jump to navigation

Meraih Haji Mabrur 15 November 2010

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Republika, 15 November 2010

Oleh Ali Usman*

Umat muslim di seluruh dunia kembali menunaikan ibadah haji. Animo masyarakat yang sangat antusias mengamalkan rukun Islam kelima ini, semakin mematahkan tesis sebagian kalangan, bahwa betapa pun masyarakat kini dilingkupi oleh pandangan serta praktik-pratik bercorak sekularistik, namun unsur religius tetaplah ada dan rasanya tak mungkin lenyap begitu saja.

Jumlah calon jamaah haji dalam setiap tahunnya kian meningkat tajam, seperti yang terjadi di negara kita. Bahkan pasalnya, jatah calon jamaah haji Indonesia untuk tahun ini bertambah dibanding tahun sebelumnya, hingga mencapai 230. 000 orang. Maka dengan melihat semakin antusiasnya masyarakat untuk berhaji tersebut, tentu kita berharap, mereka yang berangkat ke tanah suci tidak semata-mata karena dorongan duniawi (status sosial, jabatan, dan lainnya), tapi benar-benar lillahi Ta’ala, menyempurnakan rukun Islamnya.

Haji mabrur

Perintah haji oleh Tuhan dibebankan kepada hamba yang ‘mampu’ melakukannya (Q.S Ali Imron: 97). Kata ‘mampu’, tentu bukan hanya persoalan materi (biaya pemberangkatan) dan kesehatan, namun juga secara batiniah bermakna pada kesadaran diri, kalau haji yang ia tunaikan memerlukan niat yang suci dan hati yang bersih. Inilah yang oleh Allah dan rasul-Nya disebut sebagai haji ­mabrur.

Istilah ‘mabrur’ berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya dari ‘barra, artinya berbuat baik, patuh, mendapatkan kebaikan atau menjadi baik. Jadi al-haj al-mabrur (haji mabrur) berarti haji yang mendapatkan birrun, kebaikan. Sering juga kita artikan sebagai ibadah haji yang diterima Allah Swt. Dengan kata lain, haji mabrur adalah haji yang mendapatkan kebaikan atau haji yang (pelakunya) menjadi baik. Itu sebabnya, dalam sebuah hadis shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, “… tidaklah ada balasan bagi haji mabrur, kecuali surga”.

Pertanyaanya, bagaimana cara meraih predikat haji mabrur itu? Di banyak kitab-kitab fiqih ada banyak keterangan yang menjawab pertanyaan ini. Namun secara sederhana, dapatlah disimpulkan bahwa cara untuk meraih haji mabrur, di samping perlu menata niat dan hati yang bersih, juga tidak kalah pentingnya agar setiap individu wajib mengerti betul tentang makna serta tujuan haji itu sendiri, yang di dalamnya menyangkut setidaknya dua hal. Pertama, memahami setiap apa yang diucapkan/dilafadkan, baik doa maupun bacaan-bacaan lainnya; dan kedua, melakukan internalisasi diri terhadap situs-situs suci yang dikunjungi di banyak tempat.

Ka’bah dan ‘Arafah, misalnya, adalah dua simbol yang turut mengaitkan Islam dengan agama monoteis sebelumnya, yang dibawa nabi Ibrahim dan Nabi Adam as. Ka’bah dibangun atas perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang merupakan nabi dari agama-agama monoteis (Q.S al-Haj: 78), yang oleh banyak ahli sosiologi dan perbandingan agama sekarang disebut sebagai ‘western religious’, yakni agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Sedangkan ‘Arafaf adalah simbol dari pertemuan kembali Adam as. dan Hawa setelah mereka terlempar dari surga karena tergoda bisikan Iblis. Wuquf di ‘Arafah, dengan demikian sekaligus merupakan simbiosis dari penyatuan kembali nenek moyang manusia dan keturunannya di bawah naungan bukit kasih sayang (jabal al-rahmah) (Azra, 2001).

Karena itu, perjalanan haji sejatinya tidak berhenti pada pemenuhan ritual-ritual yang hampa makna, tapi yang jauh lebih penting adalah internalisasi terhadap apa yang dilakukan selama berhaji. Jadi, sudahkah kita mengerti (paham) apa yang diucapkan dan dilakukan selama berhaji? Inilah pertanyaan filosofis yang barangkali penting untuk dijadikan bekal bagi setiap jamah haji kita.

Perspektif sufi

Sebagai pelengkap untuk memperkaya wawasan apa yang dimaksud dengan haji mabrur, ada cerita menarik di kalangan sufi—sebagaimana dielaborasi secara dramatis oleh cendekiawan muslim terkemuka, Nurcholish Madjid (1997). Dikisahkan bahwa ada sepasang suami-istri mempunyai niat yang sangat kuat untuk menunaikan haji. Dengan susah payah pasangan ini mengumpulkan bekal. Karena waktu itu naik haji lewat darat dan jarak yang harus ditempuh adalah ribuan kilometer, maka bekal yang dikumpulkan pun harus banyak.

Dalam perjalanan itu mereka banyak menjumpai pengalaman-pengalaman menarik. Termasuk ketika pasangan ini memasuki sebuah kampung yang kehidupan penduduknya sangat miskin dan sedang dilanda kelaparan. Kondisi kampung yang menyedihkan itu menyntuh hati suami-istri tersebut. Benak keduanya dipenuhi dengan keragu-raguan. Akan tegakah mereka membiarkan orang-orang mati kelaparan, sedangkan di tangan mereka berdua ada bekal, meskipun itu untuk perjalanan haji yang sudah lama mereka impikan?

Dalam suasana terenyuh, terpikirlah oleh pasangan suami-istri itu untuk memberikan saja bekal haji yang sedang mereka bawa. Lalu mereka pulang. Sampai di rumah ternyata pasangan tersebut disambut oleh seseorang yang pakaiannya putih besih. Orang yang belum mereka kenal ini mengucapkan selamat bahwa mereka telah diberkati oleh Allah mendapatkan haji mabrur.

Tentu saja, pasangan itu menyangkal, karena mereka merasa tidak menunaikan haji. Namun orang yang tidak dikenal itu tetap mengucapkan selamat atas kemabruran haji mereka. Lalu, orang asing yang berpakaian serba putih menghilang. Menurut sebuah cerita, orang yang tidak dikenal itu adalah malaikat yang diutus Allah Swt. Malaikat ini memberikan kabar gembira kepada pasangan suami-istri bahwa dengan sedekah yang diberikan kepada mayarakat yang kekurangan itu berarti (bisa pula) mereka memperoleh haji mabrur.

Dari kisah di atas, setidaknya ada dua hikmah yang bisa dipetik. Pertama, bagi mereka yang bertekad untuk menunaikan haji, meskipun memenuhi kategori ‘mampu’ untuk berhaji, ada baiknya juga memerhatikan lingkungan sekitar, yang membutuhkan uluran kasih. Kedua, hakikat haji mabrur adalah haji yang menjadikan orang setelah melakukannya, atau sepulangnya ke kampung, dia memiliki komitmen sosial yang lebih kuat. Jadi meningkatnya komitmen sosial itulah sebetulnya yang menjadi indikasi dari kemabruran. Semoga.

*Ali Usman, alumnus Magister Agama dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: