jump to navigation

Menggiatkan Pendidikan Keolahragaan 21 Februari 2011

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Media Indonesia, 21 Februari 2011
Oleh: Ali Usman*

Dunia olahraga nasional akhir-akhir ini menunjukkan sensasi luar biasa dahsyat. Ini terjadi, lantaran respons sekaligus dukungan yang menasional seluruh masyarakat Indonesia atas Timnas sepakbola kala berlaga di Piala AFF 2010. Meskipun kita tahu, Firman Utina, dkk, gagal meraih juara utama karena takluk kepada Malaysia di putaran final, namun rupanya tetap mengharumkan Indonesia, sebagai sebuah bangsa.

Mereka, yang tergabung dalam suporter merah putih, bersatu-padu menyatukan suara untuk Indonesia. Tak peduli perbedaan etnis, agama, dan ideologi, semua berpadu dalam kebhinekaan. Sebuah pemandangan yang tentu saja, sangat langka terjadi. Sebab selama ini, kerap terjadi pertengkaran dan aksi anarkistis antar suporter.

Sejak itu, masyarakat kita tampak terlihat menaruh harapan besar untuk kebangkitan persepakbolan Tanah Air. Bahkan, antusiasme dan animo dukungan masyarakat untuk kesebelasan masih tetap terasa hingga detik ini. Tidak hanya orang-orang dewasa yang bangga dengan prestasi Timnas, namun juga ditunjukkan oleh semua kalangan, termasuk anak-anak usia sekolah.

Pertanyaannya, apa makna dari sikap antusiasme dukungan masyarakat tersebut? Dan adakah korelasi positif antara prestasi keolahragaan atlet-atlet bangsa terhadap dunia pendidikan nasional? Upaya menjawab pertanyaan ini sangatlah penting, sebab tidak semata-mata menyangkut euforia dan penyaluran hobi olahraga, namun juga sesungguhnya menunjukkan suatu identitas diri keindonesiaan—atau dalam bahasa populer biasa disebut dengan istilah ‘nasionalisme’. Mau bukti?

Sesekali saya (cobalah Anda juga) bertanya kepada seorang siswa SD: “Siapa atlet olahraga idola/favoritmu saat ini?” Jawabannya, sangat beragam. Di lapangan hijau sepakbola, ada yang menjawab: Irfan Bachdim, Christian Gonzales, Octavianus, Ahmad Bustomi; sementara di bidang olahraga lain ada Taufik Hidayat (pebulu tangkis); dan seterusnya.

Dari sana, penyebutan nama-nama atlet Indonesia itu mempunyai makna luar biasa besar bagi psikologi anak, yaitu setidaknya mampu menggeser tokoh-tokoh idola dunia, yang sebelumnya mereka (baca: dunia anak) lebih membanggakan David Beckham, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, daripada pemain Timnas. Bahkan berdasarkan telusuran Anung Handoko (2008), David Beckham, Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, Rooney, dan lain-lain, misalnya, konon lebih dikenal oleh masyarakat umum daripada Perdana Menteri Inggris ataupun presiden Brasil. Begitupula di Indonesia, pemain-pemain nasional seperti Boaz Solossa, Hamka Hamzah, dan Bambang Pamungkas seolah lebih dikenal oleh masyarakat daripada nama-nama pejabat seperti menteri ataupun kepala daerah.

Dengan demikian, anak-anak sekolah itu sebenarnya dapat belajar sendiri, dan dapat pula diajari bagaimana menjaga nasionalisme kebangsaan lewat dunia olahraga. Maka di sinilah, pentingnya menggiatkan apa yang saya sebut sebagai ‘pendidikan keolahragaan’.

Pembinaan karakter bangsa
Pendidikan keolahragaan bukan hanya persoalan bagaimana menjaga tubuh agar tetap sehat dan bugar, mempelajari diameter lapangan, serta teknik-teknik dari masing-masing cabang olahraga—sebagaimana yang lazim diterapkan di sekolah—namun juga yang jauh lebih pnting perlu diimbangi dengan wawasan kebangsaan terkait dengan kondisi dunia olahraga nasional. Artinya, jika selama ini pendidikan keolahragaan lebih diorientasikan pada penguasaan teknik permainan olahraga, ke depan penting pula dikembangkan bagaimana peserta didik dapat mengetahui secara jernih sejarah dan apa saja yang berkait-erat dengan wawasan keolahragaan dan kebangsaan Indonesia.

Bahwa Bung Karno sebagai mantan Presiden pertama RI sekaligus founding father negara ini pernah menempatkan olahraga pada posisi yang tinggi, yaitu dalam hal pembinaan karakter bangsa. Hal itu terbukti pada 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV, yang ditandai dengan pembangunan Gelora Bung Karno.

Pembangunan gelanggang olahraga tersebut tentu saja membutuhkan pengorbanan masyarakat di kawasan Senayan, yang rela digusur ke pinggiran kota. Hasilnya, Indonesia mampu meraih 11 medali emas dan menempati peringkat kedua setelah Jepang. Di periode ini pula dibentuk Jawatan Pendidikan Jasmani. Masyarakat turut dilibatkan menjadi bagian dari olahraga.

Sayangnya, program semacam itu tidak berlanjut. Pada masa Orde Baru, pemerintah memang pernah mengeluarkan sebuah semboyan yang populer, yaitu memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Sebagai buktinya, sebagian dari kita yang pada saat itu duduk di bangku sekolah dasar atau menengah pasti mudah mengingat masa ketika setiap murid diwajibkan mengikuti senam pada hari-hari tertentu.

Begitu pula para pegawai negeri atau beberapa perusahaan swasta, yang menjadikan satu hari sebagai hari olahraga. Namun, implementasinya kemudian terhenti begitu saja. Olahraga hanya berkembang menjadi olahraga prestasi. Tidak ada lagi kebijakan olahraga untuk pembangunan karakter manusia.

Sejak awal, Bung Karno telah menegaskan, kalau olahraga mengajarkan nilai kerja keras, ketekunan berlatih, dan kerelaan bersakit terlebih dulu untuk kemudian menuai sukses. Maka melalui Pekan Olahraga Nasional I di Solo pada 1948, Bung Karno menyatakan olahraga sebagai alat untuk membangun karakter bangsa.

Olahraga memang terbukti mampu membawa nama negara dikenal bangsa lain. Apalagi jika atletnya berhasil memenangi kompetisi berskala dunia. Dengan olahragalah sekat-sekat kesenjangan ekonomi dan sosial terabaikan. Sebab, ada adagium terkenal yang menyebutkan, siapa yang terkuat—tidak peduli si atlet tersebut berasal dari negara paling miskin atau paling korup—dialah yang layak mendapat podium teratas.

Praksis pendidikan keolahragaan
Karena itu, dalam pendidikan keolahragaan, baik guru/dosen maupun siswa-siswi/mahasiswa-mahasiswi diharapkan dapat melakukan internalisasi setidaknya beberapa hal berikut sebagai wujud praksis. Pertama, pentingnya mengajarkan optimisme prestasi yang mendunia bagi atlet-atlet nasional bangsa. Sikap positif ini perlu dibangun oleh guru kepada peserta didik agar tercipta rasa patriotisme, cinta Tanah Air. Sebab lewat dunia olahragalah, sepertinya menjadi sarana yang cukup ampuh dan efektif untuk membangun semangat nasionalisme generasi bangsa.

Kedua, dalam pendidikan keolahragaan, kita semua penting menyadari sportivitas dalam bermain. Kesadaran tersebut sangatlah perlu ditanamkan kepada masing-masing individu, supaya terhindar dari tindakan anarkis antara pemain, pendukung atau suporter yang kerap terjadi di negara kita yang konon dikenal santun, sopan, dan ramah.

Artinya, menjadi suporter atau pendukung fanatik salah satu tim olahraga tertentu memang tidaklah salah, tetapi harus dibarengi dengan sportivitas. Menjunjung tinggi sportivitas dapat mencegah konflik antar pemain, dan juga suporter (terutama sepakbola). Sebagai bentuk konflik, pada dasarnya olahraga yang di dalamnya terdapat upaya saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan spirit kompetisi diwujudkan dengan adanya aturan-aturan permaianan, yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, guna menjamin keadialan dalam lapangan.

Dalam kondisi demikian, suporter sebagai bagian yang terlibat langsung dengan tim yang bertanding ikut terseret dalam situasi konflik. Suporter hadir di arena pertandingan dengan tujuan mendukung untuk menaikkan mental dan moral tim yang didukung sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter bertemu di arena pertandingan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung, maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, dan saling ejek.

Ketiga, mensterilkan dunia olahraga dari kepentingan-kepentingan politik praktis. Itulah yang kita gelisahkan akhir-akhir ini di Indonesia. Prestasi atlet-atlet nasional terlihat dijadikan sebagai komuditas politik untuk mendongkrak popularitas elite-elite politisi. Jika ini terus dibiarkan, apa jadinya generasi bangsa bila mengetahui yang sebenarnya bahwa telah terjadi ‘perselingkuhan’ dan pencampuradukan antara dunia olahraga dengan politik.

Dalam dunia politik, memang ada yang membuat kejuaraan olahraga tertentu menjadi titian menuju jalur kekuasaan. Terpilihnya Silvio Berlusconi—bos raksasa sepakbola AC Milan—konon menjadi Perdana Menteri Italia pada tahun 1994 memunculkan pertanyaan mengelitik apa yang menjadi rahasia terpilihnya Berlusconi?

Matt Frei dalam bukunya Italy the Unfinished Revolution (1997) dan Martin Clark dalam Modern Italy 1871-1995 (1996) mengatakan bahwa Berlusconi terpilih disebabkan kecerdikannya memilih momen yang tapat. Ia muncul saat masyarakat Italia bosan dengan jargon liberal, sosialis, kristen demokrat atau sosialis demokrat. Dia justru tampil dengan istilah baru Forza Italia (majulah Italia). Istilah itu diangkut dari lapangan sepakbola (karena sering diteriakkan oleh penonton di Italia) ke pangung politik. Hasilnya, Berlusconi terpilih menjadi Perdana Menteri Italia.

Lantas, mungkinkah fenomena politik dan sepakbola di Italia itu juga bakal terjadi di negara Indonesia? Semoga tidak.

*Ali Usman, pemerhati pendidikan, tinggal di Yogyakarta

http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/02/21/index.shtml

Komentar»

1. basyarat - 14 Maret 2011

ah, sudah menjadi pengamat olahraga pula, ya kang aal…
mungkin pssi sudah bisa menggaet…

2. aal - 19 April 2011

hehehe… cuma iseng ko’. tngkyu atas kunjungannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: