jump to navigation

GUS DUR 28 Februari 2009

Posted by aal in dari luar.
trackback
Saturday, 28 February 2009

gus-dur

GUS Dur mirip Sokrates. Bedanya Sokrates sudah almarhum lebih dari dua ribu tahun lalu; Gus Dur masih segar bugar, meski kedua ginjalnya sudah tidak berfungsi.

Sokrates warga Yunani yang tidak pernah menjadi presiden, Gus Dur warga Indonesia yang pernah menjadi presiden. Tetapi keduanya sama-sama kerap keliru ditafsirkan oleh masyarakat lingkungan masingmasing yang tidak mampu dan tidak mau mengerti makna yang sebenarnya dari sikap, perilaku, dan ucapan kedua pemikir akbar itu! Akibat keliru ditafsirkan, Sokrates dihukum mati dengan dipaksa minum racun, sementara Gus Dur dipaksa lengser dari jabatan kepresidenannya.

Akibat sering keliru ditafsirkan, Sokrates dimusuhi Senat Kota Athena, sementara Gus Dur dimusuhi DPR dan MPR yang bermarkas besar di Jakarta.Dengan Ketua MPR Amien Rais yang sebenarnya biang keladi Gus Dur menjadi presiden, terjadi konstelasi interaksi seperti film kartun Tom and Jerry yang berseteru dalam suasana benci-tapi-rindu atau rindutapi- benci! Akhirnya Amien Rais pulalah yang semula memimpin gerakan mendukung kemudian memimpin gerakan melengserkan Gus Dur dari tahta kepresidenan RI!

Awal permusuhan Gus Dur versus DPR dipicu pernyataan Gus Dur bahwa DPR persis taman kanak-kanak! Pernyataan Gus Dur keliru ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap DPR, padahal sebenarnya lebih layak dianggap penghinaan bagi taman kanak-kanak, di mana para anggotanya masih polos,lugu,dan belum mengenal korupsi.

Kemudian Gus Dur dianggap terlibat penipuan akibat ada seorang penipu merajalela dengan mengaku dirinya tukang pijat Gus Dur padahal begitu banyak orang,termasuk saya, terdorong rasa simpati sempat memijat,terutama bahu Gus Dur! Yang menipu yang mengaku tukang pijat Gus Dur di luar kesadaran Gus Dur (bahkan Gus Dur merasa tidak kenal penipu itu),tetapi yang dituduh kokyang diaku dipijat penipu itu! Jika tuduhan itu tidak dianggap keliru, ya keterlaluan kelirunya!

Sebelumnya Gus Dur pernah dituduh korupsi karena menerima sumbangsih dana dari Sultan Brunai dalam kapasitas bukan sebagai presiden, tetapi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, sementara tidak ada undang-undang melarang ketua ormas keagamaan menerima sumbangan dana dari seorang sultan.Mengenai kebersihan Gus Dur, secara empiris saya berani menjamin.

Dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan Gus Dur mengembalikan amplop dari seorang tokoh politik yang tidak perlu saya sebut namanya,namun saya tahu tokoh ini mengincar sebuah jabatan tinggi kepemerintahan,setelah diberi tahu (Gus Dur tidak bisa melihat!) bahwa amplop itu berisi puluhan lembar uang kertas masing-masing bernilai seribu dolar Amerika Serikat.

Rupanya Gus Dur alergi budaya amplop! Seperti Sokrates,ucapan-ucapan Gus Dur memang kerap sering terlalu maju mendahului masanya dan tidak diplomatis, maka terlalu terus terang, apa adanya, hingga kerap tidak tertangkap makna ada apanya oleh khalayak ramai.Tidak kurang dari seorang Miranda Goeltom sempat mengeluh bahwa di masa kepresidenan Gus Dur,setiap pagi selalu ketar-ketir menyimak berita tentang apa saja yang kemarin diucapkan Gus Dur.

Karena ucapan seorang presiden—apalagi yang keliru ditafsirkan—sangat rawan menimbulkan prahara malapetaka bagi situasi dan kondisi moneter negara! Di masa perseteruan dengan DPR dan MPR makin memuncak, saya bersama Adnan Buyung Nasution sempat resmi menghadap Presiden Gus Dur di Istana Merdeka untuk memohon Gus Dur menghentikan kegemarannya mengusik DPR, terutama Ketua Umum MPR karena secara konstitusional DPR dan MPR pada waktu itu masih memiliki kesaktian untuk melengserkan seorang presiden.

Tapi rupanya timingkami keliru,ternyata pada saat itu Gus Dur masih gemar bermain Tom and Jerry dengan Amien Rais, maka permohonan kami berdua tidak dipedulikan. Setelah Gus Dur dilengserkan, saya insan nonkeluarga Gus Dur yang terakhir mendampingi mantan Presiden RI sebelum meninggalkan Istana Merdeka mengeluh,”Kokjadinya bisa begini,ya Gus?”Gus Dur tegas menjawab: ”Perhitungan saya keliru !”(*)

JAYA SUPRANA

Komentar»

1. fayyadl - 28 Februari 2009

Gus Dur ibarat ‘teks berjalan’ yang tak henti mengundang kita bermain tafsir… Aku sempat menonton percakapan Gus Dur tentang Palestina kemarin2, sewaktu Palestina digempur Israel; sang Gus, alih-alih mengkritik Israel, malah menyalahkan Palestina. Itulah uniknya sang Gus satu ini.

Mungkin Gus Dur harus selalu ada di dunia ini biar tak semua orang begitu saja mengiyakan sesuatu. Tapi berpikir dengan cara alternatif, dengan pertanyaan2 dan kebingungan2 yang dimunculkannya.

2. M CHE ANAM - 28 Februari 2009

Gus Dur is very Unique man who was born in Indonesia. He is always be one of my favorite figures in this world. Beruntunglah Indonesia memiliki tokoh spt Gus Dur… I Love Him, muachhh… he-he.. Is my expression rather erotic?🙂

3. yamin - 1 Maret 2009

Saya mengharap, semoga Gus Dur-Gus Dur baru segera lahir sebab ini sangat memberikan sebuah warna baru bagi kemajuan bangsa Indonesia ke depan.

4. aal - 1 Maret 2009

beruntunglah bagi mereka yang mengafirmasi ‘apa kata’ Gus Dur, karena tidak semua orang yang mau mengambil resiko ini…

5. Agus Wibowo - 2 Maret 2009

Saya dan Gus Dur itu ada kemiripan lho! kemiripannya, sama-sama namanya Gus!!!bedanya Gus+Dur , kalau saya Gus+Bowo, maksudnya Agus Wibowo………..he…he. Agus aguss….Meenurut saya adalah indah menempatkan manusia pada posisi kemanusiaanya.supaya kesan mistis, keramat dan sebagainya….tidak menggelayuti nama besar itu. Lebel keramat, mitos atau apa wae…menurut saya justru menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan, padahal, Tuhan gk mau di sejajari, wah yo repot to?…heee

6. olish faris - 31 Desember 2009

tenang aja sodara2, penggantinya gus dur ada koq, namanya Prof Mahfud MD (sekarang ketua MK). guru besar ilmu hukum yang terobosan2nya sudah keliahatan, suasana cair di persidangan, itu loh yang memutar rekaman pembicaraan don anggodo.Saya punya mimpi, beliaulah besok yg jd pemimpin negara RI ini. asal pak Mahfud konsisten, sehat, dan panjang umur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: