jump to navigation

Honda dan Motornya Orang Madura 26 Desember 2009

Posted by aal in Esai.
trackback

Terik matahari begitu panasnya. Walau sesekali mendung bergelayut, namun seringakali tak jadi turun hujan. “Sudah hampir satu bulan ini hujan tak jua turun di Madura”, kata Dasuki (45), penjual kaki lima di seberang Jembatan Suramadu (jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura). Tetapi cuaca yang tidak menentu itu, dan sengatan matahari yang begitu sangat, justru memberikan keuntungan tersendiri bagi Dasuki. Jualannya, terutama jenis minuman dan makanan saji laku keras diborong oleh pengendara yang lalu lalang di jalan raya.

Ya, jika Anda dari arah Surabaya melewati jembatan tersebut—yang konon, panjangnya mencapai 5,43 kilometer dan termasuk jembatan terpanjang ke-15 di dunia—cobalah menepi di ujung pangkal Suramadu. Di sana banyak para penjual makanan dan minuman untuk sekadar mengobati kantuk dan penat dalam perjalanan Anda. Dan karena pengalaman inilah, saya punya cerita untuk dikisahkan.

Waktu itu, saya dalam perjalanan pulang dari Surabaya menggunakan kendaraan roda dua. Setidaknya saya butuh tiga hingga empat jam untuk sampai ke rumah di Sumenep, kota paling ujung di pulau Madura. Dalam perjalanan itu, saya sempatkan berteduh sambil memesan minuman dingin di salah satu warung yang ada di ujung jembatan Suramadu. Pak Dasuki, pemilik warungnya, mempersilahkan saya duduk. Tetapi selang beberapa menit sebelum minuman yang saya pesan datang, Pak Dasuki menyuruh saya untuk memindahkan kendaraan saya ke tempat yang telah disediakan.

“Maaf mas, biar tidak kepanasan, Hondanya dipindah ke tempat bawah pohon itu saja”, katanya dengan logat Madura yang sangat kental. Saya mengiyakan sarannya. Honda Supra Fit tahun 2005 yang saya kendarai, saya putar 90 derajat untuk dipindah ke bawah pohon yang memang teduh.

Di warung itu, saya tidak sendiri. Selang beberapa waktu kemudian, ada dua pengendara lain yang juga berminat menikmati makanan dan minuman Pak Dasuki yang berdatangan secara bergilir. Dan anehnya, Pak Dasuki memerintahkan hal yang sama dengan apa yang diucapkan ke saya. “Mas, Hondanya parkir di bawah pohon itu saja”. Padahal saya amati, dua orang pengendara itu sebenarnya tidak mengendarai motor bermerek Honda. “Mengapa begitu?”, pikirku.

Satu lagi. Di antara kami, para pembeli, ada satu orang bapak beserta keluarganya, yang mengendarai mobil. Tapi lagi-lagi Pak Dasuki bilang begini: “Maaf Pak, demi ketertiban dan biar motor Anda tidak kepanasan, sebaiknya diparkir di bawah pohon itu”. Saya tambah bingung, mengapa Pak dasuki bilang ‘motor’, padahal jelas-jelas bapak itu mengenderai ‘mobil’?

Ternyata, setelah ditelusuri, saya baru sadar akan dua hal. Pertama, di kalangan masyarakat pedesaan, terutama di sebagian wilayah Madura, kendaraan roda dua itu identik dengan merek Honda (meskipun di sana sebenarnya juga banyak merek lain selain Honda). Artinya, semua kendaraan roda dua oleh sebagian masyarakat Madura itu dikiranya pasti bermerek Honda. Bahkan terkadang, kalau ada orang yang bertanya kepada orang Madura, “Naik apa Anda ke lokasi ini? Mereka menjawab: pake Honda (maksudnya mengendarai motor bermerek Honda). Dan padahal, bisa jadi, yang ia kendarai bukan merek Honda. Jadi dari sana dapat disimpulkan, kalau kendaraan roda dua merek Honda telah mendarah daging hingga menelusup ke dalam bawah kesadaran sebagian masyarakat Madura, dan bisa jadi ini juga terjadi di kalangan masyarakat daerah lainnya.

Kedua, menjelaskan maksud Pak Dasuki, mengapa ia menyebut ‘motor’ (padahal calon pembeli di warungnya mengenderai ‘mobil’), karena di hampir semua lapisan masyarakat Madura, sebutan untuk kendaraan roda empat adalah lebih dikenal dengan sebutan ‘motor’. Istilah motor (yang berarti mobil) merupakan bahasa Madura, sementara mobil itu adalah bahasa Indonesianya. Kendaraan roda dua biasanya dibahasakan dengan istilah ‘sepeda motor’.

Fenomena ‘unik’ ini mengingatkan kita pada PT. Astra Honda Motor yang menyelenggarakan program 25 juta unit sepeda motor  untuk bangsa. Program ini sangat tepat dan perlu mendapat apresiasi yang baik dari semua pihak. Sebab ke depan, khususnya di kota-kota besar, kendaraan sepeda motor bakal menjadi pilihan alternatif oleh kebanyakan masyarakat Indonesia untuk menghindari macet. (Ali Usman)

Komentar»

1. Yamin - 29 Desember 2009

Al, sekarang jadi sales honda ya, sip3x, semoga lancar ya…

2. aal - 30 Desember 2009

hehehehhe. gak min, cuma ingat pengalaman unik saja. dari pada nganggur, dan takut lupa ditelan ingat, saya tulis…
tks

3. Septi - 9 Oktober 2012

numpang tanya dealer honda resmi didaerah madura, dimna ya
maksih bwt infox


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: