jump to navigation

4 Maret 2009

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Kompas Jatim, 5 Maret 2009

Oleh: Ali Usman*

suramadu

Dalam hitungan hari, masyarakat Madura dan bangsa Indonesia akan berbangga hati karena memiliki jembatan yang menghubungkan pulau Jawa (Surabaya) dan Madura yang konon, terpanjang ke 15 di dunia hingga mencapai 5,43 km. Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) namanya.

 

Sampai saat sekarang, proyek berjalan sudah mencapai 90 persen, dan Pemerintah Propinsi Daerah Jawa Timur menargetkan akhir Maret tahun ini bakal tuntas, lalu di bulan April sudah dapat beroperasi. Tentu saja, penyelesaian proyek ini memang banyak ditunggu-tunggu masyarakat luas, di samping agar lebih memudahkan transportasi darat menuju Madura, juga lantaran proyek ini memakan waktu puluhan tahun dari sejak masa perintisan.

 

Banyak orang mungkin tidak tahu, kalau ide merealisasikan jembatan Suramadu muncul sejak tahun 1960-an. Pencetus ide awal pembangunan jembatan Suramadu adalah Raden Panji Mohammad Noer. Mohammad Noer—demikian ia dipanggil—merupakan putera Madura yang dilahirkan di kampong Beler, Desa Rong Tengah di pinggiran kota sampang, 13 Januari 1918. Ia berasal dari keluarga ningrat Madura dan mempunyai hubungan kerabat dekat dengan beberapa kiai terkenal di Madura seperti KH. Hasib Siradj dan KH. As’ad Syamsul Arifin.

 

Reputasi Mohammad Noer diakui masyarakat Indonesia dan dunia internasional. Ini tak lain karena sederet jabatan berhasil ditunaikannya dengan baik, antara lain: Bupati Bangkalan periode 1960-1965, gubernur Jawa Timur 1971-1976, Dubes Indonesia untuk Perancis tahun 1976-1980, anggota DPA, MPR dan sempat menjadi Rektor Universitas Bangkalan (Unibang, yang sekarang berubah nama menjadi Universitas Trunojoyo, satu-satunya PTN di Madura) periode 1985-1989 (Mutmainnah, 1998: 51).

 

Kemudian presiden Soeharto waktu itu langsung menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie untuk menyiapkan kajan awal kemungkinan hubungan langsung antarpulau tersebut. Akhirnya, pada 14 Desember 1990 Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu dan Pengembangan Kawasan dikukuhkan sebagai proyek nasional melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990.

 

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Akibatnya sejumlah proyek besar tertunda, salah satunya Jembatan Suramadu. Kemudian muncullah Keppres 79 tahun 2003-sekarang merupakan titian awal dimulainya kembali pembangunan Jembatan Suramadu. Dalam Keputusan Presiden tersebut juga dinyatakan pembangunan Jembatan Suramadu dilaksanakan sebagai bagian dari pembangunan kawasan industri, perumahan dan sektor lainnya dalam wilayah kedua sisi ujung jembatan.

Kekhawatiran Industrialisasi

 

Dari pemaparan panjang-lebar di atas, dapatlah dimengerti bahwa pembangunan jembatan Suramadu melewati jalan berliku dan terjal. Butuh energi ekstra dan pergantian pemimpin bangsa hingga berulangkali, barulah kini terwujud. Pertanyaannya, bagaimana respons masyarakat Madura itu sendiri soal pembagnunan jembatan layang tersebut?

 

Banyak orang tahu, kalau sejak awal perencanaan, (sebagian atau bahkan mayoritas?) masyarakat Madura menolak pembangunan tersebut. Bagi yang pro, jelas diwakili oleh lembaga pemerintahan. Sedangkan mereka yang kontra atau tidak setuju disuarakan oleh para tokoh-tokoh kiai yang tergabung dalam Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA). Konsekuensinya dari dua kubu yang berseteru ini juga mengakibatkan perpecahan di tingkat masyarakat bawah (grass root).

 

Dalam perspektif budaya, fenomena yang demikian sebenarnya mematahkan teori seperti dikemukakan A. Latief Wiyata (2003: 1), yang menyebutkan kalau masyarakat Madura secara hierarkis tunduk, pasrah, dan taat kepada empat figur yaitu Buppa’, Babbu’, Guru, ben Rato (Ayah, Ibu, Guru (kiai), dan pemimpin pemerintahan). Masyarakat tidak sepenuhnya sami’na wa atha’na apa kata Rato. Tapi entah mengapa, selang berjalannya waktu, masyarakat, termasuk BASSRA pun, ternyata lunak dan luluh terhadap kekuasaan pemerintah. Meskipun, sengketa pembebasan tanah eksekusi sisa untuk pembangunan jembatan Suramadu baru berakhir dengan paksa 18 Januari 2009 kemarin.

 

Dari sana, saya baru sadar dan paham arti sebuah “cerita mistis” yang pernah berkembang di masyarakat. Dahulu, semasa saya duduk di bangku sekolah menengah, saya selalu bertanya kepada orang tua, kepada guru di sekolah, dan termasuk kepada guru ngaji, mengapa proyek pembangunan jembatan Suramadu yang sudah terlanjur didengar oleh masyarakat Madura memakan waktu yang sangat lama? Jawaban guru-guru saya waktu itu penuh dengan mitos, semacam cerita khayalan. Katanya: “Kalau Suramadu jadi, pasti meminta ‘tumbal’. Maka beruntunglah tidak jadi-jadi”.

 

Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud ‘tumbal’ pada ungkapan itu. Tapi bila melihat di depan mata dengan seksama—meski lewat media massa—tampak bahwa berapa banyak orang-orang di Madura maupun di Surabaya harus rela terhempas, angkat kaki, merelakan rumah kelahirannya tergusur dan digantikan tiang-tiang penyangga beton Suramadu di ujung perbatasan.

 

Maksud lain yang ingin disampaikan adalah bahaya industrialisasi Madura jika tidak diimbangi dengan kontrol masyarakat setempat. Menurut KH. Alawi, industrialisasi Madura itu hendaknya Indonesiawi, manusiawi, dan Islami. Indonesiawi maksudnya industrialisasi itu benar-benar untuk kepentingan bangsa Indonesia. Manusiawi berarti industrialisasi Madura itu harus benar-benar dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dan Islami maksudnya bahwa industri itu tidak boleh ada kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman (Mutmainnah, 1998: 86).

 

Begitulah, kekhawatiran demi kekhawatiran seringkali menghantui masyarakat Madura setelah dihembuskan industrialisasi lewat jalur jembatan Suramadu. Kemodernan dengan demikian menjadi suatu hal yang paradoks. Dalam wujud modernisasi, ia menjadi kegalauan sekaligus kekaguman manusia modern. Namun dalam wujudnya yang lain, kemodern telah melahirkan nestapa kemanusiaan yang serius dan harus dibayar mahal dalam sejarah kehidupan umat manusia sejagat.

 

Tak terbayangkan, apa jadinya jika industrialisasi nanti benar-benar menggerus nilai-nilai kebudayaan asli Madura dan menggantinya dengan produk-produk yang konon dibilang modern. Seni musik tradisional, seperti saronen (tiup terompet) dan karawitan sinden (tanda’) mungkian akan tergantikan oleh konser-konser penyanyi metropolis dari ibu kota; kerapan sapi akan tergantikan balapan mobil dan motor; identitas caruk (carok) akan tergantikan dengan senjata api (pistol); dan lain sebagainya.

 

Apalagi, sempat muncul rumor tak sedap pasca jembnatan Suramadu. Pasalnya, lokalisasi PSK di Surabaya akan dipindahkan atau diletakkan di di pulau-pilau Madura. Alamak, inikah industrialisasi yang menjanjikan kemodernan itu? Hanya satu kata: jaga dan selamatkan Madura untuk bangsa!

 

*penulis adalah pengkaji kebudayaan Madura, dan peneliti pada Satukata Institiute di Sumenep

 

Komentar»

1. tijany - 16 Maret 2009

smga suramadu tdk saja menghubungkan teritori surabaya dg Bangkalan, tp jg kepongahan jawanis dan maduranis yg mngancam keindonesiaan qt…

2. aal - 16 Maret 2009

amien……..

3. Musthafa - 21 Maret 2009

amin kiyah

4. Iva - 17 Mei 2009

AsSalamu alaikum…
Sebagai generasi penerus bangsa yang sholeh&sholeha. yach q-t harus pintar-pintar memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. jangan hanya karna diIming-imingi modernisasi q-t langsung terlena. sMga dengan adanya proyek tersebut bisa membawa&membuka mata hati q-t untk lebih meneber luaskan da’wah q-t. amienn……
sYukroN jAzILAn…

aal - 25 Mei 2009

tks atas komentarnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: