jump to navigation

Pos, Edukasi, dan Teknologi 13 Oktober 2011

Posted by aal in Esai, Lansir.
trackback

Dilansir dari Harian Jogja, 12 Oktober 2011

~Ali Usman*

Déjàvu. Mengenang pengalaman indah yang dahulu pernah terjadi. Apakah itu? Pos.

Pos lazim dipahami sebagai sarana komunikasi dalam bentuk surat tertulis maupun kiriman barang, yang dilakukan antar waktu, dan tempat. Mereka yang mempunyai pengalaman dengan Pos tentu meninggalkan kenangan yang tak terlupakan, saat Pak Pos datang menghampiri kita membawa sepucuk surat dari kekeasih, misalnya, membuat jantung berdebar-debar tak sabar ingin segera membuka isi surat.

Pak Pos—dengan seragam orange khasnya beserta kendaraan motor bahkan sepeda ontel di masa-masa awal masyarakat Indonesia mengenal Pos—selalu dinanti. Menunggu Pak Pos, kerap menimbulkan harap-harap cemas bercampur riang-gembira. Cemas karena tak sabar menunggu surat/paket yang memang diharap, dan gembira karena Pak Pos telah berdiri di luar pintu: “Posss..”, panggilnya.

Mengenang Pos

Kini, kenangan bersama (Pak) Pos tinggal kenangan. Pak Pos, memang masih sesekali mengantar surat ke rumah kita, tapi mungkin hanya mengantar tagihan kartu kredit, atau surat ucapan Hari Raya, dan itu pun terbatas dari beberapa kolega yang memang masih setia menggunakan jasa Pos. Selebihnya, sarana komunikasi via Pos telah tergantikan oleh komunikasi modern, seperti email, SMS, Facebook, dan lain sebagainya.

Pertanyaanya, bagaimanakah nasib Pos di masa depan? Jauh-jauh hari, McLuhan di tahun 1960-an merilis buku Understanding Media: The Extensions of Man, yang membuat publik gempar, terutama dalam bidang teknologi-komunikasi. Inti dari buku itu adalah ramalan, dan yang diramalkannya adalah hilangnya pikiran linear. McLuhan menyatakan bahwa “media listrik” abad 20—telepon, radio, film, televisi, dan internet—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indra kita.

Lantas, apakah mungkin Pos bakal punah lantaran kalah dengan arus kecanggihan teknologi modern? Kekhawatiran ini hemat saya terlalu berlebihan, sebab Pos memiliki akar sejarah yang mengakar kuat dibanding media teknologi modern. Hal ini bisa dilihat dari bilik sejarah nasional, yang menurut catatan Wikipedia, dunia perposan modern muncul di Indonesia sejak tahun 1602 pada saat VOC menguasai bumi nusantara ini. Pada saat itu, perhubungan pos hanya dilakukan di kota-kota tertentu yang berada di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Surat-surat atau paket-paket pos hanya diletakkan di Stadsherbrg atau Gedung Penginapan Kota sehingga orang-orang harus selalu mengecek apakah ada surat atau paket untuknya di dalam gedung itu.

Untuk meningkatkan keamanan surat-surat dan paket-paket pos tersebut, Gubernur Jenderal G. W. Baron Van Imhoff mendirikan kantor pos pertama di Indonesia yang terletak di Batavia (Jakarta). Pos pertama ini didirikan pada tanggal 20 Agustus 1746. Sejak itu, Pos Indonesia terus mengalami perkembangan yang signifikan dan pesat.

Era kepemimpinan Gubernur Jenderal Daendels di VOC membuat sebuah kemajuan yang cukup berarti di dalam pelayanan pos di nusantara. Kemajuan tersebut berupa pembuatan jalan yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan. Jalan sepanjang 1.000 km ini sangat membantu dalam mempercepat pengantaran surat-surat dan paket-paket antarkota di Pulau Jawa. Jalan yang dibuat dengan metode rodi (kerja paksa) ini dikenal dengan nama Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Dengan adanya jalan ini, perjalanan antara Provinsi Jawa Barat sampai Provinsi Jawa Timur, yang awalnya bisa memakan waktu puluhan hari, bisa ditempuh dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

Nilai edukasi

Layanan Pos akan tetap eksis sepanjang masa, meskipun kini diterpa teknologisasi komunikasi yang serba cepat dan instan. Di samping itu, Pos sesungguhnya memiliki nilai edukasi yang penting dan berguna untuk pembelajaran banyak hal bagi generasi bangsa.

Pertama, pada prangko Pos biasanya terdapat gambar tertentu yang berasal dari pernak-pernik kebudayaan serta tradisi bangsa Indonesia, seperti bunga, tokoh-tokoh bangsa (pahlawan), gambar hewan, cagar budaya, dan lain-lain. Media dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah untuk lebih mengetahui khazanah kebudayaan bangsa lewat gambar prangko.

Koleksi prangko, atau yang lazim disebut filateli, telah banyak pula dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Bagi yang menekuni hobi filateli, tentu bukan hanya sekadar mengumpulkan prangko yang hampa makna, tapi dengan begitu, sebenarnya mempunyai selain nilai edukasi tinggi, juga nilai seni. Apalagi, prangko yang didapat dari seorang teman atau koresponden di luar negeri, yang jelas prangkonya khas luar negeri pula. Hal ini memberikan kepuasan tersendiri bagi penekun filateli.

Kedua, membaca surat versi cetak, apalagi lewat Pos, ternyata memiliki keutamaan dari aspek psikologi dan kesehatan dibanding menggunakan media online seperti internet dan HP. Adalah Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains (2010), yang mengemukakan bahwa halaman teks online yang dilihat melalui layar komputer mungkin serupa dengan halaman teks tercetak. Akan tetapi menggulung atau mengklik dokumen web melibatkan tindakan fisik dan rangsangan saraf yang sangat berbeda dengan memegang dan membalik halaman cetak.

Penelitian juga menunjukkan bahwa tindakan kognitif membaca tidak hanya berpengaruh pada indra penglihatan, tapi juga indra sentuhan. Ini bersifat rabaan dan visual. Semua kegiatan membaca, tulis Anne Mangen, seorang profesor pelatihan sastra Norwegia, merupakan kegiatan multi-indra. Terdapat hubungan krusial antara pengalaman indra motorik terhadap wujud fisik hasil karya tertulis dan pemrosesan kognitif terhadap isi teks.

Adakah yang salah dari penggunaan media online? “Puluhan penelitian yang dilakukan oleh para psikolog, pakar neurobiologi, pendidik, dan desainer web mengarah kepada kesimpulan yang sama: ketika kita online, kita memasuki sebuah lingkungan yang mendorong pembacaan sepintas, pemikiran terburu-buru dan terganggu, dan pembelajaran yang superficial”, tulis Nicholas. Akibatnya, otak kita tidak lagi difungsikan secara maksimal dalam kegigihan membaca media cetak, tapi beralih ke media online, yang dampaknya disadari atau tidak, telah “mengkerdilkan” fungsi pikiran.

Media online dengan demikian seperti dua mata pedang, di satu sisi merupakan anugerah, namun di sisi lain juga menjadi petaka. Ada harga yang harus dibayar mahal dengan menjadikan media online bak ‘candu’ dalam kehidupan. Perhatikan anak yang mengirim teks kepada temannya atau seorang mahasiswa melihat-lihat pesan dan permintaan baru di halaman Fecebook atau seorang pengusaha yang melihat-lihat email baru di telepon genggam. Yang kita lihat adalah pikiran yang ditelan sebuah media. Bukanlah ketika online, sering kali kita lupa tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita? Inilah dampak buruk dari penggunaan media online.

*Ali Usman, aktivis media, tinggal di Yogyakarta

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: