jump to navigation

Makna Substansial Pembangunan Jembatan Suramadu 27 April 2009

Posted by aal in Lansir.
trackback

Dilansir dari Kompas Jatim, 27 April 2009

Oleh Ali Usman*

3-suramadu

Apresiasi terhadap pendapat atau pandangan publik soal industrialisasi Madura pasca jembatan Suramadu terus mengalir dan tersemai di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Setidaknya hal itulah yang dalam beberapa waktu belakangan ini terlihat nyata di harian Kompas Jatim dengan menurunkan banyak tulisan yang membincangkan positif negatifnya pembangunan jembatan Suramadu bagi masyarakat Madura—yang pasalnya jembatan dengan panjang 5,43 kilometer itu direncanakan akan segera beroperasi pada pertengahan Juni nanti.

 

Ada tulisan yang mempertanyakan siapkah masyarakat Madura menyambut industrialisasi dengan mempertimbangkan dampak dan bahayanya; ada yang memotret prospek atau peluang perekonmian masyarakat Madura jika jembatan itu sudah benar-benar beroperasi; dan ada pula semacam kekhawatiran terhadap akan terkikisnya kebudayaan asli Madura; dan lain sebagainya. Tetapi dari sekian banyak tulisan itu, hemat saya, tidak/belum ada yang menguraikan berupa alasan secara substansial, mengapa jembatan itu dibangun?

 

Tentang akar sejarah dari bagaimana proses pembangunann dan termasuk siapa yang menggagas pembangunan proyek jembatan yang memakan triliunan rupiah tersebut, telah saya kemukakan di rubrik ini (lihat Kompas Jatim, 5/03/2009). Tulisan ini lebih mengarah pada bagaimana menyeimbangkan kepentingan kedua pula yang secara geografis terpisah itu (antara wilayah Surabaya yang dihubungkan dengan Bangkalan) sama-sama menguntungkan dengan berpegang pada prinsip simbiosis-mutualis.

 

Masyarakat perantau

Banyak orang tahu, masyarakat Madura hingga hari ini dikenal sebagai masyarakat perantau. Di kota-kota besar seperti Surabaya sendiri, Malang, Pasuruan, hingga ke Semarang, Jogjakarta, dan bahkan ke wilayah Ibu Kota Jakarta, orang-orang Madura banyak ditemui di sana. Belum lagi di wilayah luar Jawa, orang-orang Madura juga berjibun—yang konon motifnya dilatarbelakangi karena faktor ekonomi alias demi mengadu nasib di daerah seberang. Akibatnya, hukum alam pun terjadi; sang perantau ada kalanya sukses menjadi kaya raya, dan ada pula yang sebaliknya.

 

Lalu, muncul pertanyaan, mengapa masyarakat Madura lebih memilih kehidupan di luar daerah? Jawabannya sebagaimana diungkap Subaharianto, dkk (2005), bahwa masyarakat Madura di pulau Madura memang dikenal miskin dan terbelakang. Tekanan kehidupan sosial ekonomi yang berat memaksa orang Madura pergi merantau ke daerah lain dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Namun, sesungguhnya, Madura bukan daerah yang tidak berpotensi sama sekali. Keadaan alamnya memang kurang mendukung untuk kegiatan pertanian lahan basah, tetapi pulau Madura dan sekitarnya menyimpan kekayaan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

 

Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat Madura sebagian akibat ketiadaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta sarana untuk mengolah potensi sumber daya alam Madura pada satu sisi dan ketidakmampuan Madura memanfaatkan peluang global dalam bentuk investasi untuk industrialisasi pada sisi lain. Yang pertama terkait dengan latar belakang pendidikan modern masyarakat Madura yang secara umum masih rendah, sedangkan yang kedua terkait dengan kendala transportasi Surabaya-Madura.

 

Suramadu sebagai jawaban?

Sebenarnya, dengan berpangkal pada pulau Jawa sebagai titik keberangkatan, pulau Madura dapat dijangkau lewat dua jalur utama pelayaran yang sudah dikenal sejak lama, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur barat melalui lintas Ujung Kamal. Ujung ini merupakan satu bagian dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sedangkan Kamal merupakan pelabuhan di ujung barat Madura. Setidak-tidaknya, sejak masa kolonial Belanda sudah tampak bahwa jalur barat jauh lebih ramai dan padat daripada jalur timur, seperti ditunjukkan dalam statistik angkutan (Kuntowijoyo, 1980).

 

Jalur kedua adalah melalui Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo. Rute ini pada masa kolonial banyak dimanfaatkan oleh para migran Madura yang pergi ke atau kembali dari daerah perkebunan kolonial di daerah Keresidenan Besuki. Keadaan rute pelayaran ini jauh lebih sepi daripada jalur Barat, terlebih lagi dengan merosotnya sektor perkebunan.

 

Karena itu, dengan adanya jembatan Suramadu, di samping untuk mempermudah transportasi darat, jalur itu juga dianggap sebagai salah satu prasarana ekonomi yang sangat penting untuk meningkatkan mobilitas manusia, barang, dan modal dari Surabaya ke Madura. Artinya, jembatan ini akan menjadi penentu masa depan pembangunan masyarakat Madura.

 

Dalam perspektif Jawa Timur, pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya-Madura itu bisa dilihat bukan hanya sebagai upaya mempercepat pembangunan Madura melalui indutrialisasi, melainkan juga menjadi alternatif perluasan industri di Surabaya dan sekitarnya yang sudah kesulitan lahan (Subaharianto, dkk, 2005). Pada aras ini, dampak sosial (social impact) dari industrialisasi Madura memang terasa menyakitkan. Tapi memang begitulah fakta dan rencana awal yang dikonsep oleh pemerintah Jawa Timur.

 

Pertanyaannya, jika industrialisasi Madura telah berjalan, yang salah satunya nanti akan ditandai dengan banyaknya pabrik-pabrik dan kantor perusahaan yang menancapkan kaki di sana—sehingga dimungkinkan akan menyedot tenaga kerja baru—apakah masyarakat Madura yang terlanjur merantau akan kembali ke kampung halaman karena di daerahnya sendiri telah tersedia lapangan kerja? Saya pesimistis. Kalaupun terjadi, mungkin hanya sebagian kecil saja.

 

Sebab yang terjadi saat ini, orang-orang Madura yang merantau tidak hanya mencari nafkah karena kepentingan ekonomi an sich, tapi juga telah melebur menjadi satu kesatuan bersama masyarakat setempat (lihatlah di Kalimantan, Surabaya, dan Jakarta misalnya) yang membina rumah tangga dengan warga di sana. Jadi buat apa pulang kampung, kalau di sana telah mendapatkan kehidupan yang layak? Mungkin ini jawaban sementara.

*Ali Usman, pengkaji kebudayaan Madura

Komentar»

1. fayyadl - 5 Mei 2009

Salut Bung, Bung masih punya kepedulian dg perkembangan di kampung halaman.

Madura… ah, Madura… Pulau yang tak habis-habisnya menggoda untuk dinostalgia

2. aal - 12 Mei 2009

tks bung, atas koment dan apresianya. maaf baru sempat balas, krn baru datang dr bepergian jenguk kampung halaman…

3. Agus - 16 Mei 2009

madura…..kapan aku kesana………….

4. Ipung - 25 Mei 2009

Bgm kbrnya? Dah rampung kan tugas akhir S2-nya? Jadi kapan menikah?

5. aal - 25 Mei 2009

kbr baik pung, alhamd. tugas makalah S2 rampung, tp kalo tesis blm rampung, he2. nikah tunggu kabar aja. tks

6. dimas ma'ruf - 22 Juni 2009

suroboyo tambah rame,, coz pasti akeh wong meduro teko nang suroboyo,, tapi gak popo seng penting aman dan damai jalin persatuan dan kesatuan,,

suroboyo wonge apik2,,
medoro yo kudu apik,, spaey_spaey

7. ika - 22 Juni 2009

Assalamu’alikkum. salam kenal.ane pengen banget kenal ma ali usman. na dapat info dari temen sekelas ant u’yuyun yang sekarang satu amanah ma ana. klo ant sempat, kirim email ke ana ya.. di ika_alkhonsa@yahoo.com. ane pngin banyak diskusi ma ant. jazakallah.

8. aal - 22 Juni 2009

@spay: iyo, aku setuju,,, heeee
@ika: tks atas segala halnya…

9. andiaz - 1 Maret 2010

. piuuee .
. kbare ..
. hheee

10. aal - 2 Maret 2010

@andiaz: kbr baik. tks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: