jump to navigation

Natal dan Spirit Dialog Agama 26 Desember 2009

Posted by aal in Esai, Lansir.
4 comments

Dilansir dari Suara Merdeka, 24 Desember 2009

Oleh: Ali Usman

ATAS nama kemanusiaan, dan sebagai penganut agama (kebetulan) muslim, saya ucapkan, Merry Christmas kepada saudara-saudaraku umat Kristen yang sedang berbahagia merayakan Hari Natal tahun ini. Saya tidak peduli dengan pendapat banyak orang, yang masih menganggap tabu atau dalam bahasa agama bahkan difatwakan ”haram” mengucapkan Natal kepada umat kristiani.

Bagi saya, ucapan selamat Natal tidak ada kaitan sedikitpun dengan persoalan teologi. Karena dengan mengucapkan selamat Natal kepada saudara-saudara kita umat kristiani, tidak kemudian secara otomatis kita (umat lain) mengikuti agama mereka. Pendapat yang demikian itu sungguh sangat naif. Ucapan selamat Natal bagi saya adalah murni atas dasar kemanusiaan, karena kita sama-sama sebagai ciptaan Tuhan. Agama hanyalah jubah atau baju yang membungkus tubuh setiap insan.

Maka dengan Natal, kita sebenarnya diajak untuk berempati dan saling berbagi di hari bahagia ini. Sebab, kebahagiaan di hari Natal tidak jauh berbeda dari apa yang dirasakan oleh umat muslim di Hari Raya Idul Fitri atau idul Adha. Apalagi, sosok Yesus (Nabi Isa) juga dikenal dalam tradisi umat Islam, dan termaktub dalam kitab suci Alquran, seperti yang tertera dalam Q.S Maryam: 33, ”Dan salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadaku (Isa: Yesus), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku akan meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali”.

Michael Keene, dalam Word Religions menulis, ketika Yesus lahir sekitar tahun 4 BCE (before common era), telah sekian abad umat Yahudi sedang menanti-nantikan kedatangan Mesias yang diramalkan dalam kitab suci mereka. Namun demikian, Yesus enggan menerima sebutan itu atas diri-Nya karena arti yang terkandung di dalamnya. Kerajaan yang Ia dirikan adalah kerajaan spiritual (bukan politik), kerajaan yang dibangun di dalam hati manusia.

Pernyataan ”di dalam hati manusia” menurut Michael Keene menarik untuk diperhatikan. Mengapa hati? Karena di dalamnya, terpendar segala nilai budi luhur. Kedamaian, kasih sayang antarsesama, sikap menghormati dan lainnya, sesungguhnya muncul dari lubuk hati manusia yang amat dalam.

Potret inilah yang seharusnya menjadi bahan refleksi tiap kali memperingati Nari Natal. Tidak hanya bagi umat kristiani, tetapi semua agama dunia, termasuk Islam, Hindu dan Buddha. Dengan hati, kita diajarkan untuk menebar cinta-kasih, bukan kebengisan yang banyak dilandaskan karena kekuatan fisik, otot, dan badani.

Dengan hati, kita diajari untuk menginternalisasi nilai-nilai kitab suci; Injil, Alquran, maupun Weda, melalui ajaran cinta kasih-Nya. Karena di tengah keberbedaan, sebenarnya ada kesamaan dalam nilai-nilai ajarannya, yaitu teologi kasih atau dalam bahasa John D Caputo, ”teologi cinta”.

Dari sana, sungguh ironis memang, agama yang sesungguhnya mengandung ajaran-ajaran cinta, kasih, dan perdamaian, ternodai oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menebar teror di mana-mana. Karena itu, sudah sepantasnya bagi mereka yang mengaku diri beriman semestinya mengembalikan fungsi agama itu dengan mengedepankan nilai-nilai kasih dan cinta antarsesama.

Kekerasan, teror, dan peperangan jelas berlawanan dengan makna cinta yang sejati. Dalam cinta, tak dikenal kegaduhan dan anarkisme. Adalah Ibn Arabi, seorang sufi terkemuka dari Andalusiaóyang sejak awal paling jauh membeberkan fenomena cinta. Ia menggunakan suatu dialektika yang bersifat pribadi, amat pas untuk menyingkap sumber kebaktian total yang dianut seorang fedel d’ amore.

Dalam permenungannya, Ibn Arabi bertanya: Apa yang dimaksud mencintai Tuhan? Bagaimana mungkin kita mencintai Tuhan? Biasanya, bahasa religius atau teolog menggunakan berbagai rumusan tertentu seolah-olah rumusan itulah penjelasannya. Padahal menurut Ibn Arabi, persoalannya tidak sesederhana itu, dan bisa jadi pertanyaannya akan terus mengembang. Kapan dia menjadi cinta sejati, dan kapan dia keliru karena terpikat kepada bentuk? Dan akhirnya, siapakah yang sesungguhnya menjadi kekasih, namun juga siapakah yang sesungguhnya menjadi pencinta?

Mencari Tuhan

Kegundahan hati Ibn Arabi ini dalam pengamatan saya, mirip dengan apa yang dialami oleh mistikus Kristen bernama Augustinus. Pertanyaan itu dikemukakan Augustinus dalam buku/kitab ke-10, yakni bagian yang paling terkenal dari Confessions-nya, ketika ia berusaha mati-matian mencari Tuhan.

Di dalamnya kita menemukan pengembaraan tanpa henti Augustinus yang terus bertanya kepada langit dan bumi, kepada binatang dan tumbuhan, bahkan kepada dirinya sendiri, pada relung-relung ingatannya yang sangat rahasia. Apa yang sebenarnya aku cintai ketika aku mencintai Dikau, Tuhanku (Quid ergo amo, cum Deum meum amo)? Tetapi siapakah Engkau, Tuhanku? Bagaimana dan di mana aku harus mencari Engkau, ya Tuhanku? Di manakah Kau dapat kutemukan sehingga aku mengenali Engkau, Tuhanku? Apakah Kau berada dalam di luar ingatanku, atau di dalam ingatanku? Bila Kau berada di luar ingatanku, bagaimana aku akan mengenali Engkau bila bertemu dengan-Mu? Jika Kau berada di dalam ingatanku, di mana di dalamnya Engkau Tinggal? (Sutanto, 2005)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sungguh menggugah ke dalam jantung keimanan. Keseluruhan ajaran-ajaran agama dipertanyakan melalui konsep cinta. Gugatan dan ungkapan hati yang paling dalam itu, umumnya dalam konteks zaman modern saat ini disebut situasi ”(ke)iman(an) post-modern” atau iman ”post-sekuler”.

Teologi kasih sungguh mengandung nilai-nilai universal. Ia akan berwujud dalam dua hal secara bersamaan. Pertama, bila ajaran cinta dan kasih telah melekat dalam hati dan menjadi sebuah pandangan hidup (word view), ia akan melahirkan sosok pribadi yang berjiwa ilahiah, karena dalam dirinya terpancar unsur ketuhanan. Kedua, ajaran cinta dan kasih tidak mengajarkan pada kekerasan atau anarkisme, sebagaimana yang saat sekarang marak terjadi di pelbagai belahan dunia dengan mengatasnamakan agama.

Karena itu, sudah saatnya kita menjadi penganut agama yang mengedepankan kedewasaan dalam beragama. Sebab, sikap dewasalah menurut Y.B. Mangunwijaya (1999), yang mengajak agar kita meninggalkan sikap kekanak-kanakan yang menimbulkan persengketaan tetek-bengek dalam segi agama seperti anak rebutan kerupuk.

Seolah-olah permasalahan dasar orang beriman ialah cuma bagaimana menyerang agama lain, mengkecapkan agama sendiri sambil memancing anggota sebanyak-banyaknya dan marah kalau ada anggota yang menyeberang.

Itu semua, menurut Romo Mangun, pada dasarnya bersumber dari kekeliruan fatal: mempertuhankan agamanya sendiri, tidak mempertuhankan Tuhan Yang Sebenarnya, dan membuat citra Tuhan menurut seleranya sendiri, tetapi lupa tentang Tuhan Yang Sebenarnya, yang tidak mungkin terjangkau oleh pikiran, imajinasi, dan perumusan manusia.

Akhirnya, dengan semangat hari Natal, mari kita kedepankan dialog antaragama untuk memupuk kerukunan di antara kita, sesama umat manusia.

— Ali Usman, mahasiswa Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga

Honda dan Motornya Orang Madura 26 Desember 2009

Posted by aal in Esai.
3 comments

Terik matahari begitu panasnya. Walau sesekali mendung bergelayut, namun seringakali tak jadi turun hujan. “Sudah hampir satu bulan ini hujan tak jua turun di Madura”, kata Dasuki (45), penjual kaki lima di seberang Jembatan Suramadu (jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura). Tetapi cuaca yang tidak menentu itu, dan sengatan matahari yang begitu sangat, justru memberikan keuntungan tersendiri bagi Dasuki. Jualannya, terutama jenis minuman dan makanan saji laku keras diborong oleh pengendara yang lalu lalang di jalan raya.

Ya, jika Anda dari arah Surabaya melewati jembatan tersebut—yang konon, panjangnya mencapai 5,43 kilometer dan termasuk jembatan terpanjang ke-15 di dunia—cobalah menepi di ujung pangkal Suramadu. Di sana banyak para penjual makanan dan minuman untuk sekadar mengobati kantuk dan penat dalam perjalanan Anda. Dan karena pengalaman inilah, saya punya cerita untuk dikisahkan.

Waktu itu, saya dalam perjalanan pulang dari Surabaya menggunakan kendaraan roda dua. Setidaknya saya butuh tiga hingga empat jam untuk sampai ke rumah di Sumenep, kota paling ujung di pulau Madura. Dalam perjalanan itu, saya sempatkan berteduh sambil memesan minuman dingin di salah satu warung yang ada di ujung jembatan Suramadu. Pak Dasuki, pemilik warungnya, mempersilahkan saya duduk. Tetapi selang beberapa menit sebelum minuman yang saya pesan datang, Pak Dasuki menyuruh saya untuk memindahkan kendaraan saya ke tempat yang telah disediakan.

“Maaf mas, biar tidak kepanasan, Hondanya dipindah ke tempat bawah pohon itu saja”, katanya dengan logat Madura yang sangat kental. Saya mengiyakan sarannya. Honda Supra Fit tahun 2005 yang saya kendarai, saya putar 90 derajat untuk dipindah ke bawah pohon yang memang teduh.

Di warung itu, saya tidak sendiri. Selang beberapa waktu kemudian, ada dua pengendara lain yang juga berminat menikmati makanan dan minuman Pak Dasuki yang berdatangan secara bergilir. Dan anehnya, Pak Dasuki memerintahkan hal yang sama dengan apa yang diucapkan ke saya. “Mas, Hondanya parkir di bawah pohon itu saja”. Padahal saya amati, dua orang pengendara itu sebenarnya tidak mengendarai motor bermerek Honda. “Mengapa begitu?”, pikirku.

Satu lagi. Di antara kami, para pembeli, ada satu orang bapak beserta keluarganya, yang mengendarai mobil. Tapi lagi-lagi Pak Dasuki bilang begini: “Maaf Pak, demi ketertiban dan biar motor Anda tidak kepanasan, sebaiknya diparkir di bawah pohon itu”. Saya tambah bingung, mengapa Pak dasuki bilang ‘motor’, padahal jelas-jelas bapak itu mengenderai ‘mobil’?

Ternyata, setelah ditelusuri, saya baru sadar akan dua hal. Pertama, di kalangan masyarakat pedesaan, terutama di sebagian wilayah Madura, kendaraan roda dua itu identik dengan merek Honda (meskipun di sana sebenarnya juga banyak merek lain selain Honda). Artinya, semua kendaraan roda dua oleh sebagian masyarakat Madura itu dikiranya pasti bermerek Honda. Bahkan terkadang, kalau ada orang yang bertanya kepada orang Madura, “Naik apa Anda ke lokasi ini? Mereka menjawab: pake Honda (maksudnya mengendarai motor bermerek Honda). Dan padahal, bisa jadi, yang ia kendarai bukan merek Honda. Jadi dari sana dapat disimpulkan, kalau kendaraan roda dua merek Honda telah mendarah daging hingga menelusup ke dalam bawah kesadaran sebagian masyarakat Madura, dan bisa jadi ini juga terjadi di kalangan masyarakat daerah lainnya.

Kedua, menjelaskan maksud Pak Dasuki, mengapa ia menyebut ‘motor’ (padahal calon pembeli di warungnya mengenderai ‘mobil’), karena di hampir semua lapisan masyarakat Madura, sebutan untuk kendaraan roda empat adalah lebih dikenal dengan sebutan ‘motor’. Istilah motor (yang berarti mobil) merupakan bahasa Madura, sementara mobil itu adalah bahasa Indonesianya. Kendaraan roda dua biasanya dibahasakan dengan istilah ‘sepeda motor’.

Fenomena ‘unik’ ini mengingatkan kita pada PT. Astra Honda Motor yang menyelenggarakan program 25 juta unit sepeda motor  untuk bangsa. Program ini sangat tepat dan perlu mendapat apresiasi yang baik dari semua pihak. Sebab ke depan, khususnya di kota-kota besar, kendaraan sepeda motor bakal menjadi pilihan alternatif oleh kebanyakan masyarakat Indonesia untuk menghindari macet. (Ali Usman)