jump to navigation

Pada 20 April 20 April 2008

Posted by aal in Gundah.
Tags:
12 comments

doaSetiap kali melintasi 20 April, perasaan harap-harap cemas selalu muncul. Berharap, lantaran di waktu itulah segala asa dan cita kembali dipancangkan. Cemas, karena dengan bertambahnya usia, beban hidup semakin berat. Bukan hanya persoalan tambah dewasa, tapi lebih dari itu, makin menyadarkan akan hakikat umur; semakin beranjak, semakin mendekati maut, walau itu tak ada yang tahu takdir hidup, kecuali Sang Pemilik ruh dan jasad ini.

Saya melewati pergantian hari tidak seperti biasanya, yang tergeletak lunglai di atas kasur. Hari itu saya dalam keramaian, berdiskusi penuh ketegangan. Semalam suntuk. Saya meleburkan hari jadi itu—yang oleh sebagain orang mungkin dianggap hari “sakral”—dalam sesak nafas kepulan rokok, meski saya sendiri tidak merokok.

Di antara banyak asa, cita, dan pengharapan tersebut, sepintas terbersit dalam bayang tentang kuasa Tuhan. Dulu semasa kecil, saya tak pernah menyangka akan hidup sampai “likuran” tahun seperti yang sekarang saya rasakan. Bagi saya, ini adalah kasih sayang Tuhan tiada tara untuk hamba-Nya. Dan saya bersyukur atas semua itu. Meski mungkin, saya masih merasa selalu mengabaikan nikmat-Nya.

Pada 20 April, saya mau banyak belajar arti hidup: untuk saat ini, dan esok, bila nyawa sudah meregang, meninggalkan orang-orang yang saya kenal, yang saya cintai.

Terima kasih Tuhan atas kesempatan ini. Amien…

Iklan

Bukuku… 9 Desember 2007

Posted by aal in Gundah.
6 comments

(1) Koleksi Buku

dsc02282.jpgdsc02280.jpgdsc02278.jpgdsc02275.jpgdsc02281.jpgdsc02277.jpgdsc02276.jpg  

Dahulu, sewaktu masih baru mengecap bangku kuliah, cita-cita untuk mengoleksi buku sangat kuidamkan. Menurutku, waktu itu, orang yang banyak mengoleksi buku (biasanya) mencerminkan kepribadiannya; pintar, wawasannya luas, aktif, vokal berbicara, dan lain sebagainya. Benarkah memang secara otomatis demikian? Entah. Tapi setidaknya, “aku juga ingin seperti mereka”, gumamku.

Satu hingga dua tahun berlalu, ada banyak pengalaman dan kesan yang aku peroleh setiap kali berkunjung ke tempat teman-temanku yang suka mengoleksi buku. Sahabatku, Kaesar, seorang aktivis pergerakan mahasiswa di kampusku, koleksi buku-bukunya didominasi buku-buku “kiri”, Marxisme, dan dunia pergerakan; di kamar sahabat perjuanganku, Agus Budianto, Syaiful Bari, dan Hilal Alifi, deretan buku-bukunya banyak didominasi buku sosial-keagaman; di kamar Hatim Gazali pun juga demikian; lain halnya dengan kawan karibku, Muhammad Al-Fayyadl—si penulis buku Derrida—buku-buku koleksinya sangat beragam: filsafat, keagamaan, budaya, sastra, dan lain-lain.

Melihat koleksi buku-buku kawanku yang terakhir itu, terkesima rasa senang sekaligus juga “puyeng“, karena notabene buku-bukunya banyak berbahasa asing terutama buku berbahasa Perancis (maklum aku kan tak bi(a)sa Perancis-an).

Aduhai, melihat semua itu, keinginan mengoleksi buku semakin kuat. Setiap kali aku melihat buku bagus di rak teman-temanku, selalu saja terlintas dalam benak untuk juga dapat memilikinya. Aku berandai, “seandainya semua buku-buku di tempat teman-temanku itu menjadi koleksi pribadiku, betapa betah aku menghabiskan waktu dikamarku yang mungil ini”.

“Aku harus bisa menyisihkan uang saku”, tekadku. Di samping itu, mendapatkan buku gratis dengan meresensi buku menjadi strategi jitu untuk memenuhi keinginanku. Dan semuanya sudah aku lakukan hingga saat ini.

Alhasil, meski tak sebanyak koleksi teman-temanku, ya lumayanlah, koleksi bukuku sudah memenuhi rak—yang memang disiapkan sejak tiga tahun lalu. Koleksi sebanyak 200-an lebih ini aku kira cukup menjadi perpustakaan pribadi, dan lebih baik daripada tidak punya sama sekali. Sebagian temanku yang lain, kuliah selama empat tahun hanya mengoleksi tiga buku yang menurutnya dianggap penting; Kamus Inggris-Indonesia (John M. Echols), Kamus Filsafat (Lorens Bagus), dan Persoalan-Persoalan Filsafat (Harold H. Titus). Aku tak tahu, apakah ini bermakna ironis atau tidak bagi seorang yang menyandang predikat mahasiswa.

***

Di waktu-waktu berikutnya, mempunyai koleksi buku yang “lumayan banyak”, ternyata tak selamanya enak. Menjadi kolektor buku bak perpustakaan umum, yang selalu dipinjam oleh teman-teman sendiri. Aku selalu bilang, “boleh pinjam asal mematuhi syarat berikut; jangan sampai rusak, hilang, dan segera dikembalikan bila sudah selesai dibaca”.

Tapi sayang, perpustakaan pribadi tidak sama dengan perpustakaan umum, seperti, kewajiban mengganti bila ternyata buku yang dipinjam hilang, dan dikenai denda bila pengembalian bukunya terlambat sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Alamak, buku-bukuku di luar sana, yang dipinjam teman-teman sudah terbilang 30-an lebih. Tak ada kabar hilang maupun mungkin masih belum selesai membacanya. Dalam do’aku, semoga saja masih ada harapan kembali memenuhi rak yang sudah mulai merenggang.

Aku mulai berpikir: jika begini caranya, “lebih baik minta dan menghilangkan uangku saja, daripada buku-buku kesayanganku dihilangkan”. Aku emoh meminjamkan (lagi) buku-bukuku, kecuali “orag-orang tertentu”, yang aku anggap bertanggungjawab.

Apalagi, belum sempat aku baca buku-buku itu, eh, sudah raib entah ke mana. Ya, aku memang belum membaca keseluruhan buku-bukuku itu. Ah, bagaimana aku bisa membacanya? Akan aku tulis nanti. Setelah ini!