jump to navigation

Demitologisasi Pahala Puasa 12 Agustus 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
add a comment

Dilansir dari Suara Merdeka, 12 Agustus 2010

Oleh Ali Usman*

TAK terbantahkan, bahwa puasa Ramadan mampu menyulap kondisi masyarakat yang mulanya berwajah sekularistik seketika berubah menjadi kehidupan yang penuh agamis dan islami. Dari kacamata sosio-antropologis, bisa kita saksikan bersama, layar kaca yang semula dipenuhi oleh suguhan tontonan menggiurkan bercorak pengumbaran aura seksual, tapi tidak dengan pada bulan suci dan penuh ampunan ini.

Artis yang biasa menghiasi layar kaca kini berpenampilan beda; tak ada lagi lekukan tubuh yang diumbar, tubuhnya dibalut busana serbatertutup, bahkan sebagian berkerudung. Sepintas, keberimanan mereka seolah mengalahkan para ustad/ ustadzah atau kiai yang tenaga dan waktunya sepenuhnya diperuntukkan mengurus umat.

Perubahan gaya dan kehidupan artis yang serbaagamis itu, tampaknya juga menerpa politikus, terutama mereka yang tersandung kasus korupsi. Di media cetak ataupun elektronik, walaupun publik masih disuguhi berita seputar korupsi anggota parlemen, tidak menyurutkan mereka yang nyata-nyata telah dijatuhi hukuman penjara menyatakan berkhidmat dalam menyambut bulan suci Ramadan. Mengapa?

Jawabannya tentu sebagaimana dimengerti umat muslim pada umumnya, yaitu Ramadan merupakan bulan penuh ampunan dan penuh hikmah. Dengan berpuasa dan menjalankan sunah-sunahnya, dosa seorang hamba dimungkinkan bakal terampuni oleh Sang Khalik.

Kesadaran yang demikian itu tentu saja tidak ada yang salah, meski mereka terang-terangan memakan uang haram milik rakyat. Hanya yang menjadi pertanyaan adalah semudah itukah mereka yang berlumur dosa teologis dan sosial karena telah melakukan korupsi, lalu terampuni dosa-dosanya?

Prerogatif Tuhan

Secara vertikal, diampuni atau tidaknya dosa seorang koruptor jelas merupakan hak prerogatif Tuhan, yang manusia tidak bisa mengintervensi, apalagi berbuat justifikasi. Tetapi secara horizontal, hubungan sesama manusia, kita layak mempertanyakan landasan teologis-ketuhanan tentang pengampunan dosa bagi siapa saja (termasuk koruptor) bila oleh Tuhan dinyatakan sukses menjalankan ibadah puasa Ramadan. Lalu di manakah keadilan Tuhan itu?

Di sinilah, sebagai umat beriman (QS, Al-Baqarah: 183) saya kira tidak ada salahnya bila kita melakukan reinterpretasi dan dekonstruksi makna puasa itu.  Pertama-pertama, kita harus menempatkan muatan religius dalam Ramadan sebagai ”mitos”, seperti dilipatgandakannya pahala, hingga beribu-ribu kelipatan. Pasalnya jika ”mitos” ini dipertahankan, tak terbayangkan, apa jadinya seandainya pendosa besar atau katakanlah koruptor, dengan dia berpuasa penuh kekhusukan, pahalanya berlipat, dan mampu menutupi dosa politiknya 11 bulan sebelumnya. Alamak!

Rudolf Bultmann (1984-1976), teolog terkemuka dunia menyebut pola dekonstruksi penafsiran yang seperti itu dengan istilah ”demitologiasi”. Jadi agama (kitab suci), menurut dia, sebenarnya banyak menyimpan cerita mitologi yang tercermin dalam eskatologis. Maka untuk memahaminya secara rasional, seorang penafsir, sejatinya dapat mengeluarkan terlebih dahulu mitos-mitos yang membeku, lalu kemudian dipahami berdasarkan kemampuan akal setiap individu.

Mencoba bersetuju dengan Bultmann maka muatan pahala yang berlipat di bulan Ramadan sebagaimana dimakzulkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, hemat saya bukan tujuan (ghayah) dari ibadah puasa melainkan lebih merupakan motivasi bagi umat muslim untuk terus meningkatkan kualitas keimanannya, khususnya pada bulan suci ini. Maksud Tuhan mengiming-imingi pahala berlipat tidak lain hendak menyadarkan manusia yang tabiatnya bermalas-malasan dalam beribadah.

Begitu sering puasa Ramadan kita jalani dalam setiap tahunnya. Tapi mengapa masih ada orang jahat memakan harta dan hak orang lain? Saya kira kita tidak perlu lagi menabukan dengan mempertanyakan hal tersebut. Menurut Ali Shariati (Amien Rais, 1982), manusia di dalam dirinya memiliki dua kutub yang kontradiksi, yakni kutub suci merupakan bagian dari sifat Tuhan, dan kutub kehinaan. Alquran menunjuk dua kutub itu dalam potensi fuzara yang cenderung pada kejahatan atau keburukan dan potensi muttaga yang cenderung pada kebaikan dan kesucian (QS, As-Syams: 7-8).

Hidup ini menurut hemat saya layaknya sandiwara yang pemainnya memakai topeng sesuai karakter yang diinginkan. Artinya, pada Ramadhan, kita menyaksikan topeng-topeng itu memainkan perannya. Coba bandingkan dengan setelah Ramadan nanti. Keberhasilan seseorang dalam menjalankan puasa sesungguhnya tercermin setelah ia menunaikan ibadah Ramadan. (10)

— Ali Usman, Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/12/120264/Demitologisasi-Pahala-Puasa

Tari Madura, Riwayatmu Kini 2 Agustus 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
add a comment

Dilansir di Media Indonesia, 31 Juli 2010

Oleh: Ali Usman*

Membincangkan sisi kebudayaan Madura sangat menarik di tengah situasi dan kondisi pulau garam itu digerus oleh industrialisasi dan globalisasi yang kini mulai tampak menggurita. Jembatan Suramadu, yang konon, menjadi simbol kebanggaan masyarakat Madura dan bangsa Indonesia, sesungguhnya dapat pula membawa petaka terhadap matinya kebudayaan asli Madura.

Kebudayaan-kebudayaan yang dianggap baru dan metropolis telah menggeser minat masyarakat terhadap kebudayaan asli yang dimiliki. Tengoklah nasib kerapan sapi, misalnya, yang mulai jarang digelar dan digantikan balap motor; seni karawitan daerah terlihat mulai ditinggalkan, karena masyarakatnya terhipnotis oleh kehebohan konser-konser musik modern.

Itu sebabnya, dalam tulisan ini hendak mengorek kembali warisan masa lalu kebudayaan Madura, yang walaupun juga mengalamai hal yang sama dengan ragam kebudayaan-kebudayaan lainnya, yaitu sepi peminat, namun masih ada harapan untuk tetap eksis. Kebudayaan asli Madura di sini, yang saya maksudkan adalah seni tari yang oleh banyak kalangan peneliti dianggap tidak menunjukkan tahap perkembangan yang berarti, tetapi eksistensinya masih berwujud dan di sebagian pedalaman masyarakat Madura terus dilestarikan.

Krisis seni tari Madura

Seni tari Madura sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan tari keraton yang ada—baik gerakan dan pakaiannya—terilhami tarian yang dikembangkan di keraton-keraton Jawa. Menurut Mien Ahmad Rifai (2007), tari rakyat yang sering dipertontonkan merupakan pengembangan tarian tunggal yang lalu dijadikan tarian berpasangan dalam bentuk tayuban. Tandha’ (penari perempuan) akan melemparkan selendangnya kepada seorang pria yang menontonnya untuk menemaninya menari dan dengan demikian dia mendapatkan imbalan duit. Tarian Madura kreasi baru—seperti misalnya tari pecut—terlihat terilhami tari ngremo atau tari kelana yang di Jawa umum dipergelarkan sebelum pertunjukan ludruk.

Gerakan tarian baru itu umumnya dinamis dan giring-giring yang dikenakan di kaki para penarinya lebih memeriahkan dan menyemarakkan suasana. Apalagi karena tarian tersebut sering ditarikan secara massal sambil membawa pecut yang kalau dikebatkan mengeluarkan bunyi menggelegar yang keras. Namun sayangnya, peristiwa ini sudah sangat jarang dijumpai di setiap pementasan tari di Madura. Yang ada, jenis tarian biasa, diperankan oleh satu atau dua sinden perempuan, lalu ditemani oleh para penyambut selendang dari kalangan laki-laki.

Seni tari lain khas Madura juga dapat ditemui pada seni pencak dan silat, yaitu seni bela diri dengan gerakan-gerakan cermat, teratur, dan sekaligus indah untuk menangkis atau mengelak serangan lawan sambil menyerang balik. Pertarungan dalam lakon yang dipentaskan saat menggelar ludruk sering melibatkan gerakan pencak dan silat. Ludruk (disebut juga katopra’) yang dimaksudkan adalah bentuk seni drama tradisional yang juga dengan susah payah terus mencoba bertahan di Madura di tengah ancaman persaingan film dan sinetron di televisi.

Ketradisionalan ludruk terkenal dari pemakaian gamelan sebagai latar belakang, dengan lakon yang dapat sangat bervariasi mulai dari khasanah klasik sampai pada cerita modern (Bouvier, 1989). Kaum muda lebih menyukai bentuk sandiwara sebagai pemodernan ludruk, dengan lakon-lakon yang tidak pakem. Pada pihak lain, wayang orang (topeng)—atau lengkapnya biasa dikenal bajang topeng dhalang (wayang topeng dalang), seni teater yang dianggap khas Madura (Soelarto, 1977)—hampir selalu hanya memainkan lakon dari episode klasik dalam Mahabarata dan Ramayana, atau dicuplikkan dari siklus cerita Panji (yang mengambil tempat saat jaya-jayanya kerajaan Kediri di abad XII).

Problem kesenian tari maupun kesusastraan Madura sejatinya tetap mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait, agar terus dilestarikan sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi leluhur yang telah mengakar kuat di masyarakat. Tanpa itu semua, tidak mustahil, identitas ke-Madura-an dengan segala kekhasan dan karakteristiknya akan punah ditelan zaman. Semoga tidak terjadi.

*Ali Usman, pemerhati budaya, kelahiran Sumenep-Madura

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/07/31/index.shtml