jump to navigation

Golkar dan Suksesi Kepemimpinan Nasional 16 Februari 2009

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Suara Karya, 17 Februari 2009

Oleh Ali Usman*

golkarbaru

Di antara sekian banyak partai yang bakal ikut berlaga dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, setidaknya ada dua partai besar yang saat ini banyak dibicarakan orang, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar. Itu tak lain karena menyangkut kepemimpinan nasional atau tentang siapa calon presiden (capres) yang didelegasikan oleh partainya untuk berkompetisi dengan calon lain dalam rangka mencapai puncak kepemimpinan RI.

 PDIP jauh-jauh hari telah menjagokan Megawati Soekarnoputri sebagai capres yang diusung secara resmi oleh partai berlambang banteng tersebut. Sedangkan siapa capres dari Golkar, belum diketahui secara pasti. Sebab, Golkar masih menunggu hasil pemilu legislatif. Mungkin karena kondisi inilah, beberapa kader Golkar seolah gerah dan tidak sabar menunggu waktu yang dinanti.

Sejumlah nama seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X, Yuddy Chrisnandi, Marwah Daud Ibrahim, dan Fadel Muhammad tiba-tiba melakukan manuver di luar garis politik Golkar. Bahkan, di antara mereka ada yang terang-terangan mencalonkan diri sebagai presiden dan bermain mata dengan partai lain, seperti yang dilakukan Sri Sultan. Ini bermula saat pisowanan agung di Alun-alun Yogyakarta, akhir Oktober 2008 lalu, di mana Sultan menyatakan siap maju sebagai calon presiden.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Golkar Bidang Hukum Muladi menuding Sultan telah melanggar disiplin partai. Sebab, Sultan yang sampai kini masih menjadi Wakil Ketua Dewan Penasihat Golkar telah bermanuver politik dengan mencalonkan diri menjadi presiden.

Aksi sejumlah kader tersebut, menurut Akbar Tandjung, mantan Ketua Umum Partai Golkar, bisa memancing konflik atau perpecahan. Masing-masing kelompok di partai bisa saja mulai melirik partai lain untuk menyalurkan keinginannya maju dalam pemilihan presiden. Partai lain melihat besarnya perolehan suara Golkar dalam pemilu sebagai peluang.

Partai Golkar, pada hemat saya, sebenarnya sudah kebal dengan konflik dan perpecahan. Pada saat bangsa ini diguncang konflik ideologis, Golkar yang menghimpun golongan-golongan fungsional tampil ke permukaan dan pasang badan untuk menghadapi golongan yang berambisi mengubah ideologi negara Pancasila ke arah paham komunis.

Waktu berjalan, Presiden RI Soekarno, yang dituding ikut memberi banyak ruang gerak bagi para penganut dan penggiat paham komunis tersebut, akhirnya dinyatakan tumbang pada pertengahan tahun 1960-an. Kekuasaan kemudian berada di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto yang menggelari kepemimpinannya sebagai jargon Orde Baru.

Untuk memberi legitimasi terhadap kekuasaan yang diambil alihnya secara darurat, pemerintahan Soeharto yang tetap didukung oleh golongan-golongan fungsional akhirnya menyelenggarakan pemilu pada 1971. Organisasi golongan fungsional yang tergabung dalam Sekber Golongan Karya ikut serta sebagai salah satu dari sekian kontestan.

Tidak banyak kalangan yang menduga kalau Sekber Golkar akhirnya dinyatakan sebagai pemenang dengan perolehan suara tertinggi 62,80 persen. Sejak itulah Golkar berada di garda terdepan, meminjam istilah Fahry Ali (2004), sebagai kekuatan politik alternatif bagi bangsa dan negara Republik Indonesia.

Itulah yang kemudian menjadikan karakteristik partai politik ini sebagai partai “kebangsaan”, yang mendasarkan seluruh kinerja kelembagaannya untuk bangsa dan negara bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang latar, asal usul, golongan, kelompok, agama, dan warna kulitnya. Tetapi, sejauh mana seseorang memiliki fungsi untuk mengejawantahkan karyanya bagi kemaslahatan kemanusiaan Indonesia yang majemuk, dalam arti berbangsa (nation) dan pengelolaan kekuasaan negara (state), untuk menyejahterakan rakyat?

Dalam konteks masa kini, dengan dihapuskannya konvensi capres internal, partai tersebut memang memiliki kelebihan sekaligus kelemahan. Namun, dari segi positifnya, Golkar telah melakukan evaluasi yang mendalam. Konvensi digantikan dengan mengandalkan survei untuk menjaring calon presiden ketimbang konvensi. Alasannya, hasil konvensi capres dari Golkar terbukti gagal dalam Pemilu 2004.

Konvensi dianggap hanya mengakomodasi kepentingan pimpinan partai, bukan keinginan masyarakat. Sementara dari segi negatifnya, tidak adanya (lagi) konvensi sama halnya dengan menutup ruang demokratisasi di internal partai. Padahal, melalui mekanisme terbuka, akan diperoleh kepuasan dan loyalitas kader terhadap capres dari partai.

Lepas dari corak pandang dan perbedaan pendapat dalam menyikapi konvensi tersebut, yang pasti banyaknya kader Golkar yang kini muncul ke permukaan sebagai capres/ cawapres menandakan kalau di tubuh partai beringin itu terdapat kader-kader potensial yang mempunyai keinginan kuat untuk “mengurusi” negeri ini. Hanya saja, dapatkah cita-cita mulia itu terwujud? Biarlah waktu yang berbicara dan rakyat yang menentukan. Vox populi, vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan)!

* Penulis adalah analis sosial-politik dan peneliti utama pada Civil Society Institute Yogyakarta

Komentar»

1. yamin - 17 Februari 2009

Sip, pendapatnya…

2. aal - 18 Februari 2009

ah, biasa aja min… tks.

3. HILAL ALIFI - 20 Februari 2009

jargon terakhir itu pernah keluar di ospek kan, al?🙂

4. aal - 20 Februari 2009

he2. iya lal. ko’ ingat… sukses deh.

5. Ahmad junan - 30 April 2009

Golkar tampaknya kini hanya bermimpi tentang masa lalunya, sementara
masa depanya adalah ilusi dan utopia, mengapa demikian ?. Kemenangan masa lalu di zaman orba karena menggunakan kekuasaan Birokrasi dan ABRI, itu adalah fakta dan sudah menjadi rahasia umum, kemnangan golkar pada pemilu paska reformasi karena Money Poltic dan Serangan Fajar dikalangan rakyat yang awam politik terlebih rakyat miskin, Coba cek, kemenangan golkar adalah dikantong kaontong kemiskinan, itu karena Money Politic dan Sembako Politik. Camkan untuk introspeksi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: