jump to navigation

Gerakan Peduli Sampah 2 Maret 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Harian Jogja, 22 Februari 2010

Oleh Ali Usman*

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Keberadaannya (sampah) sangat mudah kita jumpai di sekitar kita. Bahkan sebenarnya, kita itu tidak hanya sebagai penemu, tapi juga sebagai pelaku dalam mencipta sampah.

Lantas, apa yang menarik dari sampah? Di era masyarakat serba modern seperti sekarang ini, membincangkan esensi sampah mungkin terkesan ‘kurang kerjaan’ dan tak ada gunanya. Apalagi, sampah selalu identik dengan barang atau benda-benda yang kotor, jorok, menjijikkan, dan padanan negatif lainnya.

Sepintas memang, pesoalan sampah mungkin tampak remeh dan oleh sebagian orang, dianggap tidak ada yang menarik membincangkannya. Tetapi jangan lupa, bahwa  karena sampahlah, banyak orang harus rela kehilangan nyawa lantaran longsor sampah yang menggunung. Begitu pula dengan banjir di sejumlah daerah juga lantaran sampah yang menggenangi sungai atau perairan di sekitar warga. Jadi, sebenarnya, sampah telah menjadi salah satu permasalahan besar dalam kehidupan kita.

Sayangnya, dalam isu ekologi global, masalah sampah belum menduduki peringkat penting untuk diwacanakan luas. Bahaya akumulasi sampah masih dipandang sepicing mata. Masyarakat dunia lebih sibuk membincangkan masalah pemanasan global, pembengkakan penduduk dunia, illegal logging, termasuk aksi-aksi menentang MNC/TNC, IMF serta Bank Dunia. Dan ironisnya, kondisi ini luput dari nalar kritis pemuda atau mahasiswa, yang biasanya selalu menjadi garda depan dalam menyuarakan kesenjangan-kesenjangan sosial.

Padahal jika persoalan sampah diwacanakan secara luas, persoalan yang sekilas tampak remeh ini bisa jadi pintu masuk bagi penyemaian ekologi lainnya. Mungkin benar bahwa orang terlanjur terbiasa menghabiskan energi pada segala sesuatu yang besar: Tuhan, ideologi, negara, politik, ekonomi dan menafikan detil-detil sederhana ranah kehidupan (Adian, 2002).

Karena itu, kesadaran dan kepedulian seseorang terhadap lingkungannya, mula-mula, bisa dilihat dari pola memperlakukan sampah. Masyarakat, orang perorang, memiliki tanggungjawab yang sama dalam menjaga lingkungannya. Doktrin agama maupun norma adat dengan tegas mengatakan bahwa “menjaga kebersihan merupakan bagaian dari iman”. Namun dalam perilaku sehari-hari, sebagian dari kita, justru kerap membuang sampah sembarangan. Seolah tanpa merasa berdosa, membuang sampah di jalan, selokan, bahkan sungai, dianggap hal yang biasa atau kewajaran. Akibatnya saluran air tersumbat. Maka jangan heran jika musim hujan tiba, air meluap menggenangi areal persawahan dan permukiman penduduk.

Sampah dan ekologi lingkungan

Fritjof Capra pernah mengungkapkan hal menarik tentang keterkaitan sampah dengan ekologi. Menurutnya, ada dua perkembangan yang punya dampak besar pada kesejahteraan dan cara hidup umat manusia. Keduanya berkaitan dengan jaringan, dan keduanya melibatkan teknologi yang benar-benar baru. Yang pertama adalah kebangkitan kapitalisme global, dan yang lainnya adalah penciptaan masyarakat berkelanjutan berdasarkan pemahaman ekologis dan praktek ekodesign.

Dua macam itu saat ini saling bertentangan dan belum bisa didamaikan. Dalam pandangan Bernhard Glaeser (1990), rumusan klasik dari pertentangan tersebut adalah ekonomi versus ekologi. Keduanya pula dipercaya tunduk pada hukum-hukum yang berbeda. Ekologi tunduk pada hukum-hukum alam (fisika) yang menetapkan bahwa jumlah seluruh benda (matter) dan tenaga (energi) tidak dapat diperbesar oleh perubahan-perubahan dalam proses produksi.

Barangkali Capra terlampau optimistis ketika menyandingkan keduanya, kapitalisme global dan masyarakat berkelanjutan, sebagai penanda baru bagi peradaban umat manusia. Sebab, seperti yang terlihat sekarang, jaringan kapitalisme global telah menancap sedemikian rupa, menyelusup masuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan. Sedangkan cita-cita terwujudnya masyarakat berkelanjutan masih menjadi semacam utopia.

Boleh jadi inilah salah satu ironi modernitas yang kerap didengungkan itu. Jejaknya bisa kita turut lewat genangan sampah di kali, atau tumpukan tas plastik bertuliskan Carrefour dan Hypermarket lainnya di depan perumahan menengah perkotaan, juga bau bacin bangkai ikan, ayam, daging dan sayur-mayur dalam hiruk-pikuk pasar tradisional. Ternyata, kini bisa dikatakan bahwa modernitas tak selalu menyajikan kemakmuran dan kehidupan lebih baik bagi manusia seperti yang dijanjikan.

Dengan begitu, barangkali umur kehidupan di bumi akan lebih panjang jikalau manusia tidak memproklamirkan diri lepas dari keterbatasan alam, bangkit dari keterbatasan pikiran tradisional menuju alam pikiran modern. Industrialisasi yang lahir dari cangkang modernitas telah membawa manusia pada peradaban yang mengutamakan produktivitas. Aktivitas produksi yang disertai perilaku konsumsi “gila-gilaan” telah melahirkan sikap dan perilaku yang eksploitatif terhadap alam dan segala isinya.

Menurut Arne Naess, krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Untuk itu diperlukan perubahan yang fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per-orang, melainkan juga budaya masyarakat secara keseluruhan (Keraf, 2000).

Maka menjadi benar bila krisis lingkungan yang terjadi saat ini bersumber pada kesalahan fundamental-filosfis dalam pemahaman atau cara pandang manusia terhadap dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Pada gilirannya, kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola perilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam.

Manusia di abad 21 sudah sedemikian konsumtif sehingga banyak menghasilkan sampah. Masalah sampah pada dasarnya ditimbulkan oleh ulah manusia sendiri, sebab dalam prinsip ekologi alam tidak menghasilkan residu. Manusialah yang menghasilkan residu, dan yang paling nyata adalah sampah.

Lalu, sadarkah kita, wahai pemuda, akan kondisi memprihatinkan tersebut? Refleksi dan berpikir kritis dalam konteks ini adalah hal mutlak yang harus dilakukan, terutama oleh pemuda sebagai penggerak zaman. Jika tidak, bersiaplah kita mendapat gelar “pemuda sampah”. Semoga tidak.

*Ali Usman, aktivis sosial, tinggal di Jogjakarta

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: