jump to navigation

Tata Kota dan Toleransi di Jalan 13 Juni 2009

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Harian Jogja, 13 Juni 2009

Oleh Ali Usman*

kota Jogjasudut kota

Bagi sebagian orang, memikirkan jalan mungkin merupakan pekerjaan yang tak ada artinya dan dianggap sia-sia. Tetapi bagi sebagian yang lain, dengan melihat kondisi jalan di sebuah negara, sebenarnya dapat diketahui jaya atau tidaknya negara tersebut. Seperti pepatah bilang, “menatap wajah jalan sama dengan menatap kondisi pemerintahan suatu bangsa”.

Begitu mudahnya kita temukan sekaligus lewati jalan. Lalu-lalang setiap pengendara motor, mobil, sepeda, dan pejalan kaki menjadi penanda kuat, bahwa tanpa disadari kita sedang menikmati kemulusan jalan aspal serta kerapian kota yang tertata rapi. Tetapi, pernahkah kita berpikir sekaligus bertanya, bagaimana konstruk ketersediaan jalan yang kita lewati setiap hari itu?

Sejarah jalan sungguh terkait erat dengan penderitaan penduduk pribumi semasa penjajahan Belanda dan Jepang. Masyarakat waktu itu, harus rela dipaksa untuk kerja rodi di bumi dan tanah kelahirannya sendiri, demi menuruti kemauan penjajah. Di antara ruas-ruas jalan, rel kereta api, dan gedung-gedung yang membumbung tinggi—yang saat ini telah menjadi peninggalan bersejarah—sungguh menyimpan deras keringat dan setetes darah perjuangan para founding fathers bangsa.

Denys Lombard dalam maha karyanya yang terkenal, Le Carrefour Javanais: Essai d’histoire globale (edisi Indonesia diterjemahkan menjadi Nusa Jawa: Silang Budaya, Kajian Sejarah Terpadu) mencatat sebuah fakta yang menarik untuk disimak. Menurut tokoh pakar sejarah nusantara (Indonesianis) itu, sejak kedatangan Herman Willem Daendels yang diangkat menjadi gubernur oleh Louis Bonaparte, raja Belanda pada tahun 1808,  merupakan awal mula sejarah politik ekonomi bangsa Barat di kepualauan nusantara.

Daendels menciptakan praktik kerja paksa atau lebih tepat jika dikatakan merampas hak-hak raja Jawa untuk mewajibkan penduduk melakukan kerja rodi untuk pemerintah Batavia. Ia terlibat konflik dengan beberapa di antara mereka (terutama dengan Sultan Banten yang dipenjarakannya), tetapi berhasil membuat “Jalan Raya Pos” (de Groote Postweg) dari ujung ke ujung pulau dan dengan demikian akhirnya perhubungan darat timur-barat menjadi mungkin, dengan komersialisasi hasil bumi sebagai konsekuensinya. 

Sejak itulah negara berperan besar dalam mengatur jalan dan lalu lintas. Jika disimak dengan seksama, dengan jalan kita dapat melihat ketidakadilan dan diskriminasi. Lihat dan bandingkan jalan menuju Istana negara dengan kampung pengungsi yang kumuh. Tampak berbeda. Begitu pula dengan jalan Wonosari yang sangat nyaman dilewati karena merupakan penghubung arah Pacitan, tempat asal presiden kita, SBY. Semua itu bertemali dengan kekuasaan.

Fenomena tersebut secara nyata mengindikasikan semacam “perebutan ruang” kekuasaan—atau dalam istilah Pierre Bourddieu disebut habitus, yaitu praktik pengungkapan perwatakan dalam ruang sosial. Ruang ini, tegas filsuf Perancis itu, merupakan suatu medan sosial yang di dalamnya setiap anggota membentuk suatu sistem hubungan yang didasarkan atas pertaruhan (kekuasaan) yang bermakna dan diinginkan oleh anggota ruang sosial.

Artinya, setiap pengguna jalan sebenarnya mempunyai banyak nilai kepentingan yang terpendar dalam benak setiap penguna jalan. Bagi pengendara mobil misalnya, egoisme dalam dirinya kerapkali akan muncul untuk memperoleh ruas jalan yang luas agar tidak mencederai mobil pribadinya, sebagai penanda orang kaya, ambisi yang tinggi untuk menjadi terdepan sehingga menyalip banyak kendaran, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana juga dengan pengendara motor, tukang becak, sopir bus, pengguna sepeda ontel, dan pejalan kaki? Dari sana, akan ditemukan semacam “perebutan kuasa” antara pengguna jalan, mulai dari pengendara mobil, motor, sepeda, hingga pejalan kaki. Kesenjangan ini persis seperti apa yang pernah disinggung oleh Bourddieu tentang habitus tadi, yang merupakan sejenis ungkapan penanaman (tak sadar) dari orang-orang yang berkepentingan dalam ruang sosial. Ia adalah sejenis tatanan tingkah laku yang dipakai untuk membedakan satu kelas (yang mendominasi) dengan kelas lain (yang didominasi) dalam medan sosial.

Maka dengan memikirkan tentang jalan, kita bisa memeriksa budaya kehidupan masyarakat setempat. Baru-baru ini, ada penelitian tentang kesemrawutan jalan di salah satu kota besar yang ada di negeri ini, yaitu kota Yogyakarta—yang sampai saat ini selain dikenal dengan kota yang amat memedulikan kebersiahan, santun, tertib dan memiliki toleransi yang amat kuat. Yang menarik adalah objek yang dijadikan sample oleh penulisnya, Hani Raihana, adalah di simpang Mirota kampus, sebuah perempatan jalan yang amat dekat dengan kampus UGM.

Bagi warga Jogja dan Anda yang mungkin pernah berkunjung ke Jogja, tentu akan bertanya-tanya, mengapa Hani mengambil objek di jalan itu dan tidak memilih di tempat yang lebih ramai, seperti Malioboro, yang merupakan pusat keramaian di daerah Yogyakarta? Hani memiliki alasan tersendiri. Menurutnya, simpang Mirota merupakan salah satu titik kemacetan. Posisinya yang sangat strategis, dekat dengan kampus UGM, SMU, serta pusat perdagangan, membuat simpang empat ini menjadi jalan penghubung antar wilayah. Jalur tersebut selalu padat, ditandai dengan antrian panjang kendaraan bermotor serta klakson yang terdengar bersahut-sahutan (Raihana, 2007: 63).

Dari sana kita dapat “menguji”, benarkah kota Yogyakarta memang dikenal dengan toleransinya yang tinggi (city of tolerance) lantaran pengaruh kuat budaya keratonnya? Memang, sampai saat ini, toleransi Yogyakarta masih ada dengan adanya negosiasi saat terjadi insiden kecelakaan. Negosiasi ini diawali dengan ungkapan baik-baik, seperti “nuwun sewu, mas… gimana, mas…” dan kemudian diakhiri dengan hitung-menghitung kerugian dan biaya.

Lalu bagaimana dengan perilaku pengguna jalan di Jakarta, Surabaya, Bandung, Solo, Semarang, dan kota-kota lain?

*Ali Usman, Magister Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: