jump to navigation

Mahasiswa Tak Sadar Lingkungan? 19 Juni 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Suara Merdeka, 19 Juni 2010

Oleh Ali Usman*

Tanggal 5 Juni 2010 diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun ironisnya, momentum perayaan ini sepi dari iruk-pikuk kaum aktivis, baik mahasiswa, LSM, dan apalagi pemerintah nyaris tak ada sedikitpun seruan yang menyuarakan tentang krisis lingkungan. Kondisi ini berbeda jauh dengan momen-momen hari dunia lainnya, seperti Hari HIV/AIDS, bahaya narkoba, HAM, dan lain sebagainya.

Di manakah peran aktivis, yang biasanya disuarakan oleh kelompok mahasiswa kritis? Tidakkah kita jengah dengan kondisi alam yang kian memburuk, sehingga mahasiswa pun seolah emoh lagi walau hanya turun jalan atau aksi damai, misalnya, untuk menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan? Bukankah mahasiswa selalu bangga dengan predikat sebagai agent social of changes, atau sebagai gerakan moral force?

Idealnya, baik pemerintah, aktivis sosial-lingkungan, maupun agamawan, berjalan serempak dengan mengusung agenda yang sama, yaitu melakukan kampanye penyadaran kepada masyarakat luas agar menjaga lingkungan sekitar, dengan misalnya, tidak menggunduli hutan, menjaga kebrsihan lingkungan (tidak membuang sampah sembarangan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya banjir), dan lain sebagainya.

Setidak-tidaknya, mahasiswa hemat saya dapat mengambil jalan tengah dengan melakukan kontrol terhadap peran pemerintah lewat UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang harus secara konsisten mampu mengimplemantasikannya; aktivis lingkungan pun dituntut demikian, ikut mensosialisasikan sekaligus terus mengkampanyekan bahaya kerusakan alam; dan bagi agamawan selain mendukung program pemerintah, perlu pula mereinterpretasi doktrin agamanya secara lebih kritis dan aktual sesuai dengan kondisi yang saat ini sedang berlangsung.

Khusus tentang persoalan hubungan agama dan lingkungan, pendapat Hassan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology, and Developmentalism (1990), menarik untuk direnungkan, dengan menawarkan apa yang dikenal sebagai teologi untuk memperlakukan bumi. Bagaimana semestinya bumi ini diperlakukan?

Menurut Hanafi, bumi merupakan ciptaan Tuhan yang harus dikelola manusia secara baik dan benar. Tak ada satupun manusia yang sesungguhnya berhak mengklaim memiliki barang sejengkalpun terhadap bumi, karena bumi ini adalah milik-Nya. Oleh karenanya, tak dibenarkan jika ada manusia yang arogan ketika merasa memiliki tanah di bumi.

Arogansi dalam pengertian, misalnya, ketika manusia merasa memiliki sejengkal tanah, lalu dia berbuat seenaknya sendiri; mengebor, mengeruk, mengeksploitasi, tanpa memikirkan apa akibatnya. Juga arogansi seperti, oleh karena manusia hidup di alam dan ling-kungan, lalu ia seenaknya mengotori dan mencemari alam dan lingkungan dengan polusi serta berbagai perbuatan lainnya yang sesungguhnya akan merusak bumi.

Ekonomi versus ekologi

Dengan begitu, barangkali umur kehidupan di bumi akan lebih panjang jikalau manusia tidak memproklamirkan diri lepas dari keterbatasan alam, bangkit dari keterbatasan pikiran tradisional menuju alam pikiran modern. Industrialisasi yang lahir dari cangkang modernitas telah membawa manusia pada peradaban yang mengutamakan produktivitas. Aktivitas produksi yang disertai perilaku konsumsi “gila-gilaan” telah melahirkan sikap dan perilaku yang eksploitatif terhadap alam dan segala isinya.

Menurut Arne Naess, krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Untuk itu diperlukan perubahan yang fundamental dan radikal. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang peroarang, melainkan juga budaya masyarakat secara keseluruhan (Keraf, 2000).

Maka menjadi benar bila krisis lingkungan yang terjadi saat ini bersumber pada kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia terhadap dirinya, alam dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Pada gilirannya, kesalahan itu menyebabkan kesalahan pola perilaku manusia, terutama dalam berhubungan dengan alam.

Fritjof Capra dalam The Hidden Connection, mengungkapkan ada dua perkembangan yang punya dampak besar pada kesejahteraan dan cara hidup umat manusia. Keduanya berkaitan dengan jaringan, dan keduanya melibatkan teknologi yang benar-benar baru. Yang pertama adalah kebangkitan kapitalisme global, dan yang lainnya adalah penciptaan masyarakat berkelanjutan berdasarkan pemahaman ekologis dan praktek ekodesign.

Dua macam itu saat ini saling bertentangan dan belum bisa didamaikan. Dalam pandangan Bernhard Glaeser (1990), rumusan klasik dari pertentangan tersebut adalah ekonomi versus ekologi. Keduanya pula dipercaya tunduk pada hukum-hukum yang berbeda. Ekologi tunduk pada hukum-hukum alam (fisika) yang menetapkan bahwa jumlah seluruh benda (matter) dan tenaga (energi) tidak dapat diperbesar oleh perubahan-perubahan dalam proses produksi.

Barangkali Capra terlampau optimis ketika menyandingkan keduanya, kapitalisme global dan masyarakat berkelanjutan, sebagai penanda baru bagi peradaban umat manusia. Sebab, seperti yang terlihat sekarang, jaringan kapitalisme global telah menancap sedemikian rupa, menyelusup masuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan. Sedangkan cita-cita terwujudnya masyarakat berkelanjutan masih menjadi semacam utopia.

Berpijak pada kerangka pemikiran itulah, dampak kerusakan lingkungan yang telah berwujud nyata, seperti bencana banjir, longsor, dan bahkan gempa bumi, maka proses penanganannya harus dilakukan secara komprehensif. Mesti ada kerangka pemikiran yang sistematis, mudah dipahami dan diaplikasikan dalam pola kehidupan sosial sehari-hari. Akan menjadi lebih baik manakala konsep-konsep yang banyak dilahirkan oleh aktivis sosial lingkungan menjadi kerangka acuan kebijakan publik dan politik sehingga menjadi satu kewajiban untuk dipatuhi oleh setiap warga negara. Semoga.

*Ali Usman, aktivis sosial, dan Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: