jump to navigation

Menaklukkan Media *Resensi Buku* 9 Juli 2011

Posted by aal in Esai.
trackback

Sebagai kolektor dan pembaca buku, tentu, saya sangat senang mendapat kiriman buku gratis dari penerbit. Tapi maaf, walau ada beberapa—untuk tidak mengatakan banyak—koleksi buku-buku baru, tidak semua saya resensi, dan apalagi, saya kirim ke media cetak.

Alasannya hanya satu. Saya memilih dan memilah, tema-tema menarik yang sekiranya cocok dipublikasikan di media. Kalau buku itu misalnya berjudul “Bahaya Kanker Payudara”, apa kata dunia, seandainya saya resensikan, dan dikirim ke media. Ini berarti, pilihan tema buku menjadi hal penting dalam meresensi buku untuk dimuat di media cetak.

Orang boleh bilang, mungkin itu hanyalah idealisme nisbi. Tapi saya ingin membuat brand, yang dalam ilmu ekonomi bisnis, dapat mempengaruhi pangsa pasar penjualan produk. Sebab, disadari atau tidak, peresensi jika dilihat dari kacamata ekonomi, sesungguhnya bayangan alias kepanjangan tangan dari bagian promosi (marketing) sebuah penerbit buku.

Dengan posisi itu, baik marketing ‘asli’ dari penerbit, maupun marketing ‘bayangan’ para peresensi, berkolaborasi saling menguntungkan, walau kadang tidak seimbang. Bagian marketing penerbit buku mendapatkan gaji rutin bulanan, sementara marketing peresensi buku hanya berapa coba? Ya, tahu sendirilah, hehee. Itu pun kalau dimuat.

Karenannya, kalau ada penerbit yang ‘tidak menghargai’ kerja riil peresensi buku, seperti tidak memberikan honorarium, dan bahkan ada yang tidak memberikan hadiah buku, sungguh kata Bang Haji Roma: ‘t e r l a l u’. Buat penerbit yang menganut aliran ini, saya langsung pasang stempel: boikot! Haram hukumnya meresensi buku milik penerbit yang tidak kooperatif terhadap peresensi buku.

Meresensi buku memang tidak semata-mata sekadar ingin memperoleh materi, sebab dengan membaca buku, dan meresensikannya itu merupakan aktivitas tak terbeli, yang belum tentu marketing atau bos penerbit bersangkutan mampu melakukannya. Namun peresensi juga manusia. Tapi ia bukanlah buruh. Ia layak ‘disantuni’: hadiah buku, dan lebih keren lagi kalau plus uang lelah. Dengan ini, puaslah hati peresensi: buku, pengetahuan, dan sebakul nasi.

Kembali lagi ke brand. Dalam bahasa lain, brand mungkin dapat disebut spesialisasi tema. Saya lebih menyukai tema buku-buku sosial (pendidikan, politik, agama, dan ekonomi), yang dikemas dalam ragam bentuk, baik ilmiah-teoritis maupun dalam narasi novel. Bagaimana dengan Anda?

Perihal kontinuitas meresensi buku di media. Saya lebih memilih jarang menulis, tapi sekali menulis langsung dimuat, daripada sering menulis resensi buku untuk semua genre, yang kadang tak jua dimuat-muat. Ini prinsip saya. Tidak untuk diikuti.

***

Faktor utama pemuatan buku yang kita resensi, menurut saya, ada pada kualitas tulisan. Tidak peduli ia peresensi pemula atau peresensi ‘jadi-jadian’, bila resensi bukunya benar-benar bagus, saya yakin seyakin-yakinnya berpeluang besar untuk dimuat.

Dari sanalah, jikalau ada yang dimuat lantaran ia kenal dengan redakturnya, tetap itu bermula dari usaha keras ketika ia sebelumnya telah sering mengirimkan resensi secara periodik. Itulah pentingnya proses. Sangat jarang dijumpai peresensi yang mendapat ‘kepercayaan’ dari redaktur secara instan.

Mereka, para redaktur umumnya mengamati terlebih dahulu kualitas tulisan yang dikirim ke media bersangkutan, atau bisa lewat media lain yang pernah memuat tulisan resensi buku kita. Kalau kesan pertama sudah membuat jatuh cinta redaktur kepada tulisan kita, selanjutnya bisa bergandengan tangan.

Memang tidak ada parameter yang baku untuk menilai bagus tidaknya kualitas tulisan. Yang bisa menilai justru masing-masing di antara kita. Namun tetap timbul problem, apa yang kita anggap bagus, terkadang tidak demikian menurut redakturnya. Di sinilah, kita butuh selain menjaga kualitas prima tulisan, juga perlu membuat tulisan yang memikat hati redaktur.

Menjaga stamina kualitas tulisan dapat ditempuh dengan memerhatikan prinsip-prinsip meresensi buku, yang tidak sekadar merangkum atau mendeskripsikan isi bukunya, tapi juga memberikan penilaian (menempatkan isi buku dalam spektrum wacana yang berkembang), kritik, membandingkan dengan buku-buku lain, dan sebagainya. Sebab itulah tugas peresensi, yang kadang sering kita abai mengaca diri. Kita adalah peresensi, bukan perangkum buku.

Sementara tulisan memikat dapat dilakukan dengan memilih diksi bahasa yang baik, lihai bermain-main dengan bahasa (bahasa sensualnya: menunjukkan goyangan pinggul pena), dan termasuk pula berusaha mengurangi kesalahan ketik—walau ini remeh-temeh tapi tetaplah penting diperhatikan.

Meresensi buku untuk media bagi saya sama halnya dengan menulis sepucuk surat cinta kepada kekasih. Saya akan menggodanya dengan bahasa-bahasa romantis, agar ia semakin terpesona dan tidak berpindah ke lain hati. Jadi anggap saja untuk memikat hati redaktur, kita perlakukan ia layaknya seorang terkasih; pacar, istri, orangtua, dan lain sebagainya. Dengan begitu, tulisan yang indah dan memikat, sangatlah disukai tidak hanya redaktur, tapi pasti juga oleh pembacanya.

***

Ini adalah prinsip-prinsip umum yang saya terapkan untuk menaklukkan media, khususnya rubrik resensi buku. Tidak hanya media nasional, seperti Kompas, Gatra, Koran Tempo, dan Jawa Pos, tapi juga berlaku untuk media lokal. Pengalaman saya ini pasti tidaklah sama dengan strategi dan taktik peresensi-peresensi lain.

Saya lebih suka mengoreksi diri, dari pada menyalahkan orang lain, apalagi mengumpat kejelekan redaktur koran. Jangan-jangan tidak dimuatnya tulisan kita itu karena memang tidak layak muat. Dan jangan dikira, resensi-resensi buku saya semua dimuat oleh media. Selain koleksi buku, saya juga mengoleksi resensi-resensi buku yang tidak dimuat.
Itu saja dulu.

Salam buku!

*Ali Usman, pembaca buku, tinggal di pinggiran Bantul-Jogja
**Disampaikan dalam acara diskusi rutin Komunitas Peresensi Jogjakarta.

Komentar»

1. andy satria - 19 Januari 2012

pak…kalau mau resensi buku …dikirimnya ke mana y ? atau ke media apa yang menyediakan ruang untuk resensi ?

2. byte to gb converter - 9 Mei 2013

I every time emailed this weblog post page to all my associates,
for the reason that if like to read it next my
links will too.

3. Uki_RAUFMPsp (@basuki_ubas) - 30 Oktober 2014

terimakasih untuk ilmunya, smga berkah dan semakin bertambah, amin,🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: