jump to navigation

Menggagas Pendidikan Tanggap Bencana 15 November 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Media Indonesia, 15 November 2010

Oleh Ali Usman*

Masihkah kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam pendidikan diperlukan bagi anak-anak yang saat ini mengalami korban bencana? Pertanyaan ini tidak bermaksud menggemboskan semangat anak-anak korban bencana—baik korban banjir di Wasior, tsunami Mentawai maupun korban letusan gunung Merapi di tiga wilayah: Sleman, Magelang, dan Klaten—yang walau dilanda musibah, mereka tampak sangat antusias mengikuti ragam kegiatan edukasi positif yang diselenggarakan oleh para relawan.

Namun yang perlu dimengerti adalah situasi dan kondisi kalut para korban bencana. Sebagian dari mereka (anak-anak sekolah), harus rela menerima duka dan kesedihan mendalam lantaran sanak saudara, atau bahkan anggota keluarganya (orangtua) menjadi salah satu korban bencana alam. Dalam situasi ini, sepertinya sangat sulit mengajak anak-anak korban bencana itu untuk mengikuti KBM, kecuali di samping karena kemauan kuat dari si anak, juga perlu dibarengi dengan merubah format KBM, yang saya menyebutnya dengan istilah “pendidikan darurat”.

Asumsi yang dibangun dalam tulisan ini adalah bagaimana kita berempati dengan ikut memerhatikan nasib ribuan anak-anak Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan (SMP/SMU) kini menderita akibat bencana. Mulai dari Wasior, Mentawai hingga Merapi, banyak bangunan sekolah yang rusak, buku maupun sarana belajar lainnya juga hancur. Mereka tidak bisa belajar karena harus ikut mengungsi bersama orangtua mereka. Dan belum jelas bagaimana kelanjutan pendidikan mereka karena situasinya amat buruk dan nyaris tidak tertangani dengan baik.

Banyak anak yang tidak tahu lagi mesti belajar di sekolah mana, dan apakah sekolah yang ada bisa menampung mereka dalam kondisi morat-marit di area pengungsian yang sejauh ini masih di bawah terpal darurat dan tenda-tenda sementara.

Maka di sinilah pentingnya memikirkan alternatif untuk mencegah agar anak-anak sekolah di kawasan bencana tidak menjadi generasi yang hilang adalah dengan membangun pendidikan darurat. Pendidikan darurat itu penting untuk memberikan pelajaran dan pendidikan yang layak, apalagi bagi mereka yang masih harus menyelesaikan pendidikan sembilan tahun.

Pendidikan darurat

Dalam pengamatan saya, ada tiga pengertian apa yang dimaksud dengan pendidikan darurat. Pertama, mengacu pada tempat atau ruang belajar sebagai sarana fisik untuk menyelenggarakan pendidikan. Artinya, selama masih dalam situasi ‘awas’ atau ‘darurat’ di lokasi pengungsian, maka untuk melangsungkan KBM tidak perlu menunggu tegaknya bangunan gedung sekolah baru, tapi cukup memanfaatkan tenda-tenda “pengungsi” sebagai ruang KBM. Selain tenda-tenda, dapat pula menggunakan bangunan rumah milik warga yang masih layak pakai sebagai ruang belajar sementara.

Kedua, memanfaatkan partisipsi guru dari para relawan, yang walaupun mereka mungkin sebenarnya tidak menyandang sebagai guru (dalam arti formal), tapi lewat kemampuan dan predikat mahasiswa, misalnya, dapatlah diperbantukan untuk mendukung KBM bagi anak-anak sekolah korban bencana. Proses pembelajaran ini sangat penting, terutama bagi para relawan, yang barangkali merupakan pengalaman baru dalam mengajar, yang itu pasti bermanfaat di kemudian hari.

Ketiga, materi KBM tidak mesti mengacu pada kurikulum pembelajaran formal, tapi lebih dititikberatkan pada aspek-aspek sekunder, seperti bermain sambil belajar. Peran guru sangat menentukan untuk mendukung program ini. Harry K. Wong dan Rosemary T. Wong dalam How to be an Effective Teacher: The First Days of School (2005) menyebutkan setidaknya ada tiga ciri guru efektif, yaitu memiliki ekspektasi positif terhadap kesuksesan siswa, manajer kelas yang andal, dan mengetahui cara merancang pelajaran untuk dikuasi siswa.

Jadi, tanpa mengurangi substansi belajar, unsur permainan dalam proses KBM bagi anak-anak korban bencana perlu diprioritaskan. Hal ini penting dilakukan untuk memberikan “hiburan” bagi anak-anak korban bencana, yang barangkali masih dihantui oleh rasa traumatik. Sementara aspek-aspek pembelajaran formal bisa diselipkan pada pola permainan yang sedang berlangsung.

Misalnya, seorang guru menyelenggarakan semacam audisi menyanyi untuk anak didiknya dengan mengambil tema lingkungan dan alam semesta. Di era sekarang ini, anak-anak sekolah dimungkinkan berpikir keras untuk mengingat dan menyebut penyanyi-penyanyi favoritnya, seperti Iwan Fals, Ebiet G.A.D, Slank, dan Opick, yang pernah menyanyikan lagu bertema lingkungan dan alam semesta tersebut. Lewat lagu-lagu itulah, tugas seorang guru nantinya mengkorelasikan dengan pembelajaran geografi, biologi, agama, dan lain sebagainya.

Bermain sambil belajar

Dengan demikian, sekolah dalam kondisi itu, sesungguhnya berubah menjadi tempat belajar yang mengasyikkan bagi anak. Dan sudah tentu, sangat berbeda jauh dengan situasi sekolah dalam keadaan normal sebelum bencana, yang lebih didominasi oleh aturan-aturan ketat, mengacu pada diktat, dan cenderung mengurangi—untuk tidak mengatakan ‘menghilangkan’—kekhasan anak-anak yang memang lebih menyukai bermain daripada tekanan psikologis belajar secara serius.

Pendidikan di zaman modern cenderung melenceng dari maksud dan tujuan asalnya. Banyak anak didik kurang bermain demi memenuhi target belajar. Masa kecilnya disadari atau tidak, telah tergadaikan dengan ‘iming-iming’ prestasi. Padahal, pendidikan menurut Paulo Freire, seorang pendidik terkenal berkebangsaan Brasil, adalah proses pembebasan dan proses membangkitkan kesadaran kritis.

Pendidikan, dalam arti sekolah sejatinya tidak menghilangkan masa-masa kebahagiaan anak yang karakteristiknya suka bermain. Apalagi, menurut sejarah, sekolah berasal dari bahasa Latin skole, scola atau scolae, yang berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Artinya, sekolah adalah “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (FA. Agus Wahyudi, dalam Majalah Basis, Nomor 07-08, Juli-Agustus, 2006). Pemahaman ini berbanding terbalik dengan fakta di lapangan, yang tidak memberikan “waktu luang” bagi anak untuk bermain bersama teman-teman sejawatnya. Singkatnya, konstruk pemikiran masyarakat modern saat ini menjadikan pendidikan nomor satu, sementara bermain (dengan segala karakteristik dan kekhasan anak) dinomorduakan atau bahkan di nomor urut berikutnya.

Karena itu, yang dikedepankan dalam aktivitas KBM di tengah situasi bencana adalah mengembalikan peran sekolah ke khitahnya, yang berorientasi pada—meminjam istilah Paulo Freire “memanusiakan manusia” (humanizing human being). Dan memang, pola penanganan pendidikan untuk anak-anak korban bencana membutuhkan ide-ide kreatif-taktis dari para penyelenggara pendidikan, baik Diknas maupun Pemda setempat untuk tetap memberikan hak dan kewajiban anak belajar, sebagaimana diatur oleh UUD 1945 dan UU Sisdiknas.

Realisasi kurikulum kebencanaan

Untuk jangka panjang, sekolah perlu membangun pembiasaan menghadapi bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, kebakaran, hingga kerusuhan. Lewat pendidikan, masyarakat perlu disadarkan bahwa daerah yang kita tempati saat sekarang rawan bencana, terutama bencana alam geologi. Sebab menurut para ahli, posisi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Australia di selatan, Lempeng Euro-Asia di bagian barat, dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian timur.

Karena itu, setiap warga negara, termasuk siswa, mesti tahu bagaimana bisa meloloskan diri secara tepat supaya tidak menambah korban jiwa karena bencana. Jadi ke depan, kegiatan pengurangan risiko bencana yang dimandatkan oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan. Ditegaskan pula dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.

Kita menunggu realisasi kurikulum kebencanaan yang sudah disiapkan oleh Kemdiknas. Pasalnya, pemerintah menargetkan segera merealisasikan kurikulum pendidikan kebencanaan pada 2011. Kurikulum tersebut akan difokuskan pada sekolah-sekolah yang rawan mengalami bencana. isi modul pendidikan kebencanaan tidak akan dimasukkan ke dalam satu pelajaran, tetapi diintegrasikan ke beberapa pelajaran, seperti geografi, agama, bahasa Indonesia, dan lain-lain (Kompas, 5/11/2010).

Konsekuwensinya, jika setiap orang harus mengambil peran dalam kegiatan pengurangan risiko bencana, maka sekolah dan komunitas di dalamnya juga harus memulai mengenalkan materi-materi tentang kebencanaan sebagai bagian dari aktivitas pendidikan keseharian. Usaha meningkatkan kesadaran adanya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, di dunia pendidikan harus dilaksakanakan baik pada taraf penentu kebijakan maupun pelaksana pendidikan di pusat dan daerah. Dengan harapan pada seluruh tingkatan memiliki pemahaman yang sama akan perlunya pendidikan kesiapsiagaan bencana tersebut. Semoga.

*Ali Usman, pendidik, tinggal di Yogyakarta

Komentar»

1. komunitas pendidikan - 15 November 2010

ide yang cemerlang…semestinya dalam belajar di usahakan jangan sampai murid bosan…. thanks :D

2. aal - 28 November 2010

tks atas kunjungan dan komennya.
salam.

3. Azhari - 2 Desember 2010

gagasan ini sungguh menyegarkan, semoga dalam waktu dekat diterapkan oleh pemerintah.paling tidak beberapa daerah yang memang rawan bencana selayknyalah mempertimbangkan gagasan ini.

slam hangat Pak.saya mahahiswa AF Ushuluddin UIN. mohon pasang link Blog saya ya..M.Azhari AF

4. aal - 1 Januari 2011

#azhari: tks atas apresianya. insya ya… :)

5. Devi - 17 April 2013

mitigasi bencana :) cerdass..
namun terkadang, ketika bencana itu datang yang pertama kali dirasakan oleh masyarakat sekitar pasti “kepanikan” dan panik itu menjadi salah satu gangguan psikologi.. ketika panik bisa jadi apa yang telah di dapatkan selama belajar tentang tanggap bencana menjadi hilang.. dan tidak bisa lagi berfikir jernih tentang bagaimana tanggap bencana seperti yang telah dipelajari.. jadi,, bagaimana kita bisa memberikan pendidikan tanggap bencana dan pendidikan psikologis untuk memupuskan rasa pasrah dan panik saat pengaplikasiannya?? terimakasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: