jump to navigation

Membumikan Pesan Persaudaraan Imlek 15 Februari 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
add a comment

Dilansir dari Harian Jogja/Solopos, Sabtu, 13 Februari 2010

Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 14 Februari 2010, layak disebut sebuah fenomena budaya global. Dikatakan demikian, sebab meski dinamai berbeda-beda di negara-negara yang berbeda, namun tidak terbatas hanya dirayakan di China saja.

Tahun Baru Imlek juga dirayakan di berbagai negara yang banyak dipengaruhi ajaran Konghucu atau cukup banyak penganut agama Konghucunya, seperti Hongkong, Korea, Malaysia, Mongolia, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan termasuk di Indonesia.

Sebagian kalangan ada yang mempertanyakan apakah perayaan Tahun Baru Imlek sebagai hari besar keagamaan atau kebudayaan? Untuk menjawab pertanyaan ini nampaknya tidaklah begitu penting. Apalagi kalau hanya untuk sekadar memberi ucapan selamat kepada saudara-saudara kita yang berlatar budaya Tionghoa. Tetapi yang pasti, tahun baru Imlek yang ke 2561 kali ini bukanlah berangkat dari ruang historis yang kosong dan hampa makna.

Imlek adalah hari pergantian tahun berdasarkan penanggalan Imlek (dalam bahasa Mandarin adalah Yinli), yang perhitungannya didasarkan pada perputaran bulan atau komariah. Rangkaian acara yang dilaksanakan oleh orang Tionghoa dalam menyambut tahun baru ini berlangsung selama kurun waktu sekitar dua pekan. Ritual itu diawali perayaan Imlek itu sendiri, yang jatuh pada tanggal satu bulan satu, dan diakhiri dengan keriaan pada hari ke-15 yang di Indonesia dikenal sebagai perayaan Capgomeh.

Seperti juga tradisi di kalangan etnis Tionghoa yang tinggal di wilayah dunia lain, di Indonesia Imlek biasanya disambut dengan pesta besar-besaran. Perhelatan ini biasanya mencakup pula rangkaian upacara keagamaan yang dilaksanakan di klenteng atau bio. Rangkaian upacara ini biasanya diikuti oleh acara pawai mengarak simbolisme dewa-dewa mengelilingi kota sebelum akhirnya ditempatkan kembali di klenteng-klenteng asalnya.

Karena itu, perayaan Imlek di negeri kita juga secara tidak langsung telah menambah kaya kebudayaan Indonesia. Di Indonesia, acara ini dikenal dengan istilah gotong toapekong. Sejak pertengahan 1960-an, selama kurun waktu sekitar 30 tahun, kemeriahan Imlek di Indonesia terputus dengan adanya berbagai peraturan yang mengatur dan mengawasi kehidupan orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia. Salah satu di antaranya Instruksi Presiden No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Orang Tionghoa di Indonesia. Peraturan itu membatasi acara-acara yang berkaitan dengan agama dan adat istiadat orang etnis Tionghoa di luar rumah ibadat mereka.

Selain itu, untuk memperketat pengawasan, rezim Orde Baru mengategorikan agama dan tradisi Tionghoa, seperti Konghucu dan Tao, sebagai agama Buddha dan semua klenteng dikonversi menjadi vihara, tempat para pemeluk agama Buddha melakukan ritual agama mereka. Tentu saja dengan sendirinya acara gotong toapekong dan berbagai acara meriah lain, seperti permainan barongsai, tidak lagi dilakukan, paling tidak yang secara terbuka.

Angin segar baru datang setelah perubahan politik Indonesia sejak krisis ekonomi 1997. Momentum ini telah mengembalikan praktik perayaan Imlek seperti sedia kala. Para penyelenggara negara setelah rezim Orde Baru runtuh kini mengizinkan adanya perayaan Imlek dan praktik keagamaan Tionghoa secara lebih terbuka. Kelonggaran yang diberikan kepada masyarakat etnis Tionghoa ini muncul dengan keluarnya keputusan tentang pencabutan Instruksi Presiden No 14/1967 di atas oleh Keputusan Presiden No 6/2000 yang ditandatangani oleh Presiden Abdurrahman Wahid (mendiang Gus Dur).

Langkah yang diambil pemerintahan Gus Dur itu mengakibatkan Imlek yang pada waktu itu jatuh bersamaan dengan pergantian milenium, kembali dirayakan dengan meriah. Tak lama kemudian, kegembiraan dan kemeriahan tersebut mencapai puncaknya ketika Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan Imlek sebagai hari libur nasional yang dianggap sejajar dengan hari-hari libur nasional lain.

Pesan persaudaraan

Di luar itu semua, satu hal yang perlu ditekankan bahwa yang terpenting sekarang adalah bagaimana membumikan ajaran-ajaran Konghucu itu dalam mewujudkan nilai-nilai cinta kasih universal. Sebab pesan yang terkandung dalam setiap momentum perayaan agama, termasuk Imlek, bukanlah pada ajaran ritual semata. Memperingati suatu peristiwa sejarah tidak hanya mengharuskan kita mengingat kembali peristiwa yang diperingati, sehingga terkesan simbolik dan seremionial saja.

Artinya, secara praktis perayaan Imlek itu akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan situasi dan kondisi saat sekarang, yaitu membangun cinta kasih antarsesama. Misalnya, menunjukkan solidaritas kepada korban gempa bumi, banjir, longsor di sejumlah daerah, dan korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa timur. Ini dapat dijadikan sarana untuk mewujudkan cinta kasih dan solidaritas kemanusiaan dalam membantu korban bencana tanpa memandang agama, suku dan sekat-sekat yang lain.

Dengan begitu, ini meniscayakan setiap agama manapun untuk selalu melakukan introspeksi atas ajarannya. Sebab semua agama yang ada di dunia, pasti mengajarkan rasa saling menyayangi sesama makhluk Tuhan, tolong-menolong, toleran dan budi pekerti. Apalagi, bagi umat Konghucu peringatan Imlek dipahami secara luas sebagai Hari Persaudaraan. Meski demikian, tidak berarti kewajiban untuk saling membantu ini hanya berlangsung selama satu hari, karena Kongzi pernah mengingatkan bahwa bila diri sendiri ingin tegak (maju), maka kita juga wajib membantu orang lain untuk tegak.

Diingatkan pula bahwa di dalam upaya saling tolong-menolong itu, seharusnya kita tidak melihatnya secara tersekat-sekat, terkotak-kotak, karena pada hakikatnya menurut Kongzi, di empat penjuru samudera, semua manusia bersaudara. Dan semuanya itu perlu dilandasi cinta kasih (ren), kebijaksanaan (zhi) dan keberanian (yong), yang menjadi inti dari ajaran Kongzi atau inti dari ajaran agama Konghucu.

Itulah pesan-pesan Kongzi yang perlu ditanamkan dalam diri setiap manusia. Konsep cinta kasih yang diajarkannya adalah cinta kasih universal kepada setiap umat manusia, tanpa diskriminasi, perbedaan, dan lebih menitikberatkan pada sikap untuk memahami ketimbang dipahami, memberi ketimbang menerima, mengerti ketimbang dimengerti, dan “untuk kita” ketimbang “untuk kami”.
– Ali Usman Mahasiswa Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta/JIBI/Harian Jogja

**Gambar di atas diunduh dari google.

Gus Dur dan Karamah Kewalian 10 Februari 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
11 comments

Dilansir dari SOLOPOS, 8 Februari 2010
Oleh: Ali Usman*

Abdurahman Wahid (Gus Dur), sang guru bangsa, dan bapak pluralisme, memang telah berpulang ke haribaan Ilahi, di penghujung tahun 2009 lalu. Saat ini, ramai digelar peringatan 40 hari meninggalnya Gus Dur. Dan entah mengapa, sosok Gus Dur seolah masih hidup di dalam setiap sanubari masyarakat Indonesia. Ia hidup lewat pemikiran-pemikirannya yang diwariskan kepada generasi penerusnya.

Tidaklah heran, jika fefleksi ide-idenya tentang demokrasi, agama, budaya, dan lain-lain, terus bergema disuarakan oleh mereka yang peduli terhadap nasib bangsa ini. Di luar itu, banyak juga orang bertanya-tanya, mengapa antusiasme masyarakat begitu besar, walau hanya sekadar ikut serta mendoakan sang Gus?

Tak terbayangkan, sejak Gus Dur dikebumikan di Jombang 31 Desember 2009, dan hingga hari ini, masyarakat masih bejibun dan memadati pelataran makamnya. Mereka yang berziarah layaknya berkunjung ke tanah suci Mekkah; batu nisan Gus Dur pun dicium bak Hajar Aswad yang terselip di Ka’bah. Atas fenomena ini, ada sebagian kalangan berkomentar sinis terhadapnya, bahwa mereka (baca: pengikut Gus Dur) telah mempraktikkan syirk (menyekutukan Tuhan), dan dianggap bid’ah. Benarkah demikian?

Persepsi yang demikian itu saya kira sangat naif dan terlalu gegabah dalam menjustifikasi suatu perkara, apalagi menyangkut urusan agama. Mereka yang sinis terhadap perilaku peziarah, sesungguhnya bertindak sebagai subjek atau outsider, tapi tidak berusaha memahami dari kacamata objek atau insider. Posisi objek seringkali dalam keadaan tertindas dan dicerca habis-habisan oleh mereka yang bertindak sebagai subjek.

Dalam asumsi subjek, objek seolah harus “ditundukkan”. Begitupula dalam konteks peziarah makam Gus Dur, yang menurut kaum agamawan tertentu dianggap menyimpang dari ajaran agama yang “asli”, dan karenanya wajib diluruskan. Padahal kalau kita mau berempati, perilaku pezirah Gus Dur seperti yang disebutkan di atas, sebenarnya merupakan bagian dari penghormatan yang disertai rasa kagum—yang dalam bahasa agama disebut karamah—terhadap diri sang Gus.

Kewalian Gus Dur

Banyak orang percaya, kalau Gus Dur sesungguhnya bukan manusia biasa. Ia adalah wali Allah (waliyullah)—sebagaimana juga melekat dalam diri kakek dan ayahnya: hadratus syaikh Hasyim Asy’ari dan Wahid Hasyim. Dan karenanya, sangat wajar bila penghormatan sebagian masyarakat yang menziarahi makamnya terlihat berbeda dengan orang kebanyakan.

Bahkan dalam batas-batas tertentu, seorang kawan berkomentar menarik soal ketokohan Gus Dur. Bahwa menurutnya, “andai saat ini zaman sunan, Gus Dur layak menyandang wali ke-10 setelah Sunan Kalijaga, atau wali ke-11 setelah Syekh Siti Jenar”. Komentar ini rasanya tidak berlebihan jika kita menyimak ragam sikap dan statemen-statemen Gus Dur yang memicu kontroversi. Sebuah perilaku yang sangat mirip dengan para wali di masa-masa “pengenalan”—saya lebih suka menyebutnya demikian dari pada “penyebaran”—Islam di bumi nusantara.

Sesuai dengan maknanya, kata wali berarti dekat, kekasih, atau yang mendapat bimbingan atau pemeliharaan. Kata waliyyun, artinya orang shaleh yang ketaatannya terus-menerus kepada Allah, tanpa diseling-selingi oleh perbuatan maksiat. Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam kitabnya, Jami’ Karamat al-Auliya’, mengatakan, apabila seseorang dekat kepada Allah disebabkan ketaatan dan keikhlasannya, dan Allah pun dekat kepadanya dengan melimpahkan rahmat, kebajikan, dan karunianya, maka pada saat itu terjadilah kewalian.

Jadi segala perbuatan dan ucapan pada diri seorang wali merupakan tindakan yang diridhai oleh-Nya. Unsur Ilahi dan manusiawi melebur jadi satu menjadi satu kesatuan. Jika yang demikian telah terjadi, resiko dan konsekuensinya memang sangat besar. Penentangan dan kecaman kepada si wali acapkali terjadi. Hal ini saya kira juga berlaku pada diri Gus Dur.

Semasa hidup, Gus Dur seringkalai banyak disalahpahami oleh kebanyakan orang. Apa yang ia utarakan dianggap mengada-ada. Tetapi setelah melewati rentang waktu, orang baru sadar dan membenarkan pernyatan-pernyataanya, kalau DPR, misalnya—seperti yang pernah disinggung Gus Dur—layaknya “taman kanak-kanak”.

Dalam salah satu hadis qudsi yang sangat populer disebutkan, Rasulullah Saw. bersabda, Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, berarti ia menantang-Ku untuk berperang. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai seperti melaksanakan apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencinta-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya di mana ia mendengar; menjadi matanya di mana ia melihat; menjadi tangannya di mana ia menyentuh; dan menjadi kakinya di mana ia berjalan”.

Al-Quthub Abu al-Abbas al-Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaif al-Minan, karya Ibn Athaillah al-Sakandari, bahwa waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasihat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi hiasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk.

Itu sebabnya, Allah menegaskan dalam Q.S Yunus: 62-63, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. Sampai di sini, memang tidak ada yang tahu secara pasti apakah Gus Dur benar-benar seorang wali atau bukan. Tetapi jika dilihat dari respons, antusiasme, dan pengaruhnya yang sangat besar pada sendi-sendi kehidupan masyarakat dan bernegara, yang tidak hanya berpengaruh di kalangan muslim, tapi juga di semua agama dan golongan serta ideology, Gus Dur mungkin mendekati predikat wali itu.

Yang pasti, kepergian Gus Dur membuat duka bagi semua orang seantero negeri ini. Jadi mereka yang saat ini masih larut dalam kesedihan, dapat ditafsirkan betapa masyarakat Indonesia dan dunia mempunyai kesan positif terhadap Gus Dur, baik semasa hidup maupun hingga ajal menjemputnya.

Hal itu semakin menguatkan pendapat Syekh Muhammad Husain al-‘Adawi dalam kitabnya, al-Mathalib al-Qudsiyah fi Ahkam al-Ruh wa Atsariha al-Kauniyah, yang menjelaskan bahwa limpahan karunia Allah kepada wali-wali berupa karamah, baik pada masa hidup maupun sesudah matinya, adalah suatu hal pasti di kalangan tokoh yang memahami ajaran-ajaran makrifat, bahkan juga di kalangan lain, karena tidak ada alasan menolaknya, baik berdasarkan logika maupun berdasarkan ayat al-Qur’an ataupun hadis Nabi Saw.

Selamat jalan Gus, sampai jumpa di kehidupan berikutnya…
*Ali Usman, Aktivis muda NU, Magister Agama dan Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
** Gambar Gus Dur diunduh dari http://www.google.co.id

Memahami Antropologi Suporter Bola 3 Februari 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
16 comments

Dilansir dari Kompas Jatim, 2 Februari 2010

Oleh: Ali Usman*

Suporter adalah salah satu elemen penting dalam sepak bola. Tanpa suporter, atmosfer pertandingan sepak bola terasa hambar. Bagai sayur tanpa garam. Namun, suporter juga bisa bikin sepak bola ternoda. Itu bila mereka bertindak yang mencederai sportivitas. Tawuran, melempari wasit dan pemain, atau bahkan membakar stadion.
Ironisnya, noda-noda seperti itu masih menghiasi wajah sepak bola Indonesia. Ulah pendukung Persebaya Surabaya yang terlibat bentrok dengan warga di Solo (22/1) seakan membuka cerita lama tentang buruknya mental suporter di Indonesia. Memang, ada beragam versi terkait insiden tersebut. Ada yang bilang, Bonek—julukan pendukung Persebaya—sengaja bikin ulah dengan melempari warga. Namun, versi lain mengatakan bahwa Bonek lebih dulu diserang sehingga mereka membalas.
Apa pun versinya, yang pasti, insiden itu tak sepatutnya terjadi. Persebaya tidak sedang melakoni pertandingan di Solo. Ribuan suporter Persebaya itu hanya melintas di Solo karena akan menyaksikan tim kesayangannya berlaga melawan Persib Bandung.
Akibat dari semua itu, harus diakui, bahwa dari waktu ke waktu, dunia persepakbolan kita semakin runyam. Belum keluar dari miskin prestasi, pelbagai persoalan internal kerapkali membelit. Mulai dari lemahnya kaderisasi di PSSI, curat-marutnya di kepengurusan, hingga pada persoalan anarkisme suporter yang sering terjadi di banyak tempat.
Sungguh miris menyaksikan adegan kekerasan dan tindak anarkis itu, meski hanya lewat layar kaca. Kekerasan itu bukan pertama kali terjadi. Di waktu-waktu sebelumnya kekerasan itu selalu datang silih berganti. Kekerasan seolah menjadi penyerta yang tak bisa dihindari dalam dunia persepakbolaan Tanah Air.
Antropologi suporter
Secara sosio-antropologis, dalam wujud praksis, menurut Anung Handoko (2008: 14) yang membagi penonton menjadi dua golongan. Pertama, penonton yang murni ingin menikmati permainan cantik saja, tidak peduli dari tim mana pun, dan kedua, adalah penonton yang berpihak pada tim tertentu. Yang kedua inilah kemudian disebut dengan istilah khusus supporters.
Para suporter itu dengan sangat kreatif membuat jargon-jargon tertentu untuk menamai kelompoknya. Fenomena itu bukan hanya terjadi di negara kita, tapi telah mengglobal di hampir setiap klub di dunia yang mempunyai suporter fanatik. Misalnya, Milanisti (AC Milan), Liverpudlian (Liverpool), Laziale (SS Lazio), dan lain-lain. Sedangkan di dalam negeri, selain Persebaya, kita juga mengenal Slemania (PSS Sleman Yogyakarta), Aremania (Arema Malang), Jakmania (Persija Jakarta), Brajamusti (PSIM), Pasoepati (Persis Solo), dan sebaginya.
Dalam perkumpulan dan kelompok tersebut, kita bisa menyaksikan secara cermat, bahwa antar suporter sebenarnya tidak lagi mengenal dan memperhitungkan ras, warna kulit, suku atau etnis, bahkan agama sekalipun. Semuanya menjadi satu mendukung tim kesayangannya. Seolah martabat mereka diwakili dan diemban oleh kesebelasan. Di sini, suporter seolah melengkapi sebagai pemain yang keduabelas. Ini juga berlaku pada tim merah putih tatkala melawan negara-negara tetangga di banyak momen.
Sebagai bentuk konflik, dalam pandangan Aji Wibowo (2005), pada dasarnya sepakbola merupakan olahraga yang di dalamnya terdapat upaya saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan spirit kompetisi diwujudkan dengan adanya aturan-aturan permaianan, yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, guna menjamin keadialan dalam lapangan.
Dalam kondisi demikian, suporter sebagai bagian yang terlibat langsung dengan tim yang bertanding ikut terseret dalam situasi konflik. Suporter hadir di arena pertandingan dengan tujuan mendukung untuk menaikkan mental dan moral tim yang didukung sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter bertemu di arena pertandingan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, dan saling ejek.
Tauladan Slemania
Barangkali Persebaya perlu berkaca pada suporter Slemania, yang mempunyai slogan, “Slemania Edan Tapi Sopan” tampaknya memang layak diapresiasi karena pada 2004 mendapat penghargaan sebagai suporter terbaik. Itu sebabnya, tidak heran, saat melintasi wilayah DI Yogyakarta, kereta api luar biasa sempat disambut suporter PSS Slemania. Mereka memberi para bonek minuman kemasan, rambutan, dan semangka (Kompas, 25/01/2010).
Secara sosiologis, keramahan, ketertiban, dan kesopanan Slemania dapat dibenarkan. Menurut penelitian Wahyudiyono (2004) basis kulutural sangat mempengaruhi kejiwaan masing-masing suporter. Ia membuat komparasi antara kelompok suporter Slemania dan Panser Biru Semarang. Alhasil, Slemania yang berasal dari masyarakat Yogyakarta dengan kultur yang agraris, non-industrial, dan memiliki loyalitas secara kultural terhadap kraton yang memegang nilai-nilai Jawa yang kuat.
Nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat Yogyakarta, seperti nrimo ing pandum atau alon-alon waton kelakon, ikut membentuk perilaku Slemania dalam mempertahankan identitas sebagai pendukung PSS Sleman yang kreatif dan anti-anarkis. Sebaliknya, Panser Biru dilahirkan dari masyarakat kota industri yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial masyarakat industrial. Ciri masyarakat perkotaan yang cenderung individualis dan persaingan sosial yang ketat memberi dampak bagaimana konsep solidaritas dalam kelompok suporter Panser Biru.
Pada ranah itu, solidaritas mereka menjadi kurang kuat, fanatisme mereka pun cenderung teraktualisasi dalam bentuk vandalisme, anarkisme, dan destruktifisme. Tidak heran jika kekalahan mereka pandang sebagai suatu hal yang tabu terjadi karena mereka merasa hak atau harga diri mereka diambil oleh orang lain.
Akhirnya, melalui perspektif ini, dapatlah kita menerka sendiri perilaku tiap-tiap suporter yang menyertai tim kesayangnya. Adakalanya damai, sopan, dan tertib. Tapi tak bisa disembunyikan pula, bahwa terdapat suporter yang hobi melakukan tindakan anarkis. Dengan demikian, kita menjadi tahu bahwa perkumpulan suporter mencerminkan banyak aspek atau nilai-nilai: toleransi, solidaritas yang tinggi, dan bahkan konflik.
Jika ini tidak diurus dengan baik oleh pihak terkait, maka tetaplah terpuruk nasib persepakbolaan kita. Maju terus sepak bola Indonesia, damai selalu para suporter.
*Ali Usman, pencinta bola, tinggal di Jogjakarta
**gambar/foto di atas diunduh dari http://www.google.co.id