Nabi: “Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu/kekuasaanmu (bi yadihi); Jika tidak bisa, tegurlah dengan ucapan (bi lisanihi); Jika (tetap) tidak bisa, cukup dengan mendoakannya (bi qalbihi); dan yang demikian itulah lemahnya iman seseorang”.

Dalam pandangan saya, jika tidak ekstra hati-hati memahami makna yang terkandung pada hadis ini justru akan mencitrakan Islam yang oleh sebagian kalangan Barat atau sarjana orientalis dianggap sebagai “agama kekerasan”. Tugas dakwah sejatinya tidak hanya diemban oleh ormas Islam—atau dalam bahasa Widodo disebut pergerakan dakwah—tetapi amanat suci yang harus dijanlankan oleh setiap individu pemeluk Islam. Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah bagaimana berdakwah (dalam arti ta’muruna bi al-ma’ruf wa tanha ‘an al-mungkar) di era kontemporer sekarang ini?

Reinterpretasi makna hadis

Dalam tulisan ini, saya mau berpijak kuat pada bunyi dan makna hadis di atas, yang juga dilansir Widodo. Bahwa kalau kita mau kritis dan seksama dalam menelaah hadis itu, dapat disikapi dengan sangat arif, bijak, dan humanis. Pertama, makna hadis tersebut hemat saya, tidak menunjukkan suatu urutan tindakan seseorang dalam mencegah kemungkaran; tidak berarti mendahulukan tindakan tangan/kekuasaan terlebih dulu, lalu ucapan, dan do’a. Isi maupun makna dari hadis itu sebenarnya mendedahkan pilihan-pilihan alternatif sebagai bentuk tindakan amar ma’ruf nahi mungkar. Kesemuanya memiliki keutamaan tersendiri, yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain.

Artinya, tidak ada unsur derajat keimanan yang menyertai dari setiap ketiga tindakan tersebut. Orang yang mencegah kemungkaran dengan fisik/tangan, tidak kemudian bisa dikatakan bahwa derajat keimannya meninggi. Sementara orang yang hanya bisa mencegah lewat lisan atau bahkan dengan do’a dianggap keimanannya kurang atau dikatakan imannya rendah. Tidak begitu!

 Maksud kalimat “dan yang demikian itulah lemahnya iman seseorang” tidak merujuk pada urutan terakhir pada orang yang mencegah kemungkaran hanya lewat do’a. Tetapi menunjuk pada makna lain dari ketiga yang telah disebutkan, yaitu suatu kepasifan seseorang, yang tidak berbuat apa-apa tatkala menyaksikan kemungkaran. Jadi hadis itu dapat diterjemahkan lebih luas kurang lebih begini: “Barangsiapa melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu/kekuasaanmu (bi yadihi); Jika tidak bisa, tegurlah dengan ucapan (bi lisanihi); Jika (tetap) tidak bisa, cukup dengan mendoakannya (bi qalbihi); dan jika tetap tidak mampu berbuat selain dari ketiga perbutan tersebut, maka yang demikian itulah lemahnya iman seseorang”.

Kedua, makna biyadihi yang berarti mencegah kemungkaran dengan “tangan/kekuasaan” dalam hadis itu perlu diinterpretasi ulang secara lebih humanis. Sebab, hadis yang seringkali dipahami secara tekstual dan “telanjang” apa adanya itulah menjadi biang keladi dan legitimasi seseorang atau kelompok tertentu untuk melakukan tindak anrakis berkedok amar ma’ruf nahi mungkar. Pemahaman yang demikian bukan hanya menodai dan mendistorsi visi-misi agama sebagai pembawa pesan perdamaian, tapi dimungkinkan bakal menghancurkan sistem tatanan kehidupan masyarakat yang mengidealkan kerukunan, kedamaian, dan sejenisnya.

Tak terbayangkan, apa jadinya bila setiap orang yang disengaja atau tidak menyaksikan katakanlah sesuatu yang dianggap sebagai “maksiat”, lantas “digebukin” tanpa ampun, dipukul, hingga bahkan tempat yang mereka anggap sarang maksiat juga dihancurkan. Adakah sisi moralitas yang melekat dalam setiap individu maupun kelompok? Lalu di manakah peran negara?

Ironisnya lagi, dalam konteks Indonesia, keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI) “menganut” paradigma atau setidak-tidaknya sejalan dengan paham yang menganggap biyadihi berarti ber-amar ma’ruf nahi mungkar lewat perbuatan fisik. Terbukti, MUI seringkali mengeluarkan fatwa yang justru menjadi pemicu kelompok-kelompok tertentu untuk berbuat anarkis dengan melakukan aksi penyerangan terhadap orang atau kelompok yang oleh MUI distempel “sesat”.

Contoh konkrit yang terjadi, MUI pernah mengeluarkan fatwa sesat kepada sejumlah aliran yang oleh mereka tidak sama dengan model keberagamaan mainstrem Islam di Indonesia, seperti Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), “Kerajaan Eden” pimpinan Lia (Eden) Aminuddin, aliran al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad Mushaddeq, dan lain-lain. Akibatnya, penyerangan terhadap aliran berstempel sesat khas MUI tersebut terjadi.

Sebuah keputusan yang sudah biasa mengemuka dan lazim dilabelkan MUI kepada setiap kelompok yang dianggap “berbeda” dan menyimpang dari agama mayoritas di negeri ini. Seolah-olah, muncul kesan, Tuhan sebagai Sang Pemberi Hukum(an), diambil alih oleh sekumpulan manusia. Khaled M. Abou al-Fadl dalam Speaking in God’s Name; Islamic Law, Authority and Women, mengistilahkannya sebagai kelompok yang mengaku diri sebagai “juru bicara Tuhan”. Padahal, klaim “sesat dan menyesatkan” itu mestinya hak priogratif Tuhan, bukan manusia. Pengambilan hak priogratif “ketuhanan” jauh lebih berbahaya daripada hanya sekadar berbeda keyakinan semata.

* Penulis adalah mahasiswa Filsafat Islam Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Komentar»

1. SYAIFUL - 24 November 2008

salat aja dah jadi tontonan nih… hehe!!!

2. agus - 24 November 2008

Namanya dakwah Pluralis om…jadi Pak Ipung jgn komentar aneh…aneh..he..hee

3. aal - 25 November 2008

aku gak ikut2an akh… 🙂

4. Musthafa - 26 November 2008

Ya, Begitulah…

5. SYAIFUL - 27 November 2008

komentar aja dikontrol. gimana mau pluralis ommmm. ach… sepertinya agus dah memproklamasikan “perang opini” nih. kulayani… haha!

6. agus Wibowo - 27 November 2008

wuah…gak berani perang opini ma penulis besar..ampun deh aku..gmana kalau perang kopi aja di blandongan ?

7. SYAIFUL - 28 November 2008

boleh tuh…

8. iqbalmuttaqin - 30 November 2008

eh al… thengyu ya… kemarin…. walau ga’ berhasil si… he…. he….

9. aal - 30 November 2008

ok. sama2 bal. sabar ya. ntr tak kabri lg kalo ada yang enak2, he2…

10. agus - 8 Desember 2008

Hayoooooo, awas tak bilangin some one lho?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: